selain cerita si bintang

Tampilkan postingan dengan label keluarga. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label keluarga. Tampilkan semua postingan

11 Januari 2017

CTS: cina totok sekali

halo, gaes!
selamat natal dan tahun baru ya :D

wah, rasa-rasanya baru kali ini abis nonton film langsung pengen nulis blog. kalau nonton film lalu refleksi, itu biasa, tapi jarang bahkan mungkin hampir nggak pernah begitu nonton pengen nulis blog, which is tulisan panjang.

jujur aja, saya baru akhir-akhir ini aja seneng nonton film di bioskop. iya, kayaknya saya telat gaul sih. apalagi nonton film Indonesia, wuih jarang banget. alasannya agak klise sih, "paling juga ntar lagi nongol di tipi." padahal kalau nongol di tipi juga kagak pernah nonton :))

jadi begini ceritanya. saya abis nonton film yang kece abis, judulnya Cek Toko Sebelah (CTS). film yang disutradarai, ditulis skenarionya dan diperankan oleh Ernest Prakasa. setahun lalu saya juga nonton filmnya Koh Ernest, judulnya Ngenest. waktu itu saya seneng juga bisa nonton film Indonesia di bioskop, worth it lah, soalnya filmnya kece dan related banget sama hidup saya sebagai seorang keturunan cina. saya nyebutnya cina aja, yaaa, soalnya kalau 'tionghoa' kok rasanya makin 'beda' HAHA. apalagi waktu itu nontonnya sama Mbak Anne yang memang lagi bikin tesis soal cina. nah, ketika film CTS ini keluar teasernya, pikiran yang sekilas muncul adalah, "wah, toko! pasti soal cina nih!" stereotyping banget yak :))

pas mulai tayang dan banyak muncul komentar-komentar orang yang nonton, banyak yang bilang filmnya bikin inget tentang keluarga. wah, jadi makin tertarik nih saya. apalagi ketika beberapa kali iklan tentang CTS ini tayang di tipi, mama ketawa-ketawa. saya jadi pengen ngajak mama papa nonton, selain karena mama senang nonton stand up comedy di tipi dan di CTS ini banyak komika, tapi juga karena filmnya nyinggung soal keluarga, apalagi keluarga cina. 

nah, saya pengen beberapa hal yang berkesan nih buat saya, yang somehow related with beberapa pengalaman yang saya jumpai di beberapa keluarga cina di sekitar saya. mungkin paling pas bahas dari dua tokoh yang mengalami sibling rivalry: Yohan dan Erwin. 
jelas lah, Erwin itu anak kesayangan idaman setiap keluarga cina. sekolah di luar negeri karena beasiswa, karir bagus, dan satu hal lagi yang jadi nilai plus Erwin dibanding Yohan: pacarnya cina juga. sedangkan Yohan mungkin 180 derajat ya, hidupnya nggak jelas, suka judi, istrinya pribumi pula. saya nggak tau sih, karena nggak ada di film juga, tapi mungkin salah satu alasan Koh Afuk, si papa, nggak cocok sama Yohan ya itu, karena Koh Afuk nggak setuju sama pernikahan Yohan dan Ayu, yang alasan fundamentalnya adalah karena Ayu nggak cina. dan film itu menegaskan perbedaan antara Yohan dan Ayu dengan sangat manis, mereka punya panggilan sayang "Kohan" (Koh Yohan) dan "Mbakyu" (Mbak Ayu). 
sebelum nonton film ini, saya sempat baca di Twitter sih tentang panggilan sayang pasangan ini, lalu saya langsung mikir kalau ini ada hubungannya sama nikah beda etnis. sesungguhnya cinta beda etnis masih lebih ngenes dari cinta beda agama. kasarannya, kalau cinta beda agama jadi masalah, pindah agama lalu masalah selesai. lha kalau cinta beda etnis, mau apa coba? kelarrr... 
oke, balik ke topik. kenapa hal ini 'somehow related', karena saya (dan kayaknya kakak juga sih) rasa-rasanya punya kecenderungan untuk lebih tertarik menjalin relasi romantis dengan mereka yang bukan cina. #eaaa
ya bukan tanpa hambatan sih. persis seperti di film CTS ini, kalau papa saya sendiri selalu tanya, "Kok nggak cina tho? Mbok cari yang cina." beda dengan mama saya yang lebih woles. entahlah, mungkin memang para bapak ini merasa lebih punya tanggung jawab untuk 'melestarikan keturunan', sedangkan para ibu lebih legawa karena lebih pengen lihat anaknya happy no matter what. mungkin efek budaya patriarki. ya, mungkin sih. namanya juga asumsi, bisa jadi keliru. lho, kok jadi curhat ya. balik lagi lah ke filmnya.

saya nggak heran sih kenapa Koh Afuk lebih percaya sama Erwin, karena di berbagai segi kehidupan si Erwin ini memang 'win' gitu, memang menang. tapi satu hal yang bisa kita pelajari dari Erwin. kita sebagai anak kadang terlalu fokus pada perkembangan diri kita sendiri, yang kita pikir bisa membanggakan orang lain atau bisa memenuhi kebutuhan orang lain berdasarkan sudut pandang kita. kita lupa kalau orang lain di sekitar kita, termasuk orangtua kita, juga memiliki tahap perkembangannya sendiri, dan ini membuat kebutuhan mereka mungkin berbeda dengan yang kita kira jadi kebutuhan mereka. dalam film CTS, Koh Afuk punya kebutuhan untuk istirahat, dan tampaknya dia juga punya kebutuhan untuk berkumpul bersama anak-anaknya, apalagi anak kesayangannya, Erwin. dia nggak lagi butuh 'rasa bangga', karena baginya kebanggaan dan kebahagiaan yang utama adalah tokonya itu. karena yang 'berharga' dari suatu hal seringkali memang bukan 'harganya', bukan duitnya, tapi kenangannya. karena kenangan itu seringkali tidak ternilai harganya.
di sisi lain, betapapun ancurnya kehidupan Yohan, dia juga 'cina banget', karena menomorsatukan keluarga. eh nggak gitu maksudnya. meski si Yohan ini pernah nakal banget, dia tetap memikirkan keluarganya, ya tipikal orang yang akan mendahulukan kepentingan orang lain dibanding diri sendiri gitu. Yohan ini sebenarnya adalah orang yang bisa belajar dari masa lalunya. dia kini menjadi orang yang sangat bertanggung jawab, bahkan dia bilang begini ke istrinya, "Ngewujudin mimpi kamu itu tanggung jawab aku, bukan orang lain." nyesss...

eh tiba-tiba ketika nulis ini saya jadi kepikiran, cerita CTS ini kok agak mirip sama perumpamaan Yesus tentang anak yang hilang. anak bungsu, si Erwin, itu 'foya-foya', artinya nggak hadir ketika mamanya sakit, tapi dia yang dipercaya untuk mengelola toko, kalau di alkitab, Erwin yang 'diambilkan jubah dan cincin lalu dibikinkan pesta oleh si ayah', sedangkan si sulung Yohan yang selalu ada dan setia itu nggak dikasih apa-apa. entahlah memang terinspirasi, atau saya aja yang pakai cocoklogi :))

dua sosok perempuan yang juga penting dalam film ini adalah Natalie, pacarnya Erwin, dan Ayu, istrinya Yohan. Natalie ini juga sosok cewek cina modern nan independen masa kini yang nggak pengen punya toko karena cenderung menghindari peran domestik. Ayu, istrinya Yohan, ini perempuan yang sangat memahami dan bisa 'ngalem' orang lain, nggak cuma ngalem suaminya, tapi juga Natalie yang notabene cenderung meluap-luap emosinya. saya terkesan dengan percakapan dua perempuan ini, di mana Ayu ngomong, "Sebenernya ini untuk dia (Erwin), atau untuk kamu? Kamu sayang sama Erwin? Kamu udah milih Erwin, sekarang saatnya dia milih."
kata-katanya mungkin nggak panjang lebar tinggi sih, tapi ngena banget. luntur udah semua ego, karena kata-katanya sederhana tapi disampaikan dengan sangat mendalam jadi nanceppp jlebbb. dan bukan tanpa alasan Ayu ngomong begitu. karena dia sudah pernah mengalami bergulat dengan Yohan, suaminya, yang mungkin lebih berat gitu pergulatannya. maka, dia bisa membagikan apa yang dia miliki, yaitu apa yang pernah dia alami. karena kata-kata Ayu tadi, di akhir cerita si Natalie berhasil mengalahkan egonya, meski berat dan nggak mudah, dan nggak jadi :))
karakter dua perempuan ini sebenarnya bertolak belakang. meski mereka sama-sama punya mimpi, tapi Natalie terus mengejar mimpi itu dengan ngotot, sedangkan Ayu mengejar mimpi itu tapi alon-alon waton kelakon. eh, ini termasuk stereotipe ras tertentu nggak ya? hehehe...

overall, nonton film CTS ini berasa lagi lomba lari. awal-awal itu rasanya mau lari cepet, adrenalin dan emosinya naik. di tengah, mulai capek, mulai turun emosinya. hampir selesai larinya cepet lagi. nonton CTS itu banyak ketawa! lihat aja cast-nya banyaaak banget komika, dan semua pemeran literally punya peran. tapi juga ada bagian yang very touching, sampai bikin saya mbrambangi. menariknya, di bagian akhir, penonton dengan cepat dinaikkan lagi mood-nya, dan ditutup dengan tawa. jadi kalau ada penonton yang mengalami LSS (baca: last scene syndrome) itu tetap merasa hepiii walau abis nangis kejer :))

satu hal lagi yang bikin nonton CTS ini istimewa, karena saya nonton bareng mama papa. dan komentar pertama mama setelah nonton, "ya kalau cina totok ya emang kayak gitu." :))
komentar mama ini makin menegaskan kalau keluarga kami termasuk cina gagal, karena nggak punya toko, nggak bisa ngomong bahasa Mandarin dan nggak punya nama cina :))

terima kasih ya, Koh Ernest dan Teh Meira (sok kenal banget sih, van~) sudah memberikan tayangan yang menghibur, menyentuh, membuat berefleksi, membuat hati hangat, menginspirasi. semoga keluarga kalian selalu dilimpahi berkat dan kebahagiaan dari Tuhan yang Maha Keren! :D


11 Januari 2017
12.45 AM
beberapa jam setelah nonton film CTS


Stella Vania
@vania_ps


PS: HARTA YANG PALING BERHARGA ADALAAAHHH...... (apa sodara sodaraaaaa???) :D


10 Desember 2016

monokrom

hi there!
sudah lama sekali sebenarnya saya pengen nulis ini, syukurlah akhirnya sekarang kesampaian.
2016 sudah hampir selesai. salah satu target besar saya di 2016 sudah tercapai: #2016SPsi. tapi saya sungguh sadar perjuangan menuju #2016SPsi ini akan makin susaaahhh kalau nggak ada orang-orang hebat yang menjadi teman seperjalanan saya. untungnya, Pak Prof, dosen pembimbing saya nggak keberatan saya nulis kata pengantar sebanyak lima halaman HAHAHA :))
meski gitu, rasanya nggak afdol kalau belum nulis ucapan terima kasih itu di sini.

Sepuluh semester dan khususnya empat belas bulan pengerjaan skripsi ini menjadi sebuah perjalanan yang luar biasa. Sebuah perjalanan yang menantang. Sebuah perjalanan yang tidak hanya demi mendapatkan gelar dan sehelai ijazah, tapi sebuah perjalanan yang mengembangkan saya sebagai seorang pribadi. Sebuah perjalanan yang tidak saya lalui sendiri, tetapi bersama begitu banyak orang hebat. Dengan setulus hati, saya ingin berterimakasih pada teman-teman seperjalanan saya.
1. Tuhan yang Tiga-Tapi-Satu, Ayah di atas segala ayah, yang Maha Baik, Maha Keren, Maha Gaul, Maha Romantis, Maha Humoris, Maha Tidak Terduga, Maha Segalanya! Terima kasih sudah mengizinkan saya menjalani kisah luar biasa ini. Terima kasih juga pada Bunda Maria untuk teladan “fiat mihi voluntas tua”.
2. Bapak Prof. Dr. A. Supratiknya selaku dosen pembimbing akademik sekaligus dosen pembimbing skripsi yang dengan sabar mendampingi saya selama perkuliahan dan penulisan skripsi ini. Terima kasih sudah mengingatkan bahwa proses menulis skripsi juga merupakan hal yang bermakna bagi pengembangan diri.
3. Mama Maria Magdalena Hidayati, Papa Agustinus Gatot Moertidjono, Kakak Octavianus Indra Saputra dan seluruh keluarga yang selalu menyertai dan mendukung saya. Terima kasih karena kalian selalu bisa menjadi tempat untuk saya pulang.
4. Bapak Dr. T. Priyo Widiyanto, M.Si. selaku Dekan Fakultas Psikologi Universitas Sanata Dharma, dan segenap jajaran Dekanat.
5. Ibu Dr. Tjipto Susana, M.Si. dan Bapak C. Siswa Widyatmoko, M.Psi. selaku dosen penguji. Terima kasih atas diskusi dan masukan yang diberikan untuk membuat skripsi ini menjadi lebih baik.
6. Para dosen Fakultas Psikologi Universitas Sanata Dharma yang tidak hanya memberi ilmu pada saya, tapi juga pelajaran hidup.
7. Mas Muji, untuk semua bantuan dan dukungannya, baik selama kuliah maupun selama skripsi ini. Terima kasih banyak. Pengambilan data skripsi ini nggak bakal lancar tanpa bantuan Mas Muji, glory! Terima kasih juga untuk Bu Nanik, Mas Gandung dan Pak Gie, serta Mas Doni, untuk segala bantuan, dukungan, senyum dan semangatnya.
8. Kepada teman-teman, ibu/bapak/suster/frater guru dan karyawan yang saya temui di TK, SD, SMP dan SMA. Terima kasih sudah menambah pengetahuan saya tentang hidup.
9. Para partisipan dan ibu. Terima kasih sudah bersedia berbagi kisah hidup, perasaan, dan pikiran. Semoga penelitian ini sungguh memberi manfaat bagi Anda sekalian.
10. Keluarga besar SD Pangudi Luhur Yogyakarta, terutama Bruder Teguh, FIC selaku kepala sekolah yang telah mengizinkan penelitian ini berlangsung, serta Bu Ida yang membantu menghubungkan saya dengan para partisipan.
11. Tante Lucia Erikawati, yang banyak membantu peneliti, dari mulai menghubungkan ke pihak sekolah, berbagi kisah hidup, semangat dan tawa. Juga untuk Tante Damian Alma yang selalu memberi semangat. Terima kasih banyak.
12. Teman-teman “masih remaja”: Acil, Ria dan Retha. Terima kasih buat kebersamaan selama kuliah dan khususnya bantuan selama pengambilan data. Aku mah apa tanpa kalian :D
13. “Anak-anak professor”: Pika, Kak Engger, Maria, Rhintan, Fitria, Yoverdi, Tara, Dedew, Pakdhe, Kak Lala, Tama, Ria, Gaby, Rikjan, Raras, Delima, Gege. Terima kasih untuk kebersamaan dan bantuannya. Semangat selalu, teman-teman!
14. Sahabat terbaik, Stefi. Terima kasih sudah menjadi teman berbagi cerita dan pelukan hangat. Juga untuk sahabat dan teman sharing saya yang lain: Dita dan Dista, Ocha dan Lisa, Bertha, Mbak Anne, Mas Adit “Mbek”, Mas Gigih, Papa PJ, Koh Yan, Mas Eko “Mprit”, Om Beni, Kak Mahatma. Terimakasih untuk segala ketulusan dan kesediaan berbagi kisah hidup.
15. Genk Kepo: Romo Sani, Eli, Febri yang selalu “care pol”. Juga seluruh pendamping, pengurus, anggota dan orangtua Papita yang telah mendukung dan belajar bersama saya. Terima kasih sudah menjadi keluarga kedua selama kurang lebih 14 tahun ini. Ad Maiora Natus Sum!
16. Seluruh Jesuits yang saya kenal, terutama di seputar Kotabaru, Kolsani, Paingan dan Mrican. Terima kasih untuk setiap pertanyaan, “Sudah sampai mana?” dan “Kapan selesai?”, untuk setiap komentar, “Wah, menarik nih!”, juga untuk segala obrolan, traktiran dan gojeg-an. Special thanks to Romo Krispurwana “Mokis”, “bapak” saya. Untuk “Omor” Bambang Sipayung, partner diskusi yang asyik, hingga muncul ide untuk topik skripsi ini. Untuk Romo Kokok, tutor dan teman diskusi soal symbolic father. Untuk Frater “Paman” Thomas, Romo “Kokoh” Buddy Haryadi, Romo Surjo, Romo Heri, Romo “Masbro” Tomi, Romo “galak” Adri, dan Frater “Broer” Angga untuk dukungan pemikiran, pengalaman dan semangat untuk penelitian ini.
17. Semua teman-teman di Gereja St. Antonius Kotabaru, terutama teman-teman Tim EKM Kotabaru yang memberi begitu banyak kesempatan untuk belajar dan mengembangkan diri. Ad Maiorem Dei Gloriam!
18. Para warga dampingan, anak-anak dan volunter Perkampungan Sosial Pingit. Terima kasih untuk semangat berjuang bersama melayani dan semua pelajaran hidup yang boleh dibagikan.
19. Para rekan di Campus Ministry Universitas Sanata Dharma. Terima kasih sudah mengajak saya belajar sesuatu yang belum pernah saya coba, yang sangat berguna bagi skripsi ini.
20. Participants of Service Learning Program batch 7: Adhi, Bagas, Enno, Indri, Ayang, Aaya, Linlin, Natsuki, Morgan, Shaira, Darlene, Nadya, Anselmo, Joey, Kuya Barry, Francis, John Chin, Mayuko, Seia, Hoto, Emi, Ron. For my foster family (Siarot family), and the staffs from Xavier University – Ateneo de Cagayan. And for Glaiza. Thank you so much for the experiences and friendship! Also for Ms Tata, Pak Chosa, Miss Sisca, Mas Anton, Kak Risca, Mas Risang, Kak Kukun, SLP batch 6, GLP batch 7, SLP batch 8. Thank you for your helps, laughs, love and life-lessons.
21. Teman-teman BEMF Psikologi 2013/2014 yang sampai sekarang masih sering ribut di grup, kadang kalian jadi hiburan tersendiri haha long live my family!
22. Seluruh teman-teman Psikologi angkatan 2011, terima kasih untuk segala dinamika selama sepuluh semester ini. Juga untuk kakak-kakak dan adik-adik angkatan. Let’s find our way in Psychology! See you on top!
23. Pak Nug, yang selalu setia mengantar saya ke mana pun dan kapan pun sejak saya TK. Juga untuk semua mbak-mbak asisten rumah tangga yang mengasuh dan membantu mencukupi kebutuhan saya. Terimakasih sudah momong saya.
24. Kepada para keluarga yang mengizinkan saya belajar banyak hal tentang keluarga.
25. Google, Facebook, Twitter, Path, YouTube, radio, TV, koran, dll yang dengan cara mereka sendiri berkontribusi dalam skripsi ini, secara langsung maupun tidak.
26. Terima kasih setulusnya kepada Mateus Lesnanto, rekan bertukar pendapat, penyemangat, pengingat dan sahabat. Good luck for your next journey!
27. Terima kasih untuk Anda! Silakan tulis nama Anda di sini ………………………
Terima kasih sudah mewarnai hidup saya! :)

terima kasih juga untuk semua cinta yang ditunjukkan lewat dukungan, kehadiran dan pemberian ketika saya pendadaran. kebetulan saya diberi kesempatan untuk "pendadaran dua kali" :))
pemanis di hari Kamis :p

kado pendadaran sesungguhnya di hari Senin, nuwun! :)

bukan penonton bayaran :p 

Pak Prof yang sebelum foto ini sempat tanya, "Lho, pacarmu mana, Vania?"
nggak punya Paakkk! :))
ketika saya wisuda pun beberapa teman seperjalanan saya lagi-lagi ikut heboh dengan memberikan pelukan, berbagi keceriaan dan memberi beberapa kenang-kenangan. terima kasih!
kembang beneran, kembang api, coklat, pop up, boneka <3


sebagian anggota Tengger Psikologi A di malam pelepasan :)

keluarga Bener :D

volunter Perkampungan Sosial Pingit :D

"masih" remaja: Retha, Ria, Acil :)

Tephie :)
dari Om Lemmu, omnya @apinganit :)
dan ini, kenang-kenangan paling fenomenal dan tidak terduga :))
dosen pembimbing saya, Prof. Dr. A. Supratiknya mempersembahkan sebuah lagu berjudul "All I Ask of You", bersama Gaby dan SS. terima kasih, Pak! luar biasa sekali, sampai terharu saya :")


beberapa waktu setelah saya menyelesaikan skripsi saya, salah satu musisi favorit saya, Tulus, meluncurkan album barunya yang berjudul Monokrom. ketika mendengar lagu dengan judul yang sama, saya langsung terharu karena teringat warna-warna yang ditorehkan teman-teman seperjalanan saya. mungkin itu ya sebabnya kenapa kalau pendadaran pakainya baju putih-hitam. supaya ingat pribadi-pribadi lain yang memberi warna pada hidup kita :)) #meksobanget
beberapa waktu setelah saya wisuda pun Tulus meluncurkan official music video dari lagu Monokrom, mungkin ini cara semesta untuk mengingatkan saya melaksanakan niat yang sudah muncul sejak lama tapi belum juga direalisasikan. maka melalui postingan ini, saya pun ingin mempersembahkan lagu Tulus yang berjudul Monokrom untuk semua teman-teman seperjalanan saya, baik yang tertulis di atas maupun yang masih di titik-titik nomor 27 itu :D


Tulus - Monokrom
Lembaran foto hitam putih
Aku coba ingat lagi warna bajumu kala itu
Kali pertama di hidupku
Manusia lain memelukku

Lembaran foto hitam putih
Aku coba ingat lagi wangi rumah di sore itu
Kue cokelat balon warna-warni
Pesta hari ulang tahunku

Di mana pun kalian berada
Kukirimkan terima kasih
Untuk warna dalam hidupku dan banyak
kenangan indah
Kau melukis aku

Lembaran foto hitam putih
Kembali teringat malam kuhitung-hitung bintang
Saat mataku sulit tidur
Suaramu buatku lelap

Di mana pun kalian berada
Kukirimkan terima kasih
Untuk warna dalam hidupku dan banyak
kenangan indah
Kau melukis aku

Kita tak pernah tahu berapa lama kita
Diberi waktu
Jika aku pergi lebih dulu jangan lupakan aku
Ini lagu untukmu
Ungkapan terima kasihku

Lembar monokrom hitam putih
Aku coba ingat warna demi warna di hidupku
Tak akan kumengenal cinta
Bila bukan karena hati baikmu



I am really nothing without you! <3


Sabtu, 10 Desember 2016
with love,

Stella Vania Puspitasari, S.Psi.
(sekali-sekali nulis gelar boleh yaaaa :p)


PS: kalau mau pesan bunga-bunga kayak yang di foto bisa cari di IG @agrojayaflorist atau IG @ad_mooi_florist atau ke temen saya @tivakoeswojo, kalau mau handicraft unyu unyu bisa cek IG @allpartygimmicks atau ke temen saya @arum_acil #ujungujungnyapromosi :))

01 Januari 2016

little stories in 2015

Hello folks! Long time no see :D
Firstly I hope you had merriest Christmas and happiest new year! 
Just like the other people (okay, I know I am mainstream hehe) I tried to find out what my best nine photos in Instagram. And now I want to share it with you.
1. In 2015, I made at least two big decisions, and one of them was cut my hair. That's my first time having a short hair, just like when I was 4 years old hahahaha 
That's a "beautiful mistake" I think, because I didn't plan to cut that short, but I love my new hairstyle, look so fresh, isn't it? :D

2. Just like the previous years, in 2015 I engaged to Jesuits' ordination. But I think my engagement last year was special because almost all of the new Fathers is my friend. So last year I attended 5 first masses (actually there were 7 new Fathers, but I couldn't attend all of the first masses). In the photo, that was Romo Sani, one of the most "care pol" person I've ever met :p

3. Well yeah, in 2015 I (still) had good times with PAPITA, it's already 13 years, anyway. WOW! Papita is not everything, but everything could happen in Papita #eaaa

4. In 2015 I also still engaged in Perkampungan Sosial Pingit. I learned a lot, not only about how to teach or how to be more empathetic, but I also learned to struggling with myself, my feelings, my thoughts, my idealism etc. In short, my engagement in Pingit help me to develop as a person. Anyway, this year, 2016, Pingit will be 50 years old! #PestaEmasPingit

5. Another #TourToTheTemples session. That was a moment before sunset at the highest temple in Jogja, Candi Ijo.

6. I had so much fun with my nephews and nieces in 2015! Well, that photo taken just a day after a big decision I made in 2015 hehe :D in 2015, I had a chance to literally took care of them for several days and nights hehehe I am very grateful to be an aunt for cute, funny, creative kids. I also had a new cousin and two new nephews last year, so I am an aunt for 8 kids! Hahaha :D

7. One of my best friend said to me that family will always love you unconditionally, always accept you and give you support, no matter what. In 2015, I really learned to find and give meaning to the words "family". And yeah, I couldn't be happier to be a part of this family. :)

8. Joining Campus Ministry's Media and Publication team was another highlight of my 2015. I met many great people (including my "twin", Jokpin), I learned a lot about organizing an event, I learned a lot through the conversations, I learned a lot about life. 

9. One of 'our job' as media and publication team was share the stories about some Sanata Dharma's students who bike from Jogja to Bali, to campaign about autism and mangrove. Of course I wasn't bike from Jogja to Bali, but I learned from their spirit to do something for others. Anyway, in 2015, I also (actually I am forced) to learn how to bike HAHAHAHA :p 

Yeah, for me 2015 is an epic year. I had so many new things, including new status #EH :))
I think my biggest lesson learned in 2015 was "following my deepest heart". You can always use mask, you can always looks good in front of other people, but your heart will never lie. Whatever the consequences, just face it. 
Thank you for everyone who helped me "find myself" in 2015, there are so many BEST people around me, I can't mention them one by one, but I always whisper their name on my prayers ;)
I'm sure that they are present from God. Prayers, joys, hugs, ears to listened to my stories, even tears we shared together, that's really mean to me. I am so blessed. I hope our friendship also give something that meaningful to you, guys! ;)

Once again, happy new year! Hope you will have a great journey in 2016.

Emmm...
I just had a wish for 2016: get my bachelor degree. What's next? Well, just wait what my deepest heart say :p


Happy holidays!

First day of 2016,
Stella Vania Puspitasari (soon to be S.Psi.) :D

17 Agustus 2015

love begins at home

Dirgahayu Indonesia! Merdeka! 

Setelah tahun lalu saya merayakan hari kemerdekaan di Filipina karena masih mengikuti SLP, tahun ini saya sebenarnya berencana 17an di negara tetangga, Malaysia, bersama keluarga. Tapi rencana itu dibatalkan di H-1, karena kuota orang yang akan ikut rombongan kami terlalu sedikit. Saya kagol dan jengkel banget. 

Kebetulan, weekend ini, tante-tante dari Jakarta datang. Kakak pun tetep pulang ke Jogja. Maka jadilah long weekend ini diisi dengan kumpul keluarga yang nggak cuma berempat aja.

Nonton Running Man dan (film) Dragon Ball bareng kakak, just like few years ago.
Jalan-jalan ke Amplaz berempat, eh berenam dink, sama OKH dan Jojo.
Makan malam di Honje resto bareng Tante Leni-OKB-Albert, Tante Mari, OKH dan mama-papa-kakak, sekaligus bisa "foto sama tugu" tanpa harus "foto di tugu".
Makan siang bareng para krucil sambil ngerayain ulang tahun papa, Kak Marcel dan Hugo.

Di akhir hari ini, saya sedikit banyak bersyukur karena batal ke Malaysia, meski tetep ada sedikit rasa kecewa sih. Tapi untung saya batal pergi, karena saya jadi bisa kumpul sama keluarga di Jogja. Dari pengalaman beberapa hari ini, ada beberapa hal yang saya pelajari.

Bahwa soal "dengan siapa" seringkali lebih bermakna daripada soal "di mana".
Bahwa tawa, canda dan kebahagiaan seringkali tidak perlu kita cari jauh-jauh.
Bahwa keluarga dan rumah bisa menjadi obat bagi luka.
Bahwa syair lagu Keluarga Cemara benar adanya: harta paling berharga, istana paling indah, mutiara tiada tara, puisi yang paling bermakna adalah keluarga.
Bahwa benar apa kata Bunda Teresa: "love begins at home".

Selamat ulang tahun ke 60, Papa!
Selamat ulang tahun ke 33, Kak Marcel!
Selamat ulang tahun ke 3, Hugo!
Semoga selalu dilimpahi berkat dari Tuhan yang Maha Keren!



Yogyakarta, 17 Agustus 2015

Stella Vania Puspitasari

26 November 2014

super lovely family

Minggu, 23 November 2014 mama dan papa saya kembali terbang ke Jakarta. 
Senin, 24 November 2014 papa menjalani tindakan medis, yakni dipasang ring. 
Ya, setelah tujuh tahun lalu dioperasi by-pass, bulan Agustus lalu saat saya di Filipina, papa saya sesak napas lagi dan harus dirawat inap. Beberapa waktu kemudian, papa dikateter dan beberapa kali sesak napas sampai harus dirawat inap lagi. Setelah periksa lagi ke Jakarta, akhirnya diputuskanlah bahwa papa harus dipasang ring.

Ketika kemarin Minggu mama papa ke Jakarta, saya bilang ke kakak di grup WA Keluarga Esnawan, “kak, shift-shiftan kita yak”. Maklumlah, saya nggak bisa ikut ke Jakarta karena masih ada kerjaan yang harus digarap, dan kakak yang memang sudah tinggal di sana harusnya bisa lah nemenin mama papa. Setelah saya ngirim itu, saya terus “mak tratap” sendiri. Saya dan kakak bisa shift-shiftan, tapi mama nggak mau. Bisa sih sebenarnya, tapi mama nggak mau aja gitu. Mama rela ninggalin kerjaan kantor yang setumpuk. Sebagai seorang akuntan, akhir tahun adalah waktunya lembur-lembur, tapi toh mama rela ninggalin itu semua demi nemenin papa berobat.

Ya, inilah yang dinamakan cinta, mungkin. Cinta itu butuh pengorbanan, men! #eaaa

Sebagai seorang anak, saya merasa seringkali nggak berbakti. Akhir-akhir ini saya jarang di rumah, kek bang toyib, soalnya banyak kerjaan. Meski gitu, mama papa nggak protes dan nggak ngelarang saya. Tinggal saya yang seringkali merasa berdosa, meski terus dilanjutin juga sih #selftoyor

Puji Tuhan, kemarin hari Selasa, 25 November 2014 papa sudah boleh keluar dari rumah sakit. Rencananya hari ini mereka akan kembali ke Jogja, semoga ya :)

Saya merasa bersyukur terlahir di keluarga ini. Mungkin keluarga saya nggak berkelimpahan, nggak punya rumah mewah *soalnya sawahnya udah jadi rumah*, nggak punya gadget-gadget bagus… Mungkin juga seringkali ada marah-marah di keluarga saya, entah papa ke saya, mama ke papa, saya ke kakak, kakak ke saya, saya ke papa, tapi toh kami sering banget ngakak bareng. Keluarga saya mungkin juga bukan keluarga yang sempurna menurut orang lain, tapi saya nggak pengen menukar keluarga saya dengan apapun, dengan keluarga kerajaan sekalipun. I am happy with my family. *kemudian muter sontreknya Keluarga Cemara*

Semoga papa dan mama dan kakak gendut selalu sehat, selalu bahagia dan kita bisa ngekek-ngekek terus! Semoga Tuhan juga selalu memberkati kita berempat yaaa :)

Thanks for always being super lovely family, mama, papa, kakak gendut! :*

one of my big bro's bday :3

two years ago. potong kuenyaaaa :D



Rabu, 26 November 2014
ulang tahun perkawinan mama-papa ke 27 tahun :)



nok - nonik - dek - ndut - vania

11 Mei 2013

bye teens, hello twenties!

selamat malam teman-teman :D
hari ini tepat aku memasuki usia dua puluh. say goodbye to teens! 
hari ini, meski tanpa pesta meriah, tanpa diumumkan di facebook dan tanpa kue tart, tapi tetap saja berkesan buatku.

hari ini, aku dapat kado istimewa dari fakultas psikologi, yaitu kunjungan ke RSJ Grhasia, Pakem. rasanya campur aduk deh. penasaran, takut, seneng, dan semua itu membuatku deg-degan. beberapa jam di sana, membuatku merasa kagum pada perawat di sana, karena aku yakin ketahanan mental mereka pasti kuat banget. kalau engga, bisa-bisa mereka justru tukar posisi dan menjadi pasien. pengalaman bertemu orang dengan gangguan kejiwaan di RSJ Grhasia mengubah, atau lebih tepatnya, merevisi persepsiku. kenyataan yang aku temui adalah tidak semua orang dengan gangguan kejiwaan memiliki gejala yang sama, dan bahkan kadang gejala itu tidak nampak secara sekilas. ada orang-orang tertentu yang tidak mau terbuka pada orang lain, dan jika dia mau bercerita pada orang lain, apa yang dia ceritakan sama sekali berbeda dengan gejala yang ditemukan oleh dokter/psikiater/psikolog yang menanganinya. pengalaman ini juga menyadarkanku bahwa kita tidak boleh cepat-cepat menilai seseorang dan melabelinya dengan sebutan tertentu. untuk memutuskan sesuatu, terlebih memutuskan seseorang mengalami gangguan apa, rasa-rasanya perlu penyelidikan yang mendalam dan menyeluruh. 
aku menemukan bahwa tidak semua orang dengan gangguan kejiwaan itu membahayakan orang lain, kadang mereka justru membahayakan dirinya sendiri. aku juga menemukan bahwa mereka itu butuh bantuan kita semua, agar mereka dapat lebih mampu berfungsi normal. kalimat "jika kamu tidak bisa memperbaiki, minimal kamu tidak membuatnya lebih parah" memang tepat sekali.
mungkin aku nggak akan kerja di RSJ, atau secara langsung bertemu dan berhubungan dengan mereka yang mengalami gangguan kejiwaan yang tingkatnya lebih parah, tapi pengalaman ke RSJ Grhasia ini memberiku banyak pelajaran, di antaranya belajar untuk lebih menghargai orang lain, apapun keadaannya, karena toh kita sama-sama manusia :)

ulang tahun bukan alasan untuk menjadi tidak produktif. setelah kunjungan ke RSJ Grhasia, aku japok bersama beberapa teman sampai jam 4. sampai di rumah, kakak bilang ada sesuatu di kamarku, ternyata Stefi mampir dan ngasih sesuatu :)

serba biru dari sahabatku :)
kemudian berlanjut dengan misa jam 6. yang mimpin misa dan homili adalah Romo Andalas, dan beberapa kali selama misa, namaku disebut, bahkan Andre sebagai pacar vania juga disebut :))) maluuuu :))
setelah misa, rencananya mau makan sekeluarga plus Akang Andre. tapi lagi-lagi heboh, karena lamaaa banget menentukan mau makan di mana, sampai-sampai kita keliling-keliling dan akhirnya menentukan pilihan di sebuah restoran. dan seperti biasa, sampai capek ngakak kalau jalan-jalan sekeluarga :D

dan ini ada sesuatu dari Akang :))

lagi-lagi serba biru dari Bulanku :)
ucapan di facebook dari Akang :))
tahun ini, kado istimewa berupa pengalaman dan pelajaran, serta kebersamaan, menjadi bekal untukku menapaki usia 20an :)
terima kasih Tuhan, terima kasih mama papa kakak, Akang Ibu Bapak Mas Sur, Esnawaners, para sahabat, teman-teman Tengger dan psikologi lainnya, teman-teman EKM, teman-teman papita, teman-teman Srikandi stece, dan semuanya saja. terima kasih karena telah mengijinkanku memasuki hidup kalian, dan terima kasih juga karena kalian telah mewarnai hidupku :)
berjuta amin untuk segala harapan dan doa kalian :) semoga kalian semua selalu dilimpahi berkat dan cinta dari Tuhan yang Maha Keren :D


11 Mei 2013
gadis 20 tahun

Stella Vania Puspitasari :)

22 Januari 2013

perjalanan (ABSURD) tak tergantikan: SINGAPORE! :D

halo teman-teman :D
bagaimana liburan kalian? semoga menyenangkan ya :)
minggu lalu, tepatnya 14-16 Januari 2013 aku sekeluarga, sama beberapa orang lain liburan ke Singapore! it's my first trip to abroad :D aku pergi bertigabelas, sama Mama, Papa, Kakak, Kak Nono, Tante Alin, Tamara, Cik Vivi, Mbak Hani dan pacarnya, Kak Nad, Ko Ari, Tante Linda.

minus Kak Nono nih., di Changi :D
hari pertama, begitu sampai Changi, malah foto2 dulu hahaha trus baru ngurus imigrasi dan ngambil bagasi. apes, KOPERNYA PAPA ILANG! :O
ditungguin ada kali setengah jam lebih di tempat bagasi, kok gak adaaaa, trus ngurus kopernya Papa ke petugas AirAsia, tapi Papanya santai aja malah motret2 -___-“
abis itu ketemu Kathy dan Johnson (tourguide) di luar, trus dikasih label bulet oren. tujuan pertama adalah Mustafa Centre untuk makan siang, dan di sana makannya nasi padang donk hahaha, ada gado-gado juga. setelah makan siang kita dikasih kesempatan buat jalan-jalan dan belanja. Kita diantar ke sebuah toko di sebrang Mustafa yang jual barang-barang 3 for S$10. di sebelahnya ada toko kamera, dan Kakak langsung ngabisin  S$500 buat beli lensa dan protektornya. joss.
puas jalan-jalan di Mustafa, kita ke Merlion Park, tempat wajib yang kudu didatengin di Singapore.

sekeluarga di Merlion. aku (tampak) kurus yaa ihiiikk :3
puas foto-foto di Merlion Park, selanjutnya kita ke toko coklat dan hujan coy! abis belanja coklat yang banyaaaak banget *tapi disikat Kakak dan aku gak kebagian sama sekali. hiks!* kita ke ION Orchard. yang langsung dicari adalah MARKS & SPENCER karena mau beli titipannya Oma In. perjuangan banget coy nyarinya! nyasar sampai tanya beberapa kali sama petugasnya. dah nyampe MARKS & SPENCER, bingung deh nyari titipannya: biskuit. ternyata bungkusnya udah ganti, jadi agak bingung deh nyarinya. beberapa jam yang tersedia di ION Orchard cuma dipake buat nyari MARKS & SPENCER doank hehehe
abis itu makan malam masakan Thailand dan check in di hotel. belum puas muter-muter di hari pertama itu, kita langsung cabut lagi ke Bugis, the largest  street shopping location in town *semacam Mangga Dua di Jakarte ituh hehe* pulang pergi jalan kaki lho kita, lha "cuma" dua blok dari hotel hehehe :D pulangnya ngelewatin Lasalle college of the arts, bagus buanget daabbb kampusnyaaa :O sampai hotel santai-santai, nyetel TV, dan nemunya channel Indonesia, SCTV -__-" tapi akhirnya ditonton juga sih hahaha :)) tidur yang sangat amat nyenyak di malam pertama di negeri orang malam itu :)

hari kedua, diawali dengan sarapan di hotel. pekerja di cafe di hotel itu tua-tua coy.  aku sarapan pake sunny side egg with bacon and hash brown. satu fakta yang kutemui: ternyata saos sambal di Singapore ada kecut-kecutnya. wagu wagu gimana gitu rasanya. pas sarapan itu, Kakak ketemu temennya, kakak angkatannya dink, yang juga nginep di hotel itu. abis itu, jam 9:30 Kathy udah jemput di lobi hotel untuk bareng-bareng meluncur ke USS yihaaa :D
di lobi hotel, Kathy di urutan ketiga dari kiri :D
sampai di USS, belum buka coy USSnya hehehe *USS bukanya jam 10* foto-foto dulu deh di globe USS :D
Danbo ikut ke USS lho :D
puas foto-foto, dan jam udah nunjukkin jam 10 lewat, masuklah kita ke USS. abis masuk beberapa toko dan foto-foto,
with Woody Woodpecker and Big Bird :D
langsung deh menuju ke wahana TRANSFORMERS 3D The Ride: The Ultimate 3D Battle, yang kata Kathy wajib dicoba pertama kali karena antrenya lama. aku masuk berlima, sama Kakak, Tamara, Tante Alin dan Cik Vivi. pas antre aja masih sempet foto-foto donk hahahaha :)) untungnya, kita ngantre gak begitu lama. begitu kita udah mau naik wahananya, di belakang langsung berjubel yang antre hehehe
dan wahananya KEREN BUANGET coyyyyy! kita masuk semacam kereta berbentuk mobil gitu kanan kirinya, trus semacam 3D gitu, berasa masuk dalam filmnya, kita direbutin antara Decepticon sama Autobots (Optimus Prime, Bumblebee, dkk) woohhhoooo seru tenan! apalagi ada adegan mobilnya jatuh dari lantai mbuh piro, tinggi banget pokoknya waaahhhh histeris semua! aku nonton filmnya aja udah berasa ikut dalam adegannya, apalagi 3D kayak gini aaaaaaaa *masih excited*

we love you, Optimus Prime! :)
abis itu lanjut jalan lagi, ada wahana Human & Cylon, jetcoster gitu, liatnya aja udah serem banget :| jadi ya gak naik deh..
mummy juga dilewatin karena kata Kathy ini 10x lebih ngeri dibanding Transformer. tapi foto-foto sih jalan terusss :D
mbak'e dhuwur banget...  raiso mesem meneh :/
abis itu masuk ke area Jurrasic Park, tapi gak main apa-apa sih, liat-liat doank soalnya kepisah sama Tante Alin dkk, dan cari memory card karena MMC kameranya Kakak udah hampir habis. abis itu pengen nonton atraksi Waterworld, tapi ternyata mulainya masih sejam-an lagi, jadilah kita menuju Far Far Away kingdom. ketemu dan foto-foto sama Pinokio, 
bareng Pinokio di depan Far Far Away castle :)
trus masuk ke wahana Shrek, pas ngantre eh Shrek-nya lewat. di Shrek 4-D Adventure ini kita masuk ke semacam bioskop tapi 4-D, kursinya gerak-gerak, disemprot air (dikit) beneran, disentor angin lembut di tengkuk pas setannya keluar, seru banget deh :D
abis itu baru deh kita nonton Waterworld, atraksi live dari beberapa orang, ceritanya ada cewek diculik gitu deh, KEREN BANGET! apalagi pas tiba-tiba ada pesawat keluar dari balik seng-seng itu woohhoooo *masih excited* *gak diceritain lengkap* *biar pada penasaran* :p
abis dari Waterworld trus ngumpul semua ber-12 (minus Kak Nono), dan akhirnya makan siang bareng :) absurdnya, di resto itu ada menu AYAM PENYET coy :))))
abis makan, misah lagi, dan kita kembali ke area Far Far Away. tapi ternyata tinggal (semacam) rollercoaster, trus gak jadi deh. lanjut ke area Madagascar! di tempatnya Gloria, Melman, Marty dan Alex ini kita naik ke wahana Madagascar: A Crate Adventure, semacam istana boneka di Dufan itu hehe tapi banyak jebakannya -__-" *pundung*
tapi kepundungan itu mencair karena foto-foto sama empat sekawan itu :D

with Melman, Marty, Alex, Gloria :D
sampai di area Hollywood lagi, nemu toko yang jual MMC deh, trus aku liat-liat foto yang dipajang di sana, ada yang foto sama Frankenstein, Po (Kungfu Panda), dll. tiba-tiba AKU PENGEN FOTO SAMA MEREKA! :D
pas aku keluar toko itu, pas bangeeettt ADA PO!!! langsung histeris dan ngantri foto sama Po, seneng banget :D *kayak anak kecil rasanya hihihi* abis itu Mr. Frak dateng dan foto-foto lagi sama dia. 
thank you Mr. Frak and Po! love youuuu *hugs*
udah foto-foto, trus masuk ke toko souvenir buat cari oleh-oleh, saking asyiknya, gak tau kalo ternyata di luar ada Betty Boop.
akhirnya kita mutusin buat keluar dari USS, dan mau naik MRT Sentosa Express. tapi trus kepisah sama Tante Alin dkk, jadi cuma jalan berlima, sama Mama, Papa, Kakak, Kak Nono. trus naik MRT ke Vivo City, mall terbesar di situ. dan ternyata memang bener, guede buangetttt! sampai nyasar dan bingung cari money changer, tapi ada berkah juga kesasar gitu, nemu toko coklat dan belanja coklat lagi hehehe trus juga nemu balkon yang keren buat foto-foto dan nonton pemandangan. satu lagi, nemu patung Merlion dari lego yang keren banget di toko mainan. abis itu balik lagi ke USS dan maem es krim sorbet. *es krim di dalem kulit buah*
di Vivo City. iyah, itu Merlionnya dari Lego semua *berdecak kagum*
setelah ngumpul semua bareng Kathy juga, kita melanjutkan perjalanan, ternyata naik MRT lagi. kali ini ke Imbiah Station, yang ada tulisan "SENTOSA" dan history of Singapore trus makan malam *yang agak kesorean* di resto tersembunyi di deket sana. abis itu jalan lagi ke pantai, mau nonton Songs of the Sea. KEREEEENNN :D buat yang penasaran kayak apa sih Songs of the Sea itu, gugling yak :p
after watching Songs of the Sea. komplit nih :D
abis nonton Songs of the Sea, kita pulang ke hotel, tapi karena masih semangat pengen jalan-jalan, jadilah kita minta didrop ke Bugis lagi, dan pulangnya jalan kaki lagi :D *padahal udah cuapeeekkk buangettt*
tidur di malam kedua ini, aku pake counterpain banyak banget di pundak dan kaki *terutama kempolku tersayang*

hari ketiga, diawali dengan absurdnya waktu sarapan di hotel. pelayannya marah-marah, entah kenapa. dan yang ngantri mau sarapan buanyaaaak buanget. pagi itu, aku coba mie Hongkong. abis sarapan kita ke bandara deh, mau pulang. sampai sana, abis check in, foto-foto dan ngurus imigrasi, kita masuk bandaranya dan kaget karena bandaranya semacam mall :O
full team + Kathy :D
trus langsung deh beli minuman di sana, lama amat milihnya ahahaha :)) abis itu jalan ke terminal C1 sambil mampir ke money changer. begitu sampai di terminal C1, ternyata udah last call, dan itu berarti KITA HAMPIR KETINGGALAN PESAWAT!!!! :O
udah dimarah-marahin sama petugasnya biar cepet trus sampai pesawat ngakak-ngakak sendiri kok ya bisa hampir ketinggalan pesawat dan gak denger pengumuman sama sekali HAHAHA odoonngggg :)))
perjalanan pulang ditempuh sekitar 2 jam 15 menit dengan jalan yang gak mulus karena cuaca buruk di beberapa tempat.

huaaahhh perjalanan perdanaku ke luar negeri ini sungguh absurd :))) dimulai dari kehilangan koper, ada temennya Mama yang bawa-bawa ciduk/gayung *HAHAHA*, Kak Nono nekat ngerokok di kamar hotel mbuh pie cara'ne, memori abis jadi beli lagi, nonton TV di hotel ya tetep SCTV, kesasar di mall karena saking gedenya mall itu, jalan-jalan berdua sama Kakak tanpa duit kayak anak ilang karena kepisah sama Mama, dan yang paling luar biasa adalah hampir ketinggalan pesawat. hahahaha :))) sumpah ini perjalanan terabsurd tapi luar biasa menyenangkan! :D

semoga liburan kalian menyenangkan juga ya, teman-teman! :)

Jogja, 22 Januari 2013
masih excited dan masih pengen liburan lagi,
vania :)

01 Agustus 2012

cerita di bulan ke tujuh

selamat hari pertama bulan ke delapan! :)
bagaimana hari pertama di bulan Agustus ini, teman-teman? ada yang menarik, ada yang membosankan, ada yang biasa aja, macem-macem pastinya ya. kalau buat aku sendiri sih, ini bukan salah satu hari yang cukup baik. tapi bukan itu yang mau aku ceritain sekarang :D

aku justru pengen cerita tentang bulan Juli yang baru aja kelewat. buat aku, bulan Juli kemaren itu bener-bener hectic banget. tiga acara dalam waktu yang berdekatan, dan harus memikirkan dua lagi untuk bulan Agustus ini. mantap!
ya, bulan Juli kemaren kebetulan aku dipercaya untuk jadi korlaks EKM Juli (lagi), yang penyelenggaranya adalah Tim EKM sendiri, dan yaaa karena pas banget musim ujian dan liburan, jadi ngilang semua deh. sering banget rapat cuma aku berdua sama Anu, atau kadang bertiga sama Bonfi juga. persiapannya jadi cukup stressfull, dan banyak yang kelewat. tapi puji Tuhan akhirnya berjalan dengan cukup baik juga, walau pas hari H aku gak ikut *sedih banget ini* :(
cover EKM Juli 2012
bukan tanpa alasan aku sampai gak ikut pelaksanaan EKM yang aku korlaksin sendiri dengan susah payah, keringat dan air mata *lebay pol* :)))
aku ada LIVE IN! acara wajib ini diselenggarain fakultas dan digelar di Wonogiri, 13-16 Juli. iya, selesainya Senin. nanggung. 
dan lagi, setelah itu aku masih membantu tahbisan imam SJ yang diselenggarain 19 Juli.
misdinar tahbisan 2012 (aku untuk kelima kalinya HAHAHA)
dan, inti cerita sebenernya adalah tentang LIVE IN 2012 :D *dari tadi ngomong panjang lebar, di sini baru intinya HAHAHAHA*
live in ini agak beda dari live in lainnya, karena kita terbagi dalam kelompok besar, dan kelompok itu bikin program untuk dusun yang ditinggali, jadi ini semacam mini KKN gitu #eaaa
aku tergabung dalam kelompok 1 dan tinggal di Dusun Selorejo *yang dari Romo Eko kemudian aku tau panggilan kerennya adalah "Nthok Nthing"* *semoga gak salah ketik* :D
kelompok 1 dan anak-anak Dusun Selorejo saat program :D
sebenernya aku gak begitu asing dengan Wonogiri, karena aku udah dua kali ke sana sebelumnya. tapi pastinya kali ini lebih banyak pengalaman baru yang mungkin gak bakal terlupakan. dari pertama dateng ke sana, kami dijemput oleh orang dari dusun kami masing-masing. jemputnya macem-macem, ada yang pakai mobil, ada yang tanpa kendaraan alias jalan kaki, dan ada (termasuk kelompokku) yang pake kijang sapi. gak tau kijang sapi? itu lho, mobil bak terbuka yang biasanya buat ngangkut sapi.
kurang lebih kayak gini deh :)) *sumber*
bayangin sendiri deh kurang lebih dua puluh mahasiswa empet-empetan di kijang sapi, siang-siang masih ditambah tas-tas dan gitar itu kayak apa hehehe josss tenan :D
aku tinggal serumah sama Ratna, temen sekelasku. kami berdua tinggal di rumah keluarga Pak Triman. dari mulai dateng sampai pulang, aku berasa nyaman banget di sana. mungkin karena aku nemuin satu kesamaan antara keluarga Pak Triman dengan keluargaku, yaitu sikap yang sangat terbuka dengan orang lain, bahkan menganggap orang lain kayak bagian dari keluarganya sendiri. aku bisa melihat itu dengan jelas, bukan hanya dari bagaimana mereka menyambutku dan Ratna, tapi justru dari cara mereka memperlakukan orang-orang di sekitar dusun itu, di antaranya Sinta dan Rulli. Sinta adalah seorang anak empat tahun, anak dari bos Pak Triman sekeluarga. Sinta lengket banget sama Mamak alias Bu Triman, entah kenapa. bahkan tiga malam aku live in di sana, Sinta juga ikut tidur di rumah karena pengen tidur sama Mamak.
cantiknya kayak bidadari turun dari khayangan :)))
aku merasakan ketulusan di tengah-tengah keluarga itu. Mamak yang selalu ngingetin untuk mendak karena pintu kamar yang pendek, Bapak yang tampangnya galak tapi suka banget godain Sinta dan bikin kita ketawa, Nani (anak Pak Triman) yang ramah, Rulli (tetangga dan masih saudara sama Pak Triman) yang heboh dan lucu. aku sungguh belajar banyak mengenai ketulusan dari keluarga itu. 

satu lagi cerita yang gak akan kulupain. hari Minggu, aku dan Ratna diajak Rulli ke gereja. misa mulai jam 07:30. jam 07:05, kami berangkat dari rumah. kami naik bus sampai gereja, 10 menit sampai. sebelum misa mulai, Rulli bilang, "Mbak ini nanti kalau gak ada bus pulangnya kita jalan lho". merasa jalannya gak terlalu jauh, kemaren dan tadi liat bus banyak yang lewat dan gak ada pilihan lain, aku pun menjawab dengan yakin, "yowes gakpapa! tenan wes, gakpapa". misa berjalan dengan baik dan koor dari OMK Danan yang bagus banget! setelah misa, aku diminta untuk bantu hitung kolekte, karena yang tugas dari lingkungan dusunku, Selorejo. keluar dari gereja, bener aja yang dibilang Rulli, gak ada bus yang lewat. kami pun jalan kaki. dan ternyata, perjalanan kami tempuh selama tiga puluh menit alias setengah jam! bayangkanlah betapa kempolku meraung-raung :))))

tapi aku bersyukur banget bisa mengalami live in kali ini, meski harus meninggalkan EKM Juli. banyak hal yang aku dapat lewat live in ini. puji Tuhan, program yang kurancang bersama teman-teman bisa terlaksana meski sempet ada berbagai rintangan :D
puji Tuhan juga, bisa dapet kesempatan untuk semakin akrab dan menggila bersama Tengger Psikologi A :))

tanggal 27 Juli kemaren, aku kembali ke Nthok Nthing alias Selorejo. bukan untuk kembali live in, tapi untuk jadi umat di misa perdananya Romo Eko, SJ. 
iklannya :p
aku memang udah janji sama Romo Eko, dan sama Pak Triman juga, untuk dateng ke misa perdana ini. ketika aku ketemu Bapak, Mamak, Nani dan Rulli, aku masih merasakan ketulusan mereka. Bapak meminta Rulli untuk berjalan ke rumah bersamaku, padahal aku (sok) berani jalan sendiri. sampai ke rumah, Mamak pun langsung memberiku oleh-oleh, dan Mamak juga mengantarku kembali ke rumah Romo Eko. Mama dan Papa pun ketemu sama Mamak dan Bapak, itu menyenangkan :D

yah, aku berharap semoga makin banyak orang yang belajar tentang kehidupan dengan live in macam ini :)
dan semoga keluarga Pak Triman juga selalu diberkati Tuhan dan semakin menginspirasi orang lain :D


selamat belajar tentang kehidupan, teman-teman! :)


dari Yogyakarta,
Stella Vania Puspitasari :)