selain cerita si bintang

Tampilkan postingan dengan label perjumpaan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label perjumpaan. Tampilkan semua postingan

04 November 2019

recharged

hae gaes!

enggak kerasa ya udah masuk November aja, bentar lagi udah mau ganti tahun lagi! ya ampuuunnn...
seperti biasa, blog ini udah berdebu banget hehe saking berdebunya sampai bingung beresin dari mana dulu.

bulan Oktober dan awal November ini rasanya nano-nano banget. awal Oktober, aku akhirnya seminar kasus besar 2, seminar kasus terakhir sebelum ujian. istimewanya, seminar kasus ini dibahas sama dosen yang paling disegani. untungnya, berhasil dilewati juga...

selesai urusan sama kasus, minggu kedua Oktober aku mulai kembali ke tesis, setelah sekian lama terbengkalai. karena punya rencana yang menyenangkan di minggu ketiga, minggu kedua ini aku agak rungsing alias senewen untuk memastikan jadwal bimbingan. keajaiban bener-bener terjadi deh. awalnya dijadwalin bimbingan hari Senin, tapi ternyata tiba-tiba dosennya enggak bisa. Gusti Allah tuh kalau udah punya rencana emang segala sesuatu jadi mungkin. :))

pertengahan Oktober, hal yang aku tunggu-tunggu, akhirnya punya kesempatan untuk ngancani liburan bersama Tuhan lagi, setelah terakhir kali tahun 2017. sejak dimintain tolong bulan September, aku enggak berani janji bisa ikut, karena jadwal enggak pasti., akhirnya aku baru memastikan hari Jumat atau malah Sabtu. lalu merasakan juga online meeting pakai video call haha berasa penting :p

menemani liburan bersama Tuhan, ternyata juga bikin aku recharged. aku belajar banyak dari perjumpaan, kisah-kisah, cerita-cerita, seneng banget rasanya, apalagi ikut nginep di tempat Bunda, maksudnya bener-bener di Gua Maria. udah lama enggak begitu, hepi jadinya. banyak hal baru yang aku alami juga, mulai dari ke Purwokerto naik kereta sendiri, ke Kaliori, kulineran di Purwokerto dan sekitarnya (termasuk minum tuak sampai kayak kepiting rebus haha), naik travel Jkt-Bdg, bikin presentasi langsung bawain materi, dan masih banyak lagi deh pengalamannya. hal lain yang bikin aku makin recharged tuh sejak awal Oktober aku juga iseng ikut program meditasi online 21 hari. bener-bener fully charged deh rasanya!

pengalaman ngancani retret dan meditasi ini ternyata cukup jadi bekal untuk menghadapi hal-hal lain yang gak terduga. aku memang udah sempat dikasih tau kalau ujian praktik kerja tanggal 1 November, tapi seminggu sebelum ujian, aku baru dikasih tau kalau sebagai syarat ujian, harus ngumpulin 10 laporan, terakhir hari Rabu. langsung panik sih, dan berharap jadi titisan Bandung Bondowoso atau Sangkuriang. energi yang dikumpulkan beberapa waktu terakhir rasanya langsung abis seminggu terakhir. untungnya sudah terlewati satu tahap ini, entah gimana hasilnya. 

seminggu terakhir, selain ujian praktik kerja, aku juga ngalamin "ujian" lain: mama harus opname. heran aku, waktu ngerjain kasus ujian ini Agustus kemarin, papa juga opname. sekarang menjelang kasus ini dipertanggungjawabkan secara lisan, kok gantian mama. kalau kata salah satu tanteku, memang ujian kan bukan cuma akademis aja, tapi dalam hidup sehari-hari juga. ya, begitulah. ketika menjalani hari-hari ini, aku merasa sangat bersyukur karena sudah menjalani "masa charging" lewat liburan bersama Tuhan dan meditasi. 

segini dulu deh ceritanya. aku udah ada rencana untuk recharge lagi, mudah-mudahan beneran recharge dan cukup untuk menjalani hari-hari yang menantang selanjutnya :D


have a good time, gaes!


Minggu-Senin, 3-4 November 2019
sekitar tengah malam
dari Bandung yang adem karena mulai sering hujan

vania


01 April 2018

pas kah?

Selamat Paskah, saudara saudari!

Paskah 2018 terasa berbeda bagi saya, karena ini adalah Paskah pertama saya di Jatinangor. Yup, saya enggak pulang ke Jogja. Sejak Natal 2017, saya sudah membulatkan tekad untuk Paskahan tidak di Jogja. Alasannya sebenarnya sederhana, hari Kamis pasti saya kuliah sampai sore. Kalau saya memaksakan pulang ke Jogja, pilihannya saya nggak ikut misa Kamis Putih atau saya bolos kuliah hari Kamis. Saya nggak mau milih keduanya, maka saya memilih Paskahan tidak di Jogja, pikiran saya mau Paskahan di Jakarta (dan sekitarnya) atau di Bandung. Saya nggak mau Paskahan sendirian. Tapi lagi-lagi karena masalah jadwal, ditambah juga masalah duit, dan pertimbangan dari salah seorang sahabat, "(Coba Paskahan di tempat) yang nggak mungkin kamu alami lagi," akhirnya saya memutuskan Paskahan di Jatinangor saja. Meski sudah memutuskan sendiri, ternyata galau juga cuy nggak ikut hiruk pikuk di Mas Anto, apalagi hari Kamis sebelum Minggu Palma banyak orang Kotabaru update gladi Kamis Putih, langsung mewek deh malam itu... 

Untungnya, karena keadaan lagi agak selo, besoknya bisa mlipir sebentar ke Jakarta. Jadilah saya ber-Minggu Palma di Jakarta. Hari Jumat itu saya dolan ke Paroki Blok Q untuk menghabiskan waktu. Di sana saya diajak untuk melihat hiruk pikuk persiapan Minggu Palma dan dikenalkan dengan beberapa umat. Lumayan, obat kangen Mas Anto. Senang sekali rasanya. Pas hari Minggu Palma saya ke Gereja St. Theresia Menteng, baru sekali itu ke sana, dan baru tau itu berbau Jesuit juga hehehe seperti biasa, lagu Yerusalem Lihat Rajamu sukses bikin saya mewek, selain karena suasananya, tapi saya juga ingat ponakan saya, Abel, yang dulu senang nyanyi, “Heruhalem, Heruhalem” dan kayaknya sekarang sibuk nyanyi di surga :”) Minggu Palma, meski saya misa sendiri, tapi selama di Jakarta saya ketemu beberapa sahabat. Hepi!

Ketemu Kakakku (baca: Romo Cahyo) dan Kinan (tetua misdinar)
Paroki Blok Q
Minggu Palma
setelah misa di Gereja St. Theresia Menteng
Meski Minggu Palma sudah hepi, ternyata jelang Kamis Putih saya galau lagi. Maklum, beberapa orang mengajukan pertanyaan seputar “paskahan di mana” dan “paskahan pulang enggak”, termasuk mama saya sendiri. Makjleb lho itu rasanya *kemudian mewek* tapi tekad sudah dibulatkan: Paskah di Jatinangor.
Nggak cuma bertekad paskahan di Jatinangor, saya pun bertekad naik angkot dan jalan kaki tiap ke gereja. Biasanya saya naik ojek dari kos. Maklum, jalannya lumayan jauh. Gereja yang saya datangi ini di dalam kompleks IPDN, namanya Gereja St. Albertus Magnus, atau biasa saya sebut dengan Mas Albert. Dari gerbang IPDN menuju gereja, jaraknya masih sekitar 1km, dengan jalan yang menanjak, berlubang, berpasir dan berkerikil. Naik ojek aja saya harus sambil merapal Salam Maria berulang kali, takut jatuh. Jalan kaki juga capek euy. Tapi tekad saya sudah bulat untuk nggak naik ojek.

jalan berlubang, berbatu, berkerikil
perjalanan menanjak, serasa ke Golgota (lebay)
jalannya lumayan jauh juga cuy

Ketika Kamis Putih, setelah naik angkot dan nyebrang, saya pun mau mulai berjalan kaki, eh baru beberapa langkah dari gerbang, tiba-tiba ada mobil mendekat dan pengemudinya membuka kaca lalu menawarkan tumpangan, “Mau ke gereja mbak? Bareng aja.” Saya kaget. Maklum, baru pertama kali mengalami. Yang memberi saya tumpangan saat itu adalah sebuah keluarga cukup muda, ada bapak, ibu dan anak laki-laki sekitar usia 8 tahun. Ibu itu aslinya Klaten. Ketika saya bilang terima kasih sekali dan maaf merepotkan, kata ibu itu, “Nggak apa-apa mbak, kan masih ada tempat, biar sekalian.” Saya terharu. Meski begitu ketika Kamis Putih saya tetap mellow, (seakan-akan sok-sokan) merasakan kegalauan, kesendirian, kegentaran, kesedihan, kecemasan Gusti Yesus di malam setelah perjamuan terakhir dan sebelum Dia ditangkap. Saya merasa sendirian, nggak dianggap, nggak penting. Tapi Allah Yang Maha Kreatif itu memang adaaa aja caranya ya, kala itu Dia menghibur dengan beberapa lagu, di antaranya lagu taize yang dinyanyikan saat misa, "Nada de turbe nada teespante, quien a Dios tiene nada lefalta, nada de turbe nada teespante, solo Dios basta", yang artinya “Janganlah cemas, janganlah takut, di dalam Tuhan berlimpah rahmat, janganlah cemas, janganlah takut, serahkan Tuhan.” Eh dapet bonus juga sih Kamis Putih ini, duduk di sebelah mas-mas ganteng #eaaa #abaikan

Kamis Putih
teks yang dipakai 4 hari dari Kamis sampai Minggu

Sakramen Maha Kudus di depan Patung Bunda Maria

Pas Jumat Agung, lagi-lagi saya berniat jalan kaki ke gereja. Maklum, saya nggak ikut jalan salib paginya, jadi anggap saja jalan kaki itu semacam perjalanan ke Golgota #lebay. Sudah sekitar sepertiga perjalanan dari gerbang saya tempuh dengan berjalan kaki, tiba-tiba ada mobil dari belakang yang mendekat dan menawari tumpangan. Di dalam mobil itu ada ibu paruh baya sekitar 50 tahunan yang ternyata asli Magelang, dan anak perempuannya sekitar 18 tahun (ceritanya baru mau lulus SMA dan pengen kuliah di Unpad, tapi dandanannya ngalahin yang S2 –maksudnya saya- sih ya). Ibu itu, namanya Ibu Retno, cerita kalau mereka dari Cirebon. Paginya mereka berangkat jam 7 dan sampai di Jatinangor sekitar jam 10. Beliau dan anak perempuannya sering ke IPDN karena anak laki-lakinya, kakak si anak cewek, di IPDN. Di perayaan Jumat Agung saya mendapat kejutan: passio yang dipakai adalah passio ciptaan Tante Alma yang adalah passio yang sering dipakai di Kotabaru dan favorit saya. Langsung lah mewek dan ikut nyanyi sepanjang passio. Ternyata juga salibnya yang dipakai untuk penghormatan salib cuma satu, jadi penghormatan salib dilakukan setelah ibadat. 

Jumat Agung
penghormatan salib setelah ibadat
Sabtu Malam Paskah, lagi-lagi saya dapat tumpangan lagi ketika sudah sepertiga perjalanan. Kali ini yang memberi tumpangan adalah pasutri dan Opung (yup, orang Batak). Pasutri ini sekitar usia 40 tahunan, dan sebenarnya tinggal di Jakarta, tapi Paskahan di Jatinangor demi mengunjungi Opung. Pasutri ini baik banget, bahkan menawarkan saya untuk menginap di rumah mereka kalau saya ke Jakarta. Ternyata, kakak ipar dari bapak itu orang Kotabaru, coy! Nggak jauh dari gereja katanya. Betapa sempitnya dunia! Ketika sudah turun dari mobil dan berjalan bersama Opung dan ibu, Opung itu mengajak saya mengobrol,
O: Kamu kuliah semester berapa?
V: Semester 2, tapi S2
O: Oh S2? Hebat kali. Jurusan apa?
V: Psikologi
O: Apa lah itu psikologi? Tak tau lah aku.
I: Itu Amang, mempelajari kejiwaan seseorang.
O: Oh, hebat kali bah. Kuliah yang benar ya, jangan… kalau orang Medan bilang marhallet. Jangan marhallet ya.
V: Apa itu?
I: Maksudnya jangan pacaran dulu.
V: OH HAHAHA *siap ngakak, tapi ditahan karena Opung melanjutkan nasihatnya*
O: Sekolah dulu yang benar, lalu kerja untuk ganti orang tua… ganti keringat orang tua ya.

Begitulah saya mengawali Sabtu Suci Malam Paskah. Ketika misa, ada beberapa bagian liturgi yang beda dengan di Kotabaru (pastinya), terutama karena malam itu di Mas Albert ada pembaptisan. Senang sekali bisa menjadi saksi pembaptisan dan penerimaan. Lagu Syukur Kepada-Mu Tuhan paling nyesss sih. Selain itu juga ada lagu Haec Dies, Hati Kudus Yesus dan Rejoice yang juga paling bikin nyesss di hati. Setelah misa, saya sempat ngobrol dengan beberapa orang, di antaranya adalah mereka yang koor Jumat Agung, karena saya menyapa dan mengapresiasi mereka sih waktu Jumat Agung. Saya jadi merasa nggak sendirian. Dan lagi, saya nyalami mas-mas ganteng yang duduk di sebelah saya waktu Kamis Putih HAHA #abaikan

Malam Paskah
awalnya gelap

Malam Paskah
jadilah terang
Minggu Paskah, sesuai anjuran Pastor Ote, saya pun ke gereja lagi. Niatnya sih jalan kaki lagi, tapi apa daya bangunnya telat, akhirnya naik ojek lah saya, diantar oleh tukang ojek langganan yang orang Jogja. Biasanya saya jarang misa Minggu Paskah, ternyata memang beda liturgi dan bacaannya. Kalau di sini, karena Malam Paskah ada pembaptisan, maka Malam Paskah nggak ada pemercikan untuk umat. Nah, pemercikannya baru saat Minggu Paskah. Eh ternyata abis misa ada ramah tamah gitu, ada snack, dan pembagian telur! Hahaha lucu amat, semua umat boleh mendapatkan telur paskah, nggak cuma anak-anak saja. Lumayan, rezeki anak kos :D

Minggu Paskah
pemberkatan telur setelah misa untuk dibagikan ke umat

Minggu Paskah
suasana ramah tamah di halaman sebelah gereja
Pada akhirnya, keputusan untuk berpaskah di Jatinangor adalah keputusan yang saya syukuri, bukan saya sesali. Tanpa ikut hiruk pikuk (seperti) di Mas Anto, tanpa (banyak) orang yang dikenal. Saya sendiri, tapi ternyata Gusti Allah nggak membiarkan saya benar-benar sendiri. Bahkan setelah misa Minggu Paskah, ketika saya jalan kaki ke kos, entah gimana ada seorang ibu yang ngajak ngobrol sepanjang jalan, ibu itu mau pulang ke rumahnya yang nggak jauh dari kos saya. Kalau kata salah seorang sahabat saya yang lain, "Keluarga emang jauh, tapi yang mirip-mirip ada lah."

Gusti Allah memang suka sekali bercanda, tapi cinta kasih-Nya nggak bercanda, serius banget! Keseriusan kasih-Nya ini sudah dibuktikan lewat peristiwa yang kita peringati pada Kamis Putih-Jumat Agung-Paskah, yang secara konkret diwujudkan oleh Yesus. Gusti Allah Yang Maha Kreatif itu juga menunjukkan kasih-Nya pada kita dengan cara berbeda-beda, sesuai dengan pribadi kita masing-masing, sesuai dengan kebutuhan kita, sesuai dengan kondisi dan situasi kita. Dan cara yang dipakai-Nya untuk kita masing-masing selalu pas.

Selamat Paskah, teman-teman! Semoga kebangkitan Kristus menguatkan kita untuk semakin berani berjuang dalam hidup. Salam, doa dan peluk virtual dari Jatinangor!

 

Minggu Paskah, 1 April 2018
Bukan April mop,

Vania yang pendiam dan pemalu (ini juga bukan April mop) :p

09 September 2017

Jatinangor rasa Jogja

Hari ini tepat sebulan saya meninggalkan Jogja. Kalau ditanya apakah saya kangen Jogja atau engga, saya akan jawab saya kuangeeeeennnn buangeeetttt. Setiap saat! Manifestasi rasa kangen saya sama Jogja itu suka random banget. Tiba-tiba saya inget jalan di sekitar Kalasan. Besoknya, mendadak saya kebayang-bayang jalanan di sekitar taman parkir Ngabean. Pokoknya ajaib gitu deh, random. Trus munculnya suka mendadak pula, pop up gitu. Tiba-tiba di tengah bimbingan saya bisa aja gitu keinget jalan di deket rumah saya.

Minggu lalu, sebelum saya dolan ke Jakarta, saya dihubungi pihak Fakultas Psikologi Unpad, katanya saya diminta ikut terlibat dalam acara Dies Natalis Unpad sebagai perwakilan dari Jogja. Permintaan ini sempet bikin saya kepikiran dan galau, karena mereka rikues saya suruh pakai baju adat dan menyiapkan sendiri baju adatnya. Dueeenggg! Saya langsung kontak mama dan minta tolong kirim baju dari Jogja. Tapi persoalan tidak berhenti di situ, saya juga mikir soal dandan. Duh, ribet amat yak, pikir saya. Ketika ketemu sama panitianya, saya jadi agak tenang karena beliau bilang bisa didandani, tapi kumpulnya pagi pagi sekali.
Tadi pagi, saya sudah harus sampai kampus jam 05.30. Ketika saya keluar dari kos, langit masih gelap dan masih ada bulan coba lah. Sampai di kampus, ternyata sudah ada beberapa ibu yang dirias, dan ternyata ada yang pura-pura jadi manten, jadinya dirias paes ageng. Unyu sekaliii… terus ternyata ada yang jadi cucuk lampah, terus ada beberapa orang yang pakai beskap dan lurik. Kemudian saya merasa berada di Jatinangor rasa Jogja. Rasa Jogja itu bertambah ketika jalan pawai, rombongan kami diiringi dengan lagu Kebo Giro, yang biasanya memang dipakai sebagai lagu pengiring manten berjalan ke pelaminan.
Ternyata, pawainya cukup meriah. Saya baru tau juga kalau pawai itu adalah bagian dari pembukaan OOTRAD atau olimpiade olahraga tradisional yang merupakan rangkaian acara dies natalis Unpad ke 60. Tiap fakultas seakan-akan menjadi kontingen dari provinsi tertentu, lalu diminta menampilkan diri sesuai dengan provinsinya. Contohnya tadi ada yang ceritanya mewakili DKI Jakarta, terus bawa ondel-ondel. Trus ada yang ceritanya mewakili Jawa Timur, mereka pada pakai baju ala Madura, dan bawa Reog Ponorogo. Seru deh!

Saya seneng banget bisa menikmati penampilan yang keren-keren. Tapi saya lebih seneng karena bisa lebih kenal sama beberapa karyawan yang seru nan kocak. Sebenarnya tadi yang dari rombongan kami, yang asli Jogja cuma dua orang, saya dan Mbak Anggita, mahasiswi S3 Psikologi yang asli mBantul (kudu pakai ‘m’ ya :p) Mbak Anggita ini, walau dosen di sebuah universitas di Jakarta, tapi seru bangettt. Beliau ngajakin saya foto-foto sama ‘para pengantin’ dari berbagai ‘provinsi’. Jadi tadi pagi kami berasa kondangan tingkat nasional :D

Meski kegiatan tadi tidak menghilangkan kebaperan saya akan Jogja yang sungguh berhati nyaman, tapi saya senang sekali dilibatkan dalam kegiatan itu, kenal orang-orang baru, dan merasa semakin punya teman. Semoga pengalaman ini bisa membuat saya semakin merasakan “Jatinangor rasa Jogja”, merasakan nyamannya (hidup di) Jatinangor, meski tetap tidak ada yang bisa mengalahkan nyamannya Yogyakarta yang memang berhati nyaman.


PS: semoga Yogyakarta nggak berhenti nyaman ya!


Sabtu malam, 9/9/17
cah Jogja,
vania

11 Mei 2015

Mendadak Jokpin

Nama Joko Pinurbo alias Jokpin mungkin sudah sering didengar. Tapi saya, jujur saja, nggak tahu persis siapa sih Joko Pinurbo. Sekitar bulan Februari lalu, Mas Gigih ngajak saya ngobrol tentang Conversar Arrupe yang rencananya akan mengundang beberapa alumni USD, termasuk Jokpin. Sejak itu saya pun mencari tahu tentang Jokpin, mengkepo Twitter dan blog beliau, juga membaca hasil wawancara dengan beliau. 

Meski sudah berusaha mengkepo, tapi tampaknya Jokpin adalah sosok yang "misterius". Di suatu Jumat siang yang cerah, saya pun berusaha mencari beliau di Ndalem Tejokusuman, sebuah tempat yang katanya menjadi salah satu tempat nongkrong Jokpin (thanks, Mas Cahyo dan Mas Tama!). Kami nggak ada yang tahu letak Ndalem Tejokusuman. Setelah nyasar dan tanya beberapa kali, akhirnya kami sampai di Ndalem Tejokusuman. Tapi ternyata di sana sepi banget! Ternyata Jokpin nggak setiap hari ke sana, dan nggak bisa diprediksi kapan beliau akan ke sana. Akhirnya kami dikasih tau untuk cari Jokpin di kantor Kompas di Kotabaru, tapi sampai di sana kami pun nggak berhasil menemukan Jokpin. Terus saya coba cari kontak beliau tapi nggak nemu, walau saya udah tanya ke temen yang kerja di Kompas (thanks Kak Mahatma!). 

Beberapa hari kemudian ada info kalo ada acara yang ngundang Jokpin, malam puisi gitu deh, di Indiecology. Dengan semangat 45 saya mengajak dua teman untuk nongkrong sekaligus harap harap cemas bisa ketemu Jokpin (thanks, Masbro dan Tertos!). Sayang seribu sayang, Jokpin nggak ada :( 

Meski gitu, di Indiecology itu saya dapet buku antologi puisi (meski kayaknya nggak resmi), dan saya jatuh cinta sama satu puisi Jokpin berjudul Kamus Kecil. Sejak dari Indiecology itu saya bertekad kudu ketemu Jokpin, mbuh piye cara'ne, biar nggak jadi arwah penasaran :")

Setelah tetep nggak dapet kontaknya Jokpin, saya pun bingung dan mulai agak desperate. Eh tiba-tiba Mas Gigih ngasih tau kalo Jokpin balas DMnya di Twitter dan ngasih nomor hape plus emailnya. Ternyata, hal-hal yang tampaknya nggak mungkin justru bisa jadi jawaban. Dan ternyata lagi, sometimes the answer is the simplest one. 

Setelah saya SMS, ternyata langsung dibalas dan Jokpin langsung mau jadi pembicara di Conversar Arrupe edisi kedua. Sayangnya, pas Jokpin ada acara di Dongeng Kopi, saya nggak bisa dateng dan nemuin beliau. Tapi bayangan mau ketemu Jokpin aja udah bikin saya hepi. 

Beberapa hari sebelum Conversar Arrupe, saya dikagetkan oleh sebuah notifikasi di Twitter. Katanya, Jokpin ngefollow Twitter saya. Oh my God! Piye perasaanmu yen difollow idola? :")

Pas hari H pelaksanaan Conversar Arrupe, saya deg-degan (hehe). Akhirnya Jokpin dateng juga. Yang bikin makin hepi, ternyata apa yang beliau sampaikan sangat menarik dan ngasih pelajaran berharga juga. Beliau bilang kalau jalan kepenyairan yang beliau pilih adalah jalan sunyi yang harus dihadapi, dan cuma orang-orang tangguh yang bisa melalui jalan sunyi seperti itu. Meski beliau sudah tergolong sepuh, tapi beliau sangat ngenomi, terutama dalam hal bahasa. 

Ketika acara belum mulai, saya sudah bilang ke Mas Cahyo, pokoknya nanti saya mau foto bareng sama Jokpin berdua aja, dan I did that. 

Selamat ulang tahun, Joko Pinurbo, "saudara kembar" beda 31 tahun.. Terima kasih sudah 'menyentil' dan 'mengingatkan' saya (lewat suatu puisi) bahwa "seorang bintang harus tahan banting".. Semoga njenengan sehat selalu dan terus berkarya. Tuhan yang Maha Unyu selalu memberkati njenengan, Pak! :)





Bandung, 11 Mei 2015

si bintang

23 Desember 2014

Berubah itu Berbuah

Apapun yang kita lakukan tidak mungkin menyenangkan semua orang, pasti ada orang-orang yang mendukung, tapi pasti juga ada orang-orang yang menentang kita. Hal itu sangatlah wajar dan sepertinya sudah menjadi salah satu hukum universal di alam semesta ini.

Kita pasti pernah menjumpai satu orang yang dijadikan “musuh bersama” karena tingkah laku atau sifatnya yang begitu menyebalkan. Terkadang, disadari atau tidak, kita sendirilah orang itu. Ketika SD, saya pernah merasakan ada di posisi tersebut. Saya dijauhi dan diejek teman-teman sekelas saya, tapi saya tidak tahu mengapa saya diperlakukan demikian. Kejadian itu begitu membekas bagi saya dan mempengaruhi hidup saya hingga kini. Saya menjadi orang yang enggan untuk memulai berhubungan dengan orang lain, karena takut ditolak. Saya enggan menyapa orang lain terlebih dahulu. Saya seringkali memilih untuk diam dan menyendiri.

Begitu pula ketika saya jalan-jalan bersama beberapa teman kemarin. Suasana begitu ceria, tapi saya tidak sepenuhnya menikmati hal itu. Saya merasa asing. Saya merasa sendirian. Sampai ketika beberapa teman bermain-main dan berfoto bersama, saya memutuskan untuk bergabung bersama mereka. Saya memutuskan untuk tidak menunggu ajakan dari mereka, tapi saya mengajukan diri untuk bergabung dengan mereka. Ketakutan bahwa saya akan ditolak pun ternyata tidak terbukti. Saya sadar bahwa ketika kita tidak bisa mengubah keadaan atau mengubah orang lain, kita perlu bercermin karena jangan-jangan kitalah yang perlu berubah. Dalam hal ini, saya menjadi sadar bahwa tidak ada salahnya ketika mencoba memulai menyapa orang lain lebih dulu, mencoba bergabung dengan mereka dan mencoba pertama-tama membuka diri. Karena orang lain tidak akan bisa masuk ke dalam hidup kita jika kita masih menutup diri dari mereka.

Sore itu, tidak hanya suasana di tempat itu yang ceria, tapi suasana hati saya pun membaik dan ikut ceria. Ternyata berubah itu tidak selalu susah. Perubahan tidak harus selalu hal-hal besar. Tetapi satu hal yang pasti, berubah itu selalu berbuah.




Yogyakarta, 23 Desember 2014

Stella Vania Puspitasari


21 Februari 2013

markikopdar, mari kita kopi darat!

“Too often we underestimate the power of a touch, a smile, a kind word, a
listening ear, an honest compliment, or the smallest act of caring, all
of which have the potential to turn a life around.” 
― Leo F. Buscaglia


membuka facebook, twitter dan jejaring sosial lain membuat saya seringkali merasa memiliki teman. ya, mereka yang jauh di mata tapi terasa dekat karena terhubung lewat facebook atau twitter. 
tapi yang namanya need for affiliation (kebutuhan untuk berhubungan dengan orang lain) itu bukanlah sesuatu yang statis. ada kalanya kebutuhan ini meninggi. ada kalanya, saya merindukan teman-teman yang dekat dalam arti sesungguhnya, teman yang dekat secara fisik. ada kalanya, facebook atau twitter terasa tidak cukup memuaskan karena tidak semua interaksi yang terbentuk di sana adalah interaksi yang hangat dan intim. 
beruntung, makin banyak media untuk kita berkomunikasi secara lebih pribadi, dengan LINE dan whatsapp misalnya. rasanya memang lain jika menggunakan media chatting, rasanya lebih dekat dan lebih bebas karena lebih privat. 
tapi di atas semuanya itu, tidak ada yang bisa menggantikan pertemuan langsung, alias face to face. meski ada juga yang ketika bertatap muka timbul perasaan gugup dan jadi diam seribu bahasa, tapi tetap ada rasa yang berbeda. menurut saya, rasanya lebih komplit, ya karena perjumpaan itu nyata. kita bisa melihat teman kita itu, kita bisa secara langsung mendengar suaranya, dan ini yang tidak (atau mungkin belum) dimiliki oleh teknologi apapun, kita bisa menyentuh lawan bicara kita jika bertemu langsung. kita bisa menjabat tangannya, kita bisa memeluk dan menciumnya. dan ini semua (sejauh yang saya tau) tidak bisa digantikan oleh jejaring sosial manapun. 

ijinkan saya bercerita mengenai dua cewek jagoan, teman saya. namanya Ocha dan Lisa. saya mengenal kedua cewek jagoan ini di twitter, sekitar tahun 2009. berbulan-bulan kami bertiga saling mensyen di twitter, smsan juga. meski belum pernah kopdar bertiga, tapi kami saling berbagi cerita panjang lebar. kalau dipikir-pikir, lucu juga pertemanan kami ini. betapa tidak, kami berbeda usia dan latar belakang, tapi toh ada teman yang sama-sama kami kenal, ya memang manusia itu adalah konektor yang menghubungkan satu orang dengan orang lainnya, bukan? Ocha, kuliah di FISIP UAJY angkatan 2009, pacar teman saya, Adri. sedangkan Lisa, adik kelas saya saat SMP, ya meski saat SMP saya sama sekali tidak mengenalnya, dan baru bertemu di twitter. pertama kali kami kopi darat bertiga pada bulan Desember 2010. saat kami kopdar beberapa kali, kami bisa menghabiskan waktu berjam-jam, membicarakan apapun, dari mulai masalah sekolah (dulu) atau kuliah (sekarang), masalah pertemanan, masalah (ehem) cinta juga kadang-kadang, dan berbagai hal lain. meski kadang ya ada rasa canggung karena jarang bertemu dan bingung mau cerita apa karena terlalu banyak hal yang ingin dibicarakan, tapi rasanya menyenangkan dan ingin mengulangnya lagi.
memang, tak ada yang bisa menggantikan kopdar.

Maret 2011, di rumah Ocha :)

Oktober 2012, di Bejo Cafe, bikin video happy birthday buat Adri :)
jadi, yuk, kopi darat! :)