selain cerita si bintang

01 April 2018

pas kah?

Selamat Paskah, saudara saudari!

Paskah 2018 terasa berbeda bagi saya, karena ini adalah Paskah pertama saya di Jatinangor. Yup, saya enggak pulang ke Jogja. Sejak Natal 2017, saya sudah membulatkan tekad untuk Paskahan tidak di Jogja. Alasannya sebenarnya sederhana, hari Kamis pasti saya kuliah sampai sore. Kalau saya memaksakan pulang ke Jogja, pilihannya saya nggak ikut misa Kamis Putih atau saya bolos kuliah hari Kamis. Saya nggak mau milih keduanya, maka saya memilih Paskahan tidak di Jogja, pikiran saya mau Paskahan di Jakarta (dan sekitarnya) atau di Bandung. Saya nggak mau Paskahan sendirian. Tapi lagi-lagi karena masalah jadwal, ditambah juga masalah duit, dan pertimbangan dari salah seorang sahabat, "(Coba Paskahan di tempat) yang nggak mungkin kamu alami lagi," akhirnya saya memutuskan Paskahan di Jatinangor saja. Meski sudah memutuskan sendiri, ternyata galau juga cuy nggak ikut hiruk pikuk di Mas Anto, apalagi hari Kamis sebelum Minggu Palma banyak orang Kotabaru update gladi Kamis Putih, langsung mewek deh malam itu... 

Untungnya, karena keadaan lagi agak selo, besoknya bisa mlipir sebentar ke Jakarta. Jadilah saya ber-Minggu Palma di Jakarta. Hari Jumat itu saya dolan ke Paroki Blok Q untuk menghabiskan waktu. Di sana saya diajak untuk melihat hiruk pikuk persiapan Minggu Palma dan dikenalkan dengan beberapa umat. Lumayan, obat kangen Mas Anto. Senang sekali rasanya. Pas hari Minggu Palma saya ke Gereja St. Theresia Menteng, baru sekali itu ke sana, dan baru tau itu berbau Jesuit juga hehehe seperti biasa, lagu Yerusalem Lihat Rajamu sukses bikin saya mewek, selain karena suasananya, tapi saya juga ingat ponakan saya, Abel, yang dulu senang nyanyi, “Heruhalem, Heruhalem” dan kayaknya sekarang sibuk nyanyi di surga :”) Minggu Palma, meski saya misa sendiri, tapi selama di Jakarta saya ketemu beberapa sahabat. Hepi!

Ketemu Kakakku (baca: Romo Cahyo) dan Kinan (tetua misdinar)
Paroki Blok Q
Minggu Palma
setelah misa di Gereja St. Theresia Menteng
Meski Minggu Palma sudah hepi, ternyata jelang Kamis Putih saya galau lagi. Maklum, beberapa orang mengajukan pertanyaan seputar “paskahan di mana” dan “paskahan pulang enggak”, termasuk mama saya sendiri. Makjleb lho itu rasanya *kemudian mewek* tapi tekad sudah dibulatkan: Paskah di Jatinangor.
Nggak cuma bertekad paskahan di Jatinangor, saya pun bertekad naik angkot dan jalan kaki tiap ke gereja. Biasanya saya naik ojek dari kos. Maklum, jalannya lumayan jauh. Gereja yang saya datangi ini di dalam kompleks IPDN, namanya Gereja St. Albertus Magnus, atau biasa saya sebut dengan Mas Albert. Dari gerbang IPDN menuju gereja, jaraknya masih sekitar 1km, dengan jalan yang menanjak, berlubang, berpasir dan berkerikil. Naik ojek aja saya harus sambil merapal Salam Maria berulang kali, takut jatuh. Jalan kaki juga capek euy. Tapi tekad saya sudah bulat untuk nggak naik ojek.

jalan berlubang, berbatu, berkerikil
perjalanan menanjak, serasa ke Golgota (lebay)
jalannya lumayan jauh juga cuy

Ketika Kamis Putih, setelah naik angkot dan nyebrang, saya pun mau mulai berjalan kaki, eh baru beberapa langkah dari gerbang, tiba-tiba ada mobil mendekat dan pengemudinya membuka kaca lalu menawarkan tumpangan, “Mau ke gereja mbak? Bareng aja.” Saya kaget. Maklum, baru pertama kali mengalami. Yang memberi saya tumpangan saat itu adalah sebuah keluarga cukup muda, ada bapak, ibu dan anak laki-laki sekitar usia 8 tahun. Ibu itu aslinya Klaten. Ketika saya bilang terima kasih sekali dan maaf merepotkan, kata ibu itu, “Nggak apa-apa mbak, kan masih ada tempat, biar sekalian.” Saya terharu. Meski begitu ketika Kamis Putih saya tetap mellow, (seakan-akan sok-sokan) merasakan kegalauan, kesendirian, kegentaran, kesedihan, kecemasan Gusti Yesus di malam setelah perjamuan terakhir dan sebelum Dia ditangkap. Saya merasa sendirian, nggak dianggap, nggak penting. Tapi Allah Yang Maha Kreatif itu memang adaaa aja caranya ya, kala itu Dia menghibur dengan beberapa lagu, di antaranya lagu taize yang dinyanyikan saat misa, "Nada de turbe nada teespante, quien a Dios tiene nada lefalta, nada de turbe nada teespante, solo Dios basta", yang artinya “Janganlah cemas, janganlah takut, di dalam Tuhan berlimpah rahmat, janganlah cemas, janganlah takut, serahkan Tuhan.” Eh dapet bonus juga sih Kamis Putih ini, duduk di sebelah mas-mas ganteng #eaaa #abaikan

Kamis Putih
teks yang dipakai 4 hari dari Kamis sampai Minggu

Sakramen Maha Kudus di depan Patung Bunda Maria

Pas Jumat Agung, lagi-lagi saya berniat jalan kaki ke gereja. Maklum, saya nggak ikut jalan salib paginya, jadi anggap saja jalan kaki itu semacam perjalanan ke Golgota #lebay. Sudah sekitar sepertiga perjalanan dari gerbang saya tempuh dengan berjalan kaki, tiba-tiba ada mobil dari belakang yang mendekat dan menawari tumpangan. Di dalam mobil itu ada ibu paruh baya sekitar 50 tahunan yang ternyata asli Magelang, dan anak perempuannya sekitar 18 tahun (ceritanya baru mau lulus SMA dan pengen kuliah di Unpad, tapi dandanannya ngalahin yang S2 –maksudnya saya- sih ya). Ibu itu, namanya Ibu Retno, cerita kalau mereka dari Cirebon. Paginya mereka berangkat jam 7 dan sampai di Jatinangor sekitar jam 10. Beliau dan anak perempuannya sering ke IPDN karena anak laki-lakinya, kakak si anak cewek, di IPDN. Di perayaan Jumat Agung saya mendapat kejutan: passio yang dipakai adalah passio ciptaan Tante Alma yang adalah passio yang sering dipakai di Kotabaru dan favorit saya. Langsung lah mewek dan ikut nyanyi sepanjang passio. Ternyata juga salibnya yang dipakai untuk penghormatan salib cuma satu, jadi penghormatan salib dilakukan setelah ibadat. 

Jumat Agung
penghormatan salib setelah ibadat
Sabtu Malam Paskah, lagi-lagi saya dapat tumpangan lagi ketika sudah sepertiga perjalanan. Kali ini yang memberi tumpangan adalah pasutri dan Opung (yup, orang Batak). Pasutri ini sekitar usia 40 tahunan, dan sebenarnya tinggal di Jakarta, tapi Paskahan di Jatinangor demi mengunjungi Opung. Pasutri ini baik banget, bahkan menawarkan saya untuk menginap di rumah mereka kalau saya ke Jakarta. Ternyata, kakak ipar dari bapak itu orang Kotabaru, coy! Nggak jauh dari gereja katanya. Betapa sempitnya dunia! Ketika sudah turun dari mobil dan berjalan bersama Opung dan ibu, Opung itu mengajak saya mengobrol,
O: Kamu kuliah semester berapa?
V: Semester 2, tapi S2
O: Oh S2? Hebat kali. Jurusan apa?
V: Psikologi
O: Apa lah itu psikologi? Tak tau lah aku.
I: Itu Amang, mempelajari kejiwaan seseorang.
O: Oh, hebat kali bah. Kuliah yang benar ya, jangan… kalau orang Medan bilang marhallet. Jangan marhallet ya.
V: Apa itu?
I: Maksudnya jangan pacaran dulu.
V: OH HAHAHA *siap ngakak, tapi ditahan karena Opung melanjutkan nasihatnya*
O: Sekolah dulu yang benar, lalu kerja untuk ganti orang tua… ganti keringat orang tua ya.

Begitulah saya mengawali Sabtu Suci Malam Paskah. Ketika misa, ada beberapa bagian liturgi yang beda dengan di Kotabaru (pastinya), terutama karena malam itu di Mas Albert ada pembaptisan. Senang sekali bisa menjadi saksi pembaptisan dan penerimaan. Lagu Syukur Kepada-Mu Tuhan paling nyesss sih. Selain itu juga ada lagu Haec Dies, Hati Kudus Yesus dan Rejoice yang juga paling bikin nyesss di hati. Setelah misa, saya sempat ngobrol dengan beberapa orang, di antaranya adalah mereka yang koor Jumat Agung, karena saya menyapa dan mengapresiasi mereka sih waktu Jumat Agung. Saya jadi merasa nggak sendirian. Dan lagi, saya nyalami mas-mas ganteng yang duduk di sebelah saya waktu Kamis Putih HAHA #abaikan

Malam Paskah
awalnya gelap

Malam Paskah
jadilah terang
Minggu Paskah, sesuai anjuran Pastor Ote, saya pun ke gereja lagi. Niatnya sih jalan kaki lagi, tapi apa daya bangunnya telat, akhirnya naik ojek lah saya, diantar oleh tukang ojek langganan yang orang Jogja. Biasanya saya jarang misa Minggu Paskah, ternyata memang beda liturgi dan bacaannya. Kalau di sini, karena Malam Paskah ada pembaptisan, maka Malam Paskah nggak ada pemercikan untuk umat. Nah, pemercikannya baru saat Minggu Paskah. Eh ternyata abis misa ada ramah tamah gitu, ada snack, dan pembagian telur! Hahaha lucu amat, semua umat boleh mendapatkan telur paskah, nggak cuma anak-anak saja. Lumayan, rezeki anak kos :D

Minggu Paskah
pemberkatan telur setelah misa untuk dibagikan ke umat

Minggu Paskah
suasana ramah tamah di halaman sebelah gereja
Pada akhirnya, keputusan untuk berpaskah di Jatinangor adalah keputusan yang saya syukuri, bukan saya sesali. Tanpa ikut hiruk pikuk (seperti) di Mas Anto, tanpa (banyak) orang yang dikenal. Saya sendiri, tapi ternyata Gusti Allah nggak membiarkan saya benar-benar sendiri. Bahkan setelah misa Minggu Paskah, ketika saya jalan kaki ke kos, entah gimana ada seorang ibu yang ngajak ngobrol sepanjang jalan, ibu itu mau pulang ke rumahnya yang nggak jauh dari kos saya. Kalau kata salah seorang sahabat saya yang lain, "Keluarga emang jauh, tapi yang mirip-mirip ada lah."

Gusti Allah memang suka sekali bercanda, tapi cinta kasih-Nya nggak bercanda, serius banget! Keseriusan kasih-Nya ini sudah dibuktikan lewat peristiwa yang kita peringati pada Kamis Putih-Jumat Agung-Paskah, yang secara konkret diwujudkan oleh Yesus. Gusti Allah Yang Maha Kreatif itu juga menunjukkan kasih-Nya pada kita dengan cara berbeda-beda, sesuai dengan pribadi kita masing-masing, sesuai dengan kebutuhan kita, sesuai dengan kondisi dan situasi kita. Dan cara yang dipakai-Nya untuk kita masing-masing selalu pas.

Selamat Paskah, teman-teman! Semoga kebangkitan Kristus menguatkan kita untuk semakin berani berjuang dalam hidup. Salam, doa dan peluk virtual dari Jatinangor!

 

Minggu Paskah, 1 April 2018
Bukan April mop,

Vania yang pendiam dan pemalu (ini juga bukan April mop) :p

28 Maret 2018

tentang kebenaran otoritatif


hae gaes... cerita kali ini agak siriyes dikit. sekali-sekali lah ya, biar enggak rugi kuliah mahal-mahal :p

Beberapa waktu yang lalu, saya diingatkan oleh seorang dosen bahwa ada yang disebut dengan kebenaran otoritatif. Ini adalah jenis kebenaran yang ‘seolah-olah benar’ karena yang mengatakan hal itu adalah orang yang punya otoritas, misalnya orang tua, pemuka agama, seorang yang punya gelar pendidikan yang tinggi, intinya orang yang dianggap lebih ‘berkuasa’ dan lebih ‘kompeten’ karena punya otoritas. Misalnya saya yang masih dalam proses belajar ini, dibandingkan dengan dosen saya, ya pasti Anda akan lebih percaya dosen saya, ya tho? Apalagi saya yang awam, dibandingkan dengan Romo, apalagi Uskup, pasti Anda akan lebih percaya mereka. Ya aing mah naon atuhhh…

Padahal belum tentu yang diucapkan oleh para ‘Yang Mulia’ yang punya otoritas itu lebih benar dibanding apa yang dikatakan oleh orang yang tidak punya otoritas. Bisa jadi, misalnya karena slip of the tongue alias ‘kepleset lidahnya’, orang yang punya otoritas itu jadi salah bicara, tapi tetap saja kita lebih percaya.

Apakah ini berarti kita tidak boleh percaya dengan apa yang dikatakan mereka yang memiliki otoritas? Ya enggak gitu juga sih. Bagaimanapun, mereka yang punya otoritas (biasanya) memang memiliki kompetensi yang mumpuni, dan karena kompetensinya itu, maka mereka diberi otoritas. Jadi, bukan berarti kita tidak perlu percaya mereka, karena bisa jadi yang mereka sampaikan benar-benar benar.

Memang pada beberapa hal kita tidak perlu membantahnya, karena memang cuma bisa dipercaya, cuma bisa diimani, cuma bisa diikuti. Soal yang satu ini saya tidak akan bahas lebih jauh daripada saya sesat, karena selain saya tidak punya kompetensi soal ini, saya juga tidak punya otoritas untuk bicara soal ini, maka sangat kecil kemungkinannya Anda akan percaya pada saya.

Akan tetapi, kita perlu cermat dan kritis tentang apakah perkataan yang disampaikan orang yang memiliki otoritas ini benar-benar benar. Atau jangan-jangan ada hal lain yang lebih benar? Ini pentingnya cek ‘en ricek (bukan acara gosip). Membaca dan berdiskusi adalah dua hal yang bisa dilakukan untuk mengkritisi suatu pernyataan. Dua hal ini bisa menjadi cara konkret kita mewujudkan #PantangHoax.

Nah, setelah ini silakan coba mencari tentang kebenaran otoritatif di atas, jangan mau asal percaya pada apa yang saya tulis. Siapa yang tahu kalau saya (sengaja) menyesatkan? :p

Jatinangor, 28 Maret 2018
menjelang berakhirnya masa prapaskah, tapi yuk terus jalanin #PantangHoax :)

vania yang pendiam dan pemalu (ini bukan hoax)

28 Februari 2018

menjaga kewarasan

Heyho! Apa kabar 2018mu? Semoga dua bulan di awal 2018 ini berjalan menyenangkan dan bisa menjadi penyemangat untuk bulan-bulan berikutnya, ya :D

Kemarin, saya sempat iseng bikin polling di Twitter: mana yang lebih susah, menahan diri untuk cerita hal yang menyenangkan, atau menahan diri untuk cerita hal yang menyedihkan atau mengesalkan?
Saya belum lihat hasil akhirnya sih, tapi berdasar data terakhir yang saya lihat, kebanyakan memilih lebih susah menahan diri untuk cerita hal yang menyedihkan atau mengesalkan, intinya cerita yang mengandung aspek emosi negatif. Hal ini bisa dibilang wajar. Kalau kata dosen saya di S1 dulu, orang itu akan cerita kalau punya masalah, atau yang diceritakan itu biasanya adalah masalah. Saya pribadi juga merasa sih, kalau lagi bete atau sedih atau cemas gitu bawaannya pengen cerita sama siapa pun. Ya walaupun mungkin masalahnya nggak selesai, tapi minimal ada perasaan lega karena sudah berbagi dan tau ada orang yang care. Seorang sahabat saya pernah bilang kalau beban yang dibagi itu (seakan-akan rasanya) jadi hilang setengah bebannya. Itu yang (mungkin) biasa disebut sebagai katarsis.

Akan tetapi berdasarkan pengalaman saya, cerita bahagia, membanggakan, mendebarkan (dalam arti positif) atau yang mengandung aspek positif itu juga susah untuk tidak dibagikan. Misalnya kita lulus ujian, naik kelas/naik pangkat/naik gaji, keterima kerja, jadian, dapet undian, mau liburan, rasanya juga pengen seluruh dunia tau kan? (cari temen, atau jangan-jangan cuma saya doank ya hahaha). Seorang sahabat (yang sudah saya sebut di atas) juga menambahkan kalau cerita bahagia yang dibagi, itu (seakan-akan) jadi dua kali lipat bahagianya.
Maka, menurut saya, cerita sedih maupun cerita bahagia sama aja susah ditahan untuk nggak dibagikan, meski oleh orang yang pendiam dan pemalu seperti saya :P *kemudian ditimpuk mouse* *gapapa sini saya terima hahaha*

Walau gitu, tetap aja ada bedanya antara cerita sedih dan cerita bahagia. Ketika cerita sedih/kesel kita bagikan, biasanya akan ada sesuatu yang diberikan oleh orang yang mendengarkan cerita kita, sesederhana kata ‘sabar ya’, emoji ikut kesel/marah, diberi pukpuk atau hugs, diberi saran atau nasihat, dan macem-macem. Intinya, apa yang diberikan oleh orang itu, kemungkinan besar akan menurunkan rasa sedih/kesel/cemas kita. Sebaliknya, ketika cerita senang kita bagikan ke orang lain, biasanya orang itu akan turut senang atau memberi komentar menyenangkan yang akan meningkatkan rasa senang kita. Apalagi kalau kita cerita tentang harapan atau ekspektasi atau rencana kita, biasanya komentarnya tuh makin membuat perasaan kita melambung dan imajinasi kita makin menjadi-jadi. Menurut saya, di sini kudu ati-ati. Ingat, segala sesuatu yang berlebihan itu nggak baik, termasuk ekspektasi berlebihan. Kalau ekspektasi nggak kesampaian, saaaakkkkiiiittt~~ haaaatttiiikkuuu~ *kemudian nyanyi*
Ada beberapa contoh dari pengalaman pribadi saya tentang cerita ekspektasi ini. Misalnya dulu udah punya rencana mau liburan ke Malaysia, udah cerita ke mana-mana, ternyata dibatalin. Udah yakin bakal keterima di yujiem karena di unpad yang relatif lebih susah seleksinya aja bisa keterima, eh ternyata gagal. Udah janjian mau ketemuan di Jogja karena bakl pulang, ternyata jadwal masuk kuliah dimajuin. Terus jatuh cinta sama si itu, udah cerita ke mana-mana, digodain dan didoain orang lain jadi harapan makin melambung ternyata pedhot ugha. Saaaakkkiiittt~~ haaattiiikuuu wooo uwooo~ ooooouuuwwoooo~ *kemudian nyanyi lagi*

Pas nulis ini tiba-tiba saya keinget salah satu prinsipnya St. Ignatius Loyola (maklum, kebanyakan bergaul sama yesweet :P). Saya lupa gimana persisnya kalimatnya, tapi intinya: ketika merasa senang (konsolasi) ingat-ingatlah masa-masa sedih (desolasi), dan sebaliknya, ketika masa-masa sedih (desolasi) ingat-ingatlah masa-masa senang (konsolasi).

Jadi kalau ada yang merasa sedih dan mau menyerah karena skripsi ditolak mulu sama pembimbing, coba ingat momen menyenangkan dalam bikin skripsi, misalnya ketika berhasil menemukan masalah penelitian, ketika revisian di-acc, ketika pengambilan data selesai (contohnya konkret banget ya, maklum masih mahasiswi, lagi belajar metode penelitian pula hahaha)
Atau ketika ada konflik besar sama pasangan dan rasanya pengen pisah aja, coba diingat hal-hal yang membuat jatuh cinta, atau yang membuat relasi semakin dekat.

Ketika liburan yang (puji Tuhaaan) cukup panjang akhir 2017-awal 2018 lalu, saya beberapa kali refleksi perjuangan di semester 1 kemarin, sambil tetap mengingat-ingat Jatinangor yang sedang saya tinggal untuk berlibur di Jogja tercinta. Supaya nggak keenakan libur dan nggak lupa balik ke Nangor gitu maksudnya hehe
Ketika kita mendapatkan hal yang kita inginkan, ingat juga betapa menantangnya perjuangan untuk mendapatkan hal itu.

Bagi saya, refleksi-refleksi seperti ini sangat membantu untuk menjaga saya untuk tidak larut pada kesedihan/kekesalan/kemarahan berkepanjangan, maupun kesenangan berkepanjangan. Karena hidup itu konon katanya seperti roda yang selalu berputar, kadang posisi kita ada di atas, kadang posisi kita ada di bawah. Kadang kita hepi, kadang kita sedih. Tapi karena roda itu terus berputar, maka kesedihan dan kebahagiaan kita tak ada yang abadi~ *boleh dibaca sambil nyanyi*


Maka bagi saya, berbagi cerita baik cerita tentang hal menyenangkan, maupun menyedihkan atau menyebalkan, dibarengi dengan refleksi-refleksi ini sangat membantu untuk tetap realistis dan untuk menjaga kewarasan. 


Jatinangor, 28-02-2018
si bintang yang suka berbagi cerita meski aslinya pendiam dan pemalu (plis, percaya aja :p)

19 November 2017

God is the best planner

God is the best planner ever. Dia memilihkan jalan untuk kita, sepaket dengan perbekalan yang kita butuhkan. Kadang perbekalannya nggak dikasih semua di awal, tapi akan dikasih pas kita perlu dan pas takarannya.

Kurang lebih itu yang saya bagikan ke seorang sahabat yang sedang galau akan langkah hidup selanjutnya. Saya pun pernah, eh sedang, mengalami hal yang sama. Keputusan saya untuk kuliah lagi, lalu ndilalah keterima di Unpad dan harus terdampar di sebuah kecamatan bernama Jatinangor, bagi saya adalah rencana Tuhan yang mendebarkan dan menggetarkan. Seperti sudah saya tulis di postingan sebelumnya, ini adalah pengalaman pertama saya menjadi anak rantau dan anak kos. Personally, there’s so many things to worry about. Tapi ternyata saya bisa juga melewati hari-hari sebagai mahasiswa S2 di kecamatan Jatinangor ini, sudah lebih dari 3 bulan! Yah, meski perjalanannya tidak selalu mulus dan banyak air mata, rindu yang selalu memuncak, berbagai drama dan gejolak, tapi perjalanan ini membuat saya semakin mengenal diri saya dan berkawan dengan kesendirian serta kesepian.

Saya harus mengakui bahwa setelah menjalani kehidupan sebagai anak rantau dan anak kos newbie, saya jadi malu sama diri sendiri. Sejak SMA, saya punya keinginan untuk bisa kuliah di luar negeri, tujuan saya saat itu adalah Australia. Bahkan, saya pun pernah memakai alasan itu untuk membohongi teman-teman saat April Mop. Yah, bohongnya yang baik-baik, siapa tau kejadian beneran ya kan hahaha… waktu itu saya bilang ke adek-adek pengurus Papita (Valent, Angel, Febri, dkk) kalau saya harus segera pamit karena akan melanjutkan studi di Australia. Kalau nggak salah ingat sih mereka waktu itu udah mimbik-mimbik nahan nangis hahaha kocak banget deh :))

Tahun lalu, sebelum saya mendaftar S2, saya juga sempat mendaftar menjadi asisten peneliti di Timika, Papua. Nekad sih saya waktu itu, hanya karena saya pengen banget menginjakkan kaki di Bumi Cenderawasih. Tapi saya nggak diterima, karena mereka lebih memilih warga lokal. Waktu itu saya sempat kecewa. Biasa lah, walau baru mendaftar, tapi pikirannya udah heboh ke sana kemari.

Setelah menjalani hidup di kecamatan Jatinangor ini, barulah saya bersyukur sekali nggak keterima di Papua dan belum dapat kesempatan kuliah di Australia. Betapa tidak, saya sekarang yang masih sama-sama tinggal di Jawa saja kangennya luar biasa. Benteng pertahanan rindu saya sudah berulang kali hampir jebol. Sampai sekarang pun saya udah berkali-kali dikirimi paket dari rumah maupun dari online shop. Tidak hanya itu, saya pun berkali-kali membayangkan rumah dan berkali-kali ingin pulang, meski akhirnya saya tahan.

Saya tidak bisa membayangkan kalau saya jadi keterima di Papua, atau saya berkesempatan kuliah di Australia dan pengalaman itu adalah kali pertama saya merantau. Mungkin hidup saya akan terasa jauhhh lebih berat daripada sekarang. Selain karena memang lebih jauh, perbedaan waktu, bahasa, budaya dan mungkin juga akses, dan orang-orang yang dijumpai mungkin membuat saya lebih susah move on. Setelah berefleksi terus menerus, saya pun sangat bersyukur atas apa yang saya alami, atas apa yang Tuhan siapkan dan pilihkan untuk saya.

Saya jadi ingat bacaan injil hari ini, tentang talenta. Benar bahwa Tuhan memberi kita talenta yang berbeda-beda. Memang ada orang yang bisa merantau di usia yang sangat muda, tapi ada juga yang baru bisa merantau di usia lebih dari 20an, itu pun banyak bapernya (iya ini ngomongin diri sendiri :p).
Dia juga tau kapan dan di mana kira-kira kita bisa mengembangkan talenta yang kita miliki. Dia pun tau bagaimana cara menolong kita untuk mengoptimalkan talenta yang kita miliki, dan membagikannya pada orang lain.

Yang jadi pertanyaan buat kita, mau nggak kita mengoptimalkan dan mengembangkan talenta yang kita miliki? Mau nggak kita ikut serta mewujudkan rencana-Nya?


God is the best planner, but it means nothing if we do nothing to work through the plans.

Selamat dan tetap semangat untuk menjalankan rencana-Nya dan mengembangkan talenta!



Minggu, 19 November 2017
09.09 PM
dari Kecamatan Jatinangor,

Stella Vania

09 September 2017

Jatinangor rasa Jogja

Hari ini tepat sebulan saya meninggalkan Jogja. Kalau ditanya apakah saya kangen Jogja atau engga, saya akan jawab saya kuangeeeeennnn buangeeetttt. Setiap saat! Manifestasi rasa kangen saya sama Jogja itu suka random banget. Tiba-tiba saya inget jalan di sekitar Kalasan. Besoknya, mendadak saya kebayang-bayang jalanan di sekitar taman parkir Ngabean. Pokoknya ajaib gitu deh, random. Trus munculnya suka mendadak pula, pop up gitu. Tiba-tiba di tengah bimbingan saya bisa aja gitu keinget jalan di deket rumah saya.

Minggu lalu, sebelum saya dolan ke Jakarta, saya dihubungi pihak Fakultas Psikologi Unpad, katanya saya diminta ikut terlibat dalam acara Dies Natalis Unpad sebagai perwakilan dari Jogja. Permintaan ini sempet bikin saya kepikiran dan galau, karena mereka rikues saya suruh pakai baju adat dan menyiapkan sendiri baju adatnya. Dueeenggg! Saya langsung kontak mama dan minta tolong kirim baju dari Jogja. Tapi persoalan tidak berhenti di situ, saya juga mikir soal dandan. Duh, ribet amat yak, pikir saya. Ketika ketemu sama panitianya, saya jadi agak tenang karena beliau bilang bisa didandani, tapi kumpulnya pagi pagi sekali.
Tadi pagi, saya sudah harus sampai kampus jam 05.30. Ketika saya keluar dari kos, langit masih gelap dan masih ada bulan coba lah. Sampai di kampus, ternyata sudah ada beberapa ibu yang dirias, dan ternyata ada yang pura-pura jadi manten, jadinya dirias paes ageng. Unyu sekaliii… terus ternyata ada yang jadi cucuk lampah, terus ada beberapa orang yang pakai beskap dan lurik. Kemudian saya merasa berada di Jatinangor rasa Jogja. Rasa Jogja itu bertambah ketika jalan pawai, rombongan kami diiringi dengan lagu Kebo Giro, yang biasanya memang dipakai sebagai lagu pengiring manten berjalan ke pelaminan.
Ternyata, pawainya cukup meriah. Saya baru tau juga kalau pawai itu adalah bagian dari pembukaan OOTRAD atau olimpiade olahraga tradisional yang merupakan rangkaian acara dies natalis Unpad ke 60. Tiap fakultas seakan-akan menjadi kontingen dari provinsi tertentu, lalu diminta menampilkan diri sesuai dengan provinsinya. Contohnya tadi ada yang ceritanya mewakili DKI Jakarta, terus bawa ondel-ondel. Trus ada yang ceritanya mewakili Jawa Timur, mereka pada pakai baju ala Madura, dan bawa Reog Ponorogo. Seru deh!

Saya seneng banget bisa menikmati penampilan yang keren-keren. Tapi saya lebih seneng karena bisa lebih kenal sama beberapa karyawan yang seru nan kocak. Sebenarnya tadi yang dari rombongan kami, yang asli Jogja cuma dua orang, saya dan Mbak Anggita, mahasiswi S3 Psikologi yang asli mBantul (kudu pakai ‘m’ ya :p) Mbak Anggita ini, walau dosen di sebuah universitas di Jakarta, tapi seru bangettt. Beliau ngajakin saya foto-foto sama ‘para pengantin’ dari berbagai ‘provinsi’. Jadi tadi pagi kami berasa kondangan tingkat nasional :D

Meski kegiatan tadi tidak menghilangkan kebaperan saya akan Jogja yang sungguh berhati nyaman, tapi saya senang sekali dilibatkan dalam kegiatan itu, kenal orang-orang baru, dan merasa semakin punya teman. Semoga pengalaman ini bisa membuat saya semakin merasakan “Jatinangor rasa Jogja”, merasakan nyamannya (hidup di) Jatinangor, meski tetap tidak ada yang bisa mengalahkan nyamannya Yogyakarta yang memang berhati nyaman.


PS: semoga Yogyakarta nggak berhenti nyaman ya!


Sabtu malam, 9/9/17
cah Jogja,
vania

26 Agustus 2017

dua minggu

dua minggu. saya bingung mau menaruh kata "sudah" atau "baru" di depan frasa itu. kalau "sudah dua minggu" artinya rasanya sudah lama saya ada di sini, menjalani tiga peran baru sebagai anak rantau, anak kos dan mahasiswa baru. padahal ini baru awal perjalanan panjang saya yang (harapannya) akan berlangsung lima semester. tapi kalau "baru dua minggu", rasanya juga sudah cukup banyak hal yang saya alami dan saya rasakan selama dua minggu di sini. 

sistem perkuliahan di sini adalah sistem blok, kayak anak kedokteran gitu. jadi dalam rentang waktu tertentu, yang dibahas hanya satu bab (atau satu materi) lalu diakhiri dengan ujian, setelah ujian ganti materi lain. contohnya, minggu ini saya belajar tentang observasi dan interview individual. hari Senin dan Rabu ada kuliah, Kamis praktikum dan harus bikin laporan yang dikumpul hari itu juga, Jumat ujian. lalu besok Senin ganti materi lain. begitulah, dalam satu blok harus terkumpul nilai tugas, nilai UTS dan nilai UAS. kebayang lah ya betapa intensnya... bahkan dari draft jadwal yang sudah dishare, ada materi yang cuma dikasih satu hari, besoknya ujian. I can't even imagine bakal jadi kek apa nanti prosesnya. tapi ya sudahlah, namanya juga sudah dipilih, kudu dijalani, dinikmati, dimaknai dan disyukuri. :)

anyway, dua minggu di sini membuat saya menyadari bahwa ternyata rasa rindu itu random dan irasional. bisa-bisanya di tengah-tengah kuliah tiba-tiba saya ingat Soto Kadipiro, kangen rumah, kangen mama, pengen ke Kotabaru dan berbagai kerandoman lainnya. bahkan saya bisa tiba-tiba ingat beberapa sudut Jogja yang sebelumnya jarang saya datangi ketika saya di Jogja. dan bayangan serta perasaan itu munculnya kadang di waktu yang nggak umum, misalnya di tengah-tengah pengerjaan tugas atau ketika bangun tidur. yah, namanya juga perasaan ya. kalau kata Choice Theory (yang baru saja saya tau tadi pagi), perasaan mah nggak bisa kita kontrol secara langsung, beda sama pikiran dan perilaku. #NyebutTeoriBiarKeliatanMahasiswa :p

kerinduan saya sama Jogja beberapa kali juga "dicolek" gitu sama semesta. misalnya beberapa hari lalu teman saya tiba-tiba bertanya tentang bahasa Jawa. lalu beberapa hari berikutnya, teman saya yang lain bertanya perbandingan antara Jogja dan Bandung. yang paling lucu adalah ketika dosen minggu ini memberi pengumuman bahwa ujian akan berupa analisis film, dan film yang akan dipakai adalah AADC 2, spontan saya langsung mikir, "Wah, baper Jogja nihhh..." tapi untungnya, karena nonton film fokus buat analisis, jadi kebaperan akan Jogja bisa (sedikit) teratasi :))

akhirnya saya memutuskan bahwa ini "baru dua minggu", karena masih panjang perjalanan yang harus saya tempuh. dua minggu itu, bagi saya, tidak lagi dalam masa denial, tapi lebih bargaining. beberapa kali saya sudah punya keinginan untuk pulang (ke Jogja), tapi lalu saya dihadapkan pada kenyataan jadwal yang intens dan ingat kembali tujuan saya ke sini apa. kadang saya masih mencoba melakukan penawaran (dalam hati, entah dengan siapa), kapan ya kira-kira bisa balik, akhir tahun mungkin natalan di Jogja nggak ya, wah tapi Desember mah masih lama ya, dan sebagainya. well, saya kadang iri juga sama teman-teman yang sama-sama ngekos tapi rumahnya di Bandung atau Jakarta, jadi dia bisa balik atau keluarganya bisa ke sini hehehe. but everyone has their own part and everything has it's own time, right? so, this is my kind of battle right now, but I really thankful because I have this opportunity. semoga saja saya bisa cepat menyesuaikan diri dengan tiga status baru saya sebagai anak rantau, anak kos dan mahasiswa baru (S2 pula!), dan hasilnya pun sepadan dengan perjuangan saya. 

harapan yang sama juga saya bisikkan ke Dia untukmu, ya! good luck with your own battle! <3



Sabtu, 26 Agustus 2017
dari gadis yang bersyukur akan adanya anugerah bernama akhir pekan,

vania

12 Agustus 2017

August is ...

August is all about starting new journey, and it means new status, new places, new experiences, new friends, everything!

Flashback sedikit, bulan Agustus 2014, saya mulai perjalanan SLP, semacam KKN, di Cagayan de Oro, Philippines. Kurang lebih sebulan jauh dari rumah, serumah dengan orang-orang dari Filipina, Jepang dan Korea sambil berbahasa Inggris setiap hari merupakan pengalaman yang luar biasa bagi saya. Banyak “first thing” yang saya alami selama saya SLP, dan somehow, SLP change my life.

Agustus 2015. Saya memutuskan untuk mengakhiri relasi dengan seorang laki-laki yang saya patahkan hatinya. Yes, I made that choice and I think I never regret it. Well, saya sadar bahwa mencintainya bukanlah suatu kesalahan, begitu juga dengan berhenti mencintainya.

Agustus 2016. Saya kembali terlibat dalam SLP, tapi kali ini ikut membantu sebagai panitia, karena SLP diadakan oleh Universitas Sanata Dharma di Jogja. Lagi-lagi saya berkenalan dengan rekan-rekan dari Filipina, Jepang dan Korea. Saya juga mulai terlibat mendampingi retret. Retret pertama yang saya damping adalah retretnya Stero, terima kasih Romo Adri sudah ngajakin saya! :D

Agustus 2017. Here I am now, living a “brand new” life. Jatinangor. Tidak pernah terlintas dalam benak saya untuk datang, apalagi tinggal di kota ini. Namun karena kota ini, sekarang saya resmi menyandang tiga status baru sekaligus: anak rantau, anak kost dan mahasiswa baru. Dulu di rumah sih anak kost juga statusnya, tapi kan di rumah, ini mah sekarang jauh hehehe
Belum genap seminggu saya di sini, maka masih benar-benar baru. Bagaimana rasanya? Mmm, campur aduk, sih. Yang pasti, perasaan cemas, gelisah dan takut adalah perasaan-perasaan yang paling mendominasi saat ini. Menurut saya ini cukup wajar karena ini pertama kalinya saya benar-benar merantau, meski sudah sempat sebulan numpang hidup di negara orang saat SLP, tapi saat itu saya masih punya empat teman dan satu dosen yang sama-sama dari Sadhar (hey guys!) But now I feel like I am alone. Sebenarnya kalau soal sendiri, saya sudah cukup terbiasa, karena di rumah pun sering sendiri. Tapi masalahnya, di sini saya sama sekali buta arah, ada perbedaan budaya, dan masih ngeblank soal perkuliahan di Unpad, kampus saya sekarang. There are so many things to worry about. 
Meski begitu, ada banyak sekali hal yang saya syukuri dan cukup meredakan kecemasan saya. Mulai dari (kamar) kost yang nyaman, teman satu kost yang ternyata juga teman sekelas, keluarga penjaga kost yang sangat helpful dan juga teman-teman sekelas yang menyenangkan. Despite of all insecurities and anxieties, I am grateful to have this opportunity. Akhirnya saya keluar dari rumah, keluar dari Jogja, keluar dari Kotabaru, keluar dari zona super nyaman. Ya memang nggak nyaman, tapi yang nggak nyaman itu yang seringkali mengembangkan, ya kan ;)

So, please kindly pray for me and this journey, guys! Hopefully I can learn and develop, not only as a student, but as a human as well. 
Hatur nuhun! :D


Sabtu, 12 Agustus 2017
(benar-benar) anak kost,

Vania

07 Maret 2017

karena (di)percaya itu indah

hae gaesss! salam manis dari pengangguran :))
begitulah, sudah hampir setahun (anjir banget dah) saya resmi jadi pengangguran. ketika selesai yudisium bulan Juni 2016, saya mikir saya pengen bebas dulu, minimal sampai wisuda, setelah itu baru dipikir lah mau apa. saya pengen nyoba macem-macem hal sebelum mengikat diri lagi, entah dengan pekerjaan, sekolah, atau hati yang baru #EH :p

entah bagaimana ceritanya, kok ya ndilalah saya dihampiri beberapa kesempatan untuk mencoba dan belajar banyak hal, mulai dari menyiapkan dan memberi training sederhana (sama temen sendiri, Saint Peter!), menemani retret anak-anak SMA dan rekoleksi anak-anak SMP, membawa Aping & Anit ke FKY, memberi konseling dan wawancara, jadi asisten praktikum lagi, promosi EKM, menyelenggarakan retret, memberi dan memeriksa psikotes, nyobain jadi HRD, jaga stand jobfair, menulis untuk majalah, bicara di depan 300 anak SMP, macem-macem banget deh pengalamannya selama hampir setahun ini, meski tidak punya pekerjaan dan pemasukan tetap, tapi ternyata "pemasukan" yang saya dapatkan jauhhh lebih berharga dari yang bisa saya bayangkan. 

dalam rentang waktu hampir satu tahun ini, saya seringkali merasa bingung, tidak tahu mau ke mana. ada satu waktu di mana saya benar-benar menyiapkan diri untuk bekerja, mulai dari bikin akun di situs pencari kerja online, membuat dan memperbarui CV, melamar ke beberapa perusahaan, harap harap cemas kalau ada notifikasi akun dilihat oleh perusahaan itu atau ada lowongan yang sesuai minat, mencoba beberapa fitur di LinkedIn, sampai membuat akun di website salah satu perusahaan terkemuka untuk melamar pekerjaan. saya bahkan sudah pernah mengatur waktu kalau-kalau saya harus ke Jakarta untuk menanggapi panggilan kerja. tapi seiring berjalannya waktu, dan tidak ada panggilan kerja yang saya terima, semangat untuk mengejar pekerjaan pun meluntur, lalu saya kembali menjadi vania yang biasanya: sibuk membantu teman, berdiskusi mengenai skripsi, membaca beberapa buku, dan doing nothing (ra produktip tenan kowe van -_-)

ketika beberapa waktu lalu berkumpul bersama teman-teman Joyful Gathering untuk "update status", saya pun berefleksi bahwa setidaknya selama lebih dari setengah tahun ini, banyak sekali peluang yang dipercayakan pada saya, dan saya belajar buanyak hal dari peluang-peluang itu. saya belajar jadi HRD, yang somehow out of my mind, saya nggak pernah bayangin saya jadi HRD, eh ngicipin juga. saya nggak pernah bayangin saya bisa ngomong di depan 300 anak SMP, meski agak kesulitan mengendalikan situasi, tapi toh akhirnya bisa juga, maklum saya cuma jadi pemancing aja, pembicara utamanya orang lain hahaha :p

dannn akhir-akhir ini saya mendapat kepercayaan yang luaaarrr biasaaa... jadi begini ceritanya, skripsi saya kan tentang anak dari keluarga single mother. ketika saya membuat skripsi, saya mencari apapun yang mengarah ke topik itu, lalu saya menemukan sebuah komunitas single parent, namanya SPINmotion: single parent Indonesia in motion. ternyata, saat saya bergabung, komunitas itu belum lama dibentuk. saya pun masuk ke dalam grup WA komunitas ini dan makin lama, perkembangan komunitas ini semakin luar biasa. akhirnya mulai dibentuk grup-grup kecil berdasarkan topik bahasan, di antaranya ada grup hukum, grup bisnis, grup kesehatan dan psikologi. oleh founder SPINmotion, saya dipercaya untuk mengurus grup kesehatan dan psikologi, bersama dua orang dokter yang ternyata juga single mother. hari Jumat, 3 Maret 2017 lalu, SPINmotion cabang Yogyakarta pun resmi menjadi sebuah yayasan. lalu lagi-lagi, founder SPINmotion menghubungi saya dan bilang, "Nanti bersama dua dokter yang lain, jadi staf ahli yayasan ya." saya langsung kaget dan berkata dalam hati: GUSTI ALLAH! AING MAH NAON ATUUUHHHH... cuma remahan rempeyek gosong :O :O :O
sumpah, saya merasa tidak seahli itu untuk diberi label 'staf ahli'. saya pun bertanya kenapa beliau bisa sepercaya itu pada saya, yang bahkan belum pernah ketemu sama sekali. lalu beliau menjawab, "Saya kan menebar jejaring informan, pengalamanmu sudah mumpuni untuk jadi staf ahli psikologi para janda dan duda." 
DUUEEENNNGGG!!! saya langsung merasa saya haruuusss belajar belajar belajar dan belajar terus mbuh piye cara'ne! 

ternyata, dipercaya itu (bisa jadi) motivasi yang warbiyasak! :D

yah, semoga saya nggak sesat yaaa... :))



Selasa, 7 Maret 2017
19.48
masih pengangguran,
vania