selain cerita si bintang

Tampilkan postingan dengan label Mas Anto. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Mas Anto. Tampilkan semua postingan

31 Desember 2018

2018: unpopular options

ada beberapa 'unpopular option' yang saya pilih untuk diri saya sendiri sepanjang 2018, dan ada banyak hal yang harus saya lakoni sendiri. banyak ke-nekad-an selama 2018 yang semoga membuat saya braver, stronger, better.
- pengalaman perdana Paskah tidak di #MasAnto, tapi di Jatinangor sendiri
- perjalanan ke Lembang sendiri naik angkot
- ke Jakarta yang enggak cuma dolan, tapi ngurus beasiswa dan dapat pengalaman berbagi
- pengalaman perdana tidak ikut Tahbisan Imamat SJ setelah 11 tahun selalu terlibat
- pindahan dari Nangor ke Bandung yang diurus bareng temen
- kerja praktik di Cimahi tapi tetep ngekos di Bandung
- iseng daftar conference, diterima dan berangkat sendiri ke Batu
- kembali ke Bandung sehari setelah natal, dan akan menyambut 2019 sendiri, eh, bersama Mr. T, dink..
juga ada beberapa komunitas dan kawan baru sepanjang 2018, karena saya gabung Bandung School of Peace, Spinmotion Bandung chapter terbentuk, dan ikutan DigiTribe Aroma Karsa.
terima kasih, 2018, sudah memberi saya kesempatan untuk mendobrak batas aman dan melompat dari zona nyaman. proud of you, self!
semoga 2019 menjadi tahun yang penuh kebaikan dan berkat untuk kita semua. happy new year!

01 April 2018

pas kah?

Selamat Paskah, saudara saudari!

Paskah 2018 terasa berbeda bagi saya, karena ini adalah Paskah pertama saya di Jatinangor. Yup, saya enggak pulang ke Jogja. Sejak Natal 2017, saya sudah membulatkan tekad untuk Paskahan tidak di Jogja. Alasannya sebenarnya sederhana, hari Kamis pasti saya kuliah sampai sore. Kalau saya memaksakan pulang ke Jogja, pilihannya saya nggak ikut misa Kamis Putih atau saya bolos kuliah hari Kamis. Saya nggak mau milih keduanya, maka saya memilih Paskahan tidak di Jogja, pikiran saya mau Paskahan di Jakarta (dan sekitarnya) atau di Bandung. Saya nggak mau Paskahan sendirian. Tapi lagi-lagi karena masalah jadwal, ditambah juga masalah duit, dan pertimbangan dari salah seorang sahabat, "(Coba Paskahan di tempat) yang nggak mungkin kamu alami lagi," akhirnya saya memutuskan Paskahan di Jatinangor saja. Meski sudah memutuskan sendiri, ternyata galau juga cuy nggak ikut hiruk pikuk di Mas Anto, apalagi hari Kamis sebelum Minggu Palma banyak orang Kotabaru update gladi Kamis Putih, langsung mewek deh malam itu... 

Untungnya, karena keadaan lagi agak selo, besoknya bisa mlipir sebentar ke Jakarta. Jadilah saya ber-Minggu Palma di Jakarta. Hari Jumat itu saya dolan ke Paroki Blok Q untuk menghabiskan waktu. Di sana saya diajak untuk melihat hiruk pikuk persiapan Minggu Palma dan dikenalkan dengan beberapa umat. Lumayan, obat kangen Mas Anto. Senang sekali rasanya. Pas hari Minggu Palma saya ke Gereja St. Theresia Menteng, baru sekali itu ke sana, dan baru tau itu berbau Jesuit juga hehehe seperti biasa, lagu Yerusalem Lihat Rajamu sukses bikin saya mewek, selain karena suasananya, tapi saya juga ingat ponakan saya, Abel, yang dulu senang nyanyi, “Heruhalem, Heruhalem” dan kayaknya sekarang sibuk nyanyi di surga :”) Minggu Palma, meski saya misa sendiri, tapi selama di Jakarta saya ketemu beberapa sahabat. Hepi!

Ketemu Kakakku (baca: Romo Cahyo) dan Kinan (tetua misdinar)
Paroki Blok Q
Minggu Palma
setelah misa di Gereja St. Theresia Menteng
Meski Minggu Palma sudah hepi, ternyata jelang Kamis Putih saya galau lagi. Maklum, beberapa orang mengajukan pertanyaan seputar “paskahan di mana” dan “paskahan pulang enggak”, termasuk mama saya sendiri. Makjleb lho itu rasanya *kemudian mewek* tapi tekad sudah dibulatkan: Paskah di Jatinangor.
Nggak cuma bertekad paskahan di Jatinangor, saya pun bertekad naik angkot dan jalan kaki tiap ke gereja. Biasanya saya naik ojek dari kos. Maklum, jalannya lumayan jauh. Gereja yang saya datangi ini di dalam kompleks IPDN, namanya Gereja St. Albertus Magnus, atau biasa saya sebut dengan Mas Albert. Dari gerbang IPDN menuju gereja, jaraknya masih sekitar 1km, dengan jalan yang menanjak, berlubang, berpasir dan berkerikil. Naik ojek aja saya harus sambil merapal Salam Maria berulang kali, takut jatuh. Jalan kaki juga capek euy. Tapi tekad saya sudah bulat untuk nggak naik ojek.

jalan berlubang, berbatu, berkerikil
perjalanan menanjak, serasa ke Golgota (lebay)
jalannya lumayan jauh juga cuy

Ketika Kamis Putih, setelah naik angkot dan nyebrang, saya pun mau mulai berjalan kaki, eh baru beberapa langkah dari gerbang, tiba-tiba ada mobil mendekat dan pengemudinya membuka kaca lalu menawarkan tumpangan, “Mau ke gereja mbak? Bareng aja.” Saya kaget. Maklum, baru pertama kali mengalami. Yang memberi saya tumpangan saat itu adalah sebuah keluarga cukup muda, ada bapak, ibu dan anak laki-laki sekitar usia 8 tahun. Ibu itu aslinya Klaten. Ketika saya bilang terima kasih sekali dan maaf merepotkan, kata ibu itu, “Nggak apa-apa mbak, kan masih ada tempat, biar sekalian.” Saya terharu. Meski begitu ketika Kamis Putih saya tetap mellow, (seakan-akan sok-sokan) merasakan kegalauan, kesendirian, kegentaran, kesedihan, kecemasan Gusti Yesus di malam setelah perjamuan terakhir dan sebelum Dia ditangkap. Saya merasa sendirian, nggak dianggap, nggak penting. Tapi Allah Yang Maha Kreatif itu memang adaaa aja caranya ya, kala itu Dia menghibur dengan beberapa lagu, di antaranya lagu taize yang dinyanyikan saat misa, "Nada de turbe nada teespante, quien a Dios tiene nada lefalta, nada de turbe nada teespante, solo Dios basta", yang artinya “Janganlah cemas, janganlah takut, di dalam Tuhan berlimpah rahmat, janganlah cemas, janganlah takut, serahkan Tuhan.” Eh dapet bonus juga sih Kamis Putih ini, duduk di sebelah mas-mas ganteng #eaaa #abaikan

Kamis Putih
teks yang dipakai 4 hari dari Kamis sampai Minggu

Sakramen Maha Kudus di depan Patung Bunda Maria

Pas Jumat Agung, lagi-lagi saya berniat jalan kaki ke gereja. Maklum, saya nggak ikut jalan salib paginya, jadi anggap saja jalan kaki itu semacam perjalanan ke Golgota #lebay. Sudah sekitar sepertiga perjalanan dari gerbang saya tempuh dengan berjalan kaki, tiba-tiba ada mobil dari belakang yang mendekat dan menawari tumpangan. Di dalam mobil itu ada ibu paruh baya sekitar 50 tahunan yang ternyata asli Magelang, dan anak perempuannya sekitar 18 tahun (ceritanya baru mau lulus SMA dan pengen kuliah di Unpad, tapi dandanannya ngalahin yang S2 –maksudnya saya- sih ya). Ibu itu, namanya Ibu Retno, cerita kalau mereka dari Cirebon. Paginya mereka berangkat jam 7 dan sampai di Jatinangor sekitar jam 10. Beliau dan anak perempuannya sering ke IPDN karena anak laki-lakinya, kakak si anak cewek, di IPDN. Di perayaan Jumat Agung saya mendapat kejutan: passio yang dipakai adalah passio ciptaan Tante Alma yang adalah passio yang sering dipakai di Kotabaru dan favorit saya. Langsung lah mewek dan ikut nyanyi sepanjang passio. Ternyata juga salibnya yang dipakai untuk penghormatan salib cuma satu, jadi penghormatan salib dilakukan setelah ibadat. 

Jumat Agung
penghormatan salib setelah ibadat
Sabtu Malam Paskah, lagi-lagi saya dapat tumpangan lagi ketika sudah sepertiga perjalanan. Kali ini yang memberi tumpangan adalah pasutri dan Opung (yup, orang Batak). Pasutri ini sekitar usia 40 tahunan, dan sebenarnya tinggal di Jakarta, tapi Paskahan di Jatinangor demi mengunjungi Opung. Pasutri ini baik banget, bahkan menawarkan saya untuk menginap di rumah mereka kalau saya ke Jakarta. Ternyata, kakak ipar dari bapak itu orang Kotabaru, coy! Nggak jauh dari gereja katanya. Betapa sempitnya dunia! Ketika sudah turun dari mobil dan berjalan bersama Opung dan ibu, Opung itu mengajak saya mengobrol,
O: Kamu kuliah semester berapa?
V: Semester 2, tapi S2
O: Oh S2? Hebat kali. Jurusan apa?
V: Psikologi
O: Apa lah itu psikologi? Tak tau lah aku.
I: Itu Amang, mempelajari kejiwaan seseorang.
O: Oh, hebat kali bah. Kuliah yang benar ya, jangan… kalau orang Medan bilang marhallet. Jangan marhallet ya.
V: Apa itu?
I: Maksudnya jangan pacaran dulu.
V: OH HAHAHA *siap ngakak, tapi ditahan karena Opung melanjutkan nasihatnya*
O: Sekolah dulu yang benar, lalu kerja untuk ganti orang tua… ganti keringat orang tua ya.

Begitulah saya mengawali Sabtu Suci Malam Paskah. Ketika misa, ada beberapa bagian liturgi yang beda dengan di Kotabaru (pastinya), terutama karena malam itu di Mas Albert ada pembaptisan. Senang sekali bisa menjadi saksi pembaptisan dan penerimaan. Lagu Syukur Kepada-Mu Tuhan paling nyesss sih. Selain itu juga ada lagu Haec Dies, Hati Kudus Yesus dan Rejoice yang juga paling bikin nyesss di hati. Setelah misa, saya sempat ngobrol dengan beberapa orang, di antaranya adalah mereka yang koor Jumat Agung, karena saya menyapa dan mengapresiasi mereka sih waktu Jumat Agung. Saya jadi merasa nggak sendirian. Dan lagi, saya nyalami mas-mas ganteng yang duduk di sebelah saya waktu Kamis Putih HAHA #abaikan

Malam Paskah
awalnya gelap

Malam Paskah
jadilah terang
Minggu Paskah, sesuai anjuran Pastor Ote, saya pun ke gereja lagi. Niatnya sih jalan kaki lagi, tapi apa daya bangunnya telat, akhirnya naik ojek lah saya, diantar oleh tukang ojek langganan yang orang Jogja. Biasanya saya jarang misa Minggu Paskah, ternyata memang beda liturgi dan bacaannya. Kalau di sini, karena Malam Paskah ada pembaptisan, maka Malam Paskah nggak ada pemercikan untuk umat. Nah, pemercikannya baru saat Minggu Paskah. Eh ternyata abis misa ada ramah tamah gitu, ada snack, dan pembagian telur! Hahaha lucu amat, semua umat boleh mendapatkan telur paskah, nggak cuma anak-anak saja. Lumayan, rezeki anak kos :D

Minggu Paskah
pemberkatan telur setelah misa untuk dibagikan ke umat

Minggu Paskah
suasana ramah tamah di halaman sebelah gereja
Pada akhirnya, keputusan untuk berpaskah di Jatinangor adalah keputusan yang saya syukuri, bukan saya sesali. Tanpa ikut hiruk pikuk (seperti) di Mas Anto, tanpa (banyak) orang yang dikenal. Saya sendiri, tapi ternyata Gusti Allah nggak membiarkan saya benar-benar sendiri. Bahkan setelah misa Minggu Paskah, ketika saya jalan kaki ke kos, entah gimana ada seorang ibu yang ngajak ngobrol sepanjang jalan, ibu itu mau pulang ke rumahnya yang nggak jauh dari kos saya. Kalau kata salah seorang sahabat saya yang lain, "Keluarga emang jauh, tapi yang mirip-mirip ada lah."

Gusti Allah memang suka sekali bercanda, tapi cinta kasih-Nya nggak bercanda, serius banget! Keseriusan kasih-Nya ini sudah dibuktikan lewat peristiwa yang kita peringati pada Kamis Putih-Jumat Agung-Paskah, yang secara konkret diwujudkan oleh Yesus. Gusti Allah Yang Maha Kreatif itu juga menunjukkan kasih-Nya pada kita dengan cara berbeda-beda, sesuai dengan pribadi kita masing-masing, sesuai dengan kebutuhan kita, sesuai dengan kondisi dan situasi kita. Dan cara yang dipakai-Nya untuk kita masing-masing selalu pas.

Selamat Paskah, teman-teman! Semoga kebangkitan Kristus menguatkan kita untuk semakin berani berjuang dalam hidup. Salam, doa dan peluk virtual dari Jatinangor!

 

Minggu Paskah, 1 April 2018
Bukan April mop,

Vania yang pendiam dan pemalu (ini juga bukan April mop) :p

01 Januari 2016

little stories in 2015

Hello folks! Long time no see :D
Firstly I hope you had merriest Christmas and happiest new year! 
Just like the other people (okay, I know I am mainstream hehe) I tried to find out what my best nine photos in Instagram. And now I want to share it with you.
1. In 2015, I made at least two big decisions, and one of them was cut my hair. That's my first time having a short hair, just like when I was 4 years old hahahaha 
That's a "beautiful mistake" I think, because I didn't plan to cut that short, but I love my new hairstyle, look so fresh, isn't it? :D

2. Just like the previous years, in 2015 I engaged to Jesuits' ordination. But I think my engagement last year was special because almost all of the new Fathers is my friend. So last year I attended 5 first masses (actually there were 7 new Fathers, but I couldn't attend all of the first masses). In the photo, that was Romo Sani, one of the most "care pol" person I've ever met :p

3. Well yeah, in 2015 I (still) had good times with PAPITA, it's already 13 years, anyway. WOW! Papita is not everything, but everything could happen in Papita #eaaa

4. In 2015 I also still engaged in Perkampungan Sosial Pingit. I learned a lot, not only about how to teach or how to be more empathetic, but I also learned to struggling with myself, my feelings, my thoughts, my idealism etc. In short, my engagement in Pingit help me to develop as a person. Anyway, this year, 2016, Pingit will be 50 years old! #PestaEmasPingit

5. Another #TourToTheTemples session. That was a moment before sunset at the highest temple in Jogja, Candi Ijo.

6. I had so much fun with my nephews and nieces in 2015! Well, that photo taken just a day after a big decision I made in 2015 hehe :D in 2015, I had a chance to literally took care of them for several days and nights hehehe I am very grateful to be an aunt for cute, funny, creative kids. I also had a new cousin and two new nephews last year, so I am an aunt for 8 kids! Hahaha :D

7. One of my best friend said to me that family will always love you unconditionally, always accept you and give you support, no matter what. In 2015, I really learned to find and give meaning to the words "family". And yeah, I couldn't be happier to be a part of this family. :)

8. Joining Campus Ministry's Media and Publication team was another highlight of my 2015. I met many great people (including my "twin", Jokpin), I learned a lot about organizing an event, I learned a lot through the conversations, I learned a lot about life. 

9. One of 'our job' as media and publication team was share the stories about some Sanata Dharma's students who bike from Jogja to Bali, to campaign about autism and mangrove. Of course I wasn't bike from Jogja to Bali, but I learned from their spirit to do something for others. Anyway, in 2015, I also (actually I am forced) to learn how to bike HAHAHAHA :p 

Yeah, for me 2015 is an epic year. I had so many new things, including new status #EH :))
I think my biggest lesson learned in 2015 was "following my deepest heart". You can always use mask, you can always looks good in front of other people, but your heart will never lie. Whatever the consequences, just face it. 
Thank you for everyone who helped me "find myself" in 2015, there are so many BEST people around me, I can't mention them one by one, but I always whisper their name on my prayers ;)
I'm sure that they are present from God. Prayers, joys, hugs, ears to listened to my stories, even tears we shared together, that's really mean to me. I am so blessed. I hope our friendship also give something that meaningful to you, guys! ;)

Once again, happy new year! Hope you will have a great journey in 2016.

Emmm...
I just had a wish for 2016: get my bachelor degree. What's next? Well, just wait what my deepest heart say :p


Happy holidays!

First day of 2016,
Stella Vania Puspitasari (soon to be S.Psi.) :D

05 April 2014

Opa Tom dan Mas Anto

Beberapa waktu lalu saya mengikuti seminar tentang Gereja di Indonesia, menurut pandangan Romo Tom Jacobs, SJ, atau yang biasa saya panggil Opa Tom. Jujur saja, mendengar nama Opa Tom, yang pertama muncul dalam benak saya bukanlah kehebatannya sebagai seorang teolog yang memang sudah terkenal, melainkan kenangan bersama beliau, layaknya opa dan cucunya sendiri. Ya, saya mengenal beliau sejak kecil, tapi bukan itu yang pertama-tama ingin saya ceritakan di sini.
Mendengar orang berbagi tentang pemikiran Opa Tom, sebenarnya bukan hal yang baru bagi saya. Tapi entah kenapa, baru kali ini saya menemukan kesamaan antara Opa Tom dan Gereja Santo Antonius Kotabaru, yang kadang saya sebut dengan panggilan sayang “Mas Anto”. Sebenarnya, bukan hal yang mengherankan jika Opa Tom dan Mas Anto memiliki beberapa kesamaan, karena Opa Tom tinggal di seputar Kotabaru selama 42 tahun. Opa Tom mulai tinggal di Kolsani sejak tahun 1966, kemudian pindah ke Pastoran Kotabaru pada 1994.

Terbuka
Beberapa pribadi yang tidak terlalu mengenal Opa Tom seringkali menganggap Opa Tom adalah sosok yang galak, tegas dan kaku. Namun bagi mereka yang mengenal Opa Tom, termasuk lewat karya-karyanya, akan menemukan bahwa Opa Tom adalah pribadi yang terbuka. Opa Tom menerima pertanyaan, saran atau kritik atas karyanya. Bahkan tidak jarang beliau juga mengritik karyanya sendiri.
Keterbukaan Opa Tom juga pernah saya alami sendiri. Sekitar sembilan tahun lalu, saya mengajak Opa Tom bersalaman dengan cara yang khas, dan kemudian salam itu dipakai terus, bahkan oleh teman-teman saya ketika bersalaman dengan Opa Tom. Opa Tom bersedia diajari oleh anak kelas 5 SD, dan bagi saya, ini adalah tanda keterbukaan Opa Tom.
Opa Tom juga sangat menghargai orang lain. Contoh yang paling nampak adalah setiap beliau memimpin ekaristi, ketika lektor hormat ke arah beliau, beliau pun akan berdiri dan menghormat ke arah lektor tersebut. Hal ini memang sederhana, tapi sungguh menunjukkan rasa penghargaan beliau pada orang lain.

Mas Anto sendiri sudah terkenal sebagai gereja yang terbuka. Dari segi gedung gereja, Mas Anto selalu buka setiap hari pukul 05.00-20.00. Selain itu, Mas Anto juga membuka diri bagi siapapun yang mau aktif melayani. Bahkan menurut hasil litbang beberapa tahun lalu, 77% umat yang datang ke Mas Anto adalah warga dari luar Paroki St. Antonius Kotabaru (termasuk saya!).
Keterbukaan Mas Anto juga tampak dari terbentuknya berbagai komunitas yang mewadahi umat. Mewadahi di sini artinya mewadahi minat atau bakat, juga mewadahi kebutuhan umat. Misalnya saja ada komunitas Paguyuban TV Monitor (Patemon), K25+, Komunitas Belajar Teater (KBT) yang akhir-akhir ini akrab disebut Visualizers, Kaum Muda Peduli, Tim Ekaristi Kaum Muda (EKM) dan sebagainya. Ditambah lagi, hampir semua komunitas di Mas Anto ini mengadakan open recruitment, sehingga umat bisa bergabung dengan komunitas-komunitas ini. Sungguh sangat terasa keterbukaannya.
Selain itu, Mas Anto juga membuka diri untuk membantu mereka yang membutuhkan. Contoh sederhana, Mas Anto membantu komunitas-komunitas di dalam maupun luar paroki yang membutuhkan dana dengan tugas pelayanan jaga parkir. Contoh lainnya, Mas Anto secara rutin mengadakan beberapa bakti sosial, seperti donor darah, pemberian bibit ikan pada warga bantaran Kali Code, dan sebagainya.
Mas Anto pun membuka diri pada saudara-saudara yang memiliki agama atau kepercayaan lain. Komunitas Persaudaraan Lintas Iman (PELITA) menjadi buktinya. Meski kini komunitas itu vakum, tapi keberadaan dan usahanya menjadi tanda keterbukaan Mas Anto.

Kontekstual
Dalam seminar tentang Opa Tom beberapa waktu lalu, kata kontekstual seringkali disebut. Begitulah, Opa Tom memang romo landha yang sangat nJawani. Bahkan katanya, beliau sempat ingin mengganti namanya menjadi Sutomo, agar lebih Jawa. Seringkali saya merasa Opa Tom ini lebih Jawa daripada orang Jawa. Romo landha ini sangat fasih berbahasa Jawa, dan jadi salah satu andalan untuk memimpin misa bahasa Jawa di Kotabaru.
Opa Tom juga kontekstual dalam hal berkomunikasi dengan orang lain. Beliau sangat empan papan. Di hadapan mahasiswanya, beliau berlaku sebagai dosen, tapi di balik mimbar beliau adalah romo yang homilinya selalu jadi favorit. Kalau beliau merasa terusik, galaknya minta ampun, tapi di depan orang yang baik-baik saja dengannya, beliau pun akan bersikap baik.
Karena kontekstual itu tadi, Opa Tom menjadi romo favorit di semua kalangan, baik lansia, ibu-ibu, bapak-bapak, anak-anak, remaja dan kaum muda. Opa Tom menjadi langganan memimpin misa anak. Bahkan Opa Tom yang sampun sepuh itu juga pernah memimpin Ekaristi Kaum Muda (EKM), hal yang (saat itu) membuat saya kaget.
Opa Tom dan beberapa kaum muda dan (saya, saat itu) kaum akan muda :p

Kata kontekstual juga tidak bisa dilepaskan dari Mas Anto. Teks misa di Mas Anto dibuat oleh umat, dalam hal ini Tim Liturgi, yang berangkat juga dari isu atau keprihatinan yang dialami umat. Rupanya, hal ini tidak berlaku di semua gereja (saya juga baru tahu setelah mengikuti sharing dengan tim liturgi beberapa paroki lain).
Selain itu, Mas Anto pun memiliki beberapa “ekaristi khusus”, misalnya saja Ekaristi Kreatif Anak (EKA), Ekaristi Kaum Remaja (EKR), Ekaristi Kaum Muda (EKM), Ekaristi Eyang-eyang (EEE), Ekaristi Peneguhan Perkawinan (EPP), dan Ekaristi Kharismatik. Ekaristi-ekariti ini dikemas sedemikian rupa sehingga sesuai dengan namanya, dan ini pula yang menjadi salah satu daya tarik Mas Anto.

Menurut saya, tentu Mas Anto sekarang harus banyak berterima kasih pada Opa Tom. Beliau sangat banyak memberikan sumbangan bagi Mas Anto sehingga Gereja St. Antonius Kotabaru bisa jadi seperti ini, menjadi gereja yang terbuka dan kontekstual. Semoga semangat Opa Tom juga bisa menyemangati teman-teman di Mas Anto, dan kita semua, di mana pun kita berkarya.
Saya pribadi merasa bangga dan bahagia karena pernah mengenal Opa Tom dan diijinkan menjadi bagian dari Mas Anto. Semoga ke depannya Mas Anto semakin bisa memberikan yang terbaik bagi seluruh umat, demi kemuliaan nama Allah yang lebih besar lagi. Salam AMDG!


Yogyakarta, 5 April 2014
Mengenang enam tahun meninggalnya Opa Tom

Stella Vania Puspitasari

*beberapa informasi dalam tulisan ini saya kutip dari tulisan Om Agustinus Herwanto berjudul “Begawan Teologi yang Pandai Berkhotbah”, juga dari Seminar IHS di Kolsani beberapa waktu lalu. Matur nuwun!

ps: bagi teman-teman aktivis Gereja St. Antonius Kotabaru, semangat untuk persiapan Paskah-nya, tetap jaga kesehatan :)

31 Desember 2013

cerita sepanjang 2013 :)

Seorang teman berkata, "Salah satu tanda kedewasaan seseorang adalah berani meninggalkan kenyamanan."
Tahun 2013 ini bagi saya merupakan suatu proses menjadi semakin dewasa. Nggak cuma bagi saya, tapi juga beberapa orang di sekitar saya. Kakak dan Akang tahun ini lulus dan mendapatkan kerja, meninggalkan saya di Jogja yang berhati nyaman ini, pun dengan Mas Frater Surya yang mendapat tugas baru di Micronesia. Mereka adalah beberapa sosok yang berproses menjadi lebih dewasa tahun ini. 

Baiklah, mari merinci saja apa aja sih yang udah terjadi sepanjang 2013 ini :D

JANUARI
Kakak lulus! Yeay! Akhirnya pada semester ke-12, Kakak berhasil lulus juga :D
Dan bulan ini juga, saya sekeluarga untuk pertama kalinya jalan-jalan (bareng-bareng) ke luar negeri. Perjalanan yang agak  absurd ke Singapore.
liburan awal tahun yang manis :D


FEBRUARI
Kakak wisuda :D 
bahagiaaaa :D
10 Februari ada #EKMDIY, Ekaristi Kaum Muda dan Pentas Seni se-Kevikepan DIY. Kebetulan, saya jadi co.liturgi (lagi, untuk ke sekian kali). Bedanya kali ini saya bekerja dengan orang-orang baru yang kece banget! *salim sama Mas Yosi, Mas Heru, Mbak Iyas, Mbak Ela, Erika, Bertha, Mas Edi, Denny, Mas Eko, Mas Ayok, Mbak Ellen dan semuamuamuanya* :D

MARET
Menghadapi beberapa #AkuKuduPiye moment bersama temen-temen EKM, khususnya buat Ekaristi Paskah Kaum Muda. Terima kasih buat dinamikanya, temans! Terima kasih juga buat Romo Surjo, Romo Fajar dan Frater Sani yang membantu kami untuk menghadapi #AkuKuduPiye moment ini :D
tampang-tampang #AkuKuduPiye
APRIL
Kesibukan di bulan-bulan sebelumnya dan UTS bikin saya butuh menyegarkan pikiran. Maka, akhirnya setelah sekian lama, saya jalan-jalan bersama Akang. Self-rewarding gitu deh ceritanya :)

MEI
Seperti biasa, bagi saya, bulan Mei selalu penuh cerita. Bulan Mei ini saya berkesempatan untuk mengunjungi RSJ Grhasia, tepat ketika saya menginjak usia kepala dua.
PsyPals!
Oya, seminggu sebelumnya juga ada makrab pergantian pengurus EKM. Bertha dan saya lengser sebagai kordum dan korlit Tim EKM Kotabaru. Rasanya campur aduk. Seneng, karena berhasil menyelesaikan tanggung jawab dengan segala jungkir baliknya. Ada juga perasaan cemas, apa bisa saya benar-benar melepas EKM, saya "terlalu cinta" sama EKM. Tapi ya namanya juga hidup, kita nggak bisa selama-lamanya menggenggam sesuatu terlalu erat. 
Tapi meski sudah lengser di Tim EKM Kotabaru, di bulan ini saya juga bikin EKM lagi, kali ini EKM Psikologi di Gereja Pringwulung. Tempat baru, cara kerja baru, orang-orang baru, dan ini berarti adalah tantangan baru juga bagi saya. 
Three Loves One Life :)
JUNI
Kak Dea, salah satu kakak sepupuku, nikah! Kak Dea nikah di Jogja, dan nginep di rumah. Saya kebagian ikut rempong sebelum dan sesudah the day, seru ternyata :D
Event ini juga berhasil mengumpulkan (hampir semua) keluarga Esnawan, termasuk Kak Kla-Kak Steve-Kayden dari Aussie dan Kak Istas-Tomoyo dari Jepang :D
Esnawaners :D
Bulan ini juga banyak acara di Jogja, salah satunya FKY. Saya pun berhasil datang ke sana sama seorang tamu spesial: Omor! :D
Dan, Akang berhasil pendadaran bulan ini juga yihaaa :D
cieee gelarnya "S.T." :P
JULI
Pergantian pengurus Papita. Saya yang (ceritanya) jadi pendamping Papita bersama #GenkKepo (baca: Frater Sani, Angel, Febri) bantuin pergantian pengurus Papita. 
Juli juga identik sama Tahbisan Jesuit. Tahun ini, beberapa teman saya berubah sebutan dari Frater jadi Romo. Di antaranya Romo Fajar, Romo Surjo, Romo "Eyang" Windar, Romo Vico, Romo Andri :)

AGUSTUS
Akang wisuda :D
horeeee :D
SEPTEMBER
Ini bulan yang luar biasa banget. Serius! Di hari pertama, saya sudah ikut Raker Pingit.
Tiap tahun, Psikologi punya gawe sepanjang bulan September, namanya Psychofest. Tahun ini untuk pertama kalinya saya ikut kehebohan Psychofest dengan jadi panitia. Di sinilah proses "belajar menjadi lebih dewasa" saya mulai. Saya bergabung dengan kepanitiaan yang baru, dan lewat Psychofest ini saya jadi makin aktif di kampus, di tempat baru. Ini berarti pula saya mulai melangkah keluar dari "zona nyaman" saya, Mas Anto tercinta.
Bulan ini juga saya mulai LDRan sama Kakak dan Akang karena keduanya kerja di Jakarta :") #JamaahLDRiyah bersatu!

OKTOBER
Setelah heboh-heboh Psychofest, saya kira saya bakal bisa kembali fokus ke kuliah, tapi ternyata keriuhan yang lain sudah menanti. 
9 Oktober, ulang tahun si Yogyaswara istimewa. Sayangnya  kali ini saya tidak bisa menemaninya merayakan ulang tahun ke 23nya.
sederhana sekali :)
Awal Oktober juga ada ulang tahun Pingit ke 47 :D seru sekaliiiii! Ada jathilan, baca puisi, nyanyi-nyanyi dan lain-lain :)
Opa Henk dan anak-anak Pingit :D
Tanggal 13 Oktober, pendamping Papita mengadakan #PelantikanPapita, setelah sekian tahun tidak ada acara ini :D
para pendamping papita :D
Pertengahan Oktober, saya "diutus" oleh pihak fakultas untuk pergi ke Surabaya, ikut Olimpiade Psikologi 2. Karena persiapan yang mepet dan masih kepikiran UTS, jadi kami nggak menang deh. Tapi dari pengalaman ini saya belajar banyak hal, juga kenalan sama temen-temen baru :D
yang penting pose deh :")
Akhir Oktober, ada Baksos Psikologi di sekitaran Paingan. Dan tepat pada hari Sumpah Pemuda, ada pelantikan BEMF Psikologi 2013/2014, dan saya bergabung dengan BEMF menjadi co. SOSRO (Sosial Rohani), suatu bidang yang (katanya) "vania banget". Hari itu juga Tim EKM Kotabaru ulang tahun ke 13 :D
Hari terakhir Oktober juga puncak perayaan ulang tahun Kolsani ke 90. Sungguh bulan yang istimewa!

NOVEMBER
Bulan ini tidak kalah sibuknya dengan bulan September dan Oktober. Mengemban tugas baru di BEMF berarti juga harus menyiapkan strategi setahun ini mau ngapain aja. Bulan ini banyak yang kami lakukan, mulai dari konsolidasi, makrab BEMF dan OAT di akhir bulan. 
Di awal bulan saya juga "menjajal" sesuatu yang baru, yakni datang ke mangafest :D
Bukan tanpa alasan saya datang ke acara jejepangan ini. Saya datang karena #ApingAnitJualan! Datang ke acara ini membuat saya mengenal orang-orang baru yang kece-kece :)
bareng Om Lemmu :D
Bulan November (lagi-lagi) ada ekaristi kaum muda yang diberi judul Eucharist Youth Movement (EYM) di Karang Klethak. Bulan ini juga ada Rekoleksi Papita :D

DESEMBER
Bulan terakhir di 2013 ini saya isi dengan .... UAS #yeahmahasiswa
Seperti yang sudah pernah saya tulis, ada pameran media massa, dan seabrek laporan serta tugas lainnya yang mewarnai kehidupan mahasiswa semester 5 yang selo
Setelah UAS, saya kembali ke haribaan Tim EKM Kotabaru untuk mengacaukan membantu Ekaristi Natal Kaum Muda. 
Tapi satu hal yang menarik di penghujung 2013 ini, saya kembali ke kampus untuk membantu Reuni Akbar USD. Sungguh suatu momen berharga yang membuat saya belajar dan bertemu banyak orang baru, termasuk alumni yang pernah menjadi Ratu Kampus :D
Dan di hari terakhir tahun ini, saya pun tidak berniat menghabiskannya di Mas Anto seperti tahun-tahun sebelumnya :)

Yeah, begitulah. Tahun 2013 memang suatu tahun bagi saya untuk belajar keluar dari zona nyaman, untuk mencoba sesuatu yang baru dan mengembangkan diri dengan cara lain. 
Semoga di tahun 2014 saya bisa semakin dewasa. Resolusi saya masih sama dengan tahun-tahun sebelumnya, tapi semoga resolusi ini bisa benar-benar saya wujudkan, nggak hanya di mulut saja. 

Semoga tahun 2014 juga menjadi tahun yang luar biasa bagi kita semua. Selamat menyongsong 2014! :D

31 Desember 2013
15.05 WIB
Yogyakarta yang Berhenti Nyaman (semoga hanya untuk sementara)

Stella Vania Puspitasari


ps: kalau malam tahun baruan kena macet, sabar saja, nggak usah marah-marah, kasian 2013 ditinggalin dengan marah-marah. trus kalau malam tahun baruan di mana pun, jangan buang sampah sembarangan ya. mari sambut 2014 dengan hal-hal baik, dan semoga hal-hal baik juga yang datang pada kita! :D

02 Maret 2011

kenangan bersama Romo Wisnu, SJ :")

Sabtu, 19 Februari 2011
nggak ada firasat apapun yang aku rasakan, kecuali mungkin, doa pagi hari Jumat yang mendoakan Romo Paroki dan doa pagi hari Sabtu yang mendoakan pemimpin bangsa-bangsa yang membuat pikiranku melayang ke Romo Wisnu. setelah aku selesai ngerjain TO 3, aku keluar sekitar jam 12.00. aku liat hapeku, ada satu sms dari Bimo. dia tanya: van, emang Romo Wisnu meninggal po?
antara kaget, nggak percaya, dan memang nggak tau, aku bilang: hah? kata siapa? aku belum dapet kabar je
ternyata setelah aku buka hape yang satunya, ada dua belas sms dan beberapa miskol. semua sms itu mengabarkan kalau Romo Wisnu sudah meninggal. aku shocked, dan seketika aku lemas dan gemeteran. nggak percaya. bagaimana mungkin? padahal Jumat malam aku masih ketemu sama Romo Wisnu, dengan senyum khas dan perut buncitnya. Jumat malam itu aku masih salaman dan cium tangannya, dan sekarang beliau meninggal? aku nggak percaya. dengan gemeter dan keringat dingin, aku diantar Dita dan Dista ke gereja. benar saja, teman-temanku sudah berkumpul di sana. Kolsani sudah dipersiapkan, dan semua orang memang terlihat nggak percaya. aku merasa kepergian, atau mungkin lebih tepatnya kepulangan Romo Wisnu ke Surga itu terlalu cepat. tapi ya waktu kita dan waktu Tuhan berbeda sih...

Romo Wisnu pertama kali pindah tugas ke Kotabaru tahun 2006, dan itu pula saat pertama aku mengenalnya. kesan pertama melihat Romo Wisnu, hampir sama sih kaya kesan orang lain, Romonya galak nih kayanya, kolot. dan aku merasa kesanku itu terbukti ketika di suatu misa, Romo Wisnu menegur seorang anak kecil yang lari-lari di depan Altar, bahkan hal itu ditulis di Surat Pembaca KR. tapi apa yang dilakukan Romo Wisnu itu pasti beralasan, dan aku yakin beliau juga pasti belajar banyak hal dari itu. karena sejak itu, aku mendapat kesan yang berkebalikan 180derajat dari kesan awalku mengenai Romo Wisnu.

menurutku Romo Wisnu itu nggak galak, tapi beliau itu cool, yang kadang dipandang orang lain sebagai sikap cuek dan nggak peduli. beliau kadang punya pemikiran sendiri yang kadang nggak bisa ditebak oleh orang lain. beliau juga kadang suka mengatakan sesuatu secara tersirat, yang kadang bikin orang lain masih bertanya-tanya, Romo tuh mau bilang iya atau enggak sih?
contoh kecil ketika Mama mau pinjem gereja untuk Perayaan 1000 hari meninggalnya Emak. Mama mau bikin misa di gereja, trus makan-makan di Sayap Utara, prasmanan gitu. ketika matur sama Romo Wisnu, beliau nggak bilang boleh atau nggak boleh, cuma manthuk-manthuk seakan bilang, oh ya saya mengerti maksud Anda. tapi toh akhirnya jadi juga itu acara. thanks Romo :)

kalo rapat di Aula Pastoran, Romo Wisnu sering ngomong sama aku: "iki mesthi kerjaan'e cah enom ki. yo to? mana mungkin wong tuwo ngorek-orek mejo koyo ngene?! ra mungkin!" (ini pasti kerjaannya anak muda nih. ya kan? mana mungkin orang tua ngorek-orek meja kayak gini?! nggak mungkin!) *sambil nunjuk meja yang penuh coret-coretan* *aku cuma manggut-manggut sambil senyum-senyum dan mbatin: ampun Moooo*
meski ngomel gitu, tapi Romo Wisnu peduli dan baik banget. beliau beberapa kali ngasih jatah konsumsi buat rapat-rapat atau pertemuan, yang langsung diambil dari ruang makan atau kulkas Pastoran. bahkan aku masih inget, Rapat Natal 2010 kemaren, Romo Wisnu dua kali ngasih kue tart untuk dimakan bareng-bareng setelah rapat, yang pertama dalam rangka ulang tahunnya, yang kedua dalam rangka tahun baru. Romo Wisnu juga selalu menyempatkan diri menengok atau mengunjungi berbagai pertemuan atau rapat atau kegiatan yang diadakan berbagai komunitas, walau benar-benar cuma nengok sebentar. tapi itu jadi wujud nyata betapa beliau sebenarnya peduli dan ingin tahu perkembangan gerejanya secara langsung, nggak cuma denger laporan aja. beberapa yang aku inget banget, karena belum lama terjadi, Romo Wisnu selalu nengokin rapat EKM setiap Senin. Romo Wisnu juga pasti nengokin kalo Papita lagi pertemuan atau latian, salah satunya Romo Wisnu menyempatkan diri untuk dateng ke GKS saat Papita ada acara nonton bareng. waktu itu aku yang mengorganisir acaranya, karena aku punya rekomendasi film bagus. aku menikmati film itu, sampai nggak sadar ada Romo Wisnu dateng, berdiri di pojokan, ikut nonton. contoh lain ya ketika terakhir kali aku ketemu beliau, Jumat malam, ketika gladi bersih EKM Kentungan. malam itu, beliau baru saja pulang dari memimpin misa arwah di lingkungan, dan beliau masih menyempatkan diri menengok gladi bersih EKM. terima kasih, Romo :)

nggak cuma acara di sekitar Kotabaru saja yang beliau tiliki. ketika aku dan teman-teman mempersiapkan EKM Rayon Kota, Romo Wisnu selalu menyempatkan diri untuk mengikuti rapat yang memang berpindah dari satu paroki ke paroki lainnya setiap minggu. pernah suatu kali ketika rapat di Kidulloji, Romo Wisnu duduk di sampingku dan mengeluarkan hapenya yang fren, aku bilang: "wah, Romo hapenya baru ya, aku baru liat. wah ada gambar ceweknya lagi." beliau cuma senyum-senyum. Romo juga pernah bawa BB, trus tanya sama aku: "kamu bisa pake BB?" aku jawab: "bisa donk Romo.. wah BB baru yaaa? sini buat aku aja." dan lagi, beliau hanya senyum-senyum. aku juga sempet ketemu Romo Wisnu ketika beliau olahraga dengan bersepeda suatu pagi. aku sempat melihat Romo dengan Spin 125 birunya yang membuatnya tampak lucu. dan aku sempat menunggu di Pastoran, ketika akhirnya beliau pulang dengan mengendarai Skywave baru yang akhirnya menghantarkan beliau pulang ke Surga.

Romo Wisnu juga rajin menyapa umatnya di Facebook, entah komen status, nge-like, nge-poke, dan macem-macem. Romo Wisnu juga pernah telpon aku, ketika aku lagi di sekolah. siapa yang nggak kaget coba? ternyata aku diminta ke sekretariat.
entah kenapa, Romo Wisnu suka memanggil orang lain dengan nama yang ada di nama lengkapnya, tapi bukan nama yang biasa jadi nama panggilannya. contohnya, Nilam dipanggil Sulis, Mbak Lisa dipanggil Flaviana, dan aku dipanggil Stella. pernah suatu kali, ketika aku pulang sekolah dan jalan ke gereja, Romo ada di sekretariat lalu memanggilku untuk mampir. aku mampir, salam, cium tangan dan tanya kenapa aku dipanggil. Romo Wisnu cuma jawab: "nggak papa, emang kenapa sih mau buru-buru ke gereja? meh ketemu sopo hayo?"

setiap liat Romo Wisnu, aku pasti manggil: "Romoooo.." kadang beliau becanda dan menghindar kalo ketemu aku. beliau menyapaku dengan caranya yang khas, beliau memanggilku "Stella .." (senyum, salaman, aku cium tangan beliau, beliau mau ikut cium tanganku) "wah, senjata tajam iki" (lihat kuku panjangku)
sapaannya ini selalu bisa membuatku tertawa, atau minimal tersenyum, entah kayak gimana perasaanku sebelumnya. aku ingat ketika ulang tahunku, beliau datang ke sakristi dengan jubahnya, hendak memimpin misa sore, lalu melihatku dan langsung pasang senyum khas, tapi tampak lebih bahagia. Romo Wisnu menyalamiku, mengucapkan selamat ulang tahun, memelukku, mencium jidatku dan memberi berkat. terima kasih Romo Wisnu, itu menjadi hadiah sweet seventeen yang bener-bener sweet!
aku juga masih ingat betul, ketika Senin sore, 25 Oktober, aku ke gereja. beliau hendak memimpin misa lagi sore itu. aku datang dengan senyum lebar dan bilang, "Romo, terima kasih doanya ya, aku ketrima Psikologi Sanata Dharma" Romo Wisnu langsung senyum lebar dan seakan ikut merasakan kebahagiaanku. beliau bilang, "proficiat ya!"
Romo Wisnu ingin aku tetap menjadi Papita. hal itu jelas dimaksudkannya, meski diungkapkannya secara tersirat. beliau pernah bilang, "misdinarku di Katedral itu ada yang udah kuliah tapi tetep jadi misdinar loh." dan ketika aku tugas misa harian, tugas terakhirku dengan beliau, Romo Wisnu bilang, "wah sesuk Agustus ra gelem tugas misdinar meneh iki" (wah besok Agustus udah nggak mau tugas misdinar lagi nih), lalu aku bilang "ya nggak gitu Romoooo"
tenang Romo, sebisa mungkin aku nggak akan meninggalkan Papita kalau mereka masih membutuhkanku, selama aku bisa aku pasti akan bantu, nggak peduli apa kata orang :")

Romo Wisnu memang seneng nggodain orang-orang di sekitarnya. aku sering beliau godain dengan "Spoor (resto)", "Bener", "Karisma", "Papita", "Balsem", "Stece", dan lain-lain. pokoknya apapun bisa beliau jadiin bahan untuk nggodain. pernah suatu kali, Sabtu, 22 Januari 2011, aku sama Andre mau ke Sekaten. Romo Wisnu yang memang setiap selesai misa menyempatkan diri berdiri di depan Pasturan untuk menyapa umatnya, juga menyapaku. "Wah mau ke mana nih malem minggu?" godanya. salting, aku jawab "ke mana aja boleeehh" lalu ngakak, dan akhirnya kujawab serius "ke Sekaten, Romo. mau ikut po? yuk Mo" tapi beliau nggak mau ikut.

ah, masih buanyak buanget kenangan bersama Romo Wisnu, mungkin nggak semuanya bisa ditulis di sini :")
yang jelas, Romo Wisnu mengajariku buanyak hal, terutama tentang tata cara melayani di Panti Imam. Romo Wisnu juga mengajariku banyak hal tentang kehidupan.
terima kasih Romo atas segala pengalaman dan pelajaran hidup yang boleh aku kenal dan aku dapatkan dari Romo.
terima kasih untuk segala kepercayaan untuk kami, kaum muda. waktu itu Romo Wisnu pernah bertanya, "Masih layak nggak Natal 2012 dipercayakan pada Kaum Muda?" dan setelah weekend tanggal 29-30 Januari 2011 di Omah Jawi, yang ditengokin Romo Wisnu juga, kami, kaum muda sepakat menjawab: masih layak! maka Romo Wisnu, beristirahatlah dalam damai, karena kami, kaum muda, akan berusaha seoptimal mungkin untuk ikut berdinamika demi perkembangan Gereja Kotabaru, apalagi untuk Natal :)
Romo Wisnu, maaf karena banyak kesalahan yang aku buat. banyak banget kepercayaan Romo Wisnu yang aku sia-siain atau nggak bisa diwujudkan dengan baik. aku nyesel bangeeet Kalender 2011 nggak jadi tercetak. waktu itu Romo Wisnu bilang, "yaudah nggak apa-apa, ini tetep dilanjutin untuk Kalender 2012" tapi besok aku nggak bisa konsultasi sama Romo Wisnu soal kalender 2012, huaaa maaaaaaaaaaf :((

waktu gladi EKM Januari, aku bilang "Romo, aku pamit yaaa nggak ikut bantu persiapan Paskah, aku ujiannya pas Pekan Suci je" dan Romo Wisnu menjawab "selesainya Kamis kan? pas Paskahnya masih bisa bantu kan?"
iyaaaa Romo, aku akan membantu sekuat tenaga, segenap jiwa raga, semuanyaaaa akan aku kerahkan untuk membantu perkembangan Gereja Kotabaru, kalau aku bisa :)
Romo Wisnu, tenang-tenang lah di Sana, bahagia dan penuh damai di Sana, salam untuk Mas Krist, salam untuk Opa Tom, salam untuk Abel, salam untuk Romo Bowo, sahabatnya Romo Wisnu yang sekarang pasti lagi asyik di Surga sana :)
salam untuk semua :")
doakan kami, agar kami semua di sini bisa berjuang untuk mewujudkan keinginan dan harapan Romo :")


miss you Romo Wisnuuuuuuu :*
with BIG LOVE,

Stella :)

31 Desember 2010

sekilas tentang 2010 :)

hari ini hari terakhir di 2010 :D
beberapa hari terakhir twitter ramai dengan tweets ber-hashtag #2010memories dan #2011wish
aku juga nulis beberapa, tapi bukan itu yang akan aku copas di sini :)

well, baru aja aku baca-baca postingan blogku selama 2010. sebagian kejadian tertuang di sana, lebih banyak lagi kutulis di twitter, dan beberapa juga tersirat di facebook.

intinya, tahun 2010 ini adalah tahun yang benar-benar membuatku belajar untuk semakin dewasa. perputaran roda kehidupan di tahun ini seringkali cepat, sehingga proses pembelajaranku pun berjalan cepat dan banyak hal yang kupelajari.

tahun ini menjadi tahun di mana aku sempat mengikat diri, lalu jatuh terperosok dalam dan sangat jauh, sehingga aku sendiri merasa diri paling nista, paling berdosa, bahkan merasa begitu jauh dari Tuhan. namun dengan cinta-Nya yang luar biasa, Ia menarikku keluar dari keterperosokanku itu, dan dengan cepat membangkitkan aku lagi. Ia nggak ninggalin aku, bahkan berusaha selalu mendekatiku. aku berbuat suatu kesalahan yang menurutku begitu besar, hingga aku tak layak menghadap-Nya, tapi akhirnya aku sadar dan mohon ampun. Dia nggak cuma mengampuniku, bahkan memberikan hadiah yang begitu indah padaku.

tahun ini menjadi tahun di mana aku sempat begitu menutup diri dan bahkan membenci beberapa orang. aku menggembok pintu hatiku, dan mengabaikan mereka yang mengetuknya. tapi di tahun ini pula, aku berhasil membuka gembok itu, dan ternyata aku mendapatkan hadiah yang begitu indah :D

tahun ini menjadi tahun di mana aku harus belajar lebih banyak lagi mengenai tanggung jawab, terutama pada hal yang telah dilakukan atau ditulis atau diucapkan. dan juga soal menyelesaikan tanggung jawab yang dipercayakan padaku. banyak yang kelewat tahun ini :(

tahun ini menjadi tahun di mana Abel pulang ke Surga.. sedih, tapi bahagia juga karena Abel pasti udah jadi malaikat paling bahagia yang dengan hebohnya berhasil ngobrak-abrik Surga sana :))

tahun ini menjadi tahun perjumpaanku dengan begitu banyak pribadi baru yang sungguh membantu proses pembelajaranku tentang kehidupan : Omor, orang-orang Kolsani, Pingiters, Anak Pingit, Bhakti Luhur, Romo Kristi, temen-temen 12 IS 3, temen-temen Ken Arok, EKM Stece, EKM Kobar, anak-anak Papita baru, temen-temen Rebon, Tweeps, temen-temen Seminari Mertoyudan yang sekarang udah pada mentas, temen-temen Tablo, Romo Seno, Mudika Rayon Kota, temen-temen POTA, temen-temen XL dan semuanya saja lah :D *banyak ternyata*

tahun ini menjadi tahun pengenalan lebih dalam dan berdinamika dengan beberapa pribadi yang sebelumnya hanya tahu permukaannya saja : Andre, Ocha, Lisa, Keluarga Bawang xD *Dita - Dista*, Happy Family *Nana, Nina, Yessi*, temen-temen Balsem Gosok, temen-temen 12 IS 3, temen-temen Papita, temen-temen EKM Kobar, temen-temen Mudika Kotabaru, beberapa TheJesuits, EliAnna dan keluarga, Mbak Tha, Mas Don, Mbak La, Billy, anak dan guru #stece, dan masih buanyak lagi :)

terima kasih untuk semua pembelajaran yang boleh kualami tahun ini, Tuhan :)
dan terima kasih untuk Anda sekalian yang sudah membantu proses pembelajaran selama setahun ini, semoga kita bisa terus saling membantu di tahun-tahun mendatang :)

thanks 2010, atas semua tangis dan tawa, atas semua jatuh dan bangun, atas semua kegagalan dan keberhasilan :)
dan semoga di 2011, kita nggak terjatuh lagi di kesalahan yang samaaaa #MendadakKerispatih :))
yaa, moga kita bisa move on dari segala keburukan di 2010, dan bisa jadi jauuuuuuh lebih baik lagi di 2011 :)

Tuhan, tetap genggam tanganku yaa :)
dan untuk Akang, terima kasih udah jadi kado terindah di akhir tahun 2010 ini, janganlah berakhir, tetaplah seperti ini :)

selamat menyambut tahun yang baru dengan berbagai harapan baru!



penghujung tahun 2010,
Yogyakarta,
Stella Vania :)

23 November 2010

Ini-Si-A(k)tif

21 November 2010 lalu diselenggarakan EKM oleh Pavali (Paguyuban Alumni Van Lith). EKM itu sederhana, tapi menjadi sangat menarik karena Romo Nano 'menyelamatkan' EKM itu :D

Tapi pengalaman yang ingin aku bagikan di sini bukan pengalaman selama misanya, melainkan pengalaman setelah misa.

Setelah misa selesai, teman-teman Tim EKM dan sponsor biasanya akan membereskan kursi di sayap utara gereja. Tapi malam itu sedikit berbeda. Aku dan teman-teman Tim EKM berkumpul di sakristi belakang, bahkan setelah misa nggak ada satu pun yang beranjak untuk membereskan kursi. Lalu aku pun beranjak sendiri. On my way ke sayap utara, aku ketemu Bimo yang jalan ke arah sakristi, lalu kutanya mau ke mana. Bimo jawab dia mau cari temen buat beres-beres. Akhirnya aku bilang, “Wes garap dewe wae yo.” Akhirnya aku dan Bimo bersama beberapa teman dari Pavali membereskan kursi.

Letter L sayap utara sudah bersih dari kursi-kursi plastik. Lalu aku melihat ke sayap utara sebelah timur *nahloh pie jal kuwi :)) * dan aku melihat ada seorang yang membereskan kursi sendirian. Aku mendekatinya dan berniat membantunya. Awalnya kukira itu Bimo, tapi setelah kudekati ternyata bukan. Surprisingly, orang itu adalah seorang cowok yang pake krek, dan dia membereskan kursi di setapak sayap utara itu sendirian! Cowok itu semacam punya kelainan di kakinya, salah satu kakinya lebih pendek dari kaki lainnya, dan nggak napak ke tanah, jadi dia harus pakai bantuan krek. Walau begitu, dia menunjukkan kepeduliannya dengan membantu membereskan kursi. Dia bukan Pavali, dia bukan Tim EKM, tapi dia rela membantu membereskan kursi walau keadaannya seperti itu.

Melihat hal itu, ada sedikit pertanyaan di hatiku: ke mana orang-orang yang seharusnya bertanggung jawab? ke mana tanggung jawab, kepedulian dan inisiatif mereka? ke mana mereka yang pernah punya gawe dengan titel IniSiA(k)tif?

Orang ini, lelaki yang penuh kepedulian ini, bukan siapa-siapa, tapi dia punya inisiatif beneran untuk membantu, sedangkan Tim EKM dan Pavali yang punya gawe, nggak semuanya mau bantu.

Hmm, malu nggak tuh?

14 Mei 2010

super sweet seventeen :)

11 Mei 1993
seorang bayi perempuan lahir di Rumah Sakit Elisabeth, Semarang pada 21.30. bayi dengan bobot 2,35 kg ini diberi nama Stella Vania Puspitasari. karena bobot yang tak mencukupi, ia pun harus masuk inkubator, dan ironisnya, ia nggak bisa makan, dan harus makan lewat selang. akibatnya, ia ditinggal di rumah sakit selama 15 hari.


10 Mei 2010
aku mau nunggu sampai midnight ah, batinku. sebelum midnight, lampu kamar udah dimatiin sama papa, dikira udah tidur kali ya..
tapi aku menunggu sampai midnight. bukan, bukan untuk menunggu ucapan selamat atau apapun. aku cuma ingin berdoa, tepat saat tengah malam.
sebelum berdoa, ada sms dari Andre EKM. isinya singkat, dan membuatku nyengir : Makan2!!! *ngrampok kok tengah malem -____-*

11 Mei 2010
setelah kubalas, aku berdoa dan .. menangis :")
lalu tak lama setelah aku selesai berdoa, Andre telepon. first person yang ngucapin tuh ! :D
setelah itu sms bertubi-tubi berdatangan, dari Ocha dan Kak Karin. setelah kubalas, aku tidur dengan senyum di bibirku, hari baru mulai, tapi kebahagiaan sudah memenuhi relung hatiku *lebay* :)
ketika aku bangun jam 5 kurang, langsung deh buka twitter dan Ocha, lagi-lagi jadi orang pertama yang ngucapin di twitter, disusul Kak Iting, Kak Sita dan Kak Karin :)
berbagai rasa memenuhi hatiku. senang itu pasti, tapi juga takut dikerjain :P
tapi semua harus dihadapi kan ? :)

setelah berterimakasih atas ucapan di twitter dan juga beberapa sms, aku pun bergegas mandi seperti biasa. tapi begitu aku keluar dari kamar, ada kursi dan sebuah kotak serta secarik kertas ucapan happy bday. kaget, penasaran, segera kubuka kotak itu. dan tanpa nama pengirim. ah, makin penasaran ! kubuka CD yang ada di kotak itu, dan tetap saja tak ada nama pengirimnya. ketika kutanya mama, ternyata itu kado dari kakak :)

pas mandi, aku sempet mikir 'jangan-jangan abis aku mandi ni ada yang ngasih surprise.. tapi siapaa juga pagi-pagi gini, ga mungkin!'
dan selesai mandi, aku kembali ke kamar, tapi cukup heran juga, kok kamarnya ketutup, dan lampunya mati.. padahal seingetku aku nggak pernah nutup pintu dan matiin lampu. aku mikir, jangan-jangan bener ada orang lagi tapi
siapa.. dan ketika aku membuka pintu, anak-anak Papita : Anna, Eli, Galuh, Febri, Valent dan Qnta udah ada di kamar dengan kue dan lilin dan menyanyikan lagu Happy Birthday. satu kata : KAGET ! buanget ! mana aku cuma kembenan handuk, untung cewek semua, dan untuk nggak diphoto :D
mereka bawa kue bikinan Anna. enak deh ! makasih yaaa :*
sampai di sekolah, udah agak deg-degan nih, bakal dikerjain nggak ya.. sebelum bel masuk bunyi, Kenjen ngucapin selamat, dan teriak ke kelas kalo aku ultah. makin deg-degan deh saya, peluang dikerjain makin besar ! tapi ternyata enggak :D
Pak Pras, yang kukira bakal ngerjain, malah berakting dan yang 'dikerjain' sekelas.. maap yaa :D

pokoknya sampai pulang sekolah, saya bebas dikerjain. cuma pas mau pulang ditahan sama Pak Teguh dan Pak Lis, hampir diseret, disuruh traktir ke McD.. wess jaann..
sampai di rumah, masuk kamar, eh kok ada kue, ada lilin, ada korek, dan pigura besar serta sebuah pesan : Van, ini lilinnya, ini koreknya, dinyalain dan ditiup sendiri ya.. :)
ngakak aku baca pesan dari Mbak Tha, Mas Don, Mbak La dan Mas Ong itu :D
setelah itu, aku membuka fesbuk dan twitter, membalas semua ucapan selamat dan doa dengan ucapan terimakasih, senyum dan berkat :)
sorenya, aku ikut misa.
tahun kesekianku beraksi di panti imam saat ultah :)
tapi sebelum misa, aku diberi hadiah oleh Romo Wisnu : pelukan, kecupan di jidat dan tentu saja berkat :)

itulah cerita seputar ultahku :)
kata orang umur 17 itu spesial. tapi bagiku, setiap hari spesial, karena aku selalu punya orang-orang yang luar biasa seperti kalian semua :)
thanks for everyone, thanks for everything, i do love you all :*
dan, rupanya kejutan itu tak berhenti di sini :)


nb : tunggu edisi revisi, akan ada tambahan photo dan info lain :)

dan ada kado tambahan nih dari Stefi, sahabatku, thanks yaaa :*