selain cerita si bintang

Tampilkan postingan dengan label Pingit. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Pingit. Tampilkan semua postingan

08 Oktober 2016

#50thPingit: Berjuang Bersama Melayani

Berjuang Bersama Melayani. Frasa ini dipilih sebagai tema perayaan ulang tahun Perkampungan Sosial Pingit ke 50. Pesta emas, kata banyak orang. Tema ini pertama kali terlontar di Raker pas valentine 2016, terimakasih Mas Win!
Datang ke Pingit pertama kali pada 2010 dan mulai aktif sejak 2013 membuat saya merasa frasa “Berjuang Bersama Melayani” sungguh relevan dengan pengalaman saya di Pingit. Dari frasa itu sebenarnya bisa dibagi dua perjuangan, yakni “berjuang bersama” dan “berjuang melayani”.

Berjuang Bersama
Sebagai seorang introvert yang pendiam dan pemalu (cieee), saya akui saya punya masalah dengan menjalin relasi sosial dengan orang lain. Sejak pertama kali saya main ke Pingit pada 2010, saya agak malu. Inferioritas saya muncul. Saya mah apa dibanding kakak-kakak volunteer yang hebat banget di masa itu. Syukur pada Allah, waktu itu saya sempat diajak makan setelah Pingit selesai, di nasgor Teh Ida, jadi kekakuan mulai mencair. Apalagi, di luar Pingit kami juga beberapa kali ketemu dan ngobrol. Meski gitu, ketika di Pingit, tetep aja saya ngerasa minder.
Ketika saya mulai rutin aktif tahun 2013, sifat saya yang pendiam, pemalu dan minderan ini tetep nggak hilang. Waktu itu saya mikir, mungkin karena saya masih baru kali ya, jadi nggak pede. Eh, ternyata sampai sekarang nggak hilang lho perasaan itu, padahal sekarang saya udah termasuk golongan tua di Pingit (hiks…)
Dulu, sekitar tahun 2013-2014, setiap saya mau turun ke Pingit dari masjid, saya selalu deg-degan nggak karuan. Cemas luar biasa. Entah apa yang dicemaskan, ya cemas mau ketemu anak-anak, ya cemas mau ketemu para volunteer.
Saya pun merasa saya nggak punya banyak teman akrab yang bener-bener akrab di Pingit, maksudnya terus jalan-jalan atau curhat-curhat di luar urusan Pingit, kecuali para frater atau mantan fraternya HAHAHAHA :))
Apalagi, saya adalah orang yang cenderung task oriented. Saya jarang ikut nongkrong di angkringan setelah Senin-Kamis di Pingit, jadi selain kurang bisa cepet akrab sama temen-temen, saya juga kurang update gosip deh hahaha :p
Ketika outing, baik volunteer doank atau bersama warga, saya juga beberapa kali merasa “sendiri di tengah keramaian” (cie kek lagu aja nih)
Beberapa waktu belakangan, saya makin merasa “berjuang bersama” ini tidak hanya perjuangan saya, tapi juga perjuangan para volunteer yang lain. Semoga saya salah, tapi saya merasa ada beberapa gap yang terjadi antara volunteer, entah lama-baru, grup A dan B, entah apa lagi yang memisahkan. Sekali lagi, semoga saya salah dan itu hanya perasaan saya saja, seorang yang memang pendiam dan pemalu.
Usaha untuk berjuang bersama ini terasa saat kegiatan Senin-Kamis selama satu semester, maupun dalam menyiapkan rangkaian pesta emas Pingit. Beberapa contoh yang pernah terjadi misalnya ada volunteer yang “menghilang” karena harus mengerjakan sesuatu yang lebih urgent bagi hidupnya, entah skripsi (kayak saya), bekerja, atau yang lain. Lalu ada volunteer yang nggak datang saat harusnya mengisi kelas atau area bersama tanpa pemberitahuan sebelumnya. Volunteer yang menyiapkan bahan ngajar hanya menyiapkan sendiri, sampai volunteer yang lain yang masuk kelas nggak kegiatan hari itu mau apa dan bingung mau bantu apa (curhat banget ya saya, maaf ya saya kurang koordinasi haha). Pas kerjain sesuatu, bahkan pas Pingit circle atau pas raker cuma ngomong seperlunya, jadi ada kesan garing dan kurang kenal satu sama lain (lagi-lagi saya ngaku saya pelakunya hehe). Mungkin itu masalah klasik yang tidak hanya terjadi di Pingit. Tapi tetap saja ini menjadi bukti bahwa untuk bersama, perlu perjuangan.
Perjuangan untuk “bersama” ini sebenarnya nggak hanya terjadi di antara para volunteer, tapi juga antara volunteer dengan warga dampingan maupun warga kampung, antara volunteer dengan anak-anak, antara sesama warga maupun sesama anak. Pernah suatu kali volunteer mau ngajak anak tampil nari. Anak-anak sudah latihan dan ketika hari H, anak-anak dijemput. Tapi ada salah satu orangtua yang sempat tidak mengizinkan anaknya pergi. Setelah dikasih penjelasan, akhirnya orangtua itu mengizinkan.
Lalu yang sering terjadi juga para warga dampingan melakukan sesuatu yang tidak sesuai semangat dan gerak bersama. Mulai dari hal yang sederhana kayak nggak melaksanakan tugas yang dikasih (menyiram tanaman atau menyapu halaman Pingit), sampai hal yang kompleks kayak berantem atau selingkuh sama warga lain yang membuat orang itu diusir dari Pingit. Macem-macem banget deh ceritanya.

Berjuang Melayani
Jelas, melayani adalah sebuah perjuangan. Nggak mudah untuk memberi sesuatu pada orang lain, di saat kita sendiri merasa kekurangan. Nggak mudah untuk melakukan sesuatu di luar kebiasaan kita, di luar zona nyaman kita. Nggak mudah untuk bertemu orang-orang baru, kaum pinggiran, yang berbeda budaya dengan kita, yang cara berpikirnya sama sekali berbeda dengan cara berpikir kita. Tapi di sisi lain, nggak mudah juga untuk memberi dengan tulus, tanpa mengharap imbalan, tanpa keinginan untuk dianggap baik, tanpa pujian.
Beberapa tahun lalu, ada salah satu anak Pingit yang sempat nggak mau masuk kelas. Dia naik dari kelas TK ke SD kecil, tapi di SD kecil malah nggak mau masuk kelas, padahal paling rajin di TK. Ada aja alasannya, tapi alasan yang paling sering dipakai sakit perut. Akhirnya dia pun belajar di perpus atau di ruang evaluasi, saya temani. Lama-lama, dia malah jadi agak tergantung gitu sama saya. Sebenarnya enak lho merasa ditergantungi kayak gitu, semacam merasa dibutuhkan hehehe tapi kasihan anaknya. Maka akhirnya saya sadar dan minta volunteer lain bergantian menemani dia belajar. Sekarang anak itu sudah mau masuk kelas, mau ikut tampil, dsb. Senang sekali lihatnya, meski nggak mudah, karena saya sadar saya punya kecenderungan untuk ingin selalu jadi yang utama :D
Bagi saya sendiri, frasa “berjuang melayani” sungguh perjuangan yang nyata. Saya belajar untuk menekan ego saya sendiri, untuk mengapresiasi orang lain yang sungguh jauh lebih keren dari saya. Setiap kali raker, saya sebenernya sedikit banyak merasa minder, karena para volunteer semakin hari punya ide dan semangat yang keren bangetttt! Saya jadi ngerasa kayak butiran upil yang dipeperin di bawah meja gitu ‘3’)
Maka, sebutan ‘bunda Pingit’ yang disematkan ke saya, walau bercanda, itu sedikit banyak jadi beban buat saya. Saya tidak merasa cukup pantas untuk menerima sebutan itu, yang saya lakukan di Pingit itu masih sedikit banget deh dibanding beberapa teman volunteer yang lain. Kayaknya saya cuma menang lama doank sih, bukan menang karya hehe

Beberapa waktu lalu, ketika menyusun tulisan ini, saya ditanya, apa manfaat jadi volunteer di Pingit. Jujur saya bingung mau jawab apa hahaha… Tapi perjumpaan dan dinamika saya bersama para warga, anak-anak dan para volunteer, termasuk para “legenda” Pingit seperti Opa Kieser dan Bu Sum, membuat saya terus bertanya, apa lagi yang masih bisa saya lakukan. Maka saya pernah mencoba macem-macem di Pingit, dari mulai masuk kelas TK, mengurus perpustakaan, membantu para warga, mengajar di kelas khusus, mengantar ke panti asuhan, mengantar anak-anak lomba atau tampil, sampai sekarang membantu di humas. Tapi di sisi lain, saya sekaligus belajar untuk berani bilang stop, supaya volunteer lain bisa mencoba dan berkembang, supaya semakin banyak pribadi-pribadi penuh kasih yang berbagi bersama anak-anak, para warga dan para volunteer di Pingit.

Sekali lagi, selamat ulang tahun ke 50, Perkampungan Sosial Pingit. Terimakasih untuk segala pengalaman dan pelajaran untuk berjuang bersama melayani. Semoga semakin keren, semakin oke, semakin asyiiikkk~

foto diambil dari FB Pingit Berbagi. kuenya enak banget sumpah!


Seminggu pasca #MalamPuncak #50thPingit #PestaEmasPingit
Sabtu, 8 Oktober 2016


mbak mimin

01 Januari 2016

little stories in 2015

Hello folks! Long time no see :D
Firstly I hope you had merriest Christmas and happiest new year! 
Just like the other people (okay, I know I am mainstream hehe) I tried to find out what my best nine photos in Instagram. And now I want to share it with you.
1. In 2015, I made at least two big decisions, and one of them was cut my hair. That's my first time having a short hair, just like when I was 4 years old hahahaha 
That's a "beautiful mistake" I think, because I didn't plan to cut that short, but I love my new hairstyle, look so fresh, isn't it? :D

2. Just like the previous years, in 2015 I engaged to Jesuits' ordination. But I think my engagement last year was special because almost all of the new Fathers is my friend. So last year I attended 5 first masses (actually there were 7 new Fathers, but I couldn't attend all of the first masses). In the photo, that was Romo Sani, one of the most "care pol" person I've ever met :p

3. Well yeah, in 2015 I (still) had good times with PAPITA, it's already 13 years, anyway. WOW! Papita is not everything, but everything could happen in Papita #eaaa

4. In 2015 I also still engaged in Perkampungan Sosial Pingit. I learned a lot, not only about how to teach or how to be more empathetic, but I also learned to struggling with myself, my feelings, my thoughts, my idealism etc. In short, my engagement in Pingit help me to develop as a person. Anyway, this year, 2016, Pingit will be 50 years old! #PestaEmasPingit

5. Another #TourToTheTemples session. That was a moment before sunset at the highest temple in Jogja, Candi Ijo.

6. I had so much fun with my nephews and nieces in 2015! Well, that photo taken just a day after a big decision I made in 2015 hehe :D in 2015, I had a chance to literally took care of them for several days and nights hehehe I am very grateful to be an aunt for cute, funny, creative kids. I also had a new cousin and two new nephews last year, so I am an aunt for 8 kids! Hahaha :D

7. One of my best friend said to me that family will always love you unconditionally, always accept you and give you support, no matter what. In 2015, I really learned to find and give meaning to the words "family". And yeah, I couldn't be happier to be a part of this family. :)

8. Joining Campus Ministry's Media and Publication team was another highlight of my 2015. I met many great people (including my "twin", Jokpin), I learned a lot about organizing an event, I learned a lot through the conversations, I learned a lot about life. 

9. One of 'our job' as media and publication team was share the stories about some Sanata Dharma's students who bike from Jogja to Bali, to campaign about autism and mangrove. Of course I wasn't bike from Jogja to Bali, but I learned from their spirit to do something for others. Anyway, in 2015, I also (actually I am forced) to learn how to bike HAHAHAHA :p 

Yeah, for me 2015 is an epic year. I had so many new things, including new status #EH :))
I think my biggest lesson learned in 2015 was "following my deepest heart". You can always use mask, you can always looks good in front of other people, but your heart will never lie. Whatever the consequences, just face it. 
Thank you for everyone who helped me "find myself" in 2015, there are so many BEST people around me, I can't mention them one by one, but I always whisper their name on my prayers ;)
I'm sure that they are present from God. Prayers, joys, hugs, ears to listened to my stories, even tears we shared together, that's really mean to me. I am so blessed. I hope our friendship also give something that meaningful to you, guys! ;)

Once again, happy new year! Hope you will have a great journey in 2016.

Emmm...
I just had a wish for 2016: get my bachelor degree. What's next? Well, just wait what my deepest heart say :p


Happy holidays!

First day of 2016,
Stella Vania Puspitasari (soon to be S.Psi.) :D

31 Desember 2013

cerita sepanjang 2013 :)

Seorang teman berkata, "Salah satu tanda kedewasaan seseorang adalah berani meninggalkan kenyamanan."
Tahun 2013 ini bagi saya merupakan suatu proses menjadi semakin dewasa. Nggak cuma bagi saya, tapi juga beberapa orang di sekitar saya. Kakak dan Akang tahun ini lulus dan mendapatkan kerja, meninggalkan saya di Jogja yang berhati nyaman ini, pun dengan Mas Frater Surya yang mendapat tugas baru di Micronesia. Mereka adalah beberapa sosok yang berproses menjadi lebih dewasa tahun ini. 

Baiklah, mari merinci saja apa aja sih yang udah terjadi sepanjang 2013 ini :D

JANUARI
Kakak lulus! Yeay! Akhirnya pada semester ke-12, Kakak berhasil lulus juga :D
Dan bulan ini juga, saya sekeluarga untuk pertama kalinya jalan-jalan (bareng-bareng) ke luar negeri. Perjalanan yang agak  absurd ke Singapore.
liburan awal tahun yang manis :D


FEBRUARI
Kakak wisuda :D 
bahagiaaaa :D
10 Februari ada #EKMDIY, Ekaristi Kaum Muda dan Pentas Seni se-Kevikepan DIY. Kebetulan, saya jadi co.liturgi (lagi, untuk ke sekian kali). Bedanya kali ini saya bekerja dengan orang-orang baru yang kece banget! *salim sama Mas Yosi, Mas Heru, Mbak Iyas, Mbak Ela, Erika, Bertha, Mas Edi, Denny, Mas Eko, Mas Ayok, Mbak Ellen dan semuamuamuanya* :D

MARET
Menghadapi beberapa #AkuKuduPiye moment bersama temen-temen EKM, khususnya buat Ekaristi Paskah Kaum Muda. Terima kasih buat dinamikanya, temans! Terima kasih juga buat Romo Surjo, Romo Fajar dan Frater Sani yang membantu kami untuk menghadapi #AkuKuduPiye moment ini :D
tampang-tampang #AkuKuduPiye
APRIL
Kesibukan di bulan-bulan sebelumnya dan UTS bikin saya butuh menyegarkan pikiran. Maka, akhirnya setelah sekian lama, saya jalan-jalan bersama Akang. Self-rewarding gitu deh ceritanya :)

MEI
Seperti biasa, bagi saya, bulan Mei selalu penuh cerita. Bulan Mei ini saya berkesempatan untuk mengunjungi RSJ Grhasia, tepat ketika saya menginjak usia kepala dua.
PsyPals!
Oya, seminggu sebelumnya juga ada makrab pergantian pengurus EKM. Bertha dan saya lengser sebagai kordum dan korlit Tim EKM Kotabaru. Rasanya campur aduk. Seneng, karena berhasil menyelesaikan tanggung jawab dengan segala jungkir baliknya. Ada juga perasaan cemas, apa bisa saya benar-benar melepas EKM, saya "terlalu cinta" sama EKM. Tapi ya namanya juga hidup, kita nggak bisa selama-lamanya menggenggam sesuatu terlalu erat. 
Tapi meski sudah lengser di Tim EKM Kotabaru, di bulan ini saya juga bikin EKM lagi, kali ini EKM Psikologi di Gereja Pringwulung. Tempat baru, cara kerja baru, orang-orang baru, dan ini berarti adalah tantangan baru juga bagi saya. 
Three Loves One Life :)
JUNI
Kak Dea, salah satu kakak sepupuku, nikah! Kak Dea nikah di Jogja, dan nginep di rumah. Saya kebagian ikut rempong sebelum dan sesudah the day, seru ternyata :D
Event ini juga berhasil mengumpulkan (hampir semua) keluarga Esnawan, termasuk Kak Kla-Kak Steve-Kayden dari Aussie dan Kak Istas-Tomoyo dari Jepang :D
Esnawaners :D
Bulan ini juga banyak acara di Jogja, salah satunya FKY. Saya pun berhasil datang ke sana sama seorang tamu spesial: Omor! :D
Dan, Akang berhasil pendadaran bulan ini juga yihaaa :D
cieee gelarnya "S.T." :P
JULI
Pergantian pengurus Papita. Saya yang (ceritanya) jadi pendamping Papita bersama #GenkKepo (baca: Frater Sani, Angel, Febri) bantuin pergantian pengurus Papita. 
Juli juga identik sama Tahbisan Jesuit. Tahun ini, beberapa teman saya berubah sebutan dari Frater jadi Romo. Di antaranya Romo Fajar, Romo Surjo, Romo "Eyang" Windar, Romo Vico, Romo Andri :)

AGUSTUS
Akang wisuda :D
horeeee :D
SEPTEMBER
Ini bulan yang luar biasa banget. Serius! Di hari pertama, saya sudah ikut Raker Pingit.
Tiap tahun, Psikologi punya gawe sepanjang bulan September, namanya Psychofest. Tahun ini untuk pertama kalinya saya ikut kehebohan Psychofest dengan jadi panitia. Di sinilah proses "belajar menjadi lebih dewasa" saya mulai. Saya bergabung dengan kepanitiaan yang baru, dan lewat Psychofest ini saya jadi makin aktif di kampus, di tempat baru. Ini berarti pula saya mulai melangkah keluar dari "zona nyaman" saya, Mas Anto tercinta.
Bulan ini juga saya mulai LDRan sama Kakak dan Akang karena keduanya kerja di Jakarta :") #JamaahLDRiyah bersatu!

OKTOBER
Setelah heboh-heboh Psychofest, saya kira saya bakal bisa kembali fokus ke kuliah, tapi ternyata keriuhan yang lain sudah menanti. 
9 Oktober, ulang tahun si Yogyaswara istimewa. Sayangnya  kali ini saya tidak bisa menemaninya merayakan ulang tahun ke 23nya.
sederhana sekali :)
Awal Oktober juga ada ulang tahun Pingit ke 47 :D seru sekaliiiii! Ada jathilan, baca puisi, nyanyi-nyanyi dan lain-lain :)
Opa Henk dan anak-anak Pingit :D
Tanggal 13 Oktober, pendamping Papita mengadakan #PelantikanPapita, setelah sekian tahun tidak ada acara ini :D
para pendamping papita :D
Pertengahan Oktober, saya "diutus" oleh pihak fakultas untuk pergi ke Surabaya, ikut Olimpiade Psikologi 2. Karena persiapan yang mepet dan masih kepikiran UTS, jadi kami nggak menang deh. Tapi dari pengalaman ini saya belajar banyak hal, juga kenalan sama temen-temen baru :D
yang penting pose deh :")
Akhir Oktober, ada Baksos Psikologi di sekitaran Paingan. Dan tepat pada hari Sumpah Pemuda, ada pelantikan BEMF Psikologi 2013/2014, dan saya bergabung dengan BEMF menjadi co. SOSRO (Sosial Rohani), suatu bidang yang (katanya) "vania banget". Hari itu juga Tim EKM Kotabaru ulang tahun ke 13 :D
Hari terakhir Oktober juga puncak perayaan ulang tahun Kolsani ke 90. Sungguh bulan yang istimewa!

NOVEMBER
Bulan ini tidak kalah sibuknya dengan bulan September dan Oktober. Mengemban tugas baru di BEMF berarti juga harus menyiapkan strategi setahun ini mau ngapain aja. Bulan ini banyak yang kami lakukan, mulai dari konsolidasi, makrab BEMF dan OAT di akhir bulan. 
Di awal bulan saya juga "menjajal" sesuatu yang baru, yakni datang ke mangafest :D
Bukan tanpa alasan saya datang ke acara jejepangan ini. Saya datang karena #ApingAnitJualan! Datang ke acara ini membuat saya mengenal orang-orang baru yang kece-kece :)
bareng Om Lemmu :D
Bulan November (lagi-lagi) ada ekaristi kaum muda yang diberi judul Eucharist Youth Movement (EYM) di Karang Klethak. Bulan ini juga ada Rekoleksi Papita :D

DESEMBER
Bulan terakhir di 2013 ini saya isi dengan .... UAS #yeahmahasiswa
Seperti yang sudah pernah saya tulis, ada pameran media massa, dan seabrek laporan serta tugas lainnya yang mewarnai kehidupan mahasiswa semester 5 yang selo
Setelah UAS, saya kembali ke haribaan Tim EKM Kotabaru untuk mengacaukan membantu Ekaristi Natal Kaum Muda. 
Tapi satu hal yang menarik di penghujung 2013 ini, saya kembali ke kampus untuk membantu Reuni Akbar USD. Sungguh suatu momen berharga yang membuat saya belajar dan bertemu banyak orang baru, termasuk alumni yang pernah menjadi Ratu Kampus :D
Dan di hari terakhir tahun ini, saya pun tidak berniat menghabiskannya di Mas Anto seperti tahun-tahun sebelumnya :)

Yeah, begitulah. Tahun 2013 memang suatu tahun bagi saya untuk belajar keluar dari zona nyaman, untuk mencoba sesuatu yang baru dan mengembangkan diri dengan cara lain. 
Semoga di tahun 2014 saya bisa semakin dewasa. Resolusi saya masih sama dengan tahun-tahun sebelumnya, tapi semoga resolusi ini bisa benar-benar saya wujudkan, nggak hanya di mulut saja. 

Semoga tahun 2014 juga menjadi tahun yang luar biasa bagi kita semua. Selamat menyongsong 2014! :D

31 Desember 2013
15.05 WIB
Yogyakarta yang Berhenti Nyaman (semoga hanya untuk sementara)

Stella Vania Puspitasari


ps: kalau malam tahun baruan kena macet, sabar saja, nggak usah marah-marah, kasian 2013 ditinggalin dengan marah-marah. trus kalau malam tahun baruan di mana pun, jangan buang sampah sembarangan ya. mari sambut 2014 dengan hal-hal baik, dan semoga hal-hal baik juga yang datang pada kita! :D

01 September 2013

kekepoan yang "menular"

hai blog-world! :D
hari ini awal bulan yang baru, September ceriaaaa, semoga aja beneran jadi bulan yang ceria ya :)

seminggu ini saya sudah masuk kuliah. semester lima. kata dosen dan kakak angkatan, ini adalah salah satu semester di mana saya akan merasakan peak experience. masa-masa mulai jenuh dengan rutinitas kuliah dan materinya makin abstrak, kalau nggak bisa dibilang makin susah. tapi ya semoga semester ini bisa saya taklukkan dengan mantap :)

dua minggu sebelum semester ini resmi dimulai, saya sudah setiap hari ke kampus untuk mengurusi macem-macem hal. seminggu pertama masuk kuliah, agenda saya padat, bahkan ada satu hari di mana saya seharian di kampus. padahal ini baru awal semester. sampai-sampai jarang sekali saya ketemu mama papa di rumah. 
padahal, minggu ini saya "hanya" membagi waktu untuk kuliah, kepanitiaan, Akang, dan Pingit. itu pun nggak full, artinya masih ada agenda Pingit yang saya bolos, nggak nemenin Akang makan-makan, nggak ikut rapat, dan lain-lain. padahal masih ada beberapa hal yang nggak saya urusi minggu ini, misalnya jalan-jalan sama mama papa, Papita, dan EKM. me-time (baca: browsing nggak jelas sambil tiduran di rumah) itu rasanya mewah. minggu pertama masuk kuliah sudah hectic. super sekali ya :D *fotocopy diri mana fotocopy diri*

kalo pinjem istilahnya Mbak Anne, salahmu dewe kepo kok di mana-mana?  *self getok*
buat saya, selama saya bisa menjalaninya dengan sebaik mungkin, selama saya nggak (sering-sering) nyusahin diri sendiri, selama saya bisa menciptakan simbiosis mutualisme, nggak apa-apa sih. *self defense*   *rasionalisasi*

weekend ini, ada yang super banget: RAKER PINGIT. bukan, raker itu bukan perut keroncongan trus makan jadi sembuh. itu namanya laper. raker itu juga bukan yang bunyi keras buat bangunin orang tidur. itu namanya weker. raker itu adalah rapat kerja. sebuah agenda wajib tiap semester untuk bahas apa aja yang bakal dijalanin selama satu semester ini. kenapa saya ikut raker? jawabannya sederhana, karena saya kepo. ini serius, saya bukan care pol, tapi kali ini saya sungguh kepo.
begini. saya sudah pernah ke Pingit saat saya SMA, tahun 2010-2011. tapi itu nggak rutin. saat kuliah, beberapa kali  saya datang ke Pingit untuk bikin tugas. akhirnya, semester lalu saya berjanji pada diri saya sendiri saya akan rutin datang ke Pingit. janji saya nggak muluk-muluk. saya cuma berusaha datang ke Pingit setiap Kamis, karena kapasitas saya saat itu memang segitu. tapi ternyata rasanya waktu satu semester nggak cukup untuk saya mengenal Pingit. rasanya juga saya belum melakukan apa-apa buat Pingit. maka saya berniat untuk lanjut semester ini. meski kenyataannya, setelah dua minggu Pingit kembali dibuka, saya belum pernah sekalipun ke sana, dan langsung muncul di raker. saya kepo, apalagi yang bisa saya lakukan, apalagi yang bisa saya berikan untuk mereka, dan juga apalagi pelajaran hidup yang bisa saya dapat dari Pingit. 

saya belajar banyak dari raker ini. yang pasti, akhirnya saya tau lirik komplit lagu-lagu Pingit hahaha :D lha selama ini kalau nyanyi saya cuma nggremeng dan ngikutin anak-anak nyanyi.
saya juga belajar tentang apa saja yang bisa kita lakukan bagi mereka, sekecil apapun, pasti akan sangat berguna. kalaupun ternyata apa yang kita lakukan kurang membuahkan hasil, yang penting kita sudah mencoba dan sudah berusaha. saya menyadari bahwa kita semua, yang mendampingi anak-anak dan warga binaan di Pingit, semua adalah volunteer, artinya ya voluntary, tidak ada paksaan, tidak ada siapapun yang bisa memaksa kami untuk harus datang ke Pingit, untuk berbuat sesuatu untuk warga Pingit. tapi bagi saya, justru itulah seninya. jika apapun yang kita lakukan untuk Pingit benar-benar dari hati, rasanya tidak mungkin ada yang mengeluh, justru rasanya tertantang dan terus kepo. bagi saya, untuk sampai ke tahap merasa tertantang atau kepo ini memang nggak bisa instan. saya pun begitu, awalnya cuma kepo Pingit itu kayak apa, terus nggak pernah dateng lagi. terus juga pernah beberapa kali agak terpaksa ke Pingit buat garap tugas. sampai akhirnya saya berjanji pada diri sendiri untuk datang ke Pingit, sekalipun saya nggak punya cukup persiapan dan cuma ikut main-main di kelas.

satu hal yang cukup menarik bagi saya saat raker tadi. Frater Adri, koordinator Pingit, tadi menawarkan ide untuk membuat acara ulang tahunan Pingit. ketika ditawarkan siapa yang ingin jadi panitia, saya menawarkan diri menjadi humas. jujur saja, saya juga tidak tau apakah saya mampu menjalankan itu, karena urusan saya juga nggak cuma di Pingit aja. tapi ya itu tadi, saya cukup kepo. lagipula saya yakin saya nggak akan jalan sendiri, temen-temen volunteer lain kalau dimintain tolong saya yakin mereka pasti mau bantu kalau mereka bisa. maka saya menyimpulkan bahwa, semakin saya nggak kepo, semakin sedikit hal yang bisa saya berikan pada orang lain, dan sedikit pula pelajaran yang saya dapatkan.

tapi segala kegilaan volunteer di Pingit memang kudu saya acungi jempol. Frater Adri dengan pembangunan rumah-rumah dan pembinaan warga. Om Robet Lemmu dengan Aping & Anit, komik strip yang terbit tiap hari Senin *dan bakal nambah jadi hari Kamis juga*. Mbak Anne dengan Belik Pingit *buletin cilik Pingit* dan mengurusi beasiswa, juga surat-surat macam akta kelahiran, dan lain-lain. Mbak Icot dengan penelitian skripsi dan sekolah alamnya. Mas Sigit yang terpengaruh "Adrinisasi" lalu sempat menggantikan Frater Adri mengkoordinir Pingit. Mbak Jeje yang ahli ngajar di SD kecil. semua ini juga membuat saya kepo, kok bisa mereka se-kepo itu. ya mungkin kekepoan saya itu ketularan dari mereka. kayak kata Frater Adri sih, beliau mengurusi Pingit itu dengan serius, dan keseriusan itu menular pada Mas Sigit, pada Om Robet Lemmu, pada semua volunteer yang lain. mungkin keseriusan itu pula yang menular pada saya.

memang kadang, contoh nyata alias teladan jauh lebih penting dan jauh lebih berdampak dibandingkan kata-kata mutiara.
kata Frater Adri lagi, beliau hanya membutuhkan iman sebesar biji sesawi. kalau saya, ada tambahan, saya juga membutuhkan kekepoan setebal kertas HVS 80 gram *lu kate bikin laporan praktikum* :))

oya, jangan lupa like fanpage Aping & Anit yaaa :D follow twitter @ApingAnit juga :D
Aping
Anit
Aping & Anit

Minggu, 1 September 2013
anggota #GenkKepo
vania

*ps: ah, saya lupa menyampaikan jempol saya pada teman-teman PBM yang tadi juga ikut raker. bagi saya, teman-teman ini luar biasa, karena teman-teman ini sudah menyiapkan silabus per pertemuan, meski mungkin memang ada yang harus dibenahi di sana-sini, tapi silabus itu adalah panduan awal yang oke banget. memang menjadi idealis itu baik, tapi kita juga harus realistis. saya sendiri bukanlah orang yang lebih pintar dari teman-teman, bukan orang yang tau segalanya tentang Pingit, saya juga masih harus banyak belajar tentang Pingit, maka mari belajar bersama :) selamat bergabung dalam ke-kepoan dan keseriusan di Pingit, semoga menular ya :D semangat!