selain cerita si bintang

Tampilkan postingan dengan label kata hati. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label kata hati. Tampilkan semua postingan

20 April 2020

(tak) sendiri di tengah pandemi

sudah lebih dari satu bulan situasi dan kondisi berubah sedemikian rupa karena pandemi covid-19. aku inget betul, acara terakhir yang aku datangi adalah workshop Ignite: mastering the art of group dynamics, tanggal 15 Maret 2020. hari itu, situasi udah serba cemas dan hand sanitizer serta cuci tangan jadi hal yang wajib, meski belum harus ke mana-mana pakai masker. sorenya, pemerintah mulai mengimbau masyarakat untuk bekerja, belajar, dan beribadah di rumah. Senin, 16 Maret 2020 aku masih keluar kos untuk minta tanda tangan dosen (cuma 5 menit ketemunya!) dan belanja, beberapa instansi, termasuk kampusku, sudah mengeluarkan edaran resmi untuk menghentikan segala kegiatan yang mengumpulkan orang banyak. 

di hari Minggu itu, aku mendapat gambar entah dari grup mana, tulisannya adalah "jangan mudik!" mungkin karena tulisan itu, dan beberapa pertimbangan lain, disposisi batinku sejak awal memilih untuk tetap bertahan di Bandung. salah satu pertimbanganku yang utama adalah kekhawatiran kalau aku menjadi inang dari virus ini dan menularkan pada orang lain. apalagi tanggal 15 Maret itu aku berkumpul dengan lebih dari 50 orang dan berinteraksi dengan cukup dekat, meski sudah ada beberapa protokol seperti menggunakan hand sanitizer. selain itu, aku juga kepikiran tesis, soalnya hari-hari itu aku lagi penjaringan subjek dan pengambilan data. aku masih berpikir ada hal-hal yang bisa kulakukan di Bandung terkait tesisku. 

seminggu pertama, aku merasa diri ikut panik dengan situasi yang terjadi, dengan segala perubahan yang terpaksa harus dijalani. aku seakan-akan menjadikan diriku sebagai semacam "pusat informasi" untuk siapapun. berita dari satu grup akan dengan segera kuteruskan ke grup lain, begitu juga lintas medsos. hampir seluruh waktuku habis oleh mencari informasi, memvalidasinya, membagikannya. maklum, di minggu pertama ini begitu buanyaaakkk hoaks yang bersliweran, dan kepanikan di mana-mana. seminggu pertama, aku juga berusaha membuat beberapa tulisan dan kampanye sederhana untuk tetap saling menyapa dan melakukan hal-hal kecil demi kesehatan mental diri sendiri dan orang lain, lewat #LittleRandomAct. terlalu sibuk sama urusan per-covid-an ini, aku jadi enggak mikirin tesisku sendiri seminggu pertama. 

memasuki minggu kedua, aku mulai overwhelmed dengan banyaknya informasi dan mulai "sadar" untuk mikirin tesis lagi. minggu kedua ini adalah fase aku mulai putus asa dan rasanya pengen lulus tanpa tesis aja. huhuhu. mulai pesimis bisa lulus enggak (sesuai target), mulai khawatir dan merasa bersalah kalau (amit-amit) nanti harus nambah satu semester dan bayar lagi. perasaan putus asa itu masih berlanjut di minggu ketiga. aku juga mulai mempertanyakan, apakah keputusanku untuk tetap tinggal di Bandung dan enggak mudik ke Jogja itu adalah keputusan yang tepat dan terbaik. apalagi beberapa teman juga sudah mudik, dan bertanya apakah aku enggak mudik. semakin galau lah aku. padahal sejak minggu pertama, mama dan papa tampaknya memang lebih ingin aku dan kakak tetap di tempat kami masing-masing dan enggak balik ke Jogja karena terlalu riskan. terlebih kondisi papa (dan mama juga sebenarnya) yang punya beberapa penyakit bawaan. demi meminimalisir penularan, kami pun di kos aja.

minggu ketiga dan minggu keempat, yang berbarengan sama pekan suci, aku mulai agak lebih tenang dan makin mantap di kos aja. perasaanku campur aduk sebenarnya. tentu ada perasaan kesepian, sedih, khawatir, tapi di sisi lain juga ada perasaan lega dan syukur karena begitu banyak "previlege" yang aku punya, di tengah berbagai keterbatasan. beberapa sahabat berbagi berkat dan mengirimiku makanan, minuman, masker, kaus, buku sebagai bentuk #LittleRandomAct mereka. ketika aku merasa enggak baik-baik saja, aku juga berbagi dengan beberapa sahabat. salah satu kalimat yang paling kuingat dan paling menguatkanku kurang lebih begini: keputusan sudah dibuat, dijalani. kalau misalnya keputusan itu keliru, Tuhan akan membantumu menemukan yang lebih tepat. di podkes Setiap Jumat, Romo Magniz juga berkata untuk mengambil semua tindakan yang diperlukan. ini juga menguatkanku di tengah kegalauan tak berujung di minggu ketiga menjelang Minggu Palma. 

Paskah 2020 ini beda banget levelnya. berasa banget kedaruratannya. ini adalah Paskah pertama, dan semoga yang terakhir, di mana kita enggak bisa ke gereja. aku cuma misa di kamar kos sendiri, dengan meja altar darurat dan kasur sebagai bekgron. di sisi lain pengalaman ini aku syukuri banget, karena aku merasa sungguh-sungguh menghayati dan memaknai paskah itu sendiri. sebuah keluarga sahabat menawariku untuk misa malam paskah bersama di rumah mereka, tapi aku terlalu sungkan untuk mengiyakan, dan terlalu malu karena aku memprediksi aku akan menangis heboh sepanjang misa. betul saja, aku sesenggukan sepanjang misa, bahkan setelah misa pun masih nangis. dasar aku cengeng sih. hehe.


secara fisik, aku memang sendiri di kamar kos ini. kos yang harusnya buat 25 orang ini pun cuma tinggal 3 orang plus keluarga yang jaga kos. tapi kehadiran keluarga dan sahabat secara virtual sungguh menguatkan dan membuatku enggak merasa benar-benar sendiri. aku pun membuat satu hestek lagi #berkatkorona untuk merenungkan hal-hal baik yang kurasakan di tengah pandemi. aku jadi sering banget video call sama mama, papa, dan kakak. selain itu, keluarga Esnawan juga beberapa kali vidcon, seru! aku juga jadi nyiapin makanan sendiri, bikin macem-macem eksperimen di dapur, termasuk masak nasi pakai panci dan dandang. beberapa life skills jadi terpaksa dipelajari di tengah pandemi, syukurlah. 

di tengah perasaan kesepian, kehampaan, kebosanan karena karantina, setidaknya aku tidak (terlalu) merasa sendiri, karena mungkin hampir semua orang di seluruh dunia mengalami hal serupa. maka sekecil apapun, aku berusaha berbagi dengan siapapun. sesederhana berbagi informasi yang akurat, menyapa, sampai menyumbang makanan atau uang. inilah yang aku sebut sebagai #LittleRandomAct. semoga hal-hal kecil yang kita lakukan selalu dilandasi kasih yang besar. horeluya!


20 April 2020 (eh, tanggalnya bagus)
dari kamar kos di Bandung,

sahambat

21 Januari 2020

2019 love yourself

hello folks! long time no see! happy (belated) new year! 2020 udah jalan 21 hari nih, gimana so far? hope it goes well yaaa...

so, 2019 was over, and I learned a lot through the year. semua pelajaran selama 2019 saya coba rangkum dalam hestek #2019LoveYourself. well, sebenernya itu hestek yang saya bikin di awal tahun 2019 sih, untuk mengingatkan pelajaran besar yang ingin saya capai sepanjang tahun. awalnya (kalau enggak salah ingat), saya bikin hestek itu gara-gara saya kena gerd di awal 2019. sebetulnya saya enggak pernah punya masalah sama asam lambung. memang sejak bayi, pencernaan saya bermasalah, sampai harus rawat inap sekitar 2 minggu setelah lahir, dan waktu TK sampai SD saya gampang muntah, tapi saya enggak pernah punya masalah sama asam lambung. pertama kali saya kena masalah lambung tuh akhir 2018 waktu saya ikut conference di Batu, Malang. masalah lambung itu terulang lagi di awal 2019 waktu saya nyiapin seminar usulan penelitian (SUP). ya, mungkin faktor yang lebih utama dari gerd ini adalah stres hahaha. 

well, sebagian besar 2019 saya dedikasikan untuk praktik kerja, urusan dengan klien dan laporan. awal November 2019, saya menjalani ujian praktik kerja internal dengan dosen-dosen, lalu 20 Desember 2019 saya menjalani ujian profesi dengan penguji dari organisasi profesi. wow, ternyata udah sebulan lebih sehari saya dinyatakan layak jadi psikolog. rasanya belum banyak perubahan, maklum gelarnya belum sah karena masih harus menyelesaikan tesis. 

selain urusan kuliah, di 2019 saya juga rasanya lebih banyak meluangkan waktu dengan keluarga. memang ada beberapa kejadian yang bikin deg-degan sepanjang 2019, misalnya papa 2x masuk IGD dan harus opname sekali. mama pun juga sempat opname sekali. saya pun cukup sering pulang ke Jogja, bisa dua bulan sekali, bahkan sebulan sekali. beberapa kali saya izin dari praktik kerja karena pulang ke Jogja, atau menemani sahabat yang berkunjung ke Bandung. untungnya, temen-temen di tempat praktik kerja sangat suportif, bahkan mereka kadang nyuruh saya bolos lebih lama biar lebih lama di rumah. dengan mereka, saya pun akhirnya berani membuka diri tentang kondisi kesehatan papa yang selama ini saya simpan sendiri. ternyata, mengakui kerapuhan diri dan membuka diri untuk perhatian dan bantuan orang lain pun adalah bentuk "love yourself". enggak hanya dengan teman-teman praktik kerja, saya pun membagi kisah yang selama ini saya simpan sendiri dengan keluarga dan beberapa sahabat. ketakutan saya selama ini bahwa mereka akan nge-judge atau bahkan menjauhi saya, untungnya enggak terjadi. mereka tetap mau bersahabat dengan saya, bahkan mendengarkan dan memberi saran. 

hal lain yang saya pelajari dan lakukan sebagai bentuk "love yourself" adalah menjalin kontak dengan beberapa orang yang selama ini saya hindari, bahkan saya (di)blok. saya mencoba menyapa mereka, beberapa bahkan saling update kabar dan curhat sama saya. ada perasaan lega yang luar biasa ketika kembali menjalin komunikasi dengan mereka. rasanya, perasaan kesel, sebel, marah, dendam, kecewa di masa yang udah lalu tuh luntur gitu. I've done with that. biarlah itu menjadi bagian dalam hidup saya, tapi yaudah, life goes on. wong ya wis bertahun-tahun lho ya hahaha lama ya... 

saya bersyukur banget bisa melewati 2019 dengan berbagai dinamika yang terjadi. saya banyak belajar untuk mengasihi diri sendiri, untuk menjadi sahabat bagi diri sendiri, selain menjadi sahabat bagi orang lain. kayak lagunya Kunto Aji yang judulnya Bungsu, "Sebelum kau menjaga, merawat, melindungi segala yang berarti, yang sebaiknya kau jaga adalah dirimu sendiri."

have a great 2020, gaes!
oya, hestek saya untuk tahun ini adalah #2020LevelUp, dan goals utama saya tahun ini adalah LULUS dan kerja (I need cuan)! nyuwun pangestunipun nggih, sedherek sedaya...
kalau kamu apa resolusi 2020nya?


Bandung, 21 Januari 2020
18.18 WIB
vania

04 November 2019

recharged

hae gaes!

enggak kerasa ya udah masuk November aja, bentar lagi udah mau ganti tahun lagi! ya ampuuunnn...
seperti biasa, blog ini udah berdebu banget hehe saking berdebunya sampai bingung beresin dari mana dulu.

bulan Oktober dan awal November ini rasanya nano-nano banget. awal Oktober, aku akhirnya seminar kasus besar 2, seminar kasus terakhir sebelum ujian. istimewanya, seminar kasus ini dibahas sama dosen yang paling disegani. untungnya, berhasil dilewati juga...

selesai urusan sama kasus, minggu kedua Oktober aku mulai kembali ke tesis, setelah sekian lama terbengkalai. karena punya rencana yang menyenangkan di minggu ketiga, minggu kedua ini aku agak rungsing alias senewen untuk memastikan jadwal bimbingan. keajaiban bener-bener terjadi deh. awalnya dijadwalin bimbingan hari Senin, tapi ternyata tiba-tiba dosennya enggak bisa. Gusti Allah tuh kalau udah punya rencana emang segala sesuatu jadi mungkin. :))

pertengahan Oktober, hal yang aku tunggu-tunggu, akhirnya punya kesempatan untuk ngancani liburan bersama Tuhan lagi, setelah terakhir kali tahun 2017. sejak dimintain tolong bulan September, aku enggak berani janji bisa ikut, karena jadwal enggak pasti., akhirnya aku baru memastikan hari Jumat atau malah Sabtu. lalu merasakan juga online meeting pakai video call haha berasa penting :p

menemani liburan bersama Tuhan, ternyata juga bikin aku recharged. aku belajar banyak dari perjumpaan, kisah-kisah, cerita-cerita, seneng banget rasanya, apalagi ikut nginep di tempat Bunda, maksudnya bener-bener di Gua Maria. udah lama enggak begitu, hepi jadinya. banyak hal baru yang aku alami juga, mulai dari ke Purwokerto naik kereta sendiri, ke Kaliori, kulineran di Purwokerto dan sekitarnya (termasuk minum tuak sampai kayak kepiting rebus haha), naik travel Jkt-Bdg, bikin presentasi langsung bawain materi, dan masih banyak lagi deh pengalamannya. hal lain yang bikin aku makin recharged tuh sejak awal Oktober aku juga iseng ikut program meditasi online 21 hari. bener-bener fully charged deh rasanya!

pengalaman ngancani retret dan meditasi ini ternyata cukup jadi bekal untuk menghadapi hal-hal lain yang gak terduga. aku memang udah sempat dikasih tau kalau ujian praktik kerja tanggal 1 November, tapi seminggu sebelum ujian, aku baru dikasih tau kalau sebagai syarat ujian, harus ngumpulin 10 laporan, terakhir hari Rabu. langsung panik sih, dan berharap jadi titisan Bandung Bondowoso atau Sangkuriang. energi yang dikumpulkan beberapa waktu terakhir rasanya langsung abis seminggu terakhir. untungnya sudah terlewati satu tahap ini, entah gimana hasilnya. 

seminggu terakhir, selain ujian praktik kerja, aku juga ngalamin "ujian" lain: mama harus opname. heran aku, waktu ngerjain kasus ujian ini Agustus kemarin, papa juga opname. sekarang menjelang kasus ini dipertanggungjawabkan secara lisan, kok gantian mama. kalau kata salah satu tanteku, memang ujian kan bukan cuma akademis aja, tapi dalam hidup sehari-hari juga. ya, begitulah. ketika menjalani hari-hari ini, aku merasa sangat bersyukur karena sudah menjalani "masa charging" lewat liburan bersama Tuhan dan meditasi. 

segini dulu deh ceritanya. aku udah ada rencana untuk recharge lagi, mudah-mudahan beneran recharge dan cukup untuk menjalani hari-hari yang menantang selanjutnya :D


have a good time, gaes!


Minggu-Senin, 3-4 November 2019
sekitar tengah malam
dari Bandung yang adem karena mulai sering hujan

vania


31 Agustus 2019

am I a good friend?

pertanyaan yang jadi judul postingan ini adalah salah satu pergulatanku sejak lama. aku menyadari bahwa aku punya kebutuhan untuk diterima oleh orang lain, untuk menjadi 'teman', dan untuk membantu orang lain. di sisi lain, aku juga punya ketakutan untuk tergantikan, untuk menjadi bukan yang utama lagi, untuk menjadi sama seperti yang lain. aku sadar betul dengan pergulatan yang memengaruhi buanyak hal dalam hidupku, termasuk ini yang bikin 'gagal move on' selama pindah ke Nangor-Bdg. apalagi pas awal-awal, wah rasanya nyesek beutsss. seiring berjalannya waktu, aku akhirnya bisa memaknai bahwa 'merantau' ini sebenarnya justru sedikit banyak membantuku untuk dealing sama perasaan dan pikiran yang macem-macem tadi. ya iyalah gak diajak, kan jauh. ya iyalah gak dikasih tau, emang kamu bisa apa. ya iyalah gak diajak omong, kan kamu sibuk juga. maklum, dipaksa keadaan.

tapi ya pergulatan ini tetap ada, bahkan cukup sering menggangguku. minggu lalu, pertanyaan di judul postingan ini muncul lagi. saking impulsifnya, aku langsung minta maaf sama salah satu sahabat karena gak bisa hadir menemaninya secara fisik, seperti orang lain yang doi ceritain. sebelumnya, ada beberapa hal juga yang membuat pikiran itu muncul. mungkin efek hormon juga kali ya, jadi sensi abis. *alasan*

eh, lha kok pas di Jogja, tiba-tiba papa harus opname. mama juga riweuh nyiapin acara keluarga, jadi pasti juga capek dan enggak total menemani papa. selama papa opname, aku akhirnya take over untuk menemani papa di rumah sakit, hampir 24 jam kali 5 hari. pengalaman itu membuatku berefleksi bahwa mungkin ini saatnya menjadi teman dan sahabat bagi papa dan mama. keluarga adalah tempat di mana seseorang tidak akan pernah tergantikan.

di tengah keresahan, kegalauan dan pertanyaan tak berujung, lewat pengalaman ini, Gusti Allah seakan-akan mau bilang bahwa pertanyaan yang jadi judul postingan ini hanya bisa dijawab lewat usaha terus menerus untuk menjadi sahabat bagi orang lain. caranya ya bisa macem-macem, tapi yang penting intensinya adalah menjadi sahabat. setiap orang punya peran masing-masing. bagaimanapun miripnya kamu dengan seseorang, kamu ya tetap kamu, you are unique, you are limited edition, because there's only one you!

aku akan menutup postingan ini dengan berbagi #HomiliHariIni:
#BacaanHariIni mengingatkan kita untuk melayani sesama dengan tulus ikhlas, rendah hati, dan berbesar hati jika kita digeser atau digantikan. - Romo Agus, OSC

JLEB BANGET YA :")
masih jadi PR sih nih soal tetap tenang walau 'digantikan' ... maklum, suka post power syndrome gitu~ :))

aku yakin, pertanyaan yang menjadi judul postingan ini, masih akan tetap menjadi (salah satu) pergulatan utamaku. artinya, topik ini akan muncul dalam sambatan-sambatanku, karena menimbulkan kegalauan dan keresahan. tapi semoga, kegundahanku ini justru bisa menjadi semangat untukku berbuat hal baik secara tulus, ikhlas dan total kepada siapapun.

it's okay to be not okay, because it means that you are going to be more okay. cheers!



malam minggu terakhir di bulan Agustus 2019
anak kos,

vania

22 Februari 2019

half-birthday per-KP-an

*bebersih debu yang menebal, sarang laba-laba di mana-mana dan berbagai kotoran*

blog ini sudah lama tidak berpenghuni rupanya. maafkan aku yang pemalas ini ya gaes *geer amat, berasa ada yang baca, padahal ya enggak* 😅

huaaahhhh… aku mengawali postingan ini dengan menghela napas panjang dan siap sambat hehehe
enam bulan terakhir, tepatnya sejak Agustus 2018, aku mulai menjalani babak baru dalam kehidupan perkuliahan, yaitu memasuki kerja praktik, lalu pada bulan Oktober 2018 aku juga mulai memasuki kehidupan yang lain, yakni tesis. 

aku merasa enam bulan terakhir, hidupku bergerak sangat cepat. aku kerja praktik di sebuah rumah sakit di Cimahi, yang sejak beberapa tahun terakhir dikenal punya banyak klien anak di poli psikologinya. bahkan, kakak angkatan di atasku persis yang kerja praktik di RS itu per orang dapat 20an kasus. dengar fakta itu aja aku udah mlongo. asemik, bisa enggak ya? bisa-bisa aku modyaaarrr~

di bulan Agustus 2018 itu aku dan empat teman yang lain yang sama-sama kerja praktik di RS itu masuk seminggu atau dua minggu lebih dulu dari jadwal sebenarnya untuk orientasi. di situ, aku semakin lihat ke-hectic-an kakak-kakak yang riweuh menangani klien, mengerjakan laporan, diskusi, bimbingan, dll. uwooo, makin keder…

setelah menjalani sendiri, ya emang enggak gampang sih… berasa kejar-kejaran, tapi pakai sepatu yang kegedean, jadi kadang sepatunya suka lepas atau akunya suka jatuh. terengah-engah pula. 

semakin bertambah jumlah kasus yang ditangani, semakin aku merasa aku banyak enggak taunya dan masih harus terus menerus belajar karena merasa masih bodoh mulu. waktu aku nulis blog ini, paginya aku abis seminar kasus kecil 2, dan itu adalah kasus ke sepuluh. dipikir-pikir gelo juga ya 6 bulan 10 kasus, harusnya udah kelar nih kerja praktiknya… #eh #masihbodohkokmintaudahan #selfjitak

nah, di seminar kasus kecil 2 tadi pun aku merasa masih banyaaakkk kurangnya dan masih banyak yang harus kuperbaiki. separuh jalan menuju akhir masa kerja praktik, mudah-mudahan aku bisa membuka diri, pikiran, dan hati untuk lebih mau banyak belajar dari literatur atau diskusi ya... 

kepadatan jadwal dan tantangan selama 6 bulan terakhir ternyata membawa dampak fisik ke aku, 3 kali aku kena refluks asam lambung. padahal sebelumnya sama sekali aku enggak pernah ngalamin maag. entah karena efek pola makan yang ngawur, stress, atau keduanya, penyakit itu muncul deh...

di tengah segala kerumitan hidup ke-mapro-an, banyak banget hal yang aku syukuri. teman-teman yang sangat membantu, terbuka dan penuh ide kreatip, pembimbing yang sangat detail dan sangat membimbing, dan juga aktivitas lain yang jadi tempat 'katarsis' yaitu SPINMOTION Bandung dan SEKODI. dua komunitas yang kusebut nanti kapan-kapan aku cerita deh ya, butuh postingan sendiri soalnya, panjaaang ceritanya hahaha 😁

yaaaahhh, segini dulu deh curhat enggak pentingnya. ini juga sebenernya ditulis di tengah pengerjaan laporan yang daritadi enggak nambah-nambah, hadeeehhh #sambatmeneh

doakan aku kuat menghadapi enam bulan selanjutnya di masa kerja praktik dan enam bulan selanjutnya untuk menyelesaikan ke-mapro-an ini, ya! hehe...

God bless you, stay sane, and don't forget to #2019LoveYourself!


Bandung, 22 Februari 2019
23.45 WIB

vania (bukan dokter)

ps: semoga sambatan ini enggak bikin temen-temen yang mau ambil mapro jadi keder ya haha

31 Desember 2018

2018: unpopular options

ada beberapa 'unpopular option' yang saya pilih untuk diri saya sendiri sepanjang 2018, dan ada banyak hal yang harus saya lakoni sendiri. banyak ke-nekad-an selama 2018 yang semoga membuat saya braver, stronger, better.
- pengalaman perdana Paskah tidak di #MasAnto, tapi di Jatinangor sendiri
- perjalanan ke Lembang sendiri naik angkot
- ke Jakarta yang enggak cuma dolan, tapi ngurus beasiswa dan dapat pengalaman berbagi
- pengalaman perdana tidak ikut Tahbisan Imamat SJ setelah 11 tahun selalu terlibat
- pindahan dari Nangor ke Bandung yang diurus bareng temen
- kerja praktik di Cimahi tapi tetep ngekos di Bandung
- iseng daftar conference, diterima dan berangkat sendiri ke Batu
- kembali ke Bandung sehari setelah natal, dan akan menyambut 2019 sendiri, eh, bersama Mr. T, dink..
juga ada beberapa komunitas dan kawan baru sepanjang 2018, karena saya gabung Bandung School of Peace, Spinmotion Bandung chapter terbentuk, dan ikutan DigiTribe Aroma Karsa.
terima kasih, 2018, sudah memberi saya kesempatan untuk mendobrak batas aman dan melompat dari zona nyaman. proud of you, self!
semoga 2019 menjadi tahun yang penuh kebaikan dan berkat untuk kita semua. happy new year!

01 April 2018

pas kah?

Selamat Paskah, saudara saudari!

Paskah 2018 terasa berbeda bagi saya, karena ini adalah Paskah pertama saya di Jatinangor. Yup, saya enggak pulang ke Jogja. Sejak Natal 2017, saya sudah membulatkan tekad untuk Paskahan tidak di Jogja. Alasannya sebenarnya sederhana, hari Kamis pasti saya kuliah sampai sore. Kalau saya memaksakan pulang ke Jogja, pilihannya saya nggak ikut misa Kamis Putih atau saya bolos kuliah hari Kamis. Saya nggak mau milih keduanya, maka saya memilih Paskahan tidak di Jogja, pikiran saya mau Paskahan di Jakarta (dan sekitarnya) atau di Bandung. Saya nggak mau Paskahan sendirian. Tapi lagi-lagi karena masalah jadwal, ditambah juga masalah duit, dan pertimbangan dari salah seorang sahabat, "(Coba Paskahan di tempat) yang nggak mungkin kamu alami lagi," akhirnya saya memutuskan Paskahan di Jatinangor saja. Meski sudah memutuskan sendiri, ternyata galau juga cuy nggak ikut hiruk pikuk di Mas Anto, apalagi hari Kamis sebelum Minggu Palma banyak orang Kotabaru update gladi Kamis Putih, langsung mewek deh malam itu... 

Untungnya, karena keadaan lagi agak selo, besoknya bisa mlipir sebentar ke Jakarta. Jadilah saya ber-Minggu Palma di Jakarta. Hari Jumat itu saya dolan ke Paroki Blok Q untuk menghabiskan waktu. Di sana saya diajak untuk melihat hiruk pikuk persiapan Minggu Palma dan dikenalkan dengan beberapa umat. Lumayan, obat kangen Mas Anto. Senang sekali rasanya. Pas hari Minggu Palma saya ke Gereja St. Theresia Menteng, baru sekali itu ke sana, dan baru tau itu berbau Jesuit juga hehehe seperti biasa, lagu Yerusalem Lihat Rajamu sukses bikin saya mewek, selain karena suasananya, tapi saya juga ingat ponakan saya, Abel, yang dulu senang nyanyi, “Heruhalem, Heruhalem” dan kayaknya sekarang sibuk nyanyi di surga :”) Minggu Palma, meski saya misa sendiri, tapi selama di Jakarta saya ketemu beberapa sahabat. Hepi!

Ketemu Kakakku (baca: Romo Cahyo) dan Kinan (tetua misdinar)
Paroki Blok Q
Minggu Palma
setelah misa di Gereja St. Theresia Menteng
Meski Minggu Palma sudah hepi, ternyata jelang Kamis Putih saya galau lagi. Maklum, beberapa orang mengajukan pertanyaan seputar “paskahan di mana” dan “paskahan pulang enggak”, termasuk mama saya sendiri. Makjleb lho itu rasanya *kemudian mewek* tapi tekad sudah dibulatkan: Paskah di Jatinangor.
Nggak cuma bertekad paskahan di Jatinangor, saya pun bertekad naik angkot dan jalan kaki tiap ke gereja. Biasanya saya naik ojek dari kos. Maklum, jalannya lumayan jauh. Gereja yang saya datangi ini di dalam kompleks IPDN, namanya Gereja St. Albertus Magnus, atau biasa saya sebut dengan Mas Albert. Dari gerbang IPDN menuju gereja, jaraknya masih sekitar 1km, dengan jalan yang menanjak, berlubang, berpasir dan berkerikil. Naik ojek aja saya harus sambil merapal Salam Maria berulang kali, takut jatuh. Jalan kaki juga capek euy. Tapi tekad saya sudah bulat untuk nggak naik ojek.

jalan berlubang, berbatu, berkerikil
perjalanan menanjak, serasa ke Golgota (lebay)
jalannya lumayan jauh juga cuy

Ketika Kamis Putih, setelah naik angkot dan nyebrang, saya pun mau mulai berjalan kaki, eh baru beberapa langkah dari gerbang, tiba-tiba ada mobil mendekat dan pengemudinya membuka kaca lalu menawarkan tumpangan, “Mau ke gereja mbak? Bareng aja.” Saya kaget. Maklum, baru pertama kali mengalami. Yang memberi saya tumpangan saat itu adalah sebuah keluarga cukup muda, ada bapak, ibu dan anak laki-laki sekitar usia 8 tahun. Ibu itu aslinya Klaten. Ketika saya bilang terima kasih sekali dan maaf merepotkan, kata ibu itu, “Nggak apa-apa mbak, kan masih ada tempat, biar sekalian.” Saya terharu. Meski begitu ketika Kamis Putih saya tetap mellow, (seakan-akan sok-sokan) merasakan kegalauan, kesendirian, kegentaran, kesedihan, kecemasan Gusti Yesus di malam setelah perjamuan terakhir dan sebelum Dia ditangkap. Saya merasa sendirian, nggak dianggap, nggak penting. Tapi Allah Yang Maha Kreatif itu memang adaaa aja caranya ya, kala itu Dia menghibur dengan beberapa lagu, di antaranya lagu taize yang dinyanyikan saat misa, "Nada de turbe nada teespante, quien a Dios tiene nada lefalta, nada de turbe nada teespante, solo Dios basta", yang artinya “Janganlah cemas, janganlah takut, di dalam Tuhan berlimpah rahmat, janganlah cemas, janganlah takut, serahkan Tuhan.” Eh dapet bonus juga sih Kamis Putih ini, duduk di sebelah mas-mas ganteng #eaaa #abaikan

Kamis Putih
teks yang dipakai 4 hari dari Kamis sampai Minggu

Sakramen Maha Kudus di depan Patung Bunda Maria

Pas Jumat Agung, lagi-lagi saya berniat jalan kaki ke gereja. Maklum, saya nggak ikut jalan salib paginya, jadi anggap saja jalan kaki itu semacam perjalanan ke Golgota #lebay. Sudah sekitar sepertiga perjalanan dari gerbang saya tempuh dengan berjalan kaki, tiba-tiba ada mobil dari belakang yang mendekat dan menawari tumpangan. Di dalam mobil itu ada ibu paruh baya sekitar 50 tahunan yang ternyata asli Magelang, dan anak perempuannya sekitar 18 tahun (ceritanya baru mau lulus SMA dan pengen kuliah di Unpad, tapi dandanannya ngalahin yang S2 –maksudnya saya- sih ya). Ibu itu, namanya Ibu Retno, cerita kalau mereka dari Cirebon. Paginya mereka berangkat jam 7 dan sampai di Jatinangor sekitar jam 10. Beliau dan anak perempuannya sering ke IPDN karena anak laki-lakinya, kakak si anak cewek, di IPDN. Di perayaan Jumat Agung saya mendapat kejutan: passio yang dipakai adalah passio ciptaan Tante Alma yang adalah passio yang sering dipakai di Kotabaru dan favorit saya. Langsung lah mewek dan ikut nyanyi sepanjang passio. Ternyata juga salibnya yang dipakai untuk penghormatan salib cuma satu, jadi penghormatan salib dilakukan setelah ibadat. 

Jumat Agung
penghormatan salib setelah ibadat
Sabtu Malam Paskah, lagi-lagi saya dapat tumpangan lagi ketika sudah sepertiga perjalanan. Kali ini yang memberi tumpangan adalah pasutri dan Opung (yup, orang Batak). Pasutri ini sekitar usia 40 tahunan, dan sebenarnya tinggal di Jakarta, tapi Paskahan di Jatinangor demi mengunjungi Opung. Pasutri ini baik banget, bahkan menawarkan saya untuk menginap di rumah mereka kalau saya ke Jakarta. Ternyata, kakak ipar dari bapak itu orang Kotabaru, coy! Nggak jauh dari gereja katanya. Betapa sempitnya dunia! Ketika sudah turun dari mobil dan berjalan bersama Opung dan ibu, Opung itu mengajak saya mengobrol,
O: Kamu kuliah semester berapa?
V: Semester 2, tapi S2
O: Oh S2? Hebat kali. Jurusan apa?
V: Psikologi
O: Apa lah itu psikologi? Tak tau lah aku.
I: Itu Amang, mempelajari kejiwaan seseorang.
O: Oh, hebat kali bah. Kuliah yang benar ya, jangan… kalau orang Medan bilang marhallet. Jangan marhallet ya.
V: Apa itu?
I: Maksudnya jangan pacaran dulu.
V: OH HAHAHA *siap ngakak, tapi ditahan karena Opung melanjutkan nasihatnya*
O: Sekolah dulu yang benar, lalu kerja untuk ganti orang tua… ganti keringat orang tua ya.

Begitulah saya mengawali Sabtu Suci Malam Paskah. Ketika misa, ada beberapa bagian liturgi yang beda dengan di Kotabaru (pastinya), terutama karena malam itu di Mas Albert ada pembaptisan. Senang sekali bisa menjadi saksi pembaptisan dan penerimaan. Lagu Syukur Kepada-Mu Tuhan paling nyesss sih. Selain itu juga ada lagu Haec Dies, Hati Kudus Yesus dan Rejoice yang juga paling bikin nyesss di hati. Setelah misa, saya sempat ngobrol dengan beberapa orang, di antaranya adalah mereka yang koor Jumat Agung, karena saya menyapa dan mengapresiasi mereka sih waktu Jumat Agung. Saya jadi merasa nggak sendirian. Dan lagi, saya nyalami mas-mas ganteng yang duduk di sebelah saya waktu Kamis Putih HAHA #abaikan

Malam Paskah
awalnya gelap

Malam Paskah
jadilah terang
Minggu Paskah, sesuai anjuran Pastor Ote, saya pun ke gereja lagi. Niatnya sih jalan kaki lagi, tapi apa daya bangunnya telat, akhirnya naik ojek lah saya, diantar oleh tukang ojek langganan yang orang Jogja. Biasanya saya jarang misa Minggu Paskah, ternyata memang beda liturgi dan bacaannya. Kalau di sini, karena Malam Paskah ada pembaptisan, maka Malam Paskah nggak ada pemercikan untuk umat. Nah, pemercikannya baru saat Minggu Paskah. Eh ternyata abis misa ada ramah tamah gitu, ada snack, dan pembagian telur! Hahaha lucu amat, semua umat boleh mendapatkan telur paskah, nggak cuma anak-anak saja. Lumayan, rezeki anak kos :D

Minggu Paskah
pemberkatan telur setelah misa untuk dibagikan ke umat

Minggu Paskah
suasana ramah tamah di halaman sebelah gereja
Pada akhirnya, keputusan untuk berpaskah di Jatinangor adalah keputusan yang saya syukuri, bukan saya sesali. Tanpa ikut hiruk pikuk (seperti) di Mas Anto, tanpa (banyak) orang yang dikenal. Saya sendiri, tapi ternyata Gusti Allah nggak membiarkan saya benar-benar sendiri. Bahkan setelah misa Minggu Paskah, ketika saya jalan kaki ke kos, entah gimana ada seorang ibu yang ngajak ngobrol sepanjang jalan, ibu itu mau pulang ke rumahnya yang nggak jauh dari kos saya. Kalau kata salah seorang sahabat saya yang lain, "Keluarga emang jauh, tapi yang mirip-mirip ada lah."

Gusti Allah memang suka sekali bercanda, tapi cinta kasih-Nya nggak bercanda, serius banget! Keseriusan kasih-Nya ini sudah dibuktikan lewat peristiwa yang kita peringati pada Kamis Putih-Jumat Agung-Paskah, yang secara konkret diwujudkan oleh Yesus. Gusti Allah Yang Maha Kreatif itu juga menunjukkan kasih-Nya pada kita dengan cara berbeda-beda, sesuai dengan pribadi kita masing-masing, sesuai dengan kebutuhan kita, sesuai dengan kondisi dan situasi kita. Dan cara yang dipakai-Nya untuk kita masing-masing selalu pas.

Selamat Paskah, teman-teman! Semoga kebangkitan Kristus menguatkan kita untuk semakin berani berjuang dalam hidup. Salam, doa dan peluk virtual dari Jatinangor!

 

Minggu Paskah, 1 April 2018
Bukan April mop,

Vania yang pendiam dan pemalu (ini juga bukan April mop) :p

28 Februari 2018

menjaga kewarasan

Heyho! Apa kabar 2018mu? Semoga dua bulan di awal 2018 ini berjalan menyenangkan dan bisa menjadi penyemangat untuk bulan-bulan berikutnya, ya :D

Kemarin, saya sempat iseng bikin polling di Twitter: mana yang lebih susah, menahan diri untuk cerita hal yang menyenangkan, atau menahan diri untuk cerita hal yang menyedihkan atau mengesalkan?
Saya belum lihat hasil akhirnya sih, tapi berdasar data terakhir yang saya lihat, kebanyakan memilih lebih susah menahan diri untuk cerita hal yang menyedihkan atau mengesalkan, intinya cerita yang mengandung aspek emosi negatif. Hal ini bisa dibilang wajar. Kalau kata dosen saya di S1 dulu, orang itu akan cerita kalau punya masalah, atau yang diceritakan itu biasanya adalah masalah. Saya pribadi juga merasa sih, kalau lagi bete atau sedih atau cemas gitu bawaannya pengen cerita sama siapa pun. Ya walaupun mungkin masalahnya nggak selesai, tapi minimal ada perasaan lega karena sudah berbagi dan tau ada orang yang care. Seorang sahabat saya pernah bilang kalau beban yang dibagi itu (seakan-akan rasanya) jadi hilang setengah bebannya. Itu yang (mungkin) biasa disebut sebagai katarsis.

Akan tetapi berdasarkan pengalaman saya, cerita bahagia, membanggakan, mendebarkan (dalam arti positif) atau yang mengandung aspek positif itu juga susah untuk tidak dibagikan. Misalnya kita lulus ujian, naik kelas/naik pangkat/naik gaji, keterima kerja, jadian, dapet undian, mau liburan, rasanya juga pengen seluruh dunia tau kan? (cari temen, atau jangan-jangan cuma saya doank ya hahaha). Seorang sahabat (yang sudah saya sebut di atas) juga menambahkan kalau cerita bahagia yang dibagi, itu (seakan-akan) jadi dua kali lipat bahagianya.
Maka, menurut saya, cerita sedih maupun cerita bahagia sama aja susah ditahan untuk nggak dibagikan, meski oleh orang yang pendiam dan pemalu seperti saya :P *kemudian ditimpuk mouse* *gapapa sini saya terima hahaha*

Walau gitu, tetap aja ada bedanya antara cerita sedih dan cerita bahagia. Ketika cerita sedih/kesel kita bagikan, biasanya akan ada sesuatu yang diberikan oleh orang yang mendengarkan cerita kita, sesederhana kata ‘sabar ya’, emoji ikut kesel/marah, diberi pukpuk atau hugs, diberi saran atau nasihat, dan macem-macem. Intinya, apa yang diberikan oleh orang itu, kemungkinan besar akan menurunkan rasa sedih/kesel/cemas kita. Sebaliknya, ketika cerita senang kita bagikan ke orang lain, biasanya orang itu akan turut senang atau memberi komentar menyenangkan yang akan meningkatkan rasa senang kita. Apalagi kalau kita cerita tentang harapan atau ekspektasi atau rencana kita, biasanya komentarnya tuh makin membuat perasaan kita melambung dan imajinasi kita makin menjadi-jadi. Menurut saya, di sini kudu ati-ati. Ingat, segala sesuatu yang berlebihan itu nggak baik, termasuk ekspektasi berlebihan. Kalau ekspektasi nggak kesampaian, saaaakkkkiiiittt~~ haaaatttiiikkuuu~ *kemudian nyanyi*
Ada beberapa contoh dari pengalaman pribadi saya tentang cerita ekspektasi ini. Misalnya dulu udah punya rencana mau liburan ke Malaysia, udah cerita ke mana-mana, ternyata dibatalin. Udah yakin bakal keterima di yujiem karena di unpad yang relatif lebih susah seleksinya aja bisa keterima, eh ternyata gagal. Udah janjian mau ketemuan di Jogja karena bakl pulang, ternyata jadwal masuk kuliah dimajuin. Terus jatuh cinta sama si itu, udah cerita ke mana-mana, digodain dan didoain orang lain jadi harapan makin melambung ternyata pedhot ugha. Saaaakkkiiittt~~ haaattiiikuuu wooo uwooo~ ooooouuuwwoooo~ *kemudian nyanyi lagi*

Pas nulis ini tiba-tiba saya keinget salah satu prinsipnya St. Ignatius Loyola (maklum, kebanyakan bergaul sama yesweet :P). Saya lupa gimana persisnya kalimatnya, tapi intinya: ketika merasa senang (konsolasi) ingat-ingatlah masa-masa sedih (desolasi), dan sebaliknya, ketika masa-masa sedih (desolasi) ingat-ingatlah masa-masa senang (konsolasi).

Jadi kalau ada yang merasa sedih dan mau menyerah karena skripsi ditolak mulu sama pembimbing, coba ingat momen menyenangkan dalam bikin skripsi, misalnya ketika berhasil menemukan masalah penelitian, ketika revisian di-acc, ketika pengambilan data selesai (contohnya konkret banget ya, maklum masih mahasiswi, lagi belajar metode penelitian pula hahaha)
Atau ketika ada konflik besar sama pasangan dan rasanya pengen pisah aja, coba diingat hal-hal yang membuat jatuh cinta, atau yang membuat relasi semakin dekat.

Ketika liburan yang (puji Tuhaaan) cukup panjang akhir 2017-awal 2018 lalu, saya beberapa kali refleksi perjuangan di semester 1 kemarin, sambil tetap mengingat-ingat Jatinangor yang sedang saya tinggal untuk berlibur di Jogja tercinta. Supaya nggak keenakan libur dan nggak lupa balik ke Nangor gitu maksudnya hehe
Ketika kita mendapatkan hal yang kita inginkan, ingat juga betapa menantangnya perjuangan untuk mendapatkan hal itu.

Bagi saya, refleksi-refleksi seperti ini sangat membantu untuk menjaga saya untuk tidak larut pada kesedihan/kekesalan/kemarahan berkepanjangan, maupun kesenangan berkepanjangan. Karena hidup itu konon katanya seperti roda yang selalu berputar, kadang posisi kita ada di atas, kadang posisi kita ada di bawah. Kadang kita hepi, kadang kita sedih. Tapi karena roda itu terus berputar, maka kesedihan dan kebahagiaan kita tak ada yang abadi~ *boleh dibaca sambil nyanyi*


Maka bagi saya, berbagi cerita baik cerita tentang hal menyenangkan, maupun menyedihkan atau menyebalkan, dibarengi dengan refleksi-refleksi ini sangat membantu untuk tetap realistis dan untuk menjaga kewarasan. 


Jatinangor, 28-02-2018
si bintang yang suka berbagi cerita meski aslinya pendiam dan pemalu (plis, percaya aja :p)

19 November 2017

God is the best planner

God is the best planner ever. Dia memilihkan jalan untuk kita, sepaket dengan perbekalan yang kita butuhkan. Kadang perbekalannya nggak dikasih semua di awal, tapi akan dikasih pas kita perlu dan pas takarannya.

Kurang lebih itu yang saya bagikan ke seorang sahabat yang sedang galau akan langkah hidup selanjutnya. Saya pun pernah, eh sedang, mengalami hal yang sama. Keputusan saya untuk kuliah lagi, lalu ndilalah keterima di Unpad dan harus terdampar di sebuah kecamatan bernama Jatinangor, bagi saya adalah rencana Tuhan yang mendebarkan dan menggetarkan. Seperti sudah saya tulis di postingan sebelumnya, ini adalah pengalaman pertama saya menjadi anak rantau dan anak kos. Personally, there’s so many things to worry about. Tapi ternyata saya bisa juga melewati hari-hari sebagai mahasiswa S2 di kecamatan Jatinangor ini, sudah lebih dari 3 bulan! Yah, meski perjalanannya tidak selalu mulus dan banyak air mata, rindu yang selalu memuncak, berbagai drama dan gejolak, tapi perjalanan ini membuat saya semakin mengenal diri saya dan berkawan dengan kesendirian serta kesepian.

Saya harus mengakui bahwa setelah menjalani kehidupan sebagai anak rantau dan anak kos newbie, saya jadi malu sama diri sendiri. Sejak SMA, saya punya keinginan untuk bisa kuliah di luar negeri, tujuan saya saat itu adalah Australia. Bahkan, saya pun pernah memakai alasan itu untuk membohongi teman-teman saat April Mop. Yah, bohongnya yang baik-baik, siapa tau kejadian beneran ya kan hahaha… waktu itu saya bilang ke adek-adek pengurus Papita (Valent, Angel, Febri, dkk) kalau saya harus segera pamit karena akan melanjutkan studi di Australia. Kalau nggak salah ingat sih mereka waktu itu udah mimbik-mimbik nahan nangis hahaha kocak banget deh :))

Tahun lalu, sebelum saya mendaftar S2, saya juga sempat mendaftar menjadi asisten peneliti di Timika, Papua. Nekad sih saya waktu itu, hanya karena saya pengen banget menginjakkan kaki di Bumi Cenderawasih. Tapi saya nggak diterima, karena mereka lebih memilih warga lokal. Waktu itu saya sempat kecewa. Biasa lah, walau baru mendaftar, tapi pikirannya udah heboh ke sana kemari.

Setelah menjalani hidup di kecamatan Jatinangor ini, barulah saya bersyukur sekali nggak keterima di Papua dan belum dapat kesempatan kuliah di Australia. Betapa tidak, saya sekarang yang masih sama-sama tinggal di Jawa saja kangennya luar biasa. Benteng pertahanan rindu saya sudah berulang kali hampir jebol. Sampai sekarang pun saya udah berkali-kali dikirimi paket dari rumah maupun dari online shop. Tidak hanya itu, saya pun berkali-kali membayangkan rumah dan berkali-kali ingin pulang, meski akhirnya saya tahan.

Saya tidak bisa membayangkan kalau saya jadi keterima di Papua, atau saya berkesempatan kuliah di Australia dan pengalaman itu adalah kali pertama saya merantau. Mungkin hidup saya akan terasa jauhhh lebih berat daripada sekarang. Selain karena memang lebih jauh, perbedaan waktu, bahasa, budaya dan mungkin juga akses, dan orang-orang yang dijumpai mungkin membuat saya lebih susah move on. Setelah berefleksi terus menerus, saya pun sangat bersyukur atas apa yang saya alami, atas apa yang Tuhan siapkan dan pilihkan untuk saya.

Saya jadi ingat bacaan injil hari ini, tentang talenta. Benar bahwa Tuhan memberi kita talenta yang berbeda-beda. Memang ada orang yang bisa merantau di usia yang sangat muda, tapi ada juga yang baru bisa merantau di usia lebih dari 20an, itu pun banyak bapernya (iya ini ngomongin diri sendiri :p).
Dia juga tau kapan dan di mana kira-kira kita bisa mengembangkan talenta yang kita miliki. Dia pun tau bagaimana cara menolong kita untuk mengoptimalkan talenta yang kita miliki, dan membagikannya pada orang lain.

Yang jadi pertanyaan buat kita, mau nggak kita mengoptimalkan dan mengembangkan talenta yang kita miliki? Mau nggak kita ikut serta mewujudkan rencana-Nya?


God is the best planner, but it means nothing if we do nothing to work through the plans.

Selamat dan tetap semangat untuk menjalankan rencana-Nya dan mengembangkan talenta!



Minggu, 19 November 2017
09.09 PM
dari Kecamatan Jatinangor,

Stella Vania

09 September 2017

Jatinangor rasa Jogja

Hari ini tepat sebulan saya meninggalkan Jogja. Kalau ditanya apakah saya kangen Jogja atau engga, saya akan jawab saya kuangeeeeennnn buangeeetttt. Setiap saat! Manifestasi rasa kangen saya sama Jogja itu suka random banget. Tiba-tiba saya inget jalan di sekitar Kalasan. Besoknya, mendadak saya kebayang-bayang jalanan di sekitar taman parkir Ngabean. Pokoknya ajaib gitu deh, random. Trus munculnya suka mendadak pula, pop up gitu. Tiba-tiba di tengah bimbingan saya bisa aja gitu keinget jalan di deket rumah saya.

Minggu lalu, sebelum saya dolan ke Jakarta, saya dihubungi pihak Fakultas Psikologi Unpad, katanya saya diminta ikut terlibat dalam acara Dies Natalis Unpad sebagai perwakilan dari Jogja. Permintaan ini sempet bikin saya kepikiran dan galau, karena mereka rikues saya suruh pakai baju adat dan menyiapkan sendiri baju adatnya. Dueeenggg! Saya langsung kontak mama dan minta tolong kirim baju dari Jogja. Tapi persoalan tidak berhenti di situ, saya juga mikir soal dandan. Duh, ribet amat yak, pikir saya. Ketika ketemu sama panitianya, saya jadi agak tenang karena beliau bilang bisa didandani, tapi kumpulnya pagi pagi sekali.
Tadi pagi, saya sudah harus sampai kampus jam 05.30. Ketika saya keluar dari kos, langit masih gelap dan masih ada bulan coba lah. Sampai di kampus, ternyata sudah ada beberapa ibu yang dirias, dan ternyata ada yang pura-pura jadi manten, jadinya dirias paes ageng. Unyu sekaliii… terus ternyata ada yang jadi cucuk lampah, terus ada beberapa orang yang pakai beskap dan lurik. Kemudian saya merasa berada di Jatinangor rasa Jogja. Rasa Jogja itu bertambah ketika jalan pawai, rombongan kami diiringi dengan lagu Kebo Giro, yang biasanya memang dipakai sebagai lagu pengiring manten berjalan ke pelaminan.
Ternyata, pawainya cukup meriah. Saya baru tau juga kalau pawai itu adalah bagian dari pembukaan OOTRAD atau olimpiade olahraga tradisional yang merupakan rangkaian acara dies natalis Unpad ke 60. Tiap fakultas seakan-akan menjadi kontingen dari provinsi tertentu, lalu diminta menampilkan diri sesuai dengan provinsinya. Contohnya tadi ada yang ceritanya mewakili DKI Jakarta, terus bawa ondel-ondel. Trus ada yang ceritanya mewakili Jawa Timur, mereka pada pakai baju ala Madura, dan bawa Reog Ponorogo. Seru deh!

Saya seneng banget bisa menikmati penampilan yang keren-keren. Tapi saya lebih seneng karena bisa lebih kenal sama beberapa karyawan yang seru nan kocak. Sebenarnya tadi yang dari rombongan kami, yang asli Jogja cuma dua orang, saya dan Mbak Anggita, mahasiswi S3 Psikologi yang asli mBantul (kudu pakai ‘m’ ya :p) Mbak Anggita ini, walau dosen di sebuah universitas di Jakarta, tapi seru bangettt. Beliau ngajakin saya foto-foto sama ‘para pengantin’ dari berbagai ‘provinsi’. Jadi tadi pagi kami berasa kondangan tingkat nasional :D

Meski kegiatan tadi tidak menghilangkan kebaperan saya akan Jogja yang sungguh berhati nyaman, tapi saya senang sekali dilibatkan dalam kegiatan itu, kenal orang-orang baru, dan merasa semakin punya teman. Semoga pengalaman ini bisa membuat saya semakin merasakan “Jatinangor rasa Jogja”, merasakan nyamannya (hidup di) Jatinangor, meski tetap tidak ada yang bisa mengalahkan nyamannya Yogyakarta yang memang berhati nyaman.


PS: semoga Yogyakarta nggak berhenti nyaman ya!


Sabtu malam, 9/9/17
cah Jogja,
vania

26 Agustus 2017

dua minggu

dua minggu. saya bingung mau menaruh kata "sudah" atau "baru" di depan frasa itu. kalau "sudah dua minggu" artinya rasanya sudah lama saya ada di sini, menjalani tiga peran baru sebagai anak rantau, anak kos dan mahasiswa baru. padahal ini baru awal perjalanan panjang saya yang (harapannya) akan berlangsung lima semester. tapi kalau "baru dua minggu", rasanya juga sudah cukup banyak hal yang saya alami dan saya rasakan selama dua minggu di sini. 

sistem perkuliahan di sini adalah sistem blok, kayak anak kedokteran gitu. jadi dalam rentang waktu tertentu, yang dibahas hanya satu bab (atau satu materi) lalu diakhiri dengan ujian, setelah ujian ganti materi lain. contohnya, minggu ini saya belajar tentang observasi dan interview individual. hari Senin dan Rabu ada kuliah, Kamis praktikum dan harus bikin laporan yang dikumpul hari itu juga, Jumat ujian. lalu besok Senin ganti materi lain. begitulah, dalam satu blok harus terkumpul nilai tugas, nilai UTS dan nilai UAS. kebayang lah ya betapa intensnya... bahkan dari draft jadwal yang sudah dishare, ada materi yang cuma dikasih satu hari, besoknya ujian. I can't even imagine bakal jadi kek apa nanti prosesnya. tapi ya sudahlah, namanya juga sudah dipilih, kudu dijalani, dinikmati, dimaknai dan disyukuri. :)

anyway, dua minggu di sini membuat saya menyadari bahwa ternyata rasa rindu itu random dan irasional. bisa-bisanya di tengah-tengah kuliah tiba-tiba saya ingat Soto Kadipiro, kangen rumah, kangen mama, pengen ke Kotabaru dan berbagai kerandoman lainnya. bahkan saya bisa tiba-tiba ingat beberapa sudut Jogja yang sebelumnya jarang saya datangi ketika saya di Jogja. dan bayangan serta perasaan itu munculnya kadang di waktu yang nggak umum, misalnya di tengah-tengah pengerjaan tugas atau ketika bangun tidur. yah, namanya juga perasaan ya. kalau kata Choice Theory (yang baru saja saya tau tadi pagi), perasaan mah nggak bisa kita kontrol secara langsung, beda sama pikiran dan perilaku. #NyebutTeoriBiarKeliatanMahasiswa :p

kerinduan saya sama Jogja beberapa kali juga "dicolek" gitu sama semesta. misalnya beberapa hari lalu teman saya tiba-tiba bertanya tentang bahasa Jawa. lalu beberapa hari berikutnya, teman saya yang lain bertanya perbandingan antara Jogja dan Bandung. yang paling lucu adalah ketika dosen minggu ini memberi pengumuman bahwa ujian akan berupa analisis film, dan film yang akan dipakai adalah AADC 2, spontan saya langsung mikir, "Wah, baper Jogja nihhh..." tapi untungnya, karena nonton film fokus buat analisis, jadi kebaperan akan Jogja bisa (sedikit) teratasi :))

akhirnya saya memutuskan bahwa ini "baru dua minggu", karena masih panjang perjalanan yang harus saya tempuh. dua minggu itu, bagi saya, tidak lagi dalam masa denial, tapi lebih bargaining. beberapa kali saya sudah punya keinginan untuk pulang (ke Jogja), tapi lalu saya dihadapkan pada kenyataan jadwal yang intens dan ingat kembali tujuan saya ke sini apa. kadang saya masih mencoba melakukan penawaran (dalam hati, entah dengan siapa), kapan ya kira-kira bisa balik, akhir tahun mungkin natalan di Jogja nggak ya, wah tapi Desember mah masih lama ya, dan sebagainya. well, saya kadang iri juga sama teman-teman yang sama-sama ngekos tapi rumahnya di Bandung atau Jakarta, jadi dia bisa balik atau keluarganya bisa ke sini hehehe. but everyone has their own part and everything has it's own time, right? so, this is my kind of battle right now, but I really thankful because I have this opportunity. semoga saja saya bisa cepat menyesuaikan diri dengan tiga status baru saya sebagai anak rantau, anak kos dan mahasiswa baru (S2 pula!), dan hasilnya pun sepadan dengan perjuangan saya. 

harapan yang sama juga saya bisikkan ke Dia untukmu, ya! good luck with your own battle! <3



Sabtu, 26 Agustus 2017
dari gadis yang bersyukur akan adanya anugerah bernama akhir pekan,

vania

12 Agustus 2017

August is ...

August is all about starting new journey, and it means new status, new places, new experiences, new friends, everything!

Flashback sedikit, bulan Agustus 2014, saya mulai perjalanan SLP, semacam KKN, di Cagayan de Oro, Philippines. Kurang lebih sebulan jauh dari rumah, serumah dengan orang-orang dari Filipina, Jepang dan Korea sambil berbahasa Inggris setiap hari merupakan pengalaman yang luar biasa bagi saya. Banyak “first thing” yang saya alami selama saya SLP, dan somehow, SLP change my life.

Agustus 2015. Saya memutuskan untuk mengakhiri relasi dengan seorang laki-laki yang saya patahkan hatinya. Yes, I made that choice and I think I never regret it. Well, saya sadar bahwa mencintainya bukanlah suatu kesalahan, begitu juga dengan berhenti mencintainya.

Agustus 2016. Saya kembali terlibat dalam SLP, tapi kali ini ikut membantu sebagai panitia, karena SLP diadakan oleh Universitas Sanata Dharma di Jogja. Lagi-lagi saya berkenalan dengan rekan-rekan dari Filipina, Jepang dan Korea. Saya juga mulai terlibat mendampingi retret. Retret pertama yang saya damping adalah retretnya Stero, terima kasih Romo Adri sudah ngajakin saya! :D

Agustus 2017. Here I am now, living a “brand new” life. Jatinangor. Tidak pernah terlintas dalam benak saya untuk datang, apalagi tinggal di kota ini. Namun karena kota ini, sekarang saya resmi menyandang tiga status baru sekaligus: anak rantau, anak kost dan mahasiswa baru. Dulu di rumah sih anak kost juga statusnya, tapi kan di rumah, ini mah sekarang jauh hehehe
Belum genap seminggu saya di sini, maka masih benar-benar baru. Bagaimana rasanya? Mmm, campur aduk, sih. Yang pasti, perasaan cemas, gelisah dan takut adalah perasaan-perasaan yang paling mendominasi saat ini. Menurut saya ini cukup wajar karena ini pertama kalinya saya benar-benar merantau, meski sudah sempat sebulan numpang hidup di negara orang saat SLP, tapi saat itu saya masih punya empat teman dan satu dosen yang sama-sama dari Sadhar (hey guys!) But now I feel like I am alone. Sebenarnya kalau soal sendiri, saya sudah cukup terbiasa, karena di rumah pun sering sendiri. Tapi masalahnya, di sini saya sama sekali buta arah, ada perbedaan budaya, dan masih ngeblank soal perkuliahan di Unpad, kampus saya sekarang. There are so many things to worry about. 
Meski begitu, ada banyak sekali hal yang saya syukuri dan cukup meredakan kecemasan saya. Mulai dari (kamar) kost yang nyaman, teman satu kost yang ternyata juga teman sekelas, keluarga penjaga kost yang sangat helpful dan juga teman-teman sekelas yang menyenangkan. Despite of all insecurities and anxieties, I am grateful to have this opportunity. Akhirnya saya keluar dari rumah, keluar dari Jogja, keluar dari Kotabaru, keluar dari zona super nyaman. Ya memang nggak nyaman, tapi yang nggak nyaman itu yang seringkali mengembangkan, ya kan ;)

So, please kindly pray for me and this journey, guys! Hopefully I can learn and develop, not only as a student, but as a human as well. 
Hatur nuhun! :D


Sabtu, 12 Agustus 2017
(benar-benar) anak kost,

Vania

11 Januari 2017

CTS: cina totok sekali

halo, gaes!
selamat natal dan tahun baru ya :D

wah, rasa-rasanya baru kali ini abis nonton film langsung pengen nulis blog. kalau nonton film lalu refleksi, itu biasa, tapi jarang bahkan mungkin hampir nggak pernah begitu nonton pengen nulis blog, which is tulisan panjang.

jujur aja, saya baru akhir-akhir ini aja seneng nonton film di bioskop. iya, kayaknya saya telat gaul sih. apalagi nonton film Indonesia, wuih jarang banget. alasannya agak klise sih, "paling juga ntar lagi nongol di tipi." padahal kalau nongol di tipi juga kagak pernah nonton :))

jadi begini ceritanya. saya abis nonton film yang kece abis, judulnya Cek Toko Sebelah (CTS). film yang disutradarai, ditulis skenarionya dan diperankan oleh Ernest Prakasa. setahun lalu saya juga nonton filmnya Koh Ernest, judulnya Ngenest. waktu itu saya seneng juga bisa nonton film Indonesia di bioskop, worth it lah, soalnya filmnya kece dan related banget sama hidup saya sebagai seorang keturunan cina. saya nyebutnya cina aja, yaaa, soalnya kalau 'tionghoa' kok rasanya makin 'beda' HAHA. apalagi waktu itu nontonnya sama Mbak Anne yang memang lagi bikin tesis soal cina. nah, ketika film CTS ini keluar teasernya, pikiran yang sekilas muncul adalah, "wah, toko! pasti soal cina nih!" stereotyping banget yak :))

pas mulai tayang dan banyak muncul komentar-komentar orang yang nonton, banyak yang bilang filmnya bikin inget tentang keluarga. wah, jadi makin tertarik nih saya. apalagi ketika beberapa kali iklan tentang CTS ini tayang di tipi, mama ketawa-ketawa. saya jadi pengen ngajak mama papa nonton, selain karena mama senang nonton stand up comedy di tipi dan di CTS ini banyak komika, tapi juga karena filmnya nyinggung soal keluarga, apalagi keluarga cina. 

nah, saya pengen beberapa hal yang berkesan nih buat saya, yang somehow related with beberapa pengalaman yang saya jumpai di beberapa keluarga cina di sekitar saya. mungkin paling pas bahas dari dua tokoh yang mengalami sibling rivalry: Yohan dan Erwin. 
jelas lah, Erwin itu anak kesayangan idaman setiap keluarga cina. sekolah di luar negeri karena beasiswa, karir bagus, dan satu hal lagi yang jadi nilai plus Erwin dibanding Yohan: pacarnya cina juga. sedangkan Yohan mungkin 180 derajat ya, hidupnya nggak jelas, suka judi, istrinya pribumi pula. saya nggak tau sih, karena nggak ada di film juga, tapi mungkin salah satu alasan Koh Afuk, si papa, nggak cocok sama Yohan ya itu, karena Koh Afuk nggak setuju sama pernikahan Yohan dan Ayu, yang alasan fundamentalnya adalah karena Ayu nggak cina. dan film itu menegaskan perbedaan antara Yohan dan Ayu dengan sangat manis, mereka punya panggilan sayang "Kohan" (Koh Yohan) dan "Mbakyu" (Mbak Ayu). 
sebelum nonton film ini, saya sempat baca di Twitter sih tentang panggilan sayang pasangan ini, lalu saya langsung mikir kalau ini ada hubungannya sama nikah beda etnis. sesungguhnya cinta beda etnis masih lebih ngenes dari cinta beda agama. kasarannya, kalau cinta beda agama jadi masalah, pindah agama lalu masalah selesai. lha kalau cinta beda etnis, mau apa coba? kelarrr... 
oke, balik ke topik. kenapa hal ini 'somehow related', karena saya (dan kayaknya kakak juga sih) rasa-rasanya punya kecenderungan untuk lebih tertarik menjalin relasi romantis dengan mereka yang bukan cina. #eaaa
ya bukan tanpa hambatan sih. persis seperti di film CTS ini, kalau papa saya sendiri selalu tanya, "Kok nggak cina tho? Mbok cari yang cina." beda dengan mama saya yang lebih woles. entahlah, mungkin memang para bapak ini merasa lebih punya tanggung jawab untuk 'melestarikan keturunan', sedangkan para ibu lebih legawa karena lebih pengen lihat anaknya happy no matter what. mungkin efek budaya patriarki. ya, mungkin sih. namanya juga asumsi, bisa jadi keliru. lho, kok jadi curhat ya. balik lagi lah ke filmnya.

saya nggak heran sih kenapa Koh Afuk lebih percaya sama Erwin, karena di berbagai segi kehidupan si Erwin ini memang 'win' gitu, memang menang. tapi satu hal yang bisa kita pelajari dari Erwin. kita sebagai anak kadang terlalu fokus pada perkembangan diri kita sendiri, yang kita pikir bisa membanggakan orang lain atau bisa memenuhi kebutuhan orang lain berdasarkan sudut pandang kita. kita lupa kalau orang lain di sekitar kita, termasuk orangtua kita, juga memiliki tahap perkembangannya sendiri, dan ini membuat kebutuhan mereka mungkin berbeda dengan yang kita kira jadi kebutuhan mereka. dalam film CTS, Koh Afuk punya kebutuhan untuk istirahat, dan tampaknya dia juga punya kebutuhan untuk berkumpul bersama anak-anaknya, apalagi anak kesayangannya, Erwin. dia nggak lagi butuh 'rasa bangga', karena baginya kebanggaan dan kebahagiaan yang utama adalah tokonya itu. karena yang 'berharga' dari suatu hal seringkali memang bukan 'harganya', bukan duitnya, tapi kenangannya. karena kenangan itu seringkali tidak ternilai harganya.
di sisi lain, betapapun ancurnya kehidupan Yohan, dia juga 'cina banget', karena menomorsatukan keluarga. eh nggak gitu maksudnya. meski si Yohan ini pernah nakal banget, dia tetap memikirkan keluarganya, ya tipikal orang yang akan mendahulukan kepentingan orang lain dibanding diri sendiri gitu. Yohan ini sebenarnya adalah orang yang bisa belajar dari masa lalunya. dia kini menjadi orang yang sangat bertanggung jawab, bahkan dia bilang begini ke istrinya, "Ngewujudin mimpi kamu itu tanggung jawab aku, bukan orang lain." nyesss...

eh tiba-tiba ketika nulis ini saya jadi kepikiran, cerita CTS ini kok agak mirip sama perumpamaan Yesus tentang anak yang hilang. anak bungsu, si Erwin, itu 'foya-foya', artinya nggak hadir ketika mamanya sakit, tapi dia yang dipercaya untuk mengelola toko, kalau di alkitab, Erwin yang 'diambilkan jubah dan cincin lalu dibikinkan pesta oleh si ayah', sedangkan si sulung Yohan yang selalu ada dan setia itu nggak dikasih apa-apa. entahlah memang terinspirasi, atau saya aja yang pakai cocoklogi :))

dua sosok perempuan yang juga penting dalam film ini adalah Natalie, pacarnya Erwin, dan Ayu, istrinya Yohan. Natalie ini juga sosok cewek cina modern nan independen masa kini yang nggak pengen punya toko karena cenderung menghindari peran domestik. Ayu, istrinya Yohan, ini perempuan yang sangat memahami dan bisa 'ngalem' orang lain, nggak cuma ngalem suaminya, tapi juga Natalie yang notabene cenderung meluap-luap emosinya. saya terkesan dengan percakapan dua perempuan ini, di mana Ayu ngomong, "Sebenernya ini untuk dia (Erwin), atau untuk kamu? Kamu sayang sama Erwin? Kamu udah milih Erwin, sekarang saatnya dia milih."
kata-katanya mungkin nggak panjang lebar tinggi sih, tapi ngena banget. luntur udah semua ego, karena kata-katanya sederhana tapi disampaikan dengan sangat mendalam jadi nanceppp jlebbb. dan bukan tanpa alasan Ayu ngomong begitu. karena dia sudah pernah mengalami bergulat dengan Yohan, suaminya, yang mungkin lebih berat gitu pergulatannya. maka, dia bisa membagikan apa yang dia miliki, yaitu apa yang pernah dia alami. karena kata-kata Ayu tadi, di akhir cerita si Natalie berhasil mengalahkan egonya, meski berat dan nggak mudah, dan nggak jadi :))
karakter dua perempuan ini sebenarnya bertolak belakang. meski mereka sama-sama punya mimpi, tapi Natalie terus mengejar mimpi itu dengan ngotot, sedangkan Ayu mengejar mimpi itu tapi alon-alon waton kelakon. eh, ini termasuk stereotipe ras tertentu nggak ya? hehehe...

overall, nonton film CTS ini berasa lagi lomba lari. awal-awal itu rasanya mau lari cepet, adrenalin dan emosinya naik. di tengah, mulai capek, mulai turun emosinya. hampir selesai larinya cepet lagi. nonton CTS itu banyak ketawa! lihat aja cast-nya banyaaak banget komika, dan semua pemeran literally punya peran. tapi juga ada bagian yang very touching, sampai bikin saya mbrambangi. menariknya, di bagian akhir, penonton dengan cepat dinaikkan lagi mood-nya, dan ditutup dengan tawa. jadi kalau ada penonton yang mengalami LSS (baca: last scene syndrome) itu tetap merasa hepiii walau abis nangis kejer :))

satu hal lagi yang bikin nonton CTS ini istimewa, karena saya nonton bareng mama papa. dan komentar pertama mama setelah nonton, "ya kalau cina totok ya emang kayak gitu." :))
komentar mama ini makin menegaskan kalau keluarga kami termasuk cina gagal, karena nggak punya toko, nggak bisa ngomong bahasa Mandarin dan nggak punya nama cina :))

terima kasih ya, Koh Ernest dan Teh Meira (sok kenal banget sih, van~) sudah memberikan tayangan yang menghibur, menyentuh, membuat berefleksi, membuat hati hangat, menginspirasi. semoga keluarga kalian selalu dilimpahi berkat dan kebahagiaan dari Tuhan yang Maha Keren! :D


11 Januari 2017
12.45 AM
beberapa jam setelah nonton film CTS


Stella Vania
@vania_ps


PS: HARTA YANG PALING BERHARGA ADALAAAHHH...... (apa sodara sodaraaaaa???) :D


10 Desember 2016

monokrom

hi there!
sudah lama sekali sebenarnya saya pengen nulis ini, syukurlah akhirnya sekarang kesampaian.
2016 sudah hampir selesai. salah satu target besar saya di 2016 sudah tercapai: #2016SPsi. tapi saya sungguh sadar perjuangan menuju #2016SPsi ini akan makin susaaahhh kalau nggak ada orang-orang hebat yang menjadi teman seperjalanan saya. untungnya, Pak Prof, dosen pembimbing saya nggak keberatan saya nulis kata pengantar sebanyak lima halaman HAHAHA :))
meski gitu, rasanya nggak afdol kalau belum nulis ucapan terima kasih itu di sini.

Sepuluh semester dan khususnya empat belas bulan pengerjaan skripsi ini menjadi sebuah perjalanan yang luar biasa. Sebuah perjalanan yang menantang. Sebuah perjalanan yang tidak hanya demi mendapatkan gelar dan sehelai ijazah, tapi sebuah perjalanan yang mengembangkan saya sebagai seorang pribadi. Sebuah perjalanan yang tidak saya lalui sendiri, tetapi bersama begitu banyak orang hebat. Dengan setulus hati, saya ingin berterimakasih pada teman-teman seperjalanan saya.
1. Tuhan yang Tiga-Tapi-Satu, Ayah di atas segala ayah, yang Maha Baik, Maha Keren, Maha Gaul, Maha Romantis, Maha Humoris, Maha Tidak Terduga, Maha Segalanya! Terima kasih sudah mengizinkan saya menjalani kisah luar biasa ini. Terima kasih juga pada Bunda Maria untuk teladan “fiat mihi voluntas tua”.
2. Bapak Prof. Dr. A. Supratiknya selaku dosen pembimbing akademik sekaligus dosen pembimbing skripsi yang dengan sabar mendampingi saya selama perkuliahan dan penulisan skripsi ini. Terima kasih sudah mengingatkan bahwa proses menulis skripsi juga merupakan hal yang bermakna bagi pengembangan diri.
3. Mama Maria Magdalena Hidayati, Papa Agustinus Gatot Moertidjono, Kakak Octavianus Indra Saputra dan seluruh keluarga yang selalu menyertai dan mendukung saya. Terima kasih karena kalian selalu bisa menjadi tempat untuk saya pulang.
4. Bapak Dr. T. Priyo Widiyanto, M.Si. selaku Dekan Fakultas Psikologi Universitas Sanata Dharma, dan segenap jajaran Dekanat.
5. Ibu Dr. Tjipto Susana, M.Si. dan Bapak C. Siswa Widyatmoko, M.Psi. selaku dosen penguji. Terima kasih atas diskusi dan masukan yang diberikan untuk membuat skripsi ini menjadi lebih baik.
6. Para dosen Fakultas Psikologi Universitas Sanata Dharma yang tidak hanya memberi ilmu pada saya, tapi juga pelajaran hidup.
7. Mas Muji, untuk semua bantuan dan dukungannya, baik selama kuliah maupun selama skripsi ini. Terima kasih banyak. Pengambilan data skripsi ini nggak bakal lancar tanpa bantuan Mas Muji, glory! Terima kasih juga untuk Bu Nanik, Mas Gandung dan Pak Gie, serta Mas Doni, untuk segala bantuan, dukungan, senyum dan semangatnya.
8. Kepada teman-teman, ibu/bapak/suster/frater guru dan karyawan yang saya temui di TK, SD, SMP dan SMA. Terima kasih sudah menambah pengetahuan saya tentang hidup.
9. Para partisipan dan ibu. Terima kasih sudah bersedia berbagi kisah hidup, perasaan, dan pikiran. Semoga penelitian ini sungguh memberi manfaat bagi Anda sekalian.
10. Keluarga besar SD Pangudi Luhur Yogyakarta, terutama Bruder Teguh, FIC selaku kepala sekolah yang telah mengizinkan penelitian ini berlangsung, serta Bu Ida yang membantu menghubungkan saya dengan para partisipan.
11. Tante Lucia Erikawati, yang banyak membantu peneliti, dari mulai menghubungkan ke pihak sekolah, berbagi kisah hidup, semangat dan tawa. Juga untuk Tante Damian Alma yang selalu memberi semangat. Terima kasih banyak.
12. Teman-teman “masih remaja”: Acil, Ria dan Retha. Terima kasih buat kebersamaan selama kuliah dan khususnya bantuan selama pengambilan data. Aku mah apa tanpa kalian :D
13. “Anak-anak professor”: Pika, Kak Engger, Maria, Rhintan, Fitria, Yoverdi, Tara, Dedew, Pakdhe, Kak Lala, Tama, Ria, Gaby, Rikjan, Raras, Delima, Gege. Terima kasih untuk kebersamaan dan bantuannya. Semangat selalu, teman-teman!
14. Sahabat terbaik, Stefi. Terima kasih sudah menjadi teman berbagi cerita dan pelukan hangat. Juga untuk sahabat dan teman sharing saya yang lain: Dita dan Dista, Ocha dan Lisa, Bertha, Mbak Anne, Mas Adit “Mbek”, Mas Gigih, Papa PJ, Koh Yan, Mas Eko “Mprit”, Om Beni, Kak Mahatma. Terimakasih untuk segala ketulusan dan kesediaan berbagi kisah hidup.
15. Genk Kepo: Romo Sani, Eli, Febri yang selalu “care pol”. Juga seluruh pendamping, pengurus, anggota dan orangtua Papita yang telah mendukung dan belajar bersama saya. Terima kasih sudah menjadi keluarga kedua selama kurang lebih 14 tahun ini. Ad Maiora Natus Sum!
16. Seluruh Jesuits yang saya kenal, terutama di seputar Kotabaru, Kolsani, Paingan dan Mrican. Terima kasih untuk setiap pertanyaan, “Sudah sampai mana?” dan “Kapan selesai?”, untuk setiap komentar, “Wah, menarik nih!”, juga untuk segala obrolan, traktiran dan gojeg-an. Special thanks to Romo Krispurwana “Mokis”, “bapak” saya. Untuk “Omor” Bambang Sipayung, partner diskusi yang asyik, hingga muncul ide untuk topik skripsi ini. Untuk Romo Kokok, tutor dan teman diskusi soal symbolic father. Untuk Frater “Paman” Thomas, Romo “Kokoh” Buddy Haryadi, Romo Surjo, Romo Heri, Romo “Masbro” Tomi, Romo “galak” Adri, dan Frater “Broer” Angga untuk dukungan pemikiran, pengalaman dan semangat untuk penelitian ini.
17. Semua teman-teman di Gereja St. Antonius Kotabaru, terutama teman-teman Tim EKM Kotabaru yang memberi begitu banyak kesempatan untuk belajar dan mengembangkan diri. Ad Maiorem Dei Gloriam!
18. Para warga dampingan, anak-anak dan volunter Perkampungan Sosial Pingit. Terima kasih untuk semangat berjuang bersama melayani dan semua pelajaran hidup yang boleh dibagikan.
19. Para rekan di Campus Ministry Universitas Sanata Dharma. Terima kasih sudah mengajak saya belajar sesuatu yang belum pernah saya coba, yang sangat berguna bagi skripsi ini.
20. Participants of Service Learning Program batch 7: Adhi, Bagas, Enno, Indri, Ayang, Aaya, Linlin, Natsuki, Morgan, Shaira, Darlene, Nadya, Anselmo, Joey, Kuya Barry, Francis, John Chin, Mayuko, Seia, Hoto, Emi, Ron. For my foster family (Siarot family), and the staffs from Xavier University – Ateneo de Cagayan. And for Glaiza. Thank you so much for the experiences and friendship! Also for Ms Tata, Pak Chosa, Miss Sisca, Mas Anton, Kak Risca, Mas Risang, Kak Kukun, SLP batch 6, GLP batch 7, SLP batch 8. Thank you for your helps, laughs, love and life-lessons.
21. Teman-teman BEMF Psikologi 2013/2014 yang sampai sekarang masih sering ribut di grup, kadang kalian jadi hiburan tersendiri haha long live my family!
22. Seluruh teman-teman Psikologi angkatan 2011, terima kasih untuk segala dinamika selama sepuluh semester ini. Juga untuk kakak-kakak dan adik-adik angkatan. Let’s find our way in Psychology! See you on top!
23. Pak Nug, yang selalu setia mengantar saya ke mana pun dan kapan pun sejak saya TK. Juga untuk semua mbak-mbak asisten rumah tangga yang mengasuh dan membantu mencukupi kebutuhan saya. Terimakasih sudah momong saya.
24. Kepada para keluarga yang mengizinkan saya belajar banyak hal tentang keluarga.
25. Google, Facebook, Twitter, Path, YouTube, radio, TV, koran, dll yang dengan cara mereka sendiri berkontribusi dalam skripsi ini, secara langsung maupun tidak.
26. Terima kasih setulusnya kepada Mateus Lesnanto, rekan bertukar pendapat, penyemangat, pengingat dan sahabat. Good luck for your next journey!
27. Terima kasih untuk Anda! Silakan tulis nama Anda di sini ………………………
Terima kasih sudah mewarnai hidup saya! :)

terima kasih juga untuk semua cinta yang ditunjukkan lewat dukungan, kehadiran dan pemberian ketika saya pendadaran. kebetulan saya diberi kesempatan untuk "pendadaran dua kali" :))
pemanis di hari Kamis :p

kado pendadaran sesungguhnya di hari Senin, nuwun! :)

bukan penonton bayaran :p 

Pak Prof yang sebelum foto ini sempat tanya, "Lho, pacarmu mana, Vania?"
nggak punya Paakkk! :))
ketika saya wisuda pun beberapa teman seperjalanan saya lagi-lagi ikut heboh dengan memberikan pelukan, berbagi keceriaan dan memberi beberapa kenang-kenangan. terima kasih!
kembang beneran, kembang api, coklat, pop up, boneka <3


sebagian anggota Tengger Psikologi A di malam pelepasan :)

keluarga Bener :D

volunter Perkampungan Sosial Pingit :D

"masih" remaja: Retha, Ria, Acil :)

Tephie :)
dari Om Lemmu, omnya @apinganit :)
dan ini, kenang-kenangan paling fenomenal dan tidak terduga :))
dosen pembimbing saya, Prof. Dr. A. Supratiknya mempersembahkan sebuah lagu berjudul "All I Ask of You", bersama Gaby dan SS. terima kasih, Pak! luar biasa sekali, sampai terharu saya :")


beberapa waktu setelah saya menyelesaikan skripsi saya, salah satu musisi favorit saya, Tulus, meluncurkan album barunya yang berjudul Monokrom. ketika mendengar lagu dengan judul yang sama, saya langsung terharu karena teringat warna-warna yang ditorehkan teman-teman seperjalanan saya. mungkin itu ya sebabnya kenapa kalau pendadaran pakainya baju putih-hitam. supaya ingat pribadi-pribadi lain yang memberi warna pada hidup kita :)) #meksobanget
beberapa waktu setelah saya wisuda pun Tulus meluncurkan official music video dari lagu Monokrom, mungkin ini cara semesta untuk mengingatkan saya melaksanakan niat yang sudah muncul sejak lama tapi belum juga direalisasikan. maka melalui postingan ini, saya pun ingin mempersembahkan lagu Tulus yang berjudul Monokrom untuk semua teman-teman seperjalanan saya, baik yang tertulis di atas maupun yang masih di titik-titik nomor 27 itu :D


Tulus - Monokrom
Lembaran foto hitam putih
Aku coba ingat lagi warna bajumu kala itu
Kali pertama di hidupku
Manusia lain memelukku

Lembaran foto hitam putih
Aku coba ingat lagi wangi rumah di sore itu
Kue cokelat balon warna-warni
Pesta hari ulang tahunku

Di mana pun kalian berada
Kukirimkan terima kasih
Untuk warna dalam hidupku dan banyak
kenangan indah
Kau melukis aku

Lembaran foto hitam putih
Kembali teringat malam kuhitung-hitung bintang
Saat mataku sulit tidur
Suaramu buatku lelap

Di mana pun kalian berada
Kukirimkan terima kasih
Untuk warna dalam hidupku dan banyak
kenangan indah
Kau melukis aku

Kita tak pernah tahu berapa lama kita
Diberi waktu
Jika aku pergi lebih dulu jangan lupakan aku
Ini lagu untukmu
Ungkapan terima kasihku

Lembar monokrom hitam putih
Aku coba ingat warna demi warna di hidupku
Tak akan kumengenal cinta
Bila bukan karena hati baikmu



I am really nothing without you! <3


Sabtu, 10 Desember 2016
with love,

Stella Vania Puspitasari, S.Psi.
(sekali-sekali nulis gelar boleh yaaaa :p)


PS: kalau mau pesan bunga-bunga kayak yang di foto bisa cari di IG @agrojayaflorist atau IG @ad_mooi_florist atau ke temen saya @tivakoeswojo, kalau mau handicraft unyu unyu bisa cek IG @allpartygimmicks atau ke temen saya @arum_acil #ujungujungnyapromosi :))