*bebersih debu yang menebal, sarang laba-laba di mana-mana dan berbagai kotoran*
blog ini sudah lama tidak berpenghuni rupanya. maafkan aku yang pemalas ini ya gaes *geer amat, berasa ada yang baca, padahal ya enggak* 😅
huaaahhhh… aku mengawali postingan ini dengan menghela napas panjang dan siap sambat hehehe
enam bulan terakhir, tepatnya sejak Agustus 2018, aku mulai menjalani babak baru dalam kehidupan perkuliahan, yaitu memasuki kerja praktik, lalu pada bulan Oktober 2018 aku juga mulai memasuki kehidupan yang lain, yakni tesis.
aku merasa enam bulan terakhir, hidupku bergerak sangat cepat. aku kerja praktik di sebuah rumah sakit di Cimahi, yang sejak beberapa tahun terakhir dikenal punya banyak klien anak di poli psikologinya. bahkan, kakak angkatan di atasku persis yang kerja praktik di RS itu per orang dapat 20an kasus. dengar fakta itu aja aku udah mlongo. asemik, bisa enggak ya? bisa-bisa aku modyaaarrr~
di bulan Agustus 2018 itu aku dan empat teman yang lain yang sama-sama kerja praktik di RS itu masuk seminggu atau dua minggu lebih dulu dari jadwal sebenarnya untuk orientasi. di situ, aku semakin lihat ke-hectic-an kakak-kakak yang riweuh menangani klien, mengerjakan laporan, diskusi, bimbingan, dll. uwooo, makin keder…
setelah menjalani sendiri, ya emang enggak gampang sih… berasa kejar-kejaran, tapi pakai sepatu yang kegedean, jadi kadang sepatunya suka lepas atau akunya suka jatuh. terengah-engah pula.
semakin bertambah jumlah kasus yang ditangani, semakin aku merasa aku banyak enggak taunya dan masih harus terus menerus belajar karena merasa masih bodoh mulu. waktu aku nulis blog ini, paginya aku abis seminar kasus kecil 2, dan itu adalah kasus ke sepuluh. dipikir-pikir gelo juga ya 6 bulan 10 kasus, harusnya udah kelar nih kerja praktiknya… #eh #masihbodohkokmintaudahan #selfjitak
nah, di seminar kasus kecil 2 tadi pun aku merasa masih banyaaakkk kurangnya dan masih banyak yang harus kuperbaiki. separuh jalan menuju akhir masa kerja praktik, mudah-mudahan aku bisa membuka diri, pikiran, dan hati untuk lebih mau banyak belajar dari literatur atau diskusi ya...
kepadatan jadwal dan tantangan selama 6 bulan terakhir ternyata membawa dampak fisik ke aku, 3 kali aku kena refluks asam lambung. padahal sebelumnya sama sekali aku enggak pernah ngalamin maag. entah karena efek pola makan yang ngawur, stress, atau keduanya, penyakit itu muncul deh...
di tengah segala kerumitan hidup ke-mapro-an, banyak banget hal yang aku syukuri. teman-teman yang sangat membantu, terbuka dan penuh ide kreatip, pembimbing yang sangat detail dan sangat membimbing, dan juga aktivitas lain yang jadi tempat 'katarsis' yaitu SPINMOTION Bandung dan SEKODI. dua komunitas yang kusebut nanti kapan-kapan aku cerita deh ya, butuh postingan sendiri soalnya, panjaaang ceritanya hahaha 😁
yaaaahhh, segini dulu deh curhat enggak pentingnya. ini juga sebenernya ditulis di tengah pengerjaan laporan yang daritadi enggak nambah-nambah, hadeeehhh #sambatmeneh
doakan aku kuat menghadapi enam bulan selanjutnya di masa kerja praktik dan enam bulan selanjutnya untuk menyelesaikan ke-mapro-an ini, ya! hehe...
God bless you, stay sane, and don't forget to #2019LoveYourself!
Bandung, 22 Februari 2019
23.45 WIB
vania (bukan dokter)
ps: semoga sambatan ini enggak bikin temen-temen yang mau ambil mapro jadi keder ya haha
Hari ini tepat sebulan saya meninggalkan Jogja. Kalau ditanya
apakah saya kangen Jogja atau engga, saya akan jawab saya kuangeeeeennnn buangeeetttt. Setiap
saat! Manifestasi rasa kangen saya sama Jogja itu suka random banget. Tiba-tiba
saya inget jalan di sekitar Kalasan. Besoknya, mendadak saya kebayang-bayang
jalanan di sekitar taman parkir Ngabean. Pokoknya ajaib gitu deh, random. Trus munculnya
suka mendadak pula, pop up gitu. Tiba-tiba di tengah bimbingan saya bisa aja
gitu keinget jalan di deket rumah saya.
Minggu lalu, sebelum saya dolan ke Jakarta, saya dihubungi
pihak Fakultas Psikologi Unpad, katanya saya diminta ikut terlibat dalam acara
Dies Natalis Unpad sebagai perwakilan dari Jogja. Permintaan ini sempet bikin
saya kepikiran dan galau, karena mereka rikues saya suruh pakai baju adat dan
menyiapkan sendiri baju adatnya. Dueeenggg! Saya langsung kontak mama dan minta
tolong kirim baju dari Jogja. Tapi persoalan tidak berhenti di situ, saya juga
mikir soal dandan. Duh, ribet amat yak, pikir saya. Ketika ketemu sama
panitianya, saya jadi agak tenang karena beliau bilang bisa didandani, tapi
kumpulnya pagi pagi sekali.
Tadi pagi, saya sudah harus sampai kampus jam 05.30. Ketika
saya keluar dari kos, langit masih gelap dan masih ada bulan coba lah. Sampai di
kampus, ternyata sudah ada beberapa ibu yang dirias, dan ternyata ada yang
pura-pura jadi manten, jadinya dirias paes ageng. Unyu sekaliii… terus ternyata
ada yang jadi cucuk lampah, terus ada beberapa orang yang pakai beskap dan
lurik. Kemudian saya merasa berada di Jatinangor rasa Jogja. Rasa Jogja itu
bertambah ketika jalan pawai, rombongan kami diiringi dengan lagu Kebo Giro,
yang biasanya memang dipakai sebagai lagu pengiring manten berjalan ke
pelaminan.
Ternyata, pawainya cukup meriah. Saya baru tau juga kalau
pawai itu adalah bagian dari pembukaan OOTRAD atau olimpiade olahraga
tradisional yang merupakan rangkaian acara dies natalis Unpad ke 60. Tiap fakultas
seakan-akan menjadi kontingen dari provinsi tertentu, lalu diminta menampilkan
diri sesuai dengan provinsinya. Contohnya tadi ada yang ceritanya mewakili DKI
Jakarta, terus bawa ondel-ondel. Trus ada yang ceritanya mewakili Jawa Timur,
mereka pada pakai baju ala Madura, dan bawa Reog Ponorogo. Seru deh!
Saya seneng banget bisa menikmati penampilan yang
keren-keren. Tapi saya lebih seneng karena bisa lebih kenal sama beberapa
karyawan yang seru nan kocak. Sebenarnya tadi yang dari rombongan kami, yang
asli Jogja cuma dua orang, saya dan Mbak Anggita, mahasiswi S3 Psikologi yang
asli mBantul (kudu pakai ‘m’ ya :p) Mbak Anggita ini, walau dosen di sebuah
universitas di Jakarta, tapi seru bangettt. Beliau ngajakin saya foto-foto sama
‘para pengantin’ dari berbagai ‘provinsi’. Jadi tadi pagi kami berasa kondangan
tingkat nasional :D
Meski kegiatan tadi tidak menghilangkan kebaperan saya akan
Jogja yang sungguh berhati nyaman, tapi saya senang sekali dilibatkan dalam
kegiatan itu, kenal orang-orang baru, dan merasa semakin punya teman. Semoga pengalaman
ini bisa membuat saya semakin merasakan “Jatinangor rasa Jogja”, merasakan
nyamannya (hidup di) Jatinangor, meski tetap tidak ada yang bisa mengalahkan
nyamannya Yogyakarta yang memang berhati nyaman.
dua minggu. saya bingung mau menaruh kata "sudah" atau "baru" di depan frasa itu. kalau "sudah dua minggu" artinya rasanya sudah lama saya ada di sini, menjalani tiga peran baru sebagai anak rantau, anak kos dan mahasiswa baru. padahal ini baru awal perjalanan panjang saya yang (harapannya) akan berlangsung lima semester. tapi kalau "baru dua minggu", rasanya juga sudah cukup banyak hal yang saya alami dan saya rasakan selama dua minggu di sini.
sistem perkuliahan di sini adalah sistem blok, kayak anak kedokteran gitu. jadi dalam rentang waktu tertentu, yang dibahas hanya satu bab (atau satu materi) lalu diakhiri dengan ujian, setelah ujian ganti materi lain. contohnya, minggu ini saya belajar tentang observasi dan interview individual. hari Senin dan Rabu ada kuliah, Kamis praktikum dan harus bikin laporan yang dikumpul hari itu juga, Jumat ujian. lalu besok Senin ganti materi lain. begitulah, dalam satu blok harus terkumpul nilai tugas, nilai UTS dan nilai UAS. kebayang lah ya betapa intensnya... bahkan dari draft jadwal yang sudah dishare, ada materi yang cuma dikasih satu hari, besoknya ujian. I can't even imagine bakal jadi kek apa nanti prosesnya. tapi ya sudahlah, namanya juga sudah dipilih, kudu dijalani, dinikmati, dimaknai dan disyukuri. :)
anyway, dua minggu di sini membuat saya menyadari bahwa ternyata rasa rindu itu random dan irasional. bisa-bisanya di tengah-tengah kuliah tiba-tiba saya ingat Soto Kadipiro, kangen rumah, kangen mama, pengen ke Kotabaru dan berbagai kerandoman lainnya. bahkan saya bisa tiba-tiba ingat beberapa sudut Jogja yang sebelumnya jarang saya datangi ketika saya di Jogja. dan bayangan serta perasaan itu munculnya kadang di waktu yang nggak umum, misalnya di tengah-tengah pengerjaan tugas atau ketika bangun tidur. yah, namanya juga perasaan ya. kalau kata Choice Theory (yang baru saja saya tau tadi pagi), perasaan mah nggak bisa kita kontrol secara langsung, beda sama pikiran dan perilaku. #NyebutTeoriBiarKeliatanMahasiswa :p
kerinduan saya sama Jogja beberapa kali juga "dicolek" gitu sama semesta. misalnya beberapa hari lalu teman saya tiba-tiba bertanya tentang bahasa Jawa. lalu beberapa hari berikutnya, teman saya yang lain bertanya perbandingan antara Jogja dan Bandung. yang paling lucu adalah ketika dosen minggu ini memberi pengumuman bahwa ujian akan berupa analisis film, dan film yang akan dipakai adalah AADC 2, spontan saya langsung mikir, "Wah, baper Jogja nihhh..." tapi untungnya, karena nonton film fokus buat analisis, jadi kebaperan akan Jogja bisa (sedikit) teratasi :))
akhirnya saya memutuskan bahwa ini "baru dua minggu", karena masih panjang perjalanan yang harus saya tempuh. dua minggu itu, bagi saya, tidak lagi dalam masa denial, tapi lebih bargaining. beberapa kali saya sudah punya keinginan untuk pulang (ke Jogja), tapi lalu saya dihadapkan pada kenyataan jadwal yang intens dan ingat kembali tujuan saya ke sini apa. kadang saya masih mencoba melakukan penawaran (dalam hati, entah dengan siapa), kapan ya kira-kira bisa balik, akhir tahun mungkin natalan di Jogja nggak ya, wah tapi Desember mah masih lama ya, dan sebagainya. well, saya kadang iri juga sama teman-teman yang sama-sama ngekos tapi rumahnya di Bandung atau Jakarta, jadi dia bisa balik atau keluarganya bisa ke sini hehehe. but everyone has their own part and everything has it's own time, right? so, this is my kind of battle right now, but I really thankful because I have this opportunity. semoga saja saya bisa cepat menyesuaikan diri dengan tiga status baru saya sebagai anak rantau, anak kos dan mahasiswa baru (S2 pula!), dan hasilnya pun sepadan dengan perjuangan saya.
harapan yang sama juga saya bisikkan ke Dia untukmu, ya! good luck with your own battle! <3
Sabtu, 26 Agustus 2017
dari gadis yang bersyukur akan adanya anugerah bernama akhir pekan,
August is all about starting new journey, and it means new
status, new places, new experiences, new friends, everything!
Flashback sedikit, bulan Agustus 2014, saya mulai perjalanan
SLP, semacam KKN, di Cagayan de Oro, Philippines. Kurang lebih sebulan jauh
dari rumah, serumah dengan orang-orang dari Filipina, Jepang dan Korea sambil
berbahasa Inggris setiap hari merupakan pengalaman yang luar biasa bagi saya.
Banyak “first thing” yang saya alami selama saya SLP, dan somehow, SLP change
my life.
Agustus 2015. Saya memutuskan untuk mengakhiri relasi dengan
seorang laki-laki yang saya patahkan hatinya. Yes, I made that choice and I
think I never regret it. Well, saya sadar bahwa mencintainya bukanlah suatu
kesalahan, begitu juga dengan berhenti mencintainya.
Agustus 2016. Saya kembali terlibat dalam SLP, tapi kali ini
ikut membantu sebagai panitia, karena SLP diadakan oleh Universitas Sanata
Dharma di Jogja. Lagi-lagi saya berkenalan dengan rekan-rekan dari Filipina,
Jepang dan Korea. Saya juga mulai terlibat mendampingi retret. Retret pertama
yang saya damping adalah retretnya Stero, terima kasih Romo Adri sudah ngajakin
saya! :D
Agustus 2017. Here I am now, living a “brand new” life. Jatinangor.
Tidak pernah terlintas dalam benak saya untuk datang, apalagi tinggal di kota
ini. Namun karena kota ini, sekarang saya resmi menyandang tiga status baru
sekaligus: anak rantau, anak kost dan mahasiswa baru. Dulu di rumah sih anak
kost juga statusnya, tapi kan di rumah, ini mah sekarang jauh hehehe
Belum genap seminggu saya di sini, maka masih benar-benar
baru. Bagaimana rasanya? Mmm, campur aduk, sih. Yang pasti, perasaan cemas,
gelisah dan takut adalah perasaan-perasaan yang paling mendominasi saat ini. Menurut
saya ini cukup wajar karena ini pertama kalinya saya benar-benar merantau,
meski sudah sempat sebulan numpang hidup di negara orang saat SLP, tapi saat
itu saya masih punya empat teman dan satu dosen yang sama-sama dari Sadhar (hey
guys!) But now I feel like I am alone. Sebenarnya kalau soal sendiri, saya
sudah cukup terbiasa, karena di rumah pun sering sendiri. Tapi masalahnya, di
sini saya sama sekali buta arah, ada perbedaan budaya, dan masih ngeblank soal
perkuliahan di Unpad, kampus saya sekarang. There are so many things to worry
about.
Meski begitu, ada banyak sekali hal yang saya syukuri dan cukup
meredakan kecemasan saya. Mulai dari (kamar) kost yang nyaman, teman satu kost
yang ternyata juga teman sekelas, keluarga penjaga kost yang sangat helpful dan
juga teman-teman sekelas yang menyenangkan. Despite of all insecurities and
anxieties, I am grateful to have this opportunity. Akhirnya saya keluar dari
rumah, keluar dari Jogja, keluar dari Kotabaru, keluar dari zona super nyaman. Ya
memang nggak nyaman, tapi yang nggak nyaman itu yang seringkali mengembangkan, ya
kan ;)
So, please kindly pray for me and this journey, guys! Hopefully
I can learn and develop, not only as a student, but as a human as well.
begitulah, sudah hampir setahun (anjir banget dah) saya resmi jadi pengangguran. ketika selesai yudisium bulan Juni 2016, saya mikir saya pengen bebas dulu, minimal sampai wisuda, setelah itu baru dipikir lah mau apa. saya pengen nyoba macem-macem hal sebelum mengikat diri lagi, entah dengan pekerjaan, sekolah, atau hati yang baru #EH :p
entah bagaimana ceritanya, kok ya ndilalah saya dihampiri beberapa kesempatan untuk mencoba dan belajar banyak hal, mulai dari menyiapkan dan memberi training sederhana (sama temen sendiri, Saint Peter!), menemani retret anak-anak SMA dan rekoleksi anak-anak SMP, membawa Aping & Anit ke FKY, memberi konseling dan wawancara, jadi asisten praktikum lagi, promosi EKM, menyelenggarakan retret, memberi dan memeriksa psikotes, nyobain jadi HRD, jaga stand jobfair, menulis untuk majalah, bicara di depan 300 anak SMP, macem-macem banget deh pengalamannya selama hampir setahun ini, meski tidak punya pekerjaan dan pemasukan tetap, tapi ternyata "pemasukan" yang saya dapatkan jauhhh lebih berharga dari yang bisa saya bayangkan.
dalam rentang waktu hampir satu tahun ini, saya seringkali merasa bingung, tidak tahu mau ke mana. ada satu waktu di mana saya benar-benar menyiapkan diri untuk bekerja, mulai dari bikin akun di situs pencari kerja online, membuat dan memperbarui CV, melamar ke beberapa perusahaan, harap harap cemas kalau ada notifikasi akun dilihat oleh perusahaan itu atau ada lowongan yang sesuai minat, mencoba beberapa fitur di LinkedIn, sampai membuat akun di website salah satu perusahaan terkemuka untuk melamar pekerjaan. saya bahkan sudah pernah mengatur waktu kalau-kalau saya harus ke Jakarta untuk menanggapi panggilan kerja. tapi seiring berjalannya waktu, dan tidak ada panggilan kerja yang saya terima, semangat untuk mengejar pekerjaan pun meluntur, lalu saya kembali menjadi vania yang biasanya: sibuk membantu teman, berdiskusi mengenai skripsi, membaca beberapa buku, dan doing nothing (ra produktip tenan kowe van -_-)
ketika beberapa waktu lalu berkumpul bersama teman-teman Joyful Gathering untuk "update status", saya pun berefleksi bahwa setidaknya selama lebih dari setengah tahun ini, banyak sekali peluang yang dipercayakan pada saya, dan saya belajar buanyak hal dari peluang-peluang itu. saya belajar jadi HRD, yang somehow out of my mind, saya nggak pernah bayangin saya jadi HRD, eh ngicipin juga. saya nggak pernah bayangin saya bisa ngomong di depan 300 anak SMP, meski agak kesulitan mengendalikan situasi, tapi toh akhirnya bisa juga, maklum saya cuma jadi pemancing aja, pembicara utamanya orang lain hahaha :p
dannn akhir-akhir ini saya mendapat kepercayaan yang luaaarrr biasaaa... jadi begini ceritanya, skripsi saya kan tentang anak dari keluarga single mother. ketika saya membuat skripsi, saya mencari apapun yang mengarah ke topik itu, lalu saya menemukan sebuah komunitas single parent, namanya SPINmotion: single parent Indonesia in motion. ternyata, saat saya bergabung, komunitas itu belum lama dibentuk. saya pun masuk ke dalam grup WA komunitas ini dan makin lama, perkembangan komunitas ini semakin luar biasa. akhirnya mulai dibentuk grup-grup kecil berdasarkan topik bahasan, di antaranya ada grup hukum, grup bisnis, grup kesehatan dan psikologi. oleh founder SPINmotion, saya dipercaya untuk mengurus grup kesehatan dan psikologi, bersama dua orang dokter yang ternyata juga single mother. hari Jumat, 3 Maret 2017 lalu, SPINmotion cabang Yogyakarta pun resmi menjadi sebuah yayasan. lalu lagi-lagi, founderSPINmotion menghubungi saya dan bilang, "Nanti bersama dua dokter yang lain, jadi staf ahli yayasan ya." saya langsung kaget dan berkata dalam hati: GUSTI ALLAH! AING MAH NAON ATUUUHHHH... cuma remahan rempeyek gosong :O :O :O
sumpah, saya merasa tidak seahli itu untuk diberi label 'staf ahli'. saya pun bertanya kenapa beliau bisa sepercaya itu pada saya, yang bahkan belum pernah ketemu sama sekali. lalu beliau menjawab, "Saya kan menebar jejaring informan, pengalamanmu sudah mumpuni untuk jadi staf ahli psikologi para janda dan duda."
DUUEEENNNGGG!!! saya langsung merasa saya haruuusss belajar belajar belajar dan belajar terus mbuh piye cara'ne!
ternyata, dipercaya itu (bisa jadi) motivasi yang warbiyasak! :D
sudah lama sekali sebenarnya saya pengen nulis ini, syukurlah akhirnya sekarang kesampaian.
2016 sudah hampir selesai. salah satu target besar saya di 2016 sudah tercapai: #2016SPsi. tapi saya sungguh sadar perjuangan menuju #2016SPsi ini akan makin susaaahhh kalau nggak ada orang-orang hebat yang menjadi teman seperjalanan saya. untungnya, Pak Prof, dosen pembimbing saya nggak keberatan saya nulis kata pengantar sebanyak lima halaman HAHAHA :))
meski gitu, rasanya nggak afdol kalau belum nulis ucapan terima kasih itu di sini.
Sepuluh semester dan khususnya empat belas bulan pengerjaan skripsi ini menjadi sebuah perjalanan yang luar biasa. Sebuah perjalanan yang menantang. Sebuah perjalanan yang tidak hanya demi mendapatkan gelar dan sehelai ijazah, tapi sebuah perjalanan yang mengembangkan saya sebagai seorang pribadi. Sebuah perjalanan yang tidak saya lalui sendiri, tetapi bersama begitu banyak orang hebat. Dengan setulus hati, saya ingin berterimakasih pada teman-teman seperjalanan saya.
1. Tuhan yang Tiga-Tapi-Satu, Ayah di atas segala ayah, yang Maha Baik, Maha Keren, Maha Gaul, Maha Romantis, Maha Humoris, Maha Tidak Terduga, Maha Segalanya! Terima kasih sudah mengizinkan saya menjalani kisah luar biasa ini. Terima kasih juga pada Bunda Maria untuk teladan “fiat mihi voluntas tua”.
2. Bapak Prof. Dr. A. Supratiknya selaku dosen pembimbing akademik sekaligus dosen pembimbing skripsi yang dengan sabar mendampingi saya selama perkuliahan dan penulisan skripsi ini. Terima kasih sudah mengingatkan bahwa proses menulis skripsi juga merupakan hal yang bermakna bagi pengembangan diri.
3. Mama Maria Magdalena Hidayati, Papa Agustinus Gatot Moertidjono, Kakak Octavianus Indra Saputra dan seluruh keluarga yang selalu menyertai dan mendukung saya. Terima kasih karena kalian selalu bisa menjadi tempat untuk saya pulang.
4. Bapak Dr. T. Priyo Widiyanto, M.Si. selaku Dekan Fakultas Psikologi Universitas Sanata Dharma, dan segenap jajaran Dekanat.
5. Ibu Dr. Tjipto Susana, M.Si. dan Bapak C. Siswa Widyatmoko, M.Psi. selaku dosen penguji. Terima kasih atas diskusi dan masukan yang diberikan untuk membuat skripsi ini menjadi lebih baik.
6. Para dosen Fakultas Psikologi Universitas Sanata Dharma yang tidak hanya memberi ilmu pada saya, tapi juga pelajaran hidup.
7. Mas Muji, untuk semua bantuan dan dukungannya, baik selama kuliah maupun selama skripsi ini. Terima kasih banyak. Pengambilan data skripsi ini nggak bakal lancar tanpa bantuan Mas Muji, glory! Terima kasih juga untuk Bu Nanik, Mas Gandung dan Pak Gie, serta Mas Doni, untuk segala bantuan, dukungan, senyum dan semangatnya.
8. Kepada teman-teman, ibu/bapak/suster/frater guru dan karyawan yang saya temui di TK, SD, SMP dan SMA. Terima kasih sudah menambah pengetahuan saya tentang hidup.
9. Para partisipan dan ibu. Terima kasih sudah bersedia berbagi kisah hidup, perasaan, dan pikiran. Semoga penelitian ini sungguh memberi manfaat bagi Anda sekalian.
10. Keluarga besar SD Pangudi Luhur Yogyakarta, terutama Bruder Teguh, FIC selaku kepala sekolah yang telah mengizinkan penelitian ini berlangsung, serta Bu Ida yang membantu menghubungkan saya dengan para partisipan.
11. Tante Lucia Erikawati, yang banyak membantu peneliti, dari mulai menghubungkan ke pihak sekolah, berbagi kisah hidup, semangat dan tawa. Juga untuk Tante Damian Alma yang selalu memberi semangat. Terima kasih banyak.
12. Teman-teman “masih remaja”: Acil, Ria dan Retha. Terima kasih buat kebersamaan selama kuliah dan khususnya bantuan selama pengambilan data. Aku mah apa tanpa kalian :D
14. Sahabat terbaik, Stefi. Terima kasih sudah menjadi teman berbagi cerita dan pelukan hangat. Juga untuk sahabat dan teman sharing saya yang lain: Dita dan Dista, Ocha dan Lisa, Bertha, Mbak Anne, Mas Adit “Mbek”, Mas Gigih, Papa PJ, Koh Yan, Mas Eko “Mprit”, Om Beni, Kak Mahatma. Terimakasih untuk segala ketulusan dan kesediaan berbagi kisah hidup.
15. Genk Kepo: Romo Sani, Eli, Febri yang selalu “care pol”. Juga seluruh pendamping, pengurus, anggota dan orangtua Papita yang telah mendukung dan belajar bersama saya. Terima kasih sudah menjadi keluarga kedua selama kurang lebih 14 tahun ini. Ad Maiora Natus Sum!
16. Seluruh Jesuits yang saya kenal, terutama di seputar Kotabaru, Kolsani, Paingan dan Mrican. Terima kasih untuk setiap pertanyaan, “Sudah sampai mana?” dan “Kapan selesai?”, untuk setiap komentar, “Wah, menarik nih!”, juga untuk segala obrolan, traktiran dan gojeg-an. Special thanks to Romo Krispurwana “Mokis”, “bapak” saya. Untuk “Omor” Bambang Sipayung, partner diskusi yang asyik, hingga muncul ide untuk topik skripsi ini. Untuk Romo Kokok, tutor dan teman diskusi soal symbolic father. Untuk Frater “Paman” Thomas, Romo “Kokoh” Buddy Haryadi, Romo Surjo, Romo Heri, Romo “Masbro” Tomi, Romo “galak” Adri, dan Frater “Broer” Angga untuk dukungan pemikiran, pengalaman dan semangat untuk penelitian ini.
17. Semua teman-teman di Gereja St. Antonius Kotabaru, terutama teman-teman Tim EKM Kotabaru yang memberi begitu banyak kesempatan untuk belajar dan mengembangkan diri. Ad Maiorem Dei Gloriam!
18. Para warga dampingan, anak-anak dan volunter Perkampungan Sosial Pingit. Terima kasih untuk semangat berjuang bersama melayani dan semua pelajaran hidup yang boleh dibagikan.
19. Para rekan di Campus Ministry Universitas Sanata Dharma. Terima kasih sudah mengajak saya belajar sesuatu yang belum pernah saya coba, yang sangat berguna bagi skripsi ini.
20. Participants of Service Learning Program batch 7: Adhi, Bagas, Enno, Indri, Ayang, Aaya, Linlin, Natsuki, Morgan, Shaira, Darlene, Nadya, Anselmo, Joey, Kuya Barry, Francis, John Chin, Mayuko, Seia, Hoto, Emi, Ron. For my foster family (Siarot family), and the staffs from Xavier University – Ateneo de Cagayan. And for Glaiza. Thank you so much for the experiences and friendship! Also for Ms Tata, Pak Chosa, Miss Sisca, Mas Anton, Kak Risca, Mas Risang, Kak Kukun, SLP batch 6, GLP batch 7, SLP batch 8. Thank you for your helps, laughs, love and life-lessons.
21. Teman-teman BEMF Psikologi 2013/2014 yang sampai sekarang masih sering ribut di grup, kadang kalian jadi hiburan tersendiri haha long live my family!
22. Seluruh teman-teman Psikologi angkatan 2011, terima kasih untuk segala dinamika selama sepuluh semester ini. Juga untuk kakak-kakak dan adik-adik angkatan. Let’s find our way in Psychology! See you on top!
23. Pak Nug, yang selalu setia mengantar saya ke mana pun dan kapan pun sejak saya TK. Juga untuk semua mbak-mbak asisten rumah tangga yang mengasuh dan membantu mencukupi kebutuhan saya. Terimakasih sudah momong saya.
24. Kepada para keluarga yang mengizinkan saya belajar banyak hal tentang keluarga.
25. Google, Facebook, Twitter, Path, YouTube, radio, TV, koran, dll yang dengan cara mereka sendiri berkontribusi dalam skripsi ini, secara langsung maupun tidak.
26. Terima kasih setulusnya kepada Mateus Lesnanto, rekan bertukar pendapat, penyemangat, pengingat dan sahabat. Good luck for your next journey!
27. Terima kasih untuk Anda! Silakan tulis nama Anda di sini ………………………
Terima kasih sudah mewarnai hidup saya! :)
terima kasih juga untuk semua cinta yang ditunjukkan lewat dukungan, kehadiran dan pemberian ketika saya pendadaran. kebetulan saya diberi kesempatan untuk "pendadaran dua kali" :))
pemanis di hari Kamis :p
kado pendadaran sesungguhnya di hari Senin, nuwun! :)
bukan penonton bayaran :p
Pak Prof yang sebelum foto ini sempat tanya, "Lho, pacarmu mana, Vania?"
nggak punya Paakkk! :))
ketika saya wisuda pun beberapa teman seperjalanan saya lagi-lagi ikut heboh dengan memberikan pelukan, berbagi keceriaan dan memberi beberapa kenang-kenangan. terima kasih!
kembang beneran, kembang api, coklat, pop up, boneka <3
sebagian anggota Tengger Psikologi A di malam pelepasan :)
keluarga Bener :D
volunter Perkampungan Sosial Pingit :D
"masih" remaja: Retha, Ria, Acil :)
Tephie :)
dari Om Lemmu, omnya @apinganit :)
dan ini, kenang-kenangan paling fenomenal dan tidak terduga :))
dosen pembimbing saya, Prof. Dr. A. Supratiknya mempersembahkan sebuah lagu berjudul "All I Ask of You", bersama Gaby dan SS. terima kasih, Pak! luar biasa sekali, sampai terharu saya :")
beberapa waktu setelah saya menyelesaikan skripsi saya, salah satu musisi favorit saya, Tulus, meluncurkan album barunya yang berjudul Monokrom. ketika mendengar lagu dengan judul yang sama, saya langsung terharu karena teringat warna-warna yang ditorehkan teman-teman seperjalanan saya. mungkin itu ya sebabnya kenapa kalau pendadaran pakainya baju putih-hitam. supaya ingat pribadi-pribadi lain yang memberi warna pada hidup kita :)) #meksobanget
beberapa waktu setelah saya wisuda pun Tulus meluncurkan official music video dari lagu Monokrom, mungkin ini cara semesta untuk mengingatkan saya melaksanakan niat yang sudah muncul sejak lama tapi belum juga direalisasikan. maka melalui postingan ini, saya pun ingin mempersembahkan lagu Tulus yang berjudul Monokrom untuk semua teman-teman seperjalanan saya, baik yang tertulis di atas maupun yang masih di titik-titik nomor 27 itu :D
Tulus - Monokrom
Lembaran foto hitam putih
Aku coba ingat lagi warna bajumu kala itu
Kali pertama di hidupku
Manusia lain memelukku
Lembaran foto hitam putih
Aku coba ingat lagi wangi rumah di sore itu
Kue cokelat balon warna-warni
Pesta hari ulang tahunku
Di mana pun kalian berada
Kukirimkan terima kasih
Untuk warna dalam hidupku dan banyak
kenangan indah
Kau melukis aku
Lembaran foto hitam putih
Kembali teringat malam kuhitung-hitung bintang
Saat mataku sulit tidur
Suaramu buatku lelap
Di mana pun kalian berada
Kukirimkan terima kasih
Untuk warna dalam hidupku dan banyak
kenangan indah
Kau melukis aku
Kita tak pernah tahu berapa lama kita
Diberi waktu
Jika aku pergi lebih dulu jangan lupakan aku
Ini lagu untukmu
Ungkapan terima kasihku
Lembar monokrom hitam putih
Aku coba ingat warna demi warna di hidupku
Tak akan kumengenal cinta
Bila bukan karena hati baikmu
I am really nothing without you! <3
Sabtu, 10 Desember 2016
with love,
Stella Vania Puspitasari, S.Psi.
(sekali-sekali nulis gelar boleh yaaaa :p)
PS: kalau mau pesan bunga-bunga kayak yang di foto bisa cari di IG @agrojayaflorist atau IG @ad_mooi_florist atau ke temen saya @tivakoeswojo, kalau mau handicraft unyu unyu bisa cek IG @allpartygimmicks atau ke temen saya @arum_acil #ujungujungnyapromosi :))
Mumpung masih April, saya mau ikutan ngomong soal perempuan dan emansipasi, ah. Tapi kali ini agak lebih spesifik dan agak curhat (nggak apa-apa kan ya sodara sodari? :D)
Banyak orang mengaitkan perempuan dengan kecerobohan (atau kengawuran) dalam hal berkendara di jalanan. Bahkan banyak meme tentang hal ini. Beberapa di antaranya:
Saya sendiri pun sering mengalami hal ini. (Nah, curhatnya dimulai :p)
Walaupun saya belum menjadi seorang anak jalanan, eh maksudnya, pengendara di jalanan, tapi saya cukup sering mendengar komentar tentang perempuan yang berkendara. Komentar yang sering saya dengar biasanya dari Papa, misalnya, “Wah, wedhok ki mesthi!” (Wah, cewek ini pasti!). Komentar itu biasanya terlontar ketika ada kendaraan yang nggak jelas mau ke kanan atau ke kiri alias terlalu di tengah, atau kendaraan yang tiba-tiba belok tanpa lampu sein, atau kendaraan yang lama jalannya di lampu merah, atau kendaraan yang parkirnya kurang minggir. Komentar itu sering terlontar bahkan ketika Papa nggak lihat yang berkendara itu perempuan atau laki-laki. Itulah yang disebut stereotip. Semakin saya dewasa, ternyata stereotip bahwa perempuan suka berkendara ngawur ternyata nggak cuma terlontar dari Papa saya, tapi juga beberapa teman laki-laki saya.
Ternyata, stereotip macam ini nggak cuma di sekitar saya saja, tapi bahkan ada di beberapa negara! Beberapa penelitian juga menunjukkan bahwa memang perempuan memiliki kemampuan spasial yang cenderung lebih rendah dibandingkan laki-laki (semoga saya nggak salah. Untuk lebih jelasnya, silakan baca di sini. Maafkan saya yang malas merangkumkannya untuk Anda :p)
Berdasarkan pengalaman saya, stereotip itu tidak menjadikan perempuan lebih ahli dalam berkendara. Sebaliknya, ucapan-ucapan macam itu malah menurunkan efikasi diri para perempuan. (Baiklah, ini saya curhat lagi :p)
Mendengar komentar semacam itu sejak kecil membuat saya kini tidak mudah percaya pada kemampuan saya sendiri soal berkendara. Persepsi bahwa “saya tidak bisa” sepertinya sudah mengakar dalam diri saya, dan hal ini bukanlah sesuatu yang mudah diubah. Mungkin, hal ini tidak hanya terjadi pada saya, tapi juga pada perempuan-perempuan lain. Mungkin.
Hal lain yang membuat saya tambah jengkel adalah komentar Papa untuk saya di lain kesempatan. Suatu kali, ketika sedang tidak di jalanan, Papa berkata pada saya, “Mbok berani gitu lho nyetir, masak gitu aja nggak berani, kan udah belajar.” Sementara sesaat kemudian ketika Papa menyetir, komentar, “Wah wedhok iki mesthi! Gombal!”, kembali terucap.
Saya pun cuma bisa melongo. Dalam hati saya bilang, “Dhuh Gusti… Pa, anak wedhokmu ini nggak berani kan juga karena komentarnya Papa ituuuuu…” #tepokjidat
Sebenarnya nggak salah juga komentar macam itu terlontar, toh memang orang yang berkendara itu salah. Toh memang hal itu sangat menyebalkan. Toh seringkali saya juga misuh-misuh kalau ada yang berkendara secara ngawur di jalanan. Ya, namanya juga meluapkan perasaan.
Tapi percayalah, komentar stereotip macam itu hanyalah emotional focused coping, alias cuma berguna bagi meredanya perasaan kesal kita saja. Komentar stereotip macam itu (mungkin) tidak menyelesaikan permasalahan yang sesungguhnya. Komentar stereotip macam itu tidak membuat keadaan (para perempuan) bertambah baik.
Lalu, bagaimana caranya supaya keadaan bertambah baik?
Nah, soal ini saya juga masih bertanya-tanya, termasuk pada diri saya sendiri. Hehehe... :D
Tetap semangat, para perempuan!
Baik laki-laki maupun perempuan, tetap berhati-hati dalam berkendara yaaa! :D
Tidak seperti kebanyakan anak SMA yang pertama-tama ingin mencoba menembus keberuntungan menjadi mahasiswa PTN, sejak awal saya sudah menetapkan satu pilihan: Universitas Sanata Dharma. Psikologi. Saya lupa persisnya mana yang lebih dulu saya pilih, universitasnya atau program studinya. Tapi satu yang saya ingat betul, 25 Oktober 2010, saya resmi diterima di Fakultas Psikologi Universitas Sanata Dharma. Salah satu hari bersejarah bagi saya. Meski mantap dalam memilih, tapi saya gentar ketika menjelang hari “ospek” yang dikenal dengan Inisiasi Sanata Dharma (INSADHA). Ada kekhawatiran mengenai perlakuan dari senior, hukuman, dan hal-hal mengerikan lainnya. Namun, hal yang ternyata terjadi justru sebaliknya. INSADHA menyambut kami, para mahasiswa baru, dengan pelukan hangat, seolah hendak membuktikan penggalan syair hymne universitas, “Seluruh Sanata Dharma satu keluarga”. Inisiasi yang penuh kekeluargaan juga saya rasakan dalam inisiasi fakultas, Akrab Psikologi atau AKSI. Dan setelah saya selama beberapa tahun menjalani hidup di USD, saya tahu satu hal yang mungkin bisa dijadikan alasan betapa kekeluargaan menjadi sangat penting di USD. Rektor pertama Sanata Dharma, Romo Nikolaus Driyarkara, SJ pernah mengungkapkan sebuah semboyan “homo homini socius”, atau “manusia adalah kawan bagi sesamanya”. Tidak heran juga jika semboyan USD adalah “cerdas dan humanis”. Bukan hanya soal menjadi cerdas saja, tapi juga humanis. Humanisme yang cerdas. Ada keseimbangan di antara keduanya. Antara logika dan nurani. Rasio dan rasa. Tidak lolos seleksi sebuah unit kegiatan fakultas membuat saya di semester pertama cukup puas menjadi mahasiswa golongan “kupu-kupu” (kuliah-pulang kuliah-pulang). Hampir setiap hari, saya berangkat dari rumah pukul 6 pagi dan pukul 2 siang saya sudah duduk manis di rumah lagi, serasa SMA. Namun seiring mengalirnya waktu, saya pernah menjadi mahasiswa golongan “kura-kura” (kuliah-rapat kuliah-rapat). Saya mengikuti berbagai kepanitiaan dan organisasi, salah satunya Badan Eksekutif Mahasiswa Fakultas (BEMF) Psikologi 2013/2014 yang walaupun bekerja secara professional, tapi semangat kekeluargaan sangat kental terasa. Dalam rangka kepanitiaan dan organisasi, saya pun pernah jadi mahasiswa golongan “kuda-kuda” (kuliah-dagang kuliah-dagang) demi mencari dana untuk beberapa acara, dari mulai Ekaristi Kaum Muda (EKM), Psychology Festival (Psychofest) sampai bakti sosial. Tapi seperti layaknya mahasiswa pada umumnya dengan tugas yang bertumpuk, saya pun pernah menjadi mahasiswa golongan “kuper” (kuliah-perpus). Dan karena keseimbangan “cerdas” dan “humanis” tadi pun, saya pernah menjadi mahasiswa golongan “dara kuper” (dagang-rapat-kuliah-perpus) sekaligus. Masa-masa di mana saya jauh lebih sering menghabiskan waktu di kampus daripada di rumah. Akan tetapi semua itu bukanlah masalah yang begitu berarti bagi saya secara pribadi. Sekali lagi, itu karena semangat kekeluargaan yang saya rasakan di USD. Dari Pak Gi, karyawan Biro Layanan Umum yang selalu ceria dan baik hati siap sedia membukakan akses lift pada para mahasiswa. Dari para outcore, mbak dan mas cleaning service yang siap sedia membantu angkut-angkut dan bersih-bersih. Juga dari Pak Pur, bagian keamanan, yang ramah. Dari teman-teman sesama mahasiswa dan bapak-ibu-romo-suster dosen serta karyawan. Dari Bu Dewi, wakaprodi Psikologi yang selalu siap sedia diajak berdiskusi dan datang ke acara-acara kemahasiswaan. Dari Mas Anton dan teman-teman Campus Ministry yang membuat “Indonesia mini” di USD makin terasa. Dari Pak Chosa dan teman-teman Service Learning Program (SLP), yang benar-benar menjadi keluarga karena kami bersama saat tinggal di negeri orang selama satu bulan sebagai delegasi dari USD. Juga dari Miss Tata, Mbak Risca dan teman-teman “geje” di Kantor Wakil Rektor IV yang lebih sering saya sebut “mabes”. Semangat kekeluargaan yang saya rasakan di USD ini juga memacu saya untuk menyebarkan semangat yang sama ke semakin banyak orang, tidak hanya di sekitar USD. Menjadi lebih dan lebih lagi. Semangat magis. Selama hampir delapan semester di USD, saya sampai pada satu titik bahwa menjadi mahasiswa berarti bisa menemukan relevansi antara ilmu dan realita, bagaimana ilmu membantu kita melihat dan berusaha memecahkan permasalahan di kehidupan nyata, atau sebaliknya, bagaimana melihat realita berdasarkan kacamata ilmu. Itulah keseimbangan antara cerdas dan humanis. Semoga di usia intannya ini, Sanata Dharma menjadi semakin bijaksana layaknya seorang kakek, selalu bersemangat layaknya orang muda, sekaligus penuh keingintahuan layaknya anak kecil. Semoga juga semangat kekeluargaan dan “menjadi kawan bagi sesama” makin terasa, baik di dalam maupun luar kampus. Selamat 60 tahun, Universitas Sanata Dharma! Ad Maiorem Dei Gloriam!
baksos psikologi 2013 "Ibu Cerdas, Keluarga Bahagia"
baksos psikologi 2014 (Psycho-Care) "I Know Who I Am, I Know My Passion, I Can Determine My Future"
Rabu, 28 Januari 2015 meramaikan #60tahunUSD Stella Vania Puspitasari (on the way to S.Psi.)
semester enam memang sudah sebulan lebih selesai. sejak semester lima, saya menemui *soalnya beberapa kali nggak langsung mengalami* hal-hal yang membuat saya seringkali berefleksi bahwa, "you have to take a choice, and every choice has consequences. so you also have to ready to face the consequences of the choice you've been chosen."
satu hal ini benar-benar menjadi #NoteToMySelf ketika saya menginjak pertengahan semester enam. saat itu saya daftar jadi asisten praktikum. saya memang pengen banget, meski di sisi lain ini juga merupakan kewajiban saya hehe
well, intinya saya udah niat banget dan yakin keterima, kepedean abis! tapi ternyata saya nggak diterima, karena jadwal kuliah saya bentrok dengan jadwal kuliah praktikum itu. saya rasanya ketampar banget, soalnya jadwal saya yang bentrok itu sebenarnya bukan paketan saya, tapi saya pindah kelas lain. saya langsung membandingkan diri saya dengan teman saya yang rela mengganti jadwal demi bisa jadi asisten praktikum. ya, ini pilihan saya, dan saya harus menanggung konsekuensinya.
saya ingat betul, hari itu saya mengerjakan sesuatu di ruang PU. saya sendirian di ruang itu, like a boss haha :)) saya ke lab sebentar dan diajak bicara oleh Mas Muji, laboran yang kocak banget. Mas Muji bilang kalau saya nggak lolos, tapi tampak betul beliau ikut kecewa karena saya nggak lolos. saya kembali ke ruang PU, merenung, dan saya sempat menangis. memang, seringkali konsekuensi dari pilihan itu nggak menyenangkan ya..
I got the picture from Mokis, thanks! :)
jika saya bisa merangkum semester enam, bahkan kuliah saya sejak semester satu, semua adalah tentang PILIHAN, yang konsekuensinya kadang jangka panjang, jadi baru saya rasakan di semester enam ini. saya memilih untuk coba-coba daftar beasiswa unggulan, konsekuensinya ya harus mau ikut acara character building. saya memilih untuk "menunda" mendaftar P2TKP dulu semester tiga, sekarang ketika ditolak dan nggak ada lagi kesempatan, saya nggak bisa coba lagi. saya memilih untuk hengkang dari riset payung, dan saya nggak ikut presentasi ke Oz. saya memilih untuk pindah kelas demi diajar dosen favorit, tapi saya nggak bisa jadi asisten praktikum. saya memilih untuk ambil makul pilihan yang bukan bidang favorit saya, dan saya harus mengerjakan tugas-tugas yang cukup berat dan dua kali kuliah umum. saya memilih untuk gabung dengan BEMF dan saya jadi lebih sering di kampus daripada di rumah maupun gereja. saya memilih untuk jadi volunteer tetap di Pingit dan seringkali saya dari kampus langsung ke Pingit. sebagai konseptor, saya memilih untuk mengadakan ekm di suatu paroki yang ternyata prosesnya kurang bisa berjalan dengan baik. saya memilih untuk coba-coba daftar SLP, dan ternyata keterima. saya memilih untuk nggetih dan menjalani semester enam ini dengan optimal, dan hasilnya pun puji Tuhan sangat memuaskan. masih banyak pilihan-pilihan dan konsekuensinya yang saya jalani.
saya sendiri bersyukur saya bisa sampai pada insight ini, karena rasanya saya jadi lebih realistis dan rasional *efek salah satu makul di semester enam nih kayaknya* :))
yah, apapun pilihan yang kita ambil, mari ingat bahwa pilihan dan konsekuensi itu satu paket. maka, kalau EKM Seminari Mertoyudan dulu kasih judulnya "choose your love and love your choice" :D
Seorang teman berkata, "Salah satu tanda kedewasaan seseorang adalah berani meninggalkan kenyamanan."
Tahun 2013 ini bagi saya merupakan suatu proses menjadi semakin dewasa. Nggak cuma bagi saya, tapi juga beberapa orang di sekitar saya. Kakak dan Akang tahun ini lulus dan mendapatkan kerja, meninggalkan saya di Jogja yang berhati nyaman ini, pun dengan Mas Frater Surya yang mendapat tugas baru di Micronesia. Mereka adalah beberapa sosok yang berproses menjadi lebih dewasa tahun ini.
Baiklah, mari merinci saja apa aja sih yang udah terjadi sepanjang 2013 ini :D
JANUARI
Kakak lulus! Yeay! Akhirnya pada semester ke-12, Kakak berhasil lulus juga :D
10 Februari ada #EKMDIY, Ekaristi Kaum Muda dan Pentas Seni se-Kevikepan DIY. Kebetulan, saya jadi co.liturgi (lagi, untuk ke sekian kali). Bedanya kali ini saya bekerja dengan orang-orang baru yang kece banget! *salim sama Mas Yosi, Mas Heru, Mbak Iyas, Mbak Ela, Erika, Bertha, Mas Edi, Denny, Mas Eko, Mas Ayok, Mbak Ellen dan semuamuamuanya* :D
MARET
Menghadapi beberapa #AkuKuduPiye moment bersama temen-temen EKM, khususnya buat Ekaristi Paskah Kaum Muda. Terima kasih buat dinamikanya, temans! Terima kasih juga buat Romo Surjo, Romo Fajar dan Frater Sani yang membantu kami untuk menghadapi #AkuKuduPiye moment ini :D
tampang-tampang #AkuKuduPiye
APRIL
Kesibukan di bulan-bulan sebelumnya dan UTS bikin saya butuh menyegarkan pikiran. Maka, akhirnya setelah sekian lama, saya jalan-jalan bersama Akang. Self-rewarding gitu deh ceritanya :)
MEI
Seperti biasa, bagi saya, bulan Mei selalu penuh cerita. Bulan Mei ini saya berkesempatan untuk mengunjungi RSJ Grhasia, tepat ketika saya menginjak usia kepala dua.
PsyPals!
Oya, seminggu sebelumnya juga ada makrab pergantian pengurus EKM. Bertha dan saya lengser sebagai kordum dan korlit Tim EKM Kotabaru. Rasanya campur aduk. Seneng, karena berhasil menyelesaikan tanggung jawab dengan segala jungkir baliknya. Ada juga perasaan cemas, apa bisa saya benar-benar melepas EKM, saya "terlalu cinta" sama EKM. Tapi ya namanya juga hidup, kita nggak bisa selama-lamanya menggenggam sesuatu terlalu erat.
Tapi meski sudah lengser di Tim EKM Kotabaru, di bulan ini saya juga bikin EKM lagi, kali ini EKM Psikologi di Gereja Pringwulung. Tempat baru, cara kerja baru, orang-orang baru, dan ini berarti adalah tantangan baru juga bagi saya.
Three Loves One Life :)
JUNI
Kak Dea, salah satu kakak sepupuku, nikah! Kak Dea nikah di Jogja, dan nginep di rumah. Saya kebagian ikut rempong sebelum dan sesudah the day, seru ternyata :D
Event ini juga berhasil mengumpulkan (hampir semua) keluarga Esnawan, termasuk Kak Kla-Kak Steve-Kayden dari Aussie dan Kak Istas-Tomoyo dari Jepang :D
Esnawaners :D
Bulan ini juga banyak acara di Jogja, salah satunya FKY. Saya pun berhasil datang ke sana sama seorang tamu spesial: Omor! :D
Dan, Akang berhasil pendadaran bulan ini juga yihaaa :D
cieee gelarnya "S.T." :P
JULI
Pergantian pengurus Papita. Saya yang (ceritanya) jadi pendamping Papita bersama #GenkKepo (baca: Frater Sani, Angel, Febri) bantuin pergantian pengurus Papita.
Juli juga identik sama Tahbisan Jesuit. Tahun ini, beberapa teman saya berubah sebutan dari Frater jadi Romo. Di antaranya Romo Fajar, Romo Surjo, Romo "Eyang" Windar, Romo Vico, Romo Andri :)
AGUSTUS
Akang wisuda :D
horeeee :D
SEPTEMBER
Ini bulan yang luar biasa banget. Serius! Di hari pertama, saya sudah ikut Raker Pingit.
Tiap tahun, Psikologi punya gawe sepanjang bulan September, namanya Psychofest. Tahun ini untuk pertama kalinya saya ikut kehebohan Psychofest dengan jadi panitia. Di sinilah proses "belajar menjadi lebih dewasa" saya mulai. Saya bergabung dengan kepanitiaan yang baru, dan lewat Psychofest ini saya jadi makin aktif di kampus, di tempat baru. Ini berarti pula saya mulai melangkah keluar dari "zona nyaman" saya, Mas Anto tercinta.
Bulan ini juga saya mulai LDRan sama Kakak dan Akang karena keduanya kerja di Jakarta :") #JamaahLDRiyah bersatu!
OKTOBER
Setelah heboh-heboh Psychofest, saya kira saya bakal bisa kembali fokus ke kuliah, tapi ternyata keriuhan yang lain sudah menanti.
9 Oktober, ulang tahun si Yogyaswara istimewa. Sayangnya kali ini saya tidak bisa menemaninya merayakan ulang tahun ke 23nya.
sederhana sekali :)
Awal Oktober juga ada ulang tahun Pingit ke 47 :D seru sekaliiiii! Ada jathilan, baca puisi, nyanyi-nyanyi dan lain-lain :)
Opa Henk dan anak-anak Pingit :D
Tanggal 13 Oktober, pendamping Papita mengadakan #PelantikanPapita, setelah sekian tahun tidak ada acara ini :D
para pendamping papita :D
Pertengahan Oktober, saya "diutus" oleh pihak fakultas untuk pergi ke Surabaya, ikut Olimpiade Psikologi 2. Karena persiapan yang mepet dan masih kepikiran UTS, jadi kami nggak menang deh. Tapi dari pengalaman ini saya belajar banyak hal, juga kenalan sama temen-temen baru :D
yang penting pose deh :")
Akhir Oktober, ada Baksos Psikologi di sekitaran Paingan. Dan tepat pada hari Sumpah Pemuda, ada pelantikan BEMF Psikologi 2013/2014, dan saya bergabung dengan BEMF menjadi co. SOSRO (Sosial Rohani), suatu bidang yang (katanya) "vania banget". Hari itu juga Tim EKM Kotabaru ulang tahun ke 13 :D
Hari terakhir Oktober juga puncak perayaan ulang tahun Kolsani ke 90. Sungguh bulan yang istimewa!
NOVEMBER
Bulan ini tidak kalah sibuknya dengan bulan September dan Oktober. Mengemban tugas baru di BEMF berarti juga harus menyiapkan strategi setahun ini mau ngapain aja. Bulan ini banyak yang kami lakukan, mulai dari konsolidasi, makrab BEMF dan OAT di akhir bulan.
Di awal bulan saya juga "menjajal" sesuatu yang baru, yakni datang ke mangafest :D
Bukan tanpa alasan saya datang ke acara jejepangan ini. Saya datang karena #ApingAnitJualan! Datang ke acara ini membuat saya mengenal orang-orang baru yang kece-kece :)
bareng Om Lemmu :D
Bulan November (lagi-lagi) ada ekaristi kaum muda yang diberi judul Eucharist Youth Movement (EYM) di Karang Klethak. Bulan ini juga ada Rekoleksi Papita :D
DESEMBER
Bulan terakhir di 2013 ini saya isi dengan .... UAS #yeahmahasiswa
Seperti yang sudah pernah saya tulis, ada pameran media massa, dan seabrek laporan serta tugas lainnya yang mewarnai kehidupan mahasiswa semester 5 yang selo.
Setelah UAS, saya kembali ke haribaan Tim EKM Kotabaru untuk mengacaukan membantu Ekaristi Natal Kaum Muda.
Tapi satu hal yang menarik di penghujung 2013 ini, saya kembali ke kampus untuk membantu Reuni Akbar USD. Sungguh suatu momen berharga yang membuat saya belajar dan bertemu banyak orang baru, termasuk alumni yang pernah menjadi Ratu Kampus :D
Dan di hari terakhir tahun ini, saya pun tidak berniat menghabiskannya di Mas Anto seperti tahun-tahun sebelumnya :)
Yeah, begitulah. Tahun 2013 memang suatu tahun bagi saya untuk belajar keluar dari zona nyaman, untuk mencoba sesuatu yang baru dan mengembangkan diri dengan cara lain.
Semoga di tahun 2014 saya bisa semakin dewasa. Resolusi saya masih sama dengan tahun-tahun sebelumnya, tapi semoga resolusi ini bisa benar-benar saya wujudkan, nggak hanya di mulut saja.
Semoga tahun 2014 juga menjadi tahun yang luar biasa bagi kita semua. Selamat menyongsong 2014! :D
31 Desember 2013
15.05 WIB
Yogyakarta yang Berhenti Nyaman (semoga hanya untuk sementara)
Stella Vania Puspitasari
ps: kalau malam tahun baruan kena macet, sabar saja, nggak usah marah-marah, kasian 2013 ditinggalin dengan marah-marah. trus kalau malam tahun baruan di mana pun, jangan buang sampah sembarangan ya. mari sambut 2014 dengan hal-hal baik, dan semoga hal-hal baik juga yang datang pada kita! :D
iyes, semester 5 ternyata bener-bener sesuatuuuuukkk, rasanya pengen berkali-kali #PuraPuraMatik
well anyway, kali ini saya pengen cerita tentang salah satu kerempongan di semester 5, yaitu di mata kuliah Psikologi Media Massa. dosen mata kuliah ini mewajibkan mahasiswanya buat bikin produk media massa tertentu, jadi kalau dia kelompok majalah ya bikin majalah, kelompok koran ya bikin koran, kelompok TV ya bikin (program) TV, dan seterusnya. terus, produk-produk ini bakal ditampilin di sebuah pameran yang kita bikin sendiri di kampus. kebetulan, saya adalah kelompok TV, jadi saya dan teman-teman bikinlah program TV.
awalnya konsep kami adalah talkshow, semacam Kick Andy gitu, dan kami udah take juga. tapi ternyata, setelah diedit, rasanya ada yang ngganjel gitu, rasanya agak membosankan dan pesannya kurang tersampaikan.
maka, di H-2 pameran, kami pun ngerombak konsep dan ngulang dari awal. #JENGJENGJENGJENG #zoomin #zoomout #zoomin #zoomout #bersambung
hari Senin sore, kami bahas konsep baru dan sekaligus pembagian tugas. terus hari Selasa take cuma 15 menit karena keburu-buru kuliah, dilanjut ngedit sampai setengah sembilan malem, belum mandi, belum makan, semua demi tuuuuu...gaaassss #gebrakgebrakmeja
okay, mari kembali fokus.
akhirnya jadi lah itu program yang kece! dan meski awalnya agak pesimis bakal kekurangan penonton, ternyata kekhawatiran itu nggak terbukti. penontonnya banyak bahkan tempatnya sampai nggak cukup! #terharu :")
penonton yang super sekali :D
abis pameran selesai, saya yang sudah punya niat upload video itu ke Youtube ngedit videonya sedikit, sekedar buat nambahi "courtesy: Youtube" gitu. eh malah keasyikan dan menambah kekecean video itu, yeee nggak dari kemarin! #selfjitak
dari pengalaman ini, banyak banget hal yang saya dapat. yang pasti, saya belajar untuk pakai audacity dan movie maker, dan saya berhasil! horeee :D
pemirsahhh, sebelum nonton videonya, saya mau berterima kasih, khususnya buat temen-temen kelompok saya yang luarrrr biasaaaaa: Vivi, Brama, Chacha, Yunis, Rara :D
the deadliners :p
silakan mas mbak adek kakak om tante semuanya saja, nonton videonya lalu jangan lupa kasih komentar ya, kami menerima segala cacian maupun pujian kok :")
dan inilah saatnya *drum roll*
kami, kelompok TV kelas B 2011, dengan bangga mempersembahkaaannn~~~
ON THE SPEECH! *empuldemdemdem*
Yogyakarta, 4 Desember 2013
salah satu Anak Gaul Jogja,