selain cerita si bintang

Tampilkan postingan dengan label tentang sahabat. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label tentang sahabat. Tampilkan semua postingan

20 April 2020

(tak) sendiri di tengah pandemi

sudah lebih dari satu bulan situasi dan kondisi berubah sedemikian rupa karena pandemi covid-19. aku inget betul, acara terakhir yang aku datangi adalah workshop Ignite: mastering the art of group dynamics, tanggal 15 Maret 2020. hari itu, situasi udah serba cemas dan hand sanitizer serta cuci tangan jadi hal yang wajib, meski belum harus ke mana-mana pakai masker. sorenya, pemerintah mulai mengimbau masyarakat untuk bekerja, belajar, dan beribadah di rumah. Senin, 16 Maret 2020 aku masih keluar kos untuk minta tanda tangan dosen (cuma 5 menit ketemunya!) dan belanja, beberapa instansi, termasuk kampusku, sudah mengeluarkan edaran resmi untuk menghentikan segala kegiatan yang mengumpulkan orang banyak. 

di hari Minggu itu, aku mendapat gambar entah dari grup mana, tulisannya adalah "jangan mudik!" mungkin karena tulisan itu, dan beberapa pertimbangan lain, disposisi batinku sejak awal memilih untuk tetap bertahan di Bandung. salah satu pertimbanganku yang utama adalah kekhawatiran kalau aku menjadi inang dari virus ini dan menularkan pada orang lain. apalagi tanggal 15 Maret itu aku berkumpul dengan lebih dari 50 orang dan berinteraksi dengan cukup dekat, meski sudah ada beberapa protokol seperti menggunakan hand sanitizer. selain itu, aku juga kepikiran tesis, soalnya hari-hari itu aku lagi penjaringan subjek dan pengambilan data. aku masih berpikir ada hal-hal yang bisa kulakukan di Bandung terkait tesisku. 

seminggu pertama, aku merasa diri ikut panik dengan situasi yang terjadi, dengan segala perubahan yang terpaksa harus dijalani. aku seakan-akan menjadikan diriku sebagai semacam "pusat informasi" untuk siapapun. berita dari satu grup akan dengan segera kuteruskan ke grup lain, begitu juga lintas medsos. hampir seluruh waktuku habis oleh mencari informasi, memvalidasinya, membagikannya. maklum, di minggu pertama ini begitu buanyaaakkk hoaks yang bersliweran, dan kepanikan di mana-mana. seminggu pertama, aku juga berusaha membuat beberapa tulisan dan kampanye sederhana untuk tetap saling menyapa dan melakukan hal-hal kecil demi kesehatan mental diri sendiri dan orang lain, lewat #LittleRandomAct. terlalu sibuk sama urusan per-covid-an ini, aku jadi enggak mikirin tesisku sendiri seminggu pertama. 

memasuki minggu kedua, aku mulai overwhelmed dengan banyaknya informasi dan mulai "sadar" untuk mikirin tesis lagi. minggu kedua ini adalah fase aku mulai putus asa dan rasanya pengen lulus tanpa tesis aja. huhuhu. mulai pesimis bisa lulus enggak (sesuai target), mulai khawatir dan merasa bersalah kalau (amit-amit) nanti harus nambah satu semester dan bayar lagi. perasaan putus asa itu masih berlanjut di minggu ketiga. aku juga mulai mempertanyakan, apakah keputusanku untuk tetap tinggal di Bandung dan enggak mudik ke Jogja itu adalah keputusan yang tepat dan terbaik. apalagi beberapa teman juga sudah mudik, dan bertanya apakah aku enggak mudik. semakin galau lah aku. padahal sejak minggu pertama, mama dan papa tampaknya memang lebih ingin aku dan kakak tetap di tempat kami masing-masing dan enggak balik ke Jogja karena terlalu riskan. terlebih kondisi papa (dan mama juga sebenarnya) yang punya beberapa penyakit bawaan. demi meminimalisir penularan, kami pun di kos aja.

minggu ketiga dan minggu keempat, yang berbarengan sama pekan suci, aku mulai agak lebih tenang dan makin mantap di kos aja. perasaanku campur aduk sebenarnya. tentu ada perasaan kesepian, sedih, khawatir, tapi di sisi lain juga ada perasaan lega dan syukur karena begitu banyak "previlege" yang aku punya, di tengah berbagai keterbatasan. beberapa sahabat berbagi berkat dan mengirimiku makanan, minuman, masker, kaus, buku sebagai bentuk #LittleRandomAct mereka. ketika aku merasa enggak baik-baik saja, aku juga berbagi dengan beberapa sahabat. salah satu kalimat yang paling kuingat dan paling menguatkanku kurang lebih begini: keputusan sudah dibuat, dijalani. kalau misalnya keputusan itu keliru, Tuhan akan membantumu menemukan yang lebih tepat. di podkes Setiap Jumat, Romo Magniz juga berkata untuk mengambil semua tindakan yang diperlukan. ini juga menguatkanku di tengah kegalauan tak berujung di minggu ketiga menjelang Minggu Palma. 

Paskah 2020 ini beda banget levelnya. berasa banget kedaruratannya. ini adalah Paskah pertama, dan semoga yang terakhir, di mana kita enggak bisa ke gereja. aku cuma misa di kamar kos sendiri, dengan meja altar darurat dan kasur sebagai bekgron. di sisi lain pengalaman ini aku syukuri banget, karena aku merasa sungguh-sungguh menghayati dan memaknai paskah itu sendiri. sebuah keluarga sahabat menawariku untuk misa malam paskah bersama di rumah mereka, tapi aku terlalu sungkan untuk mengiyakan, dan terlalu malu karena aku memprediksi aku akan menangis heboh sepanjang misa. betul saja, aku sesenggukan sepanjang misa, bahkan setelah misa pun masih nangis. dasar aku cengeng sih. hehe.


secara fisik, aku memang sendiri di kamar kos ini. kos yang harusnya buat 25 orang ini pun cuma tinggal 3 orang plus keluarga yang jaga kos. tapi kehadiran keluarga dan sahabat secara virtual sungguh menguatkan dan membuatku enggak merasa benar-benar sendiri. aku pun membuat satu hestek lagi #berkatkorona untuk merenungkan hal-hal baik yang kurasakan di tengah pandemi. aku jadi sering banget video call sama mama, papa, dan kakak. selain itu, keluarga Esnawan juga beberapa kali vidcon, seru! aku juga jadi nyiapin makanan sendiri, bikin macem-macem eksperimen di dapur, termasuk masak nasi pakai panci dan dandang. beberapa life skills jadi terpaksa dipelajari di tengah pandemi, syukurlah. 

di tengah perasaan kesepian, kehampaan, kebosanan karena karantina, setidaknya aku tidak (terlalu) merasa sendiri, karena mungkin hampir semua orang di seluruh dunia mengalami hal serupa. maka sekecil apapun, aku berusaha berbagi dengan siapapun. sesederhana berbagi informasi yang akurat, menyapa, sampai menyumbang makanan atau uang. inilah yang aku sebut sebagai #LittleRandomAct. semoga hal-hal kecil yang kita lakukan selalu dilandasi kasih yang besar. horeluya!


20 April 2020 (eh, tanggalnya bagus)
dari kamar kos di Bandung,

sahambat

21 Januari 2020

2019 love yourself

hello folks! long time no see! happy (belated) new year! 2020 udah jalan 21 hari nih, gimana so far? hope it goes well yaaa...

so, 2019 was over, and I learned a lot through the year. semua pelajaran selama 2019 saya coba rangkum dalam hestek #2019LoveYourself. well, sebenernya itu hestek yang saya bikin di awal tahun 2019 sih, untuk mengingatkan pelajaran besar yang ingin saya capai sepanjang tahun. awalnya (kalau enggak salah ingat), saya bikin hestek itu gara-gara saya kena gerd di awal 2019. sebetulnya saya enggak pernah punya masalah sama asam lambung. memang sejak bayi, pencernaan saya bermasalah, sampai harus rawat inap sekitar 2 minggu setelah lahir, dan waktu TK sampai SD saya gampang muntah, tapi saya enggak pernah punya masalah sama asam lambung. pertama kali saya kena masalah lambung tuh akhir 2018 waktu saya ikut conference di Batu, Malang. masalah lambung itu terulang lagi di awal 2019 waktu saya nyiapin seminar usulan penelitian (SUP). ya, mungkin faktor yang lebih utama dari gerd ini adalah stres hahaha. 

well, sebagian besar 2019 saya dedikasikan untuk praktik kerja, urusan dengan klien dan laporan. awal November 2019, saya menjalani ujian praktik kerja internal dengan dosen-dosen, lalu 20 Desember 2019 saya menjalani ujian profesi dengan penguji dari organisasi profesi. wow, ternyata udah sebulan lebih sehari saya dinyatakan layak jadi psikolog. rasanya belum banyak perubahan, maklum gelarnya belum sah karena masih harus menyelesaikan tesis. 

selain urusan kuliah, di 2019 saya juga rasanya lebih banyak meluangkan waktu dengan keluarga. memang ada beberapa kejadian yang bikin deg-degan sepanjang 2019, misalnya papa 2x masuk IGD dan harus opname sekali. mama pun juga sempat opname sekali. saya pun cukup sering pulang ke Jogja, bisa dua bulan sekali, bahkan sebulan sekali. beberapa kali saya izin dari praktik kerja karena pulang ke Jogja, atau menemani sahabat yang berkunjung ke Bandung. untungnya, temen-temen di tempat praktik kerja sangat suportif, bahkan mereka kadang nyuruh saya bolos lebih lama biar lebih lama di rumah. dengan mereka, saya pun akhirnya berani membuka diri tentang kondisi kesehatan papa yang selama ini saya simpan sendiri. ternyata, mengakui kerapuhan diri dan membuka diri untuk perhatian dan bantuan orang lain pun adalah bentuk "love yourself". enggak hanya dengan teman-teman praktik kerja, saya pun membagi kisah yang selama ini saya simpan sendiri dengan keluarga dan beberapa sahabat. ketakutan saya selama ini bahwa mereka akan nge-judge atau bahkan menjauhi saya, untungnya enggak terjadi. mereka tetap mau bersahabat dengan saya, bahkan mendengarkan dan memberi saran. 

hal lain yang saya pelajari dan lakukan sebagai bentuk "love yourself" adalah menjalin kontak dengan beberapa orang yang selama ini saya hindari, bahkan saya (di)blok. saya mencoba menyapa mereka, beberapa bahkan saling update kabar dan curhat sama saya. ada perasaan lega yang luar biasa ketika kembali menjalin komunikasi dengan mereka. rasanya, perasaan kesel, sebel, marah, dendam, kecewa di masa yang udah lalu tuh luntur gitu. I've done with that. biarlah itu menjadi bagian dalam hidup saya, tapi yaudah, life goes on. wong ya wis bertahun-tahun lho ya hahaha lama ya... 

saya bersyukur banget bisa melewati 2019 dengan berbagai dinamika yang terjadi. saya banyak belajar untuk mengasihi diri sendiri, untuk menjadi sahabat bagi diri sendiri, selain menjadi sahabat bagi orang lain. kayak lagunya Kunto Aji yang judulnya Bungsu, "Sebelum kau menjaga, merawat, melindungi segala yang berarti, yang sebaiknya kau jaga adalah dirimu sendiri."

have a great 2020, gaes!
oya, hestek saya untuk tahun ini adalah #2020LevelUp, dan goals utama saya tahun ini adalah LULUS dan kerja (I need cuan)! nyuwun pangestunipun nggih, sedherek sedaya...
kalau kamu apa resolusi 2020nya?


Bandung, 21 Januari 2020
18.18 WIB
vania

04 November 2019

recharged

hae gaes!

enggak kerasa ya udah masuk November aja, bentar lagi udah mau ganti tahun lagi! ya ampuuunnn...
seperti biasa, blog ini udah berdebu banget hehe saking berdebunya sampai bingung beresin dari mana dulu.

bulan Oktober dan awal November ini rasanya nano-nano banget. awal Oktober, aku akhirnya seminar kasus besar 2, seminar kasus terakhir sebelum ujian. istimewanya, seminar kasus ini dibahas sama dosen yang paling disegani. untungnya, berhasil dilewati juga...

selesai urusan sama kasus, minggu kedua Oktober aku mulai kembali ke tesis, setelah sekian lama terbengkalai. karena punya rencana yang menyenangkan di minggu ketiga, minggu kedua ini aku agak rungsing alias senewen untuk memastikan jadwal bimbingan. keajaiban bener-bener terjadi deh. awalnya dijadwalin bimbingan hari Senin, tapi ternyata tiba-tiba dosennya enggak bisa. Gusti Allah tuh kalau udah punya rencana emang segala sesuatu jadi mungkin. :))

pertengahan Oktober, hal yang aku tunggu-tunggu, akhirnya punya kesempatan untuk ngancani liburan bersama Tuhan lagi, setelah terakhir kali tahun 2017. sejak dimintain tolong bulan September, aku enggak berani janji bisa ikut, karena jadwal enggak pasti., akhirnya aku baru memastikan hari Jumat atau malah Sabtu. lalu merasakan juga online meeting pakai video call haha berasa penting :p

menemani liburan bersama Tuhan, ternyata juga bikin aku recharged. aku belajar banyak dari perjumpaan, kisah-kisah, cerita-cerita, seneng banget rasanya, apalagi ikut nginep di tempat Bunda, maksudnya bener-bener di Gua Maria. udah lama enggak begitu, hepi jadinya. banyak hal baru yang aku alami juga, mulai dari ke Purwokerto naik kereta sendiri, ke Kaliori, kulineran di Purwokerto dan sekitarnya (termasuk minum tuak sampai kayak kepiting rebus haha), naik travel Jkt-Bdg, bikin presentasi langsung bawain materi, dan masih banyak lagi deh pengalamannya. hal lain yang bikin aku makin recharged tuh sejak awal Oktober aku juga iseng ikut program meditasi online 21 hari. bener-bener fully charged deh rasanya!

pengalaman ngancani retret dan meditasi ini ternyata cukup jadi bekal untuk menghadapi hal-hal lain yang gak terduga. aku memang udah sempat dikasih tau kalau ujian praktik kerja tanggal 1 November, tapi seminggu sebelum ujian, aku baru dikasih tau kalau sebagai syarat ujian, harus ngumpulin 10 laporan, terakhir hari Rabu. langsung panik sih, dan berharap jadi titisan Bandung Bondowoso atau Sangkuriang. energi yang dikumpulkan beberapa waktu terakhir rasanya langsung abis seminggu terakhir. untungnya sudah terlewati satu tahap ini, entah gimana hasilnya. 

seminggu terakhir, selain ujian praktik kerja, aku juga ngalamin "ujian" lain: mama harus opname. heran aku, waktu ngerjain kasus ujian ini Agustus kemarin, papa juga opname. sekarang menjelang kasus ini dipertanggungjawabkan secara lisan, kok gantian mama. kalau kata salah satu tanteku, memang ujian kan bukan cuma akademis aja, tapi dalam hidup sehari-hari juga. ya, begitulah. ketika menjalani hari-hari ini, aku merasa sangat bersyukur karena sudah menjalani "masa charging" lewat liburan bersama Tuhan dan meditasi. 

segini dulu deh ceritanya. aku udah ada rencana untuk recharge lagi, mudah-mudahan beneran recharge dan cukup untuk menjalani hari-hari yang menantang selanjutnya :D


have a good time, gaes!


Minggu-Senin, 3-4 November 2019
sekitar tengah malam
dari Bandung yang adem karena mulai sering hujan

vania


31 Agustus 2019

am I a good friend?

pertanyaan yang jadi judul postingan ini adalah salah satu pergulatanku sejak lama. aku menyadari bahwa aku punya kebutuhan untuk diterima oleh orang lain, untuk menjadi 'teman', dan untuk membantu orang lain. di sisi lain, aku juga punya ketakutan untuk tergantikan, untuk menjadi bukan yang utama lagi, untuk menjadi sama seperti yang lain. aku sadar betul dengan pergulatan yang memengaruhi buanyak hal dalam hidupku, termasuk ini yang bikin 'gagal move on' selama pindah ke Nangor-Bdg. apalagi pas awal-awal, wah rasanya nyesek beutsss. seiring berjalannya waktu, aku akhirnya bisa memaknai bahwa 'merantau' ini sebenarnya justru sedikit banyak membantuku untuk dealing sama perasaan dan pikiran yang macem-macem tadi. ya iyalah gak diajak, kan jauh. ya iyalah gak dikasih tau, emang kamu bisa apa. ya iyalah gak diajak omong, kan kamu sibuk juga. maklum, dipaksa keadaan.

tapi ya pergulatan ini tetap ada, bahkan cukup sering menggangguku. minggu lalu, pertanyaan di judul postingan ini muncul lagi. saking impulsifnya, aku langsung minta maaf sama salah satu sahabat karena gak bisa hadir menemaninya secara fisik, seperti orang lain yang doi ceritain. sebelumnya, ada beberapa hal juga yang membuat pikiran itu muncul. mungkin efek hormon juga kali ya, jadi sensi abis. *alasan*

eh, lha kok pas di Jogja, tiba-tiba papa harus opname. mama juga riweuh nyiapin acara keluarga, jadi pasti juga capek dan enggak total menemani papa. selama papa opname, aku akhirnya take over untuk menemani papa di rumah sakit, hampir 24 jam kali 5 hari. pengalaman itu membuatku berefleksi bahwa mungkin ini saatnya menjadi teman dan sahabat bagi papa dan mama. keluarga adalah tempat di mana seseorang tidak akan pernah tergantikan.

di tengah keresahan, kegalauan dan pertanyaan tak berujung, lewat pengalaman ini, Gusti Allah seakan-akan mau bilang bahwa pertanyaan yang jadi judul postingan ini hanya bisa dijawab lewat usaha terus menerus untuk menjadi sahabat bagi orang lain. caranya ya bisa macem-macem, tapi yang penting intensinya adalah menjadi sahabat. setiap orang punya peran masing-masing. bagaimanapun miripnya kamu dengan seseorang, kamu ya tetap kamu, you are unique, you are limited edition, because there's only one you!

aku akan menutup postingan ini dengan berbagi #HomiliHariIni:
#BacaanHariIni mengingatkan kita untuk melayani sesama dengan tulus ikhlas, rendah hati, dan berbesar hati jika kita digeser atau digantikan. - Romo Agus, OSC

JLEB BANGET YA :")
masih jadi PR sih nih soal tetap tenang walau 'digantikan' ... maklum, suka post power syndrome gitu~ :))

aku yakin, pertanyaan yang menjadi judul postingan ini, masih akan tetap menjadi (salah satu) pergulatan utamaku. artinya, topik ini akan muncul dalam sambatan-sambatanku, karena menimbulkan kegalauan dan keresahan. tapi semoga, kegundahanku ini justru bisa menjadi semangat untukku berbuat hal baik secara tulus, ikhlas dan total kepada siapapun.

it's okay to be not okay, because it means that you are going to be more okay. cheers!



malam minggu terakhir di bulan Agustus 2019
anak kos,

vania

28 Februari 2018

menjaga kewarasan

Heyho! Apa kabar 2018mu? Semoga dua bulan di awal 2018 ini berjalan menyenangkan dan bisa menjadi penyemangat untuk bulan-bulan berikutnya, ya :D

Kemarin, saya sempat iseng bikin polling di Twitter: mana yang lebih susah, menahan diri untuk cerita hal yang menyenangkan, atau menahan diri untuk cerita hal yang menyedihkan atau mengesalkan?
Saya belum lihat hasil akhirnya sih, tapi berdasar data terakhir yang saya lihat, kebanyakan memilih lebih susah menahan diri untuk cerita hal yang menyedihkan atau mengesalkan, intinya cerita yang mengandung aspek emosi negatif. Hal ini bisa dibilang wajar. Kalau kata dosen saya di S1 dulu, orang itu akan cerita kalau punya masalah, atau yang diceritakan itu biasanya adalah masalah. Saya pribadi juga merasa sih, kalau lagi bete atau sedih atau cemas gitu bawaannya pengen cerita sama siapa pun. Ya walaupun mungkin masalahnya nggak selesai, tapi minimal ada perasaan lega karena sudah berbagi dan tau ada orang yang care. Seorang sahabat saya pernah bilang kalau beban yang dibagi itu (seakan-akan rasanya) jadi hilang setengah bebannya. Itu yang (mungkin) biasa disebut sebagai katarsis.

Akan tetapi berdasarkan pengalaman saya, cerita bahagia, membanggakan, mendebarkan (dalam arti positif) atau yang mengandung aspek positif itu juga susah untuk tidak dibagikan. Misalnya kita lulus ujian, naik kelas/naik pangkat/naik gaji, keterima kerja, jadian, dapet undian, mau liburan, rasanya juga pengen seluruh dunia tau kan? (cari temen, atau jangan-jangan cuma saya doank ya hahaha). Seorang sahabat (yang sudah saya sebut di atas) juga menambahkan kalau cerita bahagia yang dibagi, itu (seakan-akan) jadi dua kali lipat bahagianya.
Maka, menurut saya, cerita sedih maupun cerita bahagia sama aja susah ditahan untuk nggak dibagikan, meski oleh orang yang pendiam dan pemalu seperti saya :P *kemudian ditimpuk mouse* *gapapa sini saya terima hahaha*

Walau gitu, tetap aja ada bedanya antara cerita sedih dan cerita bahagia. Ketika cerita sedih/kesel kita bagikan, biasanya akan ada sesuatu yang diberikan oleh orang yang mendengarkan cerita kita, sesederhana kata ‘sabar ya’, emoji ikut kesel/marah, diberi pukpuk atau hugs, diberi saran atau nasihat, dan macem-macem. Intinya, apa yang diberikan oleh orang itu, kemungkinan besar akan menurunkan rasa sedih/kesel/cemas kita. Sebaliknya, ketika cerita senang kita bagikan ke orang lain, biasanya orang itu akan turut senang atau memberi komentar menyenangkan yang akan meningkatkan rasa senang kita. Apalagi kalau kita cerita tentang harapan atau ekspektasi atau rencana kita, biasanya komentarnya tuh makin membuat perasaan kita melambung dan imajinasi kita makin menjadi-jadi. Menurut saya, di sini kudu ati-ati. Ingat, segala sesuatu yang berlebihan itu nggak baik, termasuk ekspektasi berlebihan. Kalau ekspektasi nggak kesampaian, saaaakkkkiiiittt~~ haaaatttiiikkuuu~ *kemudian nyanyi*
Ada beberapa contoh dari pengalaman pribadi saya tentang cerita ekspektasi ini. Misalnya dulu udah punya rencana mau liburan ke Malaysia, udah cerita ke mana-mana, ternyata dibatalin. Udah yakin bakal keterima di yujiem karena di unpad yang relatif lebih susah seleksinya aja bisa keterima, eh ternyata gagal. Udah janjian mau ketemuan di Jogja karena bakl pulang, ternyata jadwal masuk kuliah dimajuin. Terus jatuh cinta sama si itu, udah cerita ke mana-mana, digodain dan didoain orang lain jadi harapan makin melambung ternyata pedhot ugha. Saaaakkkiiittt~~ haaattiiikuuu wooo uwooo~ ooooouuuwwoooo~ *kemudian nyanyi lagi*

Pas nulis ini tiba-tiba saya keinget salah satu prinsipnya St. Ignatius Loyola (maklum, kebanyakan bergaul sama yesweet :P). Saya lupa gimana persisnya kalimatnya, tapi intinya: ketika merasa senang (konsolasi) ingat-ingatlah masa-masa sedih (desolasi), dan sebaliknya, ketika masa-masa sedih (desolasi) ingat-ingatlah masa-masa senang (konsolasi).

Jadi kalau ada yang merasa sedih dan mau menyerah karena skripsi ditolak mulu sama pembimbing, coba ingat momen menyenangkan dalam bikin skripsi, misalnya ketika berhasil menemukan masalah penelitian, ketika revisian di-acc, ketika pengambilan data selesai (contohnya konkret banget ya, maklum masih mahasiswi, lagi belajar metode penelitian pula hahaha)
Atau ketika ada konflik besar sama pasangan dan rasanya pengen pisah aja, coba diingat hal-hal yang membuat jatuh cinta, atau yang membuat relasi semakin dekat.

Ketika liburan yang (puji Tuhaaan) cukup panjang akhir 2017-awal 2018 lalu, saya beberapa kali refleksi perjuangan di semester 1 kemarin, sambil tetap mengingat-ingat Jatinangor yang sedang saya tinggal untuk berlibur di Jogja tercinta. Supaya nggak keenakan libur dan nggak lupa balik ke Nangor gitu maksudnya hehe
Ketika kita mendapatkan hal yang kita inginkan, ingat juga betapa menantangnya perjuangan untuk mendapatkan hal itu.

Bagi saya, refleksi-refleksi seperti ini sangat membantu untuk menjaga saya untuk tidak larut pada kesedihan/kekesalan/kemarahan berkepanjangan, maupun kesenangan berkepanjangan. Karena hidup itu konon katanya seperti roda yang selalu berputar, kadang posisi kita ada di atas, kadang posisi kita ada di bawah. Kadang kita hepi, kadang kita sedih. Tapi karena roda itu terus berputar, maka kesedihan dan kebahagiaan kita tak ada yang abadi~ *boleh dibaca sambil nyanyi*


Maka bagi saya, berbagi cerita baik cerita tentang hal menyenangkan, maupun menyedihkan atau menyebalkan, dibarengi dengan refleksi-refleksi ini sangat membantu untuk tetap realistis dan untuk menjaga kewarasan. 


Jatinangor, 28-02-2018
si bintang yang suka berbagi cerita meski aslinya pendiam dan pemalu (plis, percaya aja :p)

10 Desember 2016

monokrom

hi there!
sudah lama sekali sebenarnya saya pengen nulis ini, syukurlah akhirnya sekarang kesampaian.
2016 sudah hampir selesai. salah satu target besar saya di 2016 sudah tercapai: #2016SPsi. tapi saya sungguh sadar perjuangan menuju #2016SPsi ini akan makin susaaahhh kalau nggak ada orang-orang hebat yang menjadi teman seperjalanan saya. untungnya, Pak Prof, dosen pembimbing saya nggak keberatan saya nulis kata pengantar sebanyak lima halaman HAHAHA :))
meski gitu, rasanya nggak afdol kalau belum nulis ucapan terima kasih itu di sini.

Sepuluh semester dan khususnya empat belas bulan pengerjaan skripsi ini menjadi sebuah perjalanan yang luar biasa. Sebuah perjalanan yang menantang. Sebuah perjalanan yang tidak hanya demi mendapatkan gelar dan sehelai ijazah, tapi sebuah perjalanan yang mengembangkan saya sebagai seorang pribadi. Sebuah perjalanan yang tidak saya lalui sendiri, tetapi bersama begitu banyak orang hebat. Dengan setulus hati, saya ingin berterimakasih pada teman-teman seperjalanan saya.
1. Tuhan yang Tiga-Tapi-Satu, Ayah di atas segala ayah, yang Maha Baik, Maha Keren, Maha Gaul, Maha Romantis, Maha Humoris, Maha Tidak Terduga, Maha Segalanya! Terima kasih sudah mengizinkan saya menjalani kisah luar biasa ini. Terima kasih juga pada Bunda Maria untuk teladan “fiat mihi voluntas tua”.
2. Bapak Prof. Dr. A. Supratiknya selaku dosen pembimbing akademik sekaligus dosen pembimbing skripsi yang dengan sabar mendampingi saya selama perkuliahan dan penulisan skripsi ini. Terima kasih sudah mengingatkan bahwa proses menulis skripsi juga merupakan hal yang bermakna bagi pengembangan diri.
3. Mama Maria Magdalena Hidayati, Papa Agustinus Gatot Moertidjono, Kakak Octavianus Indra Saputra dan seluruh keluarga yang selalu menyertai dan mendukung saya. Terima kasih karena kalian selalu bisa menjadi tempat untuk saya pulang.
4. Bapak Dr. T. Priyo Widiyanto, M.Si. selaku Dekan Fakultas Psikologi Universitas Sanata Dharma, dan segenap jajaran Dekanat.
5. Ibu Dr. Tjipto Susana, M.Si. dan Bapak C. Siswa Widyatmoko, M.Psi. selaku dosen penguji. Terima kasih atas diskusi dan masukan yang diberikan untuk membuat skripsi ini menjadi lebih baik.
6. Para dosen Fakultas Psikologi Universitas Sanata Dharma yang tidak hanya memberi ilmu pada saya, tapi juga pelajaran hidup.
7. Mas Muji, untuk semua bantuan dan dukungannya, baik selama kuliah maupun selama skripsi ini. Terima kasih banyak. Pengambilan data skripsi ini nggak bakal lancar tanpa bantuan Mas Muji, glory! Terima kasih juga untuk Bu Nanik, Mas Gandung dan Pak Gie, serta Mas Doni, untuk segala bantuan, dukungan, senyum dan semangatnya.
8. Kepada teman-teman, ibu/bapak/suster/frater guru dan karyawan yang saya temui di TK, SD, SMP dan SMA. Terima kasih sudah menambah pengetahuan saya tentang hidup.
9. Para partisipan dan ibu. Terima kasih sudah bersedia berbagi kisah hidup, perasaan, dan pikiran. Semoga penelitian ini sungguh memberi manfaat bagi Anda sekalian.
10. Keluarga besar SD Pangudi Luhur Yogyakarta, terutama Bruder Teguh, FIC selaku kepala sekolah yang telah mengizinkan penelitian ini berlangsung, serta Bu Ida yang membantu menghubungkan saya dengan para partisipan.
11. Tante Lucia Erikawati, yang banyak membantu peneliti, dari mulai menghubungkan ke pihak sekolah, berbagi kisah hidup, semangat dan tawa. Juga untuk Tante Damian Alma yang selalu memberi semangat. Terima kasih banyak.
12. Teman-teman “masih remaja”: Acil, Ria dan Retha. Terima kasih buat kebersamaan selama kuliah dan khususnya bantuan selama pengambilan data. Aku mah apa tanpa kalian :D
13. “Anak-anak professor”: Pika, Kak Engger, Maria, Rhintan, Fitria, Yoverdi, Tara, Dedew, Pakdhe, Kak Lala, Tama, Ria, Gaby, Rikjan, Raras, Delima, Gege. Terima kasih untuk kebersamaan dan bantuannya. Semangat selalu, teman-teman!
14. Sahabat terbaik, Stefi. Terima kasih sudah menjadi teman berbagi cerita dan pelukan hangat. Juga untuk sahabat dan teman sharing saya yang lain: Dita dan Dista, Ocha dan Lisa, Bertha, Mbak Anne, Mas Adit “Mbek”, Mas Gigih, Papa PJ, Koh Yan, Mas Eko “Mprit”, Om Beni, Kak Mahatma. Terimakasih untuk segala ketulusan dan kesediaan berbagi kisah hidup.
15. Genk Kepo: Romo Sani, Eli, Febri yang selalu “care pol”. Juga seluruh pendamping, pengurus, anggota dan orangtua Papita yang telah mendukung dan belajar bersama saya. Terima kasih sudah menjadi keluarga kedua selama kurang lebih 14 tahun ini. Ad Maiora Natus Sum!
16. Seluruh Jesuits yang saya kenal, terutama di seputar Kotabaru, Kolsani, Paingan dan Mrican. Terima kasih untuk setiap pertanyaan, “Sudah sampai mana?” dan “Kapan selesai?”, untuk setiap komentar, “Wah, menarik nih!”, juga untuk segala obrolan, traktiran dan gojeg-an. Special thanks to Romo Krispurwana “Mokis”, “bapak” saya. Untuk “Omor” Bambang Sipayung, partner diskusi yang asyik, hingga muncul ide untuk topik skripsi ini. Untuk Romo Kokok, tutor dan teman diskusi soal symbolic father. Untuk Frater “Paman” Thomas, Romo “Kokoh” Buddy Haryadi, Romo Surjo, Romo Heri, Romo “Masbro” Tomi, Romo “galak” Adri, dan Frater “Broer” Angga untuk dukungan pemikiran, pengalaman dan semangat untuk penelitian ini.
17. Semua teman-teman di Gereja St. Antonius Kotabaru, terutama teman-teman Tim EKM Kotabaru yang memberi begitu banyak kesempatan untuk belajar dan mengembangkan diri. Ad Maiorem Dei Gloriam!
18. Para warga dampingan, anak-anak dan volunter Perkampungan Sosial Pingit. Terima kasih untuk semangat berjuang bersama melayani dan semua pelajaran hidup yang boleh dibagikan.
19. Para rekan di Campus Ministry Universitas Sanata Dharma. Terima kasih sudah mengajak saya belajar sesuatu yang belum pernah saya coba, yang sangat berguna bagi skripsi ini.
20. Participants of Service Learning Program batch 7: Adhi, Bagas, Enno, Indri, Ayang, Aaya, Linlin, Natsuki, Morgan, Shaira, Darlene, Nadya, Anselmo, Joey, Kuya Barry, Francis, John Chin, Mayuko, Seia, Hoto, Emi, Ron. For my foster family (Siarot family), and the staffs from Xavier University – Ateneo de Cagayan. And for Glaiza. Thank you so much for the experiences and friendship! Also for Ms Tata, Pak Chosa, Miss Sisca, Mas Anton, Kak Risca, Mas Risang, Kak Kukun, SLP batch 6, GLP batch 7, SLP batch 8. Thank you for your helps, laughs, love and life-lessons.
21. Teman-teman BEMF Psikologi 2013/2014 yang sampai sekarang masih sering ribut di grup, kadang kalian jadi hiburan tersendiri haha long live my family!
22. Seluruh teman-teman Psikologi angkatan 2011, terima kasih untuk segala dinamika selama sepuluh semester ini. Juga untuk kakak-kakak dan adik-adik angkatan. Let’s find our way in Psychology! See you on top!
23. Pak Nug, yang selalu setia mengantar saya ke mana pun dan kapan pun sejak saya TK. Juga untuk semua mbak-mbak asisten rumah tangga yang mengasuh dan membantu mencukupi kebutuhan saya. Terimakasih sudah momong saya.
24. Kepada para keluarga yang mengizinkan saya belajar banyak hal tentang keluarga.
25. Google, Facebook, Twitter, Path, YouTube, radio, TV, koran, dll yang dengan cara mereka sendiri berkontribusi dalam skripsi ini, secara langsung maupun tidak.
26. Terima kasih setulusnya kepada Mateus Lesnanto, rekan bertukar pendapat, penyemangat, pengingat dan sahabat. Good luck for your next journey!
27. Terima kasih untuk Anda! Silakan tulis nama Anda di sini ………………………
Terima kasih sudah mewarnai hidup saya! :)

terima kasih juga untuk semua cinta yang ditunjukkan lewat dukungan, kehadiran dan pemberian ketika saya pendadaran. kebetulan saya diberi kesempatan untuk "pendadaran dua kali" :))
pemanis di hari Kamis :p

kado pendadaran sesungguhnya di hari Senin, nuwun! :)

bukan penonton bayaran :p 

Pak Prof yang sebelum foto ini sempat tanya, "Lho, pacarmu mana, Vania?"
nggak punya Paakkk! :))
ketika saya wisuda pun beberapa teman seperjalanan saya lagi-lagi ikut heboh dengan memberikan pelukan, berbagi keceriaan dan memberi beberapa kenang-kenangan. terima kasih!
kembang beneran, kembang api, coklat, pop up, boneka <3


sebagian anggota Tengger Psikologi A di malam pelepasan :)

keluarga Bener :D

volunter Perkampungan Sosial Pingit :D

"masih" remaja: Retha, Ria, Acil :)

Tephie :)
dari Om Lemmu, omnya @apinganit :)
dan ini, kenang-kenangan paling fenomenal dan tidak terduga :))
dosen pembimbing saya, Prof. Dr. A. Supratiknya mempersembahkan sebuah lagu berjudul "All I Ask of You", bersama Gaby dan SS. terima kasih, Pak! luar biasa sekali, sampai terharu saya :")


beberapa waktu setelah saya menyelesaikan skripsi saya, salah satu musisi favorit saya, Tulus, meluncurkan album barunya yang berjudul Monokrom. ketika mendengar lagu dengan judul yang sama, saya langsung terharu karena teringat warna-warna yang ditorehkan teman-teman seperjalanan saya. mungkin itu ya sebabnya kenapa kalau pendadaran pakainya baju putih-hitam. supaya ingat pribadi-pribadi lain yang memberi warna pada hidup kita :)) #meksobanget
beberapa waktu setelah saya wisuda pun Tulus meluncurkan official music video dari lagu Monokrom, mungkin ini cara semesta untuk mengingatkan saya melaksanakan niat yang sudah muncul sejak lama tapi belum juga direalisasikan. maka melalui postingan ini, saya pun ingin mempersembahkan lagu Tulus yang berjudul Monokrom untuk semua teman-teman seperjalanan saya, baik yang tertulis di atas maupun yang masih di titik-titik nomor 27 itu :D


Tulus - Monokrom
Lembaran foto hitam putih
Aku coba ingat lagi warna bajumu kala itu
Kali pertama di hidupku
Manusia lain memelukku

Lembaran foto hitam putih
Aku coba ingat lagi wangi rumah di sore itu
Kue cokelat balon warna-warni
Pesta hari ulang tahunku

Di mana pun kalian berada
Kukirimkan terima kasih
Untuk warna dalam hidupku dan banyak
kenangan indah
Kau melukis aku

Lembaran foto hitam putih
Kembali teringat malam kuhitung-hitung bintang
Saat mataku sulit tidur
Suaramu buatku lelap

Di mana pun kalian berada
Kukirimkan terima kasih
Untuk warna dalam hidupku dan banyak
kenangan indah
Kau melukis aku

Kita tak pernah tahu berapa lama kita
Diberi waktu
Jika aku pergi lebih dulu jangan lupakan aku
Ini lagu untukmu
Ungkapan terima kasihku

Lembar monokrom hitam putih
Aku coba ingat warna demi warna di hidupku
Tak akan kumengenal cinta
Bila bukan karena hati baikmu



I am really nothing without you! <3


Sabtu, 10 Desember 2016
with love,

Stella Vania Puspitasari, S.Psi.
(sekali-sekali nulis gelar boleh yaaaa :p)


PS: kalau mau pesan bunga-bunga kayak yang di foto bisa cari di IG @agrojayaflorist atau IG @ad_mooi_florist atau ke temen saya @tivakoeswojo, kalau mau handicraft unyu unyu bisa cek IG @allpartygimmicks atau ke temen saya @arum_acil #ujungujungnyapromosi :))

08 Oktober 2016

#50thPingit: Berjuang Bersama Melayani

Berjuang Bersama Melayani. Frasa ini dipilih sebagai tema perayaan ulang tahun Perkampungan Sosial Pingit ke 50. Pesta emas, kata banyak orang. Tema ini pertama kali terlontar di Raker pas valentine 2016, terimakasih Mas Win!
Datang ke Pingit pertama kali pada 2010 dan mulai aktif sejak 2013 membuat saya merasa frasa “Berjuang Bersama Melayani” sungguh relevan dengan pengalaman saya di Pingit. Dari frasa itu sebenarnya bisa dibagi dua perjuangan, yakni “berjuang bersama” dan “berjuang melayani”.

Berjuang Bersama
Sebagai seorang introvert yang pendiam dan pemalu (cieee), saya akui saya punya masalah dengan menjalin relasi sosial dengan orang lain. Sejak pertama kali saya main ke Pingit pada 2010, saya agak malu. Inferioritas saya muncul. Saya mah apa dibanding kakak-kakak volunteer yang hebat banget di masa itu. Syukur pada Allah, waktu itu saya sempat diajak makan setelah Pingit selesai, di nasgor Teh Ida, jadi kekakuan mulai mencair. Apalagi, di luar Pingit kami juga beberapa kali ketemu dan ngobrol. Meski gitu, ketika di Pingit, tetep aja saya ngerasa minder.
Ketika saya mulai rutin aktif tahun 2013, sifat saya yang pendiam, pemalu dan minderan ini tetep nggak hilang. Waktu itu saya mikir, mungkin karena saya masih baru kali ya, jadi nggak pede. Eh, ternyata sampai sekarang nggak hilang lho perasaan itu, padahal sekarang saya udah termasuk golongan tua di Pingit (hiks…)
Dulu, sekitar tahun 2013-2014, setiap saya mau turun ke Pingit dari masjid, saya selalu deg-degan nggak karuan. Cemas luar biasa. Entah apa yang dicemaskan, ya cemas mau ketemu anak-anak, ya cemas mau ketemu para volunteer.
Saya pun merasa saya nggak punya banyak teman akrab yang bener-bener akrab di Pingit, maksudnya terus jalan-jalan atau curhat-curhat di luar urusan Pingit, kecuali para frater atau mantan fraternya HAHAHAHA :))
Apalagi, saya adalah orang yang cenderung task oriented. Saya jarang ikut nongkrong di angkringan setelah Senin-Kamis di Pingit, jadi selain kurang bisa cepet akrab sama temen-temen, saya juga kurang update gosip deh hahaha :p
Ketika outing, baik volunteer doank atau bersama warga, saya juga beberapa kali merasa “sendiri di tengah keramaian” (cie kek lagu aja nih)
Beberapa waktu belakangan, saya makin merasa “berjuang bersama” ini tidak hanya perjuangan saya, tapi juga perjuangan para volunteer yang lain. Semoga saya salah, tapi saya merasa ada beberapa gap yang terjadi antara volunteer, entah lama-baru, grup A dan B, entah apa lagi yang memisahkan. Sekali lagi, semoga saya salah dan itu hanya perasaan saya saja, seorang yang memang pendiam dan pemalu.
Usaha untuk berjuang bersama ini terasa saat kegiatan Senin-Kamis selama satu semester, maupun dalam menyiapkan rangkaian pesta emas Pingit. Beberapa contoh yang pernah terjadi misalnya ada volunteer yang “menghilang” karena harus mengerjakan sesuatu yang lebih urgent bagi hidupnya, entah skripsi (kayak saya), bekerja, atau yang lain. Lalu ada volunteer yang nggak datang saat harusnya mengisi kelas atau area bersama tanpa pemberitahuan sebelumnya. Volunteer yang menyiapkan bahan ngajar hanya menyiapkan sendiri, sampai volunteer yang lain yang masuk kelas nggak kegiatan hari itu mau apa dan bingung mau bantu apa (curhat banget ya saya, maaf ya saya kurang koordinasi haha). Pas kerjain sesuatu, bahkan pas Pingit circle atau pas raker cuma ngomong seperlunya, jadi ada kesan garing dan kurang kenal satu sama lain (lagi-lagi saya ngaku saya pelakunya hehe). Mungkin itu masalah klasik yang tidak hanya terjadi di Pingit. Tapi tetap saja ini menjadi bukti bahwa untuk bersama, perlu perjuangan.
Perjuangan untuk “bersama” ini sebenarnya nggak hanya terjadi di antara para volunteer, tapi juga antara volunteer dengan warga dampingan maupun warga kampung, antara volunteer dengan anak-anak, antara sesama warga maupun sesama anak. Pernah suatu kali volunteer mau ngajak anak tampil nari. Anak-anak sudah latihan dan ketika hari H, anak-anak dijemput. Tapi ada salah satu orangtua yang sempat tidak mengizinkan anaknya pergi. Setelah dikasih penjelasan, akhirnya orangtua itu mengizinkan.
Lalu yang sering terjadi juga para warga dampingan melakukan sesuatu yang tidak sesuai semangat dan gerak bersama. Mulai dari hal yang sederhana kayak nggak melaksanakan tugas yang dikasih (menyiram tanaman atau menyapu halaman Pingit), sampai hal yang kompleks kayak berantem atau selingkuh sama warga lain yang membuat orang itu diusir dari Pingit. Macem-macem banget deh ceritanya.

Berjuang Melayani
Jelas, melayani adalah sebuah perjuangan. Nggak mudah untuk memberi sesuatu pada orang lain, di saat kita sendiri merasa kekurangan. Nggak mudah untuk melakukan sesuatu di luar kebiasaan kita, di luar zona nyaman kita. Nggak mudah untuk bertemu orang-orang baru, kaum pinggiran, yang berbeda budaya dengan kita, yang cara berpikirnya sama sekali berbeda dengan cara berpikir kita. Tapi di sisi lain, nggak mudah juga untuk memberi dengan tulus, tanpa mengharap imbalan, tanpa keinginan untuk dianggap baik, tanpa pujian.
Beberapa tahun lalu, ada salah satu anak Pingit yang sempat nggak mau masuk kelas. Dia naik dari kelas TK ke SD kecil, tapi di SD kecil malah nggak mau masuk kelas, padahal paling rajin di TK. Ada aja alasannya, tapi alasan yang paling sering dipakai sakit perut. Akhirnya dia pun belajar di perpus atau di ruang evaluasi, saya temani. Lama-lama, dia malah jadi agak tergantung gitu sama saya. Sebenarnya enak lho merasa ditergantungi kayak gitu, semacam merasa dibutuhkan hehehe tapi kasihan anaknya. Maka akhirnya saya sadar dan minta volunteer lain bergantian menemani dia belajar. Sekarang anak itu sudah mau masuk kelas, mau ikut tampil, dsb. Senang sekali lihatnya, meski nggak mudah, karena saya sadar saya punya kecenderungan untuk ingin selalu jadi yang utama :D
Bagi saya sendiri, frasa “berjuang melayani” sungguh perjuangan yang nyata. Saya belajar untuk menekan ego saya sendiri, untuk mengapresiasi orang lain yang sungguh jauh lebih keren dari saya. Setiap kali raker, saya sebenernya sedikit banyak merasa minder, karena para volunteer semakin hari punya ide dan semangat yang keren bangetttt! Saya jadi ngerasa kayak butiran upil yang dipeperin di bawah meja gitu ‘3’)
Maka, sebutan ‘bunda Pingit’ yang disematkan ke saya, walau bercanda, itu sedikit banyak jadi beban buat saya. Saya tidak merasa cukup pantas untuk menerima sebutan itu, yang saya lakukan di Pingit itu masih sedikit banget deh dibanding beberapa teman volunteer yang lain. Kayaknya saya cuma menang lama doank sih, bukan menang karya hehe

Beberapa waktu lalu, ketika menyusun tulisan ini, saya ditanya, apa manfaat jadi volunteer di Pingit. Jujur saya bingung mau jawab apa hahaha… Tapi perjumpaan dan dinamika saya bersama para warga, anak-anak dan para volunteer, termasuk para “legenda” Pingit seperti Opa Kieser dan Bu Sum, membuat saya terus bertanya, apa lagi yang masih bisa saya lakukan. Maka saya pernah mencoba macem-macem di Pingit, dari mulai masuk kelas TK, mengurus perpustakaan, membantu para warga, mengajar di kelas khusus, mengantar ke panti asuhan, mengantar anak-anak lomba atau tampil, sampai sekarang membantu di humas. Tapi di sisi lain, saya sekaligus belajar untuk berani bilang stop, supaya volunteer lain bisa mencoba dan berkembang, supaya semakin banyak pribadi-pribadi penuh kasih yang berbagi bersama anak-anak, para warga dan para volunteer di Pingit.

Sekali lagi, selamat ulang tahun ke 50, Perkampungan Sosial Pingit. Terimakasih untuk segala pengalaman dan pelajaran untuk berjuang bersama melayani. Semoga semakin keren, semakin oke, semakin asyiiikkk~

foto diambil dari FB Pingit Berbagi. kuenya enak banget sumpah!


Seminggu pasca #MalamPuncak #50thPingit #PestaEmasPingit
Sabtu, 8 Oktober 2016


mbak mimin

01 Januari 2016

little stories in 2015

Hello folks! Long time no see :D
Firstly I hope you had merriest Christmas and happiest new year! 
Just like the other people (okay, I know I am mainstream hehe) I tried to find out what my best nine photos in Instagram. And now I want to share it with you.
1. In 2015, I made at least two big decisions, and one of them was cut my hair. That's my first time having a short hair, just like when I was 4 years old hahahaha 
That's a "beautiful mistake" I think, because I didn't plan to cut that short, but I love my new hairstyle, look so fresh, isn't it? :D

2. Just like the previous years, in 2015 I engaged to Jesuits' ordination. But I think my engagement last year was special because almost all of the new Fathers is my friend. So last year I attended 5 first masses (actually there were 7 new Fathers, but I couldn't attend all of the first masses). In the photo, that was Romo Sani, one of the most "care pol" person I've ever met :p

3. Well yeah, in 2015 I (still) had good times with PAPITA, it's already 13 years, anyway. WOW! Papita is not everything, but everything could happen in Papita #eaaa

4. In 2015 I also still engaged in Perkampungan Sosial Pingit. I learned a lot, not only about how to teach or how to be more empathetic, but I also learned to struggling with myself, my feelings, my thoughts, my idealism etc. In short, my engagement in Pingit help me to develop as a person. Anyway, this year, 2016, Pingit will be 50 years old! #PestaEmasPingit

5. Another #TourToTheTemples session. That was a moment before sunset at the highest temple in Jogja, Candi Ijo.

6. I had so much fun with my nephews and nieces in 2015! Well, that photo taken just a day after a big decision I made in 2015 hehe :D in 2015, I had a chance to literally took care of them for several days and nights hehehe I am very grateful to be an aunt for cute, funny, creative kids. I also had a new cousin and two new nephews last year, so I am an aunt for 8 kids! Hahaha :D

7. One of my best friend said to me that family will always love you unconditionally, always accept you and give you support, no matter what. In 2015, I really learned to find and give meaning to the words "family". And yeah, I couldn't be happier to be a part of this family. :)

8. Joining Campus Ministry's Media and Publication team was another highlight of my 2015. I met many great people (including my "twin", Jokpin), I learned a lot about organizing an event, I learned a lot through the conversations, I learned a lot about life. 

9. One of 'our job' as media and publication team was share the stories about some Sanata Dharma's students who bike from Jogja to Bali, to campaign about autism and mangrove. Of course I wasn't bike from Jogja to Bali, but I learned from their spirit to do something for others. Anyway, in 2015, I also (actually I am forced) to learn how to bike HAHAHAHA :p 

Yeah, for me 2015 is an epic year. I had so many new things, including new status #EH :))
I think my biggest lesson learned in 2015 was "following my deepest heart". You can always use mask, you can always looks good in front of other people, but your heart will never lie. Whatever the consequences, just face it. 
Thank you for everyone who helped me "find myself" in 2015, there are so many BEST people around me, I can't mention them one by one, but I always whisper their name on my prayers ;)
I'm sure that they are present from God. Prayers, joys, hugs, ears to listened to my stories, even tears we shared together, that's really mean to me. I am so blessed. I hope our friendship also give something that meaningful to you, guys! ;)

Once again, happy new year! Hope you will have a great journey in 2016.

Emmm...
I just had a wish for 2016: get my bachelor degree. What's next? Well, just wait what my deepest heart say :p


Happy holidays!

First day of 2016,
Stella Vania Puspitasari (soon to be S.Psi.) :D

16 Juli 2015

in the middle of July

"Have you feel regret because you trusted me?"
"Hmm... It's impossible if I don't feel regret. But if I look myself back before I know you, I think I learned and grew a lot.. And I think I have to be grateful than to feel regret.. You're still my best friend, and I'm so grateful.."
"Hehehe okay.. You're also my best friend.."
"Last chat before you're going to your holiday, I think I would lose my best friend..."
"Yeah, I think so.."
"Well, thanks for coming back as my best, today" :")



On a midnight in the middle of July,
si bintang 



Ps: I'm not sure about my English.. If there are some mistakes, please feel free to correct me :D






25 April 2015

Anak “Luar Negeri”

Sejak TK sampai dengan saat ini, saya belum pernah mencicipi pendidikan resmi di sekolah negeri. Saya selalu bersekolah di sekolah “luar negeri” alias sekolah swasta. Entah kenapa orangtua saya nggak pernah masukin saya ke sekolah negeri, dan saya juga nggak milih mau masuk sekolah negeri, mungkin karena kebiasaan.

Di masa kuliah ini, saya benar-benar menjadi anak “luar negeri”. Bukan, saya bukan kuliah di luar negeri. Saya cuma nunut urip di negeri orang selama sebulan. KKN alternatif gitu deh. Program ini namanya Service Learning Program (SLP). Saya dan empat teman beserta satu dosen menjadi delegasi USD untuk program ini pada Agustus 2014.

we are Indonesian delegates!
Pak Chosa - Bagas - Indri - Enno - Vania - Adhi
Bagi saya, ikut SLP adalah iseng-iseng berhadiah. Dulu di semester awal saya memang sempat “mupeng” (mupeng: muka pengen) ikut SLP kayak Mbak Achi, yang sharing pas Insadha, dan Mas Putra, yang saya dengar kisahnya di semester tiga. Tapi setelah itu saya lupa.

Akhir 2013, beberapa teman diajak bergabung ke kepanitiaan SALT, post-project SLP 2013. Saya tahu, tapi saya juga nggak mengajukan diri buat ikut. Saya juga nggak datang sosialisasi program SLP. Bahkan, saya nitip minta tolong diambilin formulir pendaftaran SLP ke seorang teman saya. Ngumpul formulir yang udah diisi ke kantor WR IV pun saya nebeng teman saya itu (thanks, Retha!). Nah, ketika akhirnya saya keterima, saya kaget dan nggak percaya. Maklum lah, waktu wawancara seleksi saya bahkan sampai tiga kali bilang, “Sorry, my English is so bad". Tiga kali lho sodara-sodara. Tiga kali!!! *diulang biar dramatis* 

Pertemuan demi pertemuan dilakukan, dan ke-geje-an (geje: nggak jelas) nggak pernah absen dari tiap pertemuan kami. Dari mulai perkenalan, mengisi form pendaftaran, bahas tiket dan visa, pembekalan, bahas pre-project sampai pelaksanaannya, bahas segala macam persiapan keberangkatan, latihan cultural performance, bikin university presentation, sampai keberangkatan ke Cagayan de Oro, Filipina dan hidup sebulan di city of golden friendship itu. Ketika pulang dari Filipina pun kami masih dihadapkan pada post-project. Baru bulan Februari lalu kami resmi dinyatakan sebagai alumni SLP. Bahkan setelah kami alumni dan kumpul lagi, kami pun masih tetap "geje" hehehe...

Bagi saya pribadi, banyak sekali pelajaran yang saya dapat. Banyak “first thing” yang saya alami selama hampir setahun menjalani SLP. Pertama kali wawancara pakai bahasa Inggris. Pertama kali ke daerah Jogokariyan. Pertama kali mungutin sampah di seputaran UGM. Di SLP ini juga, pertama kalinya saya nggak langsung “kabur” setelah pertemuan, tapi memilih untuk menghabiskan quality time bareng teman-teman, entar sekedar makan atau makan plus cerita-cerita sampai lamaaaa banget. Pertama kalinya saya nongki-nongki di indiecology, prada, bittersweet, LUK, kedai oak, makan di Annisa, warung se’i, babi lissa *kemudian melirik ke perut yang bergelambir*

Bagi keempat teman saya, ini adalah pertama kalinya mereka ke luar negeri. Ini pertama kalinya juga bagi saya ke luar negeri sendirian. Dalam penerbangan Jakarta-Manila, pertama kalinya saya ngicipin red wine *cie gaya* dalam penerbangan internesyenel itu, saya terkagum-kagum *ndeso*

Menginjakkan kaki di Cagayan de Oro, pengalaman "geje" pun tidak lepas dari kami, koper seorang teman ketinggalan di Manila. Untuk pertama kalinya saya tinggal serumah dan sekamar dengan orang-orang dari Jepang, Korea dan Filipina. Pertama kalinya saya nyuci baju pakai tangan *ini serius, saya memang cewek gagal*. Pertama kalinya saya belajar bahasa Bisaya, yang bahkan sebelumnya saya nggak tahu kalau ada bahasa itu. Pertama kalinya saya sarapan dengan menu ati dan pare, padahal dua-duanya saya nggak doyan, tapi ya harus tetap makan. Pertama kalinya saya naik jeepney dan motorela, and I miss them. Pertama kalinya saya main zipline (semacam flying fox), snorkeling dan rafting. Pertama kalinya saya lihat teman saya (agak) mabuk. Pertama kalinya saya tahu bahwa “gratis” adalah kesukaan semua orang, nggak cuma orang Indonesia. Pertama kalinya saya lihat babi panggang utuh, oh my I really miss lechon. Pertama kalinya saya makan pakai tangan dan dikagumi teman dari Jepang, bahkan diminta ngajari mereka *lucu tenan iki*

Pertama kalinya saya “ngrasani” orang dengan bebas, bahkan sambil teriak-teriak, pakai bahasa Indonesia dan bahasa Jawa HAHA. Pertama kalinya saya dan teman-teman tampil (semacam) nari dengan super "geje" hehehe. Pertama kalinya jalan-jalan di mall bareng teman-teman dari berbagai negara, saya doang orang Indonesia, terus ada dua teman dari Jepang hilang terus kita halo-halo dari bagian informasi HAHA. Pertama kalinya tau lagu “dolanan” dari Jepang. Pertama kalinya ngajakin anak-anak SD meditasi *luar biasa ya...* dan pertama kalinya ngajak ibu-ibu main ice breaking, mandunya pakai bahasa Inggris pula.

ngajakin ibu-ibu pijet-pijetan :p
Ketika post-project, pertama kalinya saya mungutin rokok di kantin Mrican dan Paingan. Pertama kalinya saya ngurusin desain dan cetak poster dan stiker *maklum, nggak pernah jadi pubdekdok selama ikut kepanitiaan*. Pertama kalinya ngobrol sama pak rektor, bahkan becanda dengan beliau.

Sekarang setelah beberapa bulan resmi menjadi alumni SLP, saya baru menyadari beberapa hal yang berubah dalam diri saya. Yang jelas, saya agak sedikit lebih pede (pede: percaya diri) dengan bahasa Inggris saya. Ya walau masih belum jago-jago amat, tapi saya merasa ada peningkatan lah. Ya gimana enggak, lha sebulan kudu ngomong pakai bahasa Inggris terus je…

Selain itu, ada beberapa skill saya yang meningkat, misalnya mencuci baju dan angkat beban. Angkat beban ini maksudnya ketika saya dan teman-teman berangkat maupun pulang, saya mengangkat sendiri koper saya yang beratnya sekitar 17 kg itu *aku setrong*. Saya selalu ingat wanti-wanti dari Ms. Tata sebelum kami berangkat. Katanya, sebisa mungkin kita harus bertanggung jawab atas diri kita sendiri, jangan menggantungkan diri sama orang lain, jangan ngerepotin orang lain.

Satu perubahan lain yang saya temukan akhir-akhir ini adalah saya merasa menjadi orang yang lebih santai meski dalam keseriusan. Dulu saya orangnya sangat serius, saklek, dan nggak terlalu menyenangkan dalam hal relasi *pasti ada yang ngangguk-ngangguk atau senyum-senyum sendiri baca bagian ini*. Tapi karena sering bergaul dengan makhluk-makhluk "geje" entah apa di SLP ini, saya jadi lebih suka gojeg dan berusaha untuk bikin suasana jadi lebih segar. :)

Nggak kerasa, SLP 2015 is coming! Pendaftaran udah dibuka lagi dan udah banyak yang tanya-tanya tentang SLP. Yakin deh, nggak akan rugi ikut SLP! Banyak bangeeet hal yang bakal didapat, yang mungkin efeknya baru kerasa setelah sekian lama menjalani SLP itu. Nggak pede sama kemampuan bahasa Inggris? Nggak masalah! Saya ini saksi hidup betapa bahasa Inggris saya kacau balau, tapi toh tetap lolos dan survive. Kalau memang kamu pengen nyoba, coba lah! Nothing to lose. Kesempatan nggak dateng dua kali lho. Daripada besok penasaran, mendingan dicoba aja sekarang.


Ditunggu yaaa! See you, SLPers batch 8! :D

SLPers batch 7 :)

setelah "reuni" di ulang tahun Pak Chosa,
anak "luar negeri",
one of SLPers batch 7,

Stella Vania Puspitasari

28 Januari 2015

60 Th Sanata Dharma: Keseimbangan Cerdas dan Humanis

Tidak seperti kebanyakan anak SMA yang pertama-tama ingin mencoba menembus keberuntungan menjadi mahasiswa PTN, sejak awal saya sudah menetapkan satu pilihan: Universitas Sanata Dharma. Psikologi. Saya lupa persisnya mana yang lebih dulu saya pilih, universitasnya atau program studinya. Tapi satu yang saya ingat betul, 25 Oktober 2010, saya resmi diterima di Fakultas Psikologi Universitas Sanata Dharma. Salah satu hari bersejarah bagi saya.

Meski mantap dalam memilih, tapi saya gentar ketika menjelang hari “ospek” yang dikenal dengan Inisiasi Sanata Dharma (INSADHA). Ada kekhawatiran mengenai perlakuan dari senior, hukuman, dan hal-hal mengerikan lainnya. Namun, hal yang ternyata terjadi justru sebaliknya. INSADHA menyambut kami, para mahasiswa baru, dengan pelukan hangat, seolah hendak membuktikan penggalan syair hymne universitas, “Seluruh Sanata Dharma satu keluarga”.

Inisiasi yang penuh kekeluargaan juga saya rasakan dalam inisiasi fakultas, Akrab Psikologi atau AKSI. Dan setelah saya selama beberapa tahun menjalani hidup di USD, saya tahu satu hal yang mungkin bisa dijadikan alasan betapa kekeluargaan menjadi sangat penting di USD. Rektor pertama Sanata Dharma, Romo Nikolaus Driyarkara, SJ pernah mengungkapkan sebuah semboyan “homo homini socius”, atau “manusia adalah kawan bagi sesamanya”.

Tidak heran juga jika semboyan USD adalah “cerdas dan humanis”. Bukan hanya soal menjadi cerdas saja, tapi juga humanis. Humanisme yang cerdas. Ada keseimbangan di antara keduanya. Antara logika dan nurani. Rasio dan rasa.

Tidak lolos seleksi sebuah unit kegiatan fakultas membuat saya di semester pertama cukup puas menjadi mahasiswa golongan “kupu-kupu” (kuliah-pulang kuliah-pulang). Hampir setiap hari, saya berangkat dari rumah pukul 6 pagi dan pukul 2 siang saya sudah duduk manis di rumah lagi, serasa SMA. Namun seiring mengalirnya waktu, saya pernah menjadi mahasiswa golongan “kura-kura” (kuliah-rapat kuliah-rapat). Saya mengikuti berbagai kepanitiaan dan organisasi, salah satunya Badan Eksekutif Mahasiswa Fakultas (BEMF) Psikologi 2013/2014 yang walaupun bekerja secara professional, tapi semangat kekeluargaan sangat kental terasa. Dalam rangka kepanitiaan dan organisasi, saya pun pernah jadi mahasiswa golongan “kuda-kuda” (kuliah-dagang kuliah-dagang) demi mencari dana untuk beberapa acara, dari mulai Ekaristi Kaum Muda (EKM), Psychology Festival (Psychofest) sampai bakti sosial. Tapi seperti layaknya mahasiswa pada umumnya dengan tugas yang bertumpuk, saya pun pernah menjadi mahasiswa golongan “kuper” (kuliah-perpus). Dan karena keseimbangan “cerdas” dan “humanis” tadi pun, saya pernah menjadi mahasiswa golongan “dara kuper” (dagang-rapat-kuliah-perpus) sekaligus. Masa-masa di mana saya jauh lebih sering menghabiskan waktu di kampus daripada di rumah.

Akan tetapi semua itu bukanlah masalah yang begitu berarti bagi saya secara pribadi. Sekali lagi, itu karena semangat kekeluargaan yang saya rasakan di USD. Dari Pak Gi, karyawan Biro Layanan Umum yang selalu ceria dan baik hati siap sedia membukakan akses lift pada para mahasiswa. Dari para outcore, mbak dan mas cleaning service yang siap sedia membantu angkut-angkut dan bersih-bersih. Juga dari Pak Pur, bagian keamanan, yang ramah. Dari teman-teman sesama mahasiswa dan bapak-ibu-romo-suster dosen serta karyawan. Dari Bu Dewi, wakaprodi Psikologi yang selalu siap sedia diajak berdiskusi dan datang ke acara-acara kemahasiswaan. Dari Mas Anton dan teman-teman Campus Ministry yang membuat “Indonesia mini” di USD makin terasa. Dari Pak Chosa dan teman-teman Service Learning Program (SLP), yang benar-benar menjadi keluarga karena kami bersama saat tinggal di negeri orang selama satu bulan sebagai delegasi dari USD. Juga dari Miss Tata, Mbak Risca dan teman-teman “geje” di Kantor Wakil Rektor IV yang lebih sering saya sebut “mabes”.

Semangat kekeluargaan yang saya rasakan di USD ini juga memacu saya untuk menyebarkan semangat yang sama ke semakin banyak orang, tidak hanya di sekitar USD. Menjadi lebih dan lebih lagi. Semangat magis. Selama hampir delapan semester di USD, saya sampai pada satu titik bahwa menjadi mahasiswa berarti bisa menemukan relevansi antara ilmu dan realita, bagaimana ilmu membantu kita melihat dan berusaha memecahkan permasalahan di kehidupan nyata, atau sebaliknya, bagaimana melihat realita berdasarkan kacamata ilmu. Itulah keseimbangan antara cerdas dan humanis.

Semoga di usia intannya ini, Sanata Dharma menjadi semakin bijaksana layaknya seorang kakek, selalu bersemangat layaknya orang muda, sekaligus penuh keingintahuan layaknya anak kecil. Semoga juga semangat kekeluargaan dan “menjadi kawan bagi sesama” makin terasa, baik di dalam maupun luar kampus. Selamat 60 tahun, Universitas Sanata Dharma! Ad Maiorem Dei Gloriam!
baksos psikologi 2013
"Ibu Cerdas, Keluarga Bahagia"
baksos psikologi 2014 (Psycho-Care)
"I Know Who I Am, I Know My Passion, I Can Determine My Future"

Rabu, 28 Januari 2015
meramaikan #60tahunUSD

Stella Vania Puspitasari (on the way to S.Psi.)

(ps: tulisan yang sama juga dimuat di web Campus Ministry USD)