selain cerita si bintang

23 Desember 2014

Berubah itu Berbuah

Apapun yang kita lakukan tidak mungkin menyenangkan semua orang, pasti ada orang-orang yang mendukung, tapi pasti juga ada orang-orang yang menentang kita. Hal itu sangatlah wajar dan sepertinya sudah menjadi salah satu hukum universal di alam semesta ini.

Kita pasti pernah menjumpai satu orang yang dijadikan “musuh bersama” karena tingkah laku atau sifatnya yang begitu menyebalkan. Terkadang, disadari atau tidak, kita sendirilah orang itu. Ketika SD, saya pernah merasakan ada di posisi tersebut. Saya dijauhi dan diejek teman-teman sekelas saya, tapi saya tidak tahu mengapa saya diperlakukan demikian. Kejadian itu begitu membekas bagi saya dan mempengaruhi hidup saya hingga kini. Saya menjadi orang yang enggan untuk memulai berhubungan dengan orang lain, karena takut ditolak. Saya enggan menyapa orang lain terlebih dahulu. Saya seringkali memilih untuk diam dan menyendiri.

Begitu pula ketika saya jalan-jalan bersama beberapa teman kemarin. Suasana begitu ceria, tapi saya tidak sepenuhnya menikmati hal itu. Saya merasa asing. Saya merasa sendirian. Sampai ketika beberapa teman bermain-main dan berfoto bersama, saya memutuskan untuk bergabung bersama mereka. Saya memutuskan untuk tidak menunggu ajakan dari mereka, tapi saya mengajukan diri untuk bergabung dengan mereka. Ketakutan bahwa saya akan ditolak pun ternyata tidak terbukti. Saya sadar bahwa ketika kita tidak bisa mengubah keadaan atau mengubah orang lain, kita perlu bercermin karena jangan-jangan kitalah yang perlu berubah. Dalam hal ini, saya menjadi sadar bahwa tidak ada salahnya ketika mencoba memulai menyapa orang lain lebih dulu, mencoba bergabung dengan mereka dan mencoba pertama-tama membuka diri. Karena orang lain tidak akan bisa masuk ke dalam hidup kita jika kita masih menutup diri dari mereka.

Sore itu, tidak hanya suasana di tempat itu yang ceria, tapi suasana hati saya pun membaik dan ikut ceria. Ternyata berubah itu tidak selalu susah. Perubahan tidak harus selalu hal-hal besar. Tetapi satu hal yang pasti, berubah itu selalu berbuah.




Yogyakarta, 23 Desember 2014

Stella Vania Puspitasari


26 November 2014

super lovely family

Minggu, 23 November 2014 mama dan papa saya kembali terbang ke Jakarta. 
Senin, 24 November 2014 papa menjalani tindakan medis, yakni dipasang ring. 
Ya, setelah tujuh tahun lalu dioperasi by-pass, bulan Agustus lalu saat saya di Filipina, papa saya sesak napas lagi dan harus dirawat inap. Beberapa waktu kemudian, papa dikateter dan beberapa kali sesak napas sampai harus dirawat inap lagi. Setelah periksa lagi ke Jakarta, akhirnya diputuskanlah bahwa papa harus dipasang ring.

Ketika kemarin Minggu mama papa ke Jakarta, saya bilang ke kakak di grup WA Keluarga Esnawan, “kak, shift-shiftan kita yak”. Maklumlah, saya nggak bisa ikut ke Jakarta karena masih ada kerjaan yang harus digarap, dan kakak yang memang sudah tinggal di sana harusnya bisa lah nemenin mama papa. Setelah saya ngirim itu, saya terus “mak tratap” sendiri. Saya dan kakak bisa shift-shiftan, tapi mama nggak mau. Bisa sih sebenarnya, tapi mama nggak mau aja gitu. Mama rela ninggalin kerjaan kantor yang setumpuk. Sebagai seorang akuntan, akhir tahun adalah waktunya lembur-lembur, tapi toh mama rela ninggalin itu semua demi nemenin papa berobat.

Ya, inilah yang dinamakan cinta, mungkin. Cinta itu butuh pengorbanan, men! #eaaa

Sebagai seorang anak, saya merasa seringkali nggak berbakti. Akhir-akhir ini saya jarang di rumah, kek bang toyib, soalnya banyak kerjaan. Meski gitu, mama papa nggak protes dan nggak ngelarang saya. Tinggal saya yang seringkali merasa berdosa, meski terus dilanjutin juga sih #selftoyor

Puji Tuhan, kemarin hari Selasa, 25 November 2014 papa sudah boleh keluar dari rumah sakit. Rencananya hari ini mereka akan kembali ke Jogja, semoga ya :)

Saya merasa bersyukur terlahir di keluarga ini. Mungkin keluarga saya nggak berkelimpahan, nggak punya rumah mewah *soalnya sawahnya udah jadi rumah*, nggak punya gadget-gadget bagus… Mungkin juga seringkali ada marah-marah di keluarga saya, entah papa ke saya, mama ke papa, saya ke kakak, kakak ke saya, saya ke papa, tapi toh kami sering banget ngakak bareng. Keluarga saya mungkin juga bukan keluarga yang sempurna menurut orang lain, tapi saya nggak pengen menukar keluarga saya dengan apapun, dengan keluarga kerajaan sekalipun. I am happy with my family. *kemudian muter sontreknya Keluarga Cemara*

Semoga papa dan mama dan kakak gendut selalu sehat, selalu bahagia dan kita bisa ngekek-ngekek terus! Semoga Tuhan juga selalu memberkati kita berempat yaaa :)

Thanks for always being super lovely family, mama, papa, kakak gendut! :*

one of my big bro's bday :3

two years ago. potong kuenyaaaa :D



Rabu, 26 November 2014
ulang tahun perkawinan mama-papa ke 27 tahun :)



nok - nonik - dek - ndut - vania

23 November 2014

a little note when I'm growing

Sekarang saya baru benar-benar percaya bahwa kuliah di psikologi bikin saya makin mengenal diri saya dan merupakan salah satu metode “berobat jalan” yang manjur. Saya sadar bahwa saya punya kebutuhan untuk merasa dibutuhkan. I feel anxious when I feel that I am useless. Saya sadar bahwa saya takut ketika orang tidak lagi memperhatikan saya, ketika ada orang lain yang saya rasa bisa menggantikan posisi saya. Kemudian saya akan tidak menyukai orang itu, karena saya jadi cemas ketika ada orang itu, bahkan sekedar membayangkannya. Di satu sisi, hal itu adalah sesuatu yang wajar. Well, manusia memang selalu digerakkan oleh kebutuhannya, begitu bukan, Om Murray? Tapi di sisi lain, saya merasa saya nggak boleh melakukan itu. Saya nggak boleh su’udzon kayak gitu. Saya nggak boleh benci orang itu, toh dia nggak salah apa-apa sama saya. Saya nggak boleh merasa diri nggak berharga. Dan masih ada rentetan “saya nggak boleh” lainnya. Saya sadar dan saya tahu kalau hal itu nggak boleh, setidaknya menurut saya. Alasannya sederhana. Biar saya bikin dalam bentuk dialog supaya lebih gampang.

“Emang kenapa kamu nggak suka sama dia?”
“Soalnya dia narik perhatian orang-orang di sekitarku, yang biasanya merhatiin aku.”
“Terus kenapa? Itu salah?”
“Ya enggak sih, tapi kan aku jadi nggak digagas, nggak disapa, nggak diruhke
“Terus kenapa?”
“Ya kan aku merasa nggak berharga…”
“Jadi itu yang ngerasa siapa?”
“A… aku…”
“Jadi dia itu salah nggak?”
“Mmmm… ya enggak sih… tapi………”
“Tapi kenapa?”
“Tapi aku tetep nggak suka sama dia!”
“Lah? Kenapa kamu nggak suka sama dia?”
“Soalnya … soalnya semua omongan sekarang jadi tentang dia!”
……………. #rauwisuwis


Saya sepenuhnya sadar bahwa ini masalahnya ada di saya sendiri. But it’s not easy to be “calm” like that. Percayalah, kawan-kawan, tidak semudah itu untuk bilang “semua kan baik-baik saja” pada orang yang merasa itu sangat tidak baik-baik saja. Nggak mudah bagi saya untuk mencoba mengenal satu orang, kalau perasaan saya masih nggak enak sama dia. Mirip lah sama ketika kita bilang bahwa duren itu heavenly yummy sama orang yang baru cium bau duren aja udah muntah. Mungkin hal ini terdengar lebay dan nggak berperiketemanan. I’ve tried it, tapi yo ra gampang bro.

Saya juga baru sadar bahwa mungkin inilah salah satu alasan utama kenapa saya selama ini sibuk sana sini. Saya golek kanca. Saya cari di mana saya lebih merasa bahwa saya lebih dibutuhkan. Meski tampaknya nggak sangat baik motivasinya, tapi tampaknya ada hal-hal baik dari motivasi ini. *nah lho defense* :p

Terus kowe arep piye yen wis ngerti ngene? Ya, itulah PR saya. Itulah kenapa saya masih “berobat jalan” dan belum lulus dari psikologi.
Emang kamu yakin bakal bisa “sembuh” dari hal ini? Well… I’m not that sure. Karena yang namanya kebutuhan itu nggak bisa seratus persen hilang, setau saya sih. Tapi kebutuhan itu bisa menjadi rendah dan mungkin tertutupi dengan kebutuhan lain yang lebih tinggi. Menurut saya, kebutuhan itu juga dipicu dengan tekanan tertentu, dan mungkin sekarang memang masanya saya menjadi “lebih perempuan” dibanding biasanya, makanya kenapa hal “kecil” kayak gini dibahas.

Yang bisa saya lakukan saat ini, untuk meringankan gejala ini adalah “counter attack”. Saya berusaha meyakinkan diri saya sendiri bahwa saya istimewa, saya berharga, saya nggak sendirian, saya adalah seseorang yang punya nilai baik. Sekali lagi, bagi saya, ini bukanlah hal yang mudah, apalagi di tengah ayunan (baca: mood swing) begini. Maka ketika ada seorang sahabat yang tiba-tiba bilang, “Kalau butuh bantuan bilang ya, siapa tau saya bisa bantu” tanpa saya kasih kode atau bilang apapun padanya, saya merasa terharu. I realized that I will never walk alone, even I feel like I’m the loneliest person in the world. #lebayatun

Jujur, sampai ketika saya menulis postingan ini, saya masih ragu mau mosting ini nggak ya. Saya cemas kalau nanti orang memandang saya aneh. Saya cemas nanti teman-teman saya malah ninggalin saya setelah baca ini. Tapi saya juga tahu bahwa saya perlu memberitahu orang lain tentang diri saya, supaya relasi kita makin baik gitu coy. Saya juga percaya bahwa “mengorek luka” dan mengakui diri adalah salah satu proses menjadi manusia yang lebih baik lagi, secara khusus menjadi manusia yang lebih sehat mental.
 
*berdoa*

so trueeeee!



Hasil ngaca (baca: refleksi)
Quality time with myself
Sunday evening, 11-23-2014


*vania*

namanya juga pelayanan

beberapa tahun belakangan ini, mama papa saya punya "anak" baru, namanya Karisma. mama papa saya punya kelompok gitu, semacam koor dan juga penyewaan sound system. ketika diminta ngisi suatu acara, mama papa nggak pakai kata "job", tapi "pelayanan". disebut pelayanan karena mama papa nggak pernah pasang tarif.

namanya juga pelayanan, ada senengnya, ada enggaknya.
sejauh pengamatan dan pengalaman saya, beberapa hal yang bikin seneng adalah pelayanan ke mana-mana, dari mulai keliling ke gereja-gereja di Jogja, sampai sering ke Wonogiri. terus juga kenal dan ketemu berbagai macam orang, juga romo, bruder, frater dan suster, sampai keluarga-keluarga yang akhirnya secara rutin mengundang Karisma. 

kalau enggak senengnya juga ada banyak. salah satunya baru terjadi hari ini. hari ini seharusnya ada pelayanan manten di salah satu gereja. manten itu juga minta dibikinin buku dan waktu itu, ketika mama lagi nganterin papa periksa di Jakarta, orang itu sangat ngejar-ngejar untuk bukunya cepet jadi. saya pun dikejar-kejar mama untuk bikin teks manten dan kirim ke mereka. hari ini, sound system sudah dipasang di gereja itu, tapi tiba-tiba ada kelompok koor lain yang sudah disiapkan sama si manten. untung, hari ini mama dan papa nggak ikut pelayanan karena ke Jakarta. coba ikut, kan pasti jengkel dan malah bisa memperburuk keadaannya papa. akhirnya, semua pun diangkut pulang dan nggak jadi pelayanan. bukannya senang, hati malah jadi gamang #heyitrhymes

tapi ya namanya juga pelayanan coy, nggak semua hal yang kita lakukan berkenan untuk orang lain. dan ini adalah hal yang sangat amat wajar dalam hidup kita secara umum. nggak semua hal bisa berjalan sesuai rencana kita.

meski beberapa kali menemui hal yang kurang menyenangkan selama pelayanan, tapi mama dan papa toh tidak pernah sekalipun berniat membubarkan si Karisma ini. orang mungkin heran, kenapa mau-maunya ngelakuin beginian. menurut saya, jawabannya cuma satu: passion. dan semoga passion ini juga menggerakkan teman-teman sekalian! :)

mottonya super sekali!

thanks Mother Teresa :)


Minggu, 23 November 2014

vania

05 November 2014

everyone has their own part

... suatu saat jika ada orang lain yang menggantikanmu,
itu bukan karena kamu tidak lagi istimewa.
hanya saja, setiap orang punya bagiannya masing-masing.
dan mungkin saja, saat itu, bagianmu sudah habis ...

tenanglah. tersenyumlah. 
mungkin ini saatnya kamu harus mengambil bagianmu yang lainnya.




#NoteToMySelf
reflecting about "post power syndrome"


*vania*

20 Oktober 2014

stasiun hari ini

hari ini untuk ke sekian kalinya saya menginjakkan kaki di stasiun di kota gudeg ini. lagi-lagi, ini adalah saat di mana saya mengantar kekasih saya kembali ke perantauan untuk mencari sesuap nasi dan segenggam berlian. seperti biasa, stasiun itu ramai, dan banyak orang datang dan pergi, entah penumpang, entah pengantar. di stasiun, selalu ada perpisahan, sekaligus harapan untuk bertemu kembali.

ketika saya berdiri di luar pagar, di area penghantar, di sebelah saya ada seorang lelaki muda, mungkin usianya 20an. dia berbincang dengan seorang lelaki paruh baya yang berada di peron. mereka berbincang dibatasi teralis. si lelaki paruh baya tampak semangat mengajak lelaki muda berbincang, sementara anaknya menanggapi dengan suara tidak terlalu keras. mereka berbincang singkat tentang kereta. dari percakapan mereka, saya tahu sepertinya mereka adalah bapak dan anak. kereta sudah tiba, tapi si bapak belum mau beranjak dan masih berbincang dengan anaknya. ketika tiba waktunya kereta akan berangkat, si anak menyalami dan mencium tangan bapaknya. mereka bertukar salam, "assalamualaikum", dan si bapak berkata, "jaga ibu ya..."
si bapak kemudian menaiki kereta, namun tetap berdiri di depan pintu kereta yang masih terbuka itu. ketika kereta akan berjalan, dari jauh saya melihat si bapak kembali mengatakan "assalamualaikum" pada anaknya, meski tanpa suara. sampai akhirnya kereta berjalan, si bapak masih berdiri di depan pintu dan melambaikan tangan pada anaknya, serta memasang senyum lebar pada wajahnya.

saya speechless. di stasiun itu ada banyak orang yang melepas keberangkatan. ada pasangan bapak-anak, saudara, pasangan kekasih.. tapi selama saya mengantar ke stasiun, kok rasa-rasanya baru sekali ini saya lihat orang yang begitu ingin meninggalkan kesan positif sebelum keberangkatannya. bapak ini benar-benar mengekspresikan bagaimana ketidak-ingin-pisahannya. padahal beliau dan anaknya sama-sama laki-laki, yang selama ini diberi label lebih-rasional-dan-tidak-emosional dibandingkan perempuan. 

beliau mengekspresikan diri dengan cara sederhana, namun sungguh jujur.
peristiwa ini membekas bagi saya, mungkin karena hal ini masih jadi pr untuk saja. sederhana, jujur.




sudah hari Senin,

si bintang

21 September 2014

miskomunikasi

halo, blog! gimana nih kabarnya? :)

seperti saya pernah cerita di beberapa post sebelumnya, saya ikut SLP alias Service Learning Program, semacam KKN gitu, tapi di Philippines hehe
kegiatan yang berlangsung dari awal sampai akhir Agustus itu seru banget! saya nggak cuma punya kesempatan untuk melayani orang lain, tapi juga belajar berdinamika bersama teman-teman baru dari berbagai negara dan budaya yang berbeda, ada dari Jepang, Korea dan tentunya Philippines.

sebelum saya berangkat, saya sempat ditanyain Ms Tata, cemas nggak mau pergi, terus apa yang dicemaskan. spontan, saya jawab kecemasan terbesar saya adalah bahasa. saya merasa bahasa Inggris saya jelek banget. ini masih saya rasain sampai sekarang, bahkan setelah sebulan penuh berkomunikasi pakai bahasa Inggris. 

tapi ternyata, kecemasan saya itu nggak terlalu terbukti. well, ya memang ada language barrier, dan itu suatu masalah. tapi toh kami tetap dapat berkomunikasi dengan baik. thanks to body language! HAHA :D 
sering sekali saya nggak ngomong satu kalimat utuh karena bingung, tapi mereka tetap nangkep maksud saya. begitu juga sebaliknya. bahkan ketika mereka bicara dengan bahasa mereka sendiri, terutama teman-teman Pinoy, saya sedikit banyak bisa nangkep maksud mereka. even I totally didn't understand about their language, but I know what're they tried to say :)) 

beneran deh, saya merasa nggak ada masalah yang berarti terkait language barrier ini. bagi saya, ini suatu hal yang menakjubkan. kok bisa ya, orang nangkep maksud obrolannya dari bahasa tubuh, ekspresi wajah, gestur dan intonasi, padahal sama sekali nggak paham bahasanya. luar biasa banget.

ketika saya balik ke Indonesia dan kembali ke kampus, kembali ke rapat-rapat dan tanggung jawab lainnya, saya terkaget-kaget menjumpai banyaknya miskomunikasi yang terjadi di salah satu kegiatan yang saya handle. ada yang berakibat waktu rapatnya molor karena ternyata masih ada yang kuliah. ada pula yang berakibat salah minjem peralatan, dan lain sebagainya.
miskomunikasinya pun macem-macem bentuknya. ada yang nggak dibales, yang sebenernya nggak bisa dikategoriin sebagai komunikasi sih, lha wong nggak ada feedback. ada juga yang bentuknya salah tangkap, jadi si A bilangnya setelah jam 4, si B nangkepnya sebelum jam 4. ada lagi yang bentuknya salam pahah, eh, salah paham. yang dimaksud ini, ditangkepnya itu, beda banget! dan yang sempet bikin down kemarin itu adalah lupa ngomong, alias nggak dikomunikasikan ke pihak tertentu.

saya bingung. bisa-bisanya selama SLP dengan bahasa yang asing, dengan kata-kata yang kadang saya masih harus buka kamus untuk tau artinya, kok malah nggak ada masalah yang sangat berarti terkait komunikasi. kami bisa berkomunikasi dengan sangat lancar, bahkan hingga kini kami sudah terpisahkan lautan dan daratan, tapi kami masih berkomunikasi dengan baik. tapi sebaliknya, yang pakai satu bahasa dan bahasa asli, kok malah ada banyak masalah terkait komunikasi.

beberapa waktu lalu saya nemu ini, mungkin bisa jadi jawabannya:
from here
ya, ketika berkomunikasi dengan bahasa yang nggak biasa kita pakai, kita mendengarkan dengan seksama dan tempo yang sesingkat-singkatnya *halah* *ditoyor*
*kembali serius*  dengan bahasa yang nggak biasa kita pakai, kita mendengarkan sepenuhnya, dengan penuh perhatian, biar mudheng. 
beda kalau kita berkomunikasi dengan bahasa yang biasa kita pakai. kita mendengarkan ya biar bisa jawab aja gitu. bahkan seringkali ada orang belum selesai ngomong udah dipotong karena semua orang pengen jawab, semua orang pengen ngomong.

begitulah kiranya hasil analisis ngawur saya haha :D
semoga kita makin bisa meminimalisir miskomunikasi yang terjadi ya. mending diganti sama Miss Indonesia, Miss World, atau Miss You... #eaaa

yuk kita belajar untuk mendengarkan agar bisa memahami, bukan sekedar mendengarkan agar bisa menjawab! :)



Sept 21, 2014
International #PeaceDay

vania

19 Juli 2014

satu kata untuk semester enam

semester enam memang sudah sebulan lebih selesai. sejak semester lima, saya menemui *soalnya beberapa kali nggak langsung mengalami* hal-hal yang membuat saya seringkali berefleksi bahwa, "you have to take a choice, and every choice has consequences. so you also have to ready to face the consequences of the choice you've been chosen."

satu hal ini benar-benar menjadi #NoteToMySelf ketika saya menginjak pertengahan semester enam. saat itu saya daftar jadi asisten praktikum. saya memang pengen banget, meski di sisi lain ini juga merupakan kewajiban saya hehe
well, intinya saya udah niat banget dan yakin keterima, kepedean abis! tapi ternyata saya nggak diterima, karena jadwal kuliah saya bentrok dengan jadwal kuliah praktikum itu. saya rasanya ketampar banget, soalnya jadwal saya yang bentrok itu sebenarnya bukan paketan saya, tapi saya pindah kelas lain. saya langsung membandingkan diri saya dengan teman saya yang rela mengganti jadwal demi bisa jadi asisten praktikum. ya, ini pilihan saya, dan saya harus menanggung konsekuensinya.
saya ingat betul, hari itu saya mengerjakan sesuatu di ruang PU. saya sendirian di ruang itu, like a boss haha :)) saya ke lab sebentar dan diajak bicara oleh Mas Muji, laboran yang kocak banget. Mas Muji bilang kalau saya nggak lolos, tapi tampak betul beliau ikut kecewa karena saya nggak lolos. saya kembali ke ruang PU, merenung, dan saya sempat menangis. memang, seringkali konsekuensi dari pilihan itu nggak menyenangkan ya..

I got the picture from Mokis, thanks! :)
jika saya bisa merangkum semester enam, bahkan kuliah saya sejak semester satu, semua adalah tentang PILIHAN, yang konsekuensinya kadang jangka panjang, jadi baru saya rasakan di semester enam ini. saya memilih untuk coba-coba daftar beasiswa unggulan, konsekuensinya ya harus mau ikut acara character building. saya memilih untuk "menunda" mendaftar P2TKP dulu semester tiga, sekarang ketika ditolak dan nggak ada lagi kesempatan, saya nggak bisa coba lagi. saya memilih untuk hengkang dari riset payung, dan saya nggak ikut presentasi ke Oz. saya memilih untuk pindah kelas demi diajar dosen favorit, tapi saya nggak bisa jadi asisten praktikum. saya memilih untuk ambil makul pilihan yang bukan bidang favorit saya, dan saya harus mengerjakan tugas-tugas yang cukup berat dan dua kali kuliah umum. saya memilih untuk gabung dengan BEMF dan saya jadi lebih sering di kampus daripada di rumah maupun gereja. saya memilih untuk jadi volunteer tetap di Pingit dan seringkali saya dari kampus langsung ke Pingit. sebagai konseptor, saya memilih untuk mengadakan ekm di suatu paroki yang ternyata prosesnya kurang bisa berjalan dengan baik. saya memilih untuk coba-coba daftar SLP, dan ternyata keterima. saya memilih untuk nggetih dan menjalani semester enam ini dengan optimal, dan hasilnya pun puji Tuhan sangat memuaskan. masih banyak pilihan-pilihan dan konsekuensinya yang saya jalani.

saya sendiri bersyukur saya bisa sampai pada insight ini, karena rasanya saya jadi lebih realistis dan rasional *efek salah satu makul di semester enam nih kayaknya* :))

yah, apapun pilihan yang kita ambil, mari ingat bahwa pilihan dan konsekuensi itu satu paket. maka, kalau EKM Seminari Mertoyudan dulu kasih judulnya "choose your love and love your choice" :D

keep spirit, folks!



malam minggu,


vania