selain cerita si bintang

20 April 2020

(tak) sendiri di tengah pandemi

sudah lebih dari satu bulan situasi dan kondisi berubah sedemikian rupa karena pandemi covid-19. aku inget betul, acara terakhir yang aku datangi adalah workshop Ignite: mastering the art of group dynamics, tanggal 15 Maret 2020. hari itu, situasi udah serba cemas dan hand sanitizer serta cuci tangan jadi hal yang wajib, meski belum harus ke mana-mana pakai masker. sorenya, pemerintah mulai mengimbau masyarakat untuk bekerja, belajar, dan beribadah di rumah. Senin, 16 Maret 2020 aku masih keluar kos untuk minta tanda tangan dosen (cuma 5 menit ketemunya!) dan belanja, beberapa instansi, termasuk kampusku, sudah mengeluarkan edaran resmi untuk menghentikan segala kegiatan yang mengumpulkan orang banyak. 

di hari Minggu itu, aku mendapat gambar entah dari grup mana, tulisannya adalah "jangan mudik!" mungkin karena tulisan itu, dan beberapa pertimbangan lain, disposisi batinku sejak awal memilih untuk tetap bertahan di Bandung. salah satu pertimbanganku yang utama adalah kekhawatiran kalau aku menjadi inang dari virus ini dan menularkan pada orang lain. apalagi tanggal 15 Maret itu aku berkumpul dengan lebih dari 50 orang dan berinteraksi dengan cukup dekat, meski sudah ada beberapa protokol seperti menggunakan hand sanitizer. selain itu, aku juga kepikiran tesis, soalnya hari-hari itu aku lagi penjaringan subjek dan pengambilan data. aku masih berpikir ada hal-hal yang bisa kulakukan di Bandung terkait tesisku. 

seminggu pertama, aku merasa diri ikut panik dengan situasi yang terjadi, dengan segala perubahan yang terpaksa harus dijalani. aku seakan-akan menjadikan diriku sebagai semacam "pusat informasi" untuk siapapun. berita dari satu grup akan dengan segera kuteruskan ke grup lain, begitu juga lintas medsos. hampir seluruh waktuku habis oleh mencari informasi, memvalidasinya, membagikannya. maklum, di minggu pertama ini begitu buanyaaakkk hoaks yang bersliweran, dan kepanikan di mana-mana. seminggu pertama, aku juga berusaha membuat beberapa tulisan dan kampanye sederhana untuk tetap saling menyapa dan melakukan hal-hal kecil demi kesehatan mental diri sendiri dan orang lain, lewat #LittleRandomAct. terlalu sibuk sama urusan per-covid-an ini, aku jadi enggak mikirin tesisku sendiri seminggu pertama. 

memasuki minggu kedua, aku mulai overwhelmed dengan banyaknya informasi dan mulai "sadar" untuk mikirin tesis lagi. minggu kedua ini adalah fase aku mulai putus asa dan rasanya pengen lulus tanpa tesis aja. huhuhu. mulai pesimis bisa lulus enggak (sesuai target), mulai khawatir dan merasa bersalah kalau (amit-amit) nanti harus nambah satu semester dan bayar lagi. perasaan putus asa itu masih berlanjut di minggu ketiga. aku juga mulai mempertanyakan, apakah keputusanku untuk tetap tinggal di Bandung dan enggak mudik ke Jogja itu adalah keputusan yang tepat dan terbaik. apalagi beberapa teman juga sudah mudik, dan bertanya apakah aku enggak mudik. semakin galau lah aku. padahal sejak minggu pertama, mama dan papa tampaknya memang lebih ingin aku dan kakak tetap di tempat kami masing-masing dan enggak balik ke Jogja karena terlalu riskan. terlebih kondisi papa (dan mama juga sebenarnya) yang punya beberapa penyakit bawaan. demi meminimalisir penularan, kami pun di kos aja.

minggu ketiga dan minggu keempat, yang berbarengan sama pekan suci, aku mulai agak lebih tenang dan makin mantap di kos aja. perasaanku campur aduk sebenarnya. tentu ada perasaan kesepian, sedih, khawatir, tapi di sisi lain juga ada perasaan lega dan syukur karena begitu banyak "previlege" yang aku punya, di tengah berbagai keterbatasan. beberapa sahabat berbagi berkat dan mengirimiku makanan, minuman, masker, kaus, buku sebagai bentuk #LittleRandomAct mereka. ketika aku merasa enggak baik-baik saja, aku juga berbagi dengan beberapa sahabat. salah satu kalimat yang paling kuingat dan paling menguatkanku kurang lebih begini: keputusan sudah dibuat, dijalani. kalau misalnya keputusan itu keliru, Tuhan akan membantumu menemukan yang lebih tepat. di podkes Setiap Jumat, Romo Magniz juga berkata untuk mengambil semua tindakan yang diperlukan. ini juga menguatkanku di tengah kegalauan tak berujung di minggu ketiga menjelang Minggu Palma. 

Paskah 2020 ini beda banget levelnya. berasa banget kedaruratannya. ini adalah Paskah pertama, dan semoga yang terakhir, di mana kita enggak bisa ke gereja. aku cuma misa di kamar kos sendiri, dengan meja altar darurat dan kasur sebagai bekgron. di sisi lain pengalaman ini aku syukuri banget, karena aku merasa sungguh-sungguh menghayati dan memaknai paskah itu sendiri. sebuah keluarga sahabat menawariku untuk misa malam paskah bersama di rumah mereka, tapi aku terlalu sungkan untuk mengiyakan, dan terlalu malu karena aku memprediksi aku akan menangis heboh sepanjang misa. betul saja, aku sesenggukan sepanjang misa, bahkan setelah misa pun masih nangis. dasar aku cengeng sih. hehe.


secara fisik, aku memang sendiri di kamar kos ini. kos yang harusnya buat 25 orang ini pun cuma tinggal 3 orang plus keluarga yang jaga kos. tapi kehadiran keluarga dan sahabat secara virtual sungguh menguatkan dan membuatku enggak merasa benar-benar sendiri. aku pun membuat satu hestek lagi #berkatkorona untuk merenungkan hal-hal baik yang kurasakan di tengah pandemi. aku jadi sering banget video call sama mama, papa, dan kakak. selain itu, keluarga Esnawan juga beberapa kali vidcon, seru! aku juga jadi nyiapin makanan sendiri, bikin macem-macem eksperimen di dapur, termasuk masak nasi pakai panci dan dandang. beberapa life skills jadi terpaksa dipelajari di tengah pandemi, syukurlah. 

di tengah perasaan kesepian, kehampaan, kebosanan karena karantina, setidaknya aku tidak (terlalu) merasa sendiri, karena mungkin hampir semua orang di seluruh dunia mengalami hal serupa. maka sekecil apapun, aku berusaha berbagi dengan siapapun. sesederhana berbagi informasi yang akurat, menyapa, sampai menyumbang makanan atau uang. inilah yang aku sebut sebagai #LittleRandomAct. semoga hal-hal kecil yang kita lakukan selalu dilandasi kasih yang besar. horeluya!


20 April 2020 (eh, tanggalnya bagus)
dari kamar kos di Bandung,

sahambat

25 Januari 2020

semakin cina

xin nian kuai le, gaes!

imlek tahun ini rasanya beda dibanding imlek sebelumnya. sebenernya sejak dahulu kala, saya merasa enggak pernah bener-bener ngerayain imlek, cuma kumpul keluarga untuk makan-makan aja paling, angpao pun enggak selalu dapat. dua tahun terakhir, setelah saya tinggal di Nangor dan Bandung, saya selalu pulang saat malam imlek karena kumpul keluarga besar untuk makan-makan, nyekar, dan bagi angpao. tahun ini, enggak ada acara kumpul keluarga di Jogja, saya pun memutuskan untuk tidak mudik.

beberapa minggu sebelum imlek, papa tiba-tiba kirim beberapa foto kayak lagi ikutan suatu ritual di klenteng. ada mama, tante, om, dan sepupu saya di foto itu. ternyata, mereka lagi ikutan ciswak, semacam ruwatan ala Tionghoa. konon katanya, ritual ini dilakukan untuk mendoakan orang-orang dengan ship yang jiong atau enggak hoki di tahun yang akan datang, dan ternyata saya juga didoakan karena termasuk salah satu shio yang jiong.


shio yang jiong adalah yang dilewati garis abu-abu, 
yaitu shio tikus, kelinci, kuda, ayam
ritual di klenteng
saya tertarik sama ritual ini, karena tumben amat papa mama ke klenteng dan ikut ritual kayak begitu. dulu waktu saya kecil, saya juga pernah menjalani ruwatan dengan cara Jawa. jadi sebenarnya saya ini orang apa sih, entahlah. :))

saya kira ciswak itu cuma didoain dalam ritual itu, lalu selesai. ternyata, mama papa kirim paket buat saya, isinya ada air dengan bunga yang sudah didoakan, sabun, dan handuk. semua itu harus dipakai untuk mandi. karena saya merasa hal itu masih mungkin untuk dilakukan dan bermanfaat juga untuk kegiatan sehari-hari, akhirnya saya ikutin aja lah. lagian didoain yang baik-baik kok masak ditolak, aminin aja lah hehe. hasilnya, ya kayak mandi biasa aja sih, enggak ada sesuatu yang istimewa. 

air kembang, sabun, handuk untuk ciswak
di malam imlek, saya memutuskan untuk ikut tur malam imlek, acaranya jaringan kerja antar umat beragama (Jakatarub). saya ikut acara ini bareng sama beberapa teman dari Sekolah Damai INdonesia (Sekodi), Peace Generation, YIPC, dan beberapa komunitas lintas iman lainnya. seru banget! kami kunjungan ke klenteng, vihara, dan kong miao. pertama, kami kumpul di Klenteng Besar atau Klenteng Xie Tian Gong atau disebut juga Vihara Satya Budhi. di situ, kami diberi penjelasan oleh Pak Sugiri tentang makna imlek bagi orang Tionghoa dan sejarah bangunan klenteng tertua di Bandung itu. kami dibagi beberapa kelompok untuk masuk klenteng dan diberi penjelasan lebih detail. 

peserta tur malam imlek 2020, almost 90 people!

dari Klenteng Besar, kami berjalan kaki ke Vihara Tanda Bhakti. ini adalah vihara Tridharma juga, sama seperti Klenteng Besar. Tridharma maksudnya bahwa vihara atau klenteng itu bisa digunakan oleh umat Buddha, Khonghucu maupun Tao. awalnya, Vihara Tanda Bhakti ini adalah vihara khusus untuk orang tionghoa yang bermarga Tan, tapi sepertinya sekarang sudah terbuka untuk siapapun. di vihara ini, kami enggak cuma ngobrol-ngobrol, tapi juga dikasih suguhan mie dan kopi. walau mie instan, tapi lumayan lah mie panjang umur, anak kos can relate banget sih. :))


foto bersama di Vihara Tanda Bhakti

mie panjang umur
tempat ketiga yang kami kunjungi adalah Dharma Ramzi. ini adalah klenteng tertua kedua di Bandung setelah klenteng besar. lokasinya agak tersembunyi di dalam gang, tapi isinya lengkap banget! di pelataran Dharma Ramzi, ada barongsai yang beraksi, meski kayaknya anak-anak kampung situ sih yang main-main, tapi saya tetep excited liat barongsai. di Dharma Ramzi, kami dikasih suguhan bubur kacang ijo dan ketan item, plus roti. ini mah lebih ke hidangan gaya Bandung, tapi tetep yummy!
tuan rumah di Dharma Ramzi

bubur kacang
yang menarik di Dharma Ramzi adalah banyaaak banget patung dewa dewi yang punya kisahnya masing-masing, misalnya ada Dewi Kwan Im, Dewa Rezeki dan Dewa Jodoh. ada cerita menarik waktu beberapa dari kami ngobrol-ngobrol sama salah satu om-om relawan di depan patung Dewa Jodoh. salah satu teman peserta tur malam imlek, teteh-teteh muslim berkerudung sambil bercanda bilang ke saya dan teman sekodi, "Ini dewa jodoh, sok atuh doa minta jodoh. Aku mah udah tadi." teman saya bertanya, "Kayak gimana doanya?" lalu teteh tadi menyebutkan doa secara Islam. saya merasa itu adalah pengalaman yang menarik dan keren. patung, hio, buah-buahan, bahasa yang digunakan, itu semua hanya sarana, tujuannya mah gimana doa dan harapan kita sampai kepada Doi Yang Maha Yoi. 
Dewi Kwan Im

Dewa Rezeki, semoga cuan beserta kita!

Dewa Jodoh, ada amin saudara?
tempat terakhir yang kami kunjungi dalam tur malam imlek 2020 adalah Kong Miao, atau tempat ibadah penganut Khonghucu. di sana, kami dijelaskan tentang sejarah agama Khonghucu di Indonesia, dan bagaimana perjuangan mereka untuk jadi agama yang diakui di Indonesia. bapak yang menyambut kami berkata, "Gus Dur itu malaikatnya orang-orang Khonghucu," ya karena betapa besar jasa beliau hingga budaya Tionghoa dan agama Khonghucu boleh diaktualitasikan di Indonesia. 
di Kong Miao, nyaris tengah malam setelah menerjang hujan dan genangan

dari tur malam imlek ini, saya menangkap ada sedikit perbedaan makna imlek antara orang Tionghoa pada umumnya, dengan umat Khonghucu secara khusus. bagi orang Tionghoa, apapun agamanya, imlek dirayakan sebagai tahun baru, sebagai perayaan budaya, sebagai tradisi. orang pada mudik, makan bersama, bagi-bagi angpao, intinya kumpul keluarga. bagi umat Khonghucu secara khusus, imlek dirayakan sebagai hari raya keagamaan. ada sih orang Tionghoa yang bukan umat Khonghucu yang juga beribadah (baca: ke klenteng) waktu imlek, tapi itu lebih karena tradisi, bukan karena agama. enggak heran ketika ada orang yang berusaha melakukan akulturasi budaya Tionghoa dengan agama selain Khonghucu (misalnya bikin misa imlek), lalu orang Khonghucu protes karena merasa mencampuradukkan antara dua agama. bagi saya pribadi, setiap orang punya hak untuk memaknai imlek dengan pandangannya sendiri. yang kurang tepat adalah ketika kita memaksakan orang lain harus sependapat dengan kita, bahkan mengecap mereka yang berbeda pendapat dengan kita itu sesat. sebelum semua itu terjadi, kunjungan, dialog, dan kerjasama yang dilakukan, seperti pada tur malam imlek ini, sangat baik dilakukan untuk mengklarifikasi asumsi, memperoleh informasi, dan menghapus stigmatisasi. 

anyway, meski enggak kumpul bareng keluarga, meski enggak dapat angpao, meski enggak punya baju baru, enggak makan kue kranjang, lapis legit dan ikan, tapi saya senang sekali banyak belajar tentang apa yang menjadi (salah satu) akar budaya saya. saya merasa jadi makin cina, meski masih tetep cina kw alias cina gagal. :))
selamat imlek! gong xi fa cai!
seharian hujan deras di Bandung, semoga rezeki mengalir deras juga untuk kita semua sepanjang tahun. 


Sabtu, 25 Januari 2020
cina kw yang waktu tur malam imlek pakai kaus gambar gunungan dengan bahasa Jawa kuno, dan ada salibnya












nonik vania

21 Januari 2020

2019 love yourself

hello folks! long time no see! happy (belated) new year! 2020 udah jalan 21 hari nih, gimana so far? hope it goes well yaaa...

so, 2019 was over, and I learned a lot through the year. semua pelajaran selama 2019 saya coba rangkum dalam hestek #2019LoveYourself. well, sebenernya itu hestek yang saya bikin di awal tahun 2019 sih, untuk mengingatkan pelajaran besar yang ingin saya capai sepanjang tahun. awalnya (kalau enggak salah ingat), saya bikin hestek itu gara-gara saya kena gerd di awal 2019. sebetulnya saya enggak pernah punya masalah sama asam lambung. memang sejak bayi, pencernaan saya bermasalah, sampai harus rawat inap sekitar 2 minggu setelah lahir, dan waktu TK sampai SD saya gampang muntah, tapi saya enggak pernah punya masalah sama asam lambung. pertama kali saya kena masalah lambung tuh akhir 2018 waktu saya ikut conference di Batu, Malang. masalah lambung itu terulang lagi di awal 2019 waktu saya nyiapin seminar usulan penelitian (SUP). ya, mungkin faktor yang lebih utama dari gerd ini adalah stres hahaha. 

well, sebagian besar 2019 saya dedikasikan untuk praktik kerja, urusan dengan klien dan laporan. awal November 2019, saya menjalani ujian praktik kerja internal dengan dosen-dosen, lalu 20 Desember 2019 saya menjalani ujian profesi dengan penguji dari organisasi profesi. wow, ternyata udah sebulan lebih sehari saya dinyatakan layak jadi psikolog. rasanya belum banyak perubahan, maklum gelarnya belum sah karena masih harus menyelesaikan tesis. 

selain urusan kuliah, di 2019 saya juga rasanya lebih banyak meluangkan waktu dengan keluarga. memang ada beberapa kejadian yang bikin deg-degan sepanjang 2019, misalnya papa 2x masuk IGD dan harus opname sekali. mama pun juga sempat opname sekali. saya pun cukup sering pulang ke Jogja, bisa dua bulan sekali, bahkan sebulan sekali. beberapa kali saya izin dari praktik kerja karena pulang ke Jogja, atau menemani sahabat yang berkunjung ke Bandung. untungnya, temen-temen di tempat praktik kerja sangat suportif, bahkan mereka kadang nyuruh saya bolos lebih lama biar lebih lama di rumah. dengan mereka, saya pun akhirnya berani membuka diri tentang kondisi kesehatan papa yang selama ini saya simpan sendiri. ternyata, mengakui kerapuhan diri dan membuka diri untuk perhatian dan bantuan orang lain pun adalah bentuk "love yourself". enggak hanya dengan teman-teman praktik kerja, saya pun membagi kisah yang selama ini saya simpan sendiri dengan keluarga dan beberapa sahabat. ketakutan saya selama ini bahwa mereka akan nge-judge atau bahkan menjauhi saya, untungnya enggak terjadi. mereka tetap mau bersahabat dengan saya, bahkan mendengarkan dan memberi saran. 

hal lain yang saya pelajari dan lakukan sebagai bentuk "love yourself" adalah menjalin kontak dengan beberapa orang yang selama ini saya hindari, bahkan saya (di)blok. saya mencoba menyapa mereka, beberapa bahkan saling update kabar dan curhat sama saya. ada perasaan lega yang luar biasa ketika kembali menjalin komunikasi dengan mereka. rasanya, perasaan kesel, sebel, marah, dendam, kecewa di masa yang udah lalu tuh luntur gitu. I've done with that. biarlah itu menjadi bagian dalam hidup saya, tapi yaudah, life goes on. wong ya wis bertahun-tahun lho ya hahaha lama ya... 

saya bersyukur banget bisa melewati 2019 dengan berbagai dinamika yang terjadi. saya banyak belajar untuk mengasihi diri sendiri, untuk menjadi sahabat bagi diri sendiri, selain menjadi sahabat bagi orang lain. kayak lagunya Kunto Aji yang judulnya Bungsu, "Sebelum kau menjaga, merawat, melindungi segala yang berarti, yang sebaiknya kau jaga adalah dirimu sendiri."

have a great 2020, gaes!
oya, hestek saya untuk tahun ini adalah #2020LevelUp, dan goals utama saya tahun ini adalah LULUS dan kerja (I need cuan)! nyuwun pangestunipun nggih, sedherek sedaya...
kalau kamu apa resolusi 2020nya?


Bandung, 21 Januari 2020
18.18 WIB
vania

04 November 2019

recharged

hae gaes!

enggak kerasa ya udah masuk November aja, bentar lagi udah mau ganti tahun lagi! ya ampuuunnn...
seperti biasa, blog ini udah berdebu banget hehe saking berdebunya sampai bingung beresin dari mana dulu.

bulan Oktober dan awal November ini rasanya nano-nano banget. awal Oktober, aku akhirnya seminar kasus besar 2, seminar kasus terakhir sebelum ujian. istimewanya, seminar kasus ini dibahas sama dosen yang paling disegani. untungnya, berhasil dilewati juga...

selesai urusan sama kasus, minggu kedua Oktober aku mulai kembali ke tesis, setelah sekian lama terbengkalai. karena punya rencana yang menyenangkan di minggu ketiga, minggu kedua ini aku agak rungsing alias senewen untuk memastikan jadwal bimbingan. keajaiban bener-bener terjadi deh. awalnya dijadwalin bimbingan hari Senin, tapi ternyata tiba-tiba dosennya enggak bisa. Gusti Allah tuh kalau udah punya rencana emang segala sesuatu jadi mungkin. :))

pertengahan Oktober, hal yang aku tunggu-tunggu, akhirnya punya kesempatan untuk ngancani liburan bersama Tuhan lagi, setelah terakhir kali tahun 2017. sejak dimintain tolong bulan September, aku enggak berani janji bisa ikut, karena jadwal enggak pasti., akhirnya aku baru memastikan hari Jumat atau malah Sabtu. lalu merasakan juga online meeting pakai video call haha berasa penting :p

menemani liburan bersama Tuhan, ternyata juga bikin aku recharged. aku belajar banyak dari perjumpaan, kisah-kisah, cerita-cerita, seneng banget rasanya, apalagi ikut nginep di tempat Bunda, maksudnya bener-bener di Gua Maria. udah lama enggak begitu, hepi jadinya. banyak hal baru yang aku alami juga, mulai dari ke Purwokerto naik kereta sendiri, ke Kaliori, kulineran di Purwokerto dan sekitarnya (termasuk minum tuak sampai kayak kepiting rebus haha), naik travel Jkt-Bdg, bikin presentasi langsung bawain materi, dan masih banyak lagi deh pengalamannya. hal lain yang bikin aku makin recharged tuh sejak awal Oktober aku juga iseng ikut program meditasi online 21 hari. bener-bener fully charged deh rasanya!

pengalaman ngancani retret dan meditasi ini ternyata cukup jadi bekal untuk menghadapi hal-hal lain yang gak terduga. aku memang udah sempat dikasih tau kalau ujian praktik kerja tanggal 1 November, tapi seminggu sebelum ujian, aku baru dikasih tau kalau sebagai syarat ujian, harus ngumpulin 10 laporan, terakhir hari Rabu. langsung panik sih, dan berharap jadi titisan Bandung Bondowoso atau Sangkuriang. energi yang dikumpulkan beberapa waktu terakhir rasanya langsung abis seminggu terakhir. untungnya sudah terlewati satu tahap ini, entah gimana hasilnya. 

seminggu terakhir, selain ujian praktik kerja, aku juga ngalamin "ujian" lain: mama harus opname. heran aku, waktu ngerjain kasus ujian ini Agustus kemarin, papa juga opname. sekarang menjelang kasus ini dipertanggungjawabkan secara lisan, kok gantian mama. kalau kata salah satu tanteku, memang ujian kan bukan cuma akademis aja, tapi dalam hidup sehari-hari juga. ya, begitulah. ketika menjalani hari-hari ini, aku merasa sangat bersyukur karena sudah menjalani "masa charging" lewat liburan bersama Tuhan dan meditasi. 

segini dulu deh ceritanya. aku udah ada rencana untuk recharge lagi, mudah-mudahan beneran recharge dan cukup untuk menjalani hari-hari yang menantang selanjutnya :D


have a good time, gaes!


Minggu-Senin, 3-4 November 2019
sekitar tengah malam
dari Bandung yang adem karena mulai sering hujan

vania


31 Agustus 2019

am I a good friend?

pertanyaan yang jadi judul postingan ini adalah salah satu pergulatanku sejak lama. aku menyadari bahwa aku punya kebutuhan untuk diterima oleh orang lain, untuk menjadi 'teman', dan untuk membantu orang lain. di sisi lain, aku juga punya ketakutan untuk tergantikan, untuk menjadi bukan yang utama lagi, untuk menjadi sama seperti yang lain. aku sadar betul dengan pergulatan yang memengaruhi buanyak hal dalam hidupku, termasuk ini yang bikin 'gagal move on' selama pindah ke Nangor-Bdg. apalagi pas awal-awal, wah rasanya nyesek beutsss. seiring berjalannya waktu, aku akhirnya bisa memaknai bahwa 'merantau' ini sebenarnya justru sedikit banyak membantuku untuk dealing sama perasaan dan pikiran yang macem-macem tadi. ya iyalah gak diajak, kan jauh. ya iyalah gak dikasih tau, emang kamu bisa apa. ya iyalah gak diajak omong, kan kamu sibuk juga. maklum, dipaksa keadaan.

tapi ya pergulatan ini tetap ada, bahkan cukup sering menggangguku. minggu lalu, pertanyaan di judul postingan ini muncul lagi. saking impulsifnya, aku langsung minta maaf sama salah satu sahabat karena gak bisa hadir menemaninya secara fisik, seperti orang lain yang doi ceritain. sebelumnya, ada beberapa hal juga yang membuat pikiran itu muncul. mungkin efek hormon juga kali ya, jadi sensi abis. *alasan*

eh, lha kok pas di Jogja, tiba-tiba papa harus opname. mama juga riweuh nyiapin acara keluarga, jadi pasti juga capek dan enggak total menemani papa. selama papa opname, aku akhirnya take over untuk menemani papa di rumah sakit, hampir 24 jam kali 5 hari. pengalaman itu membuatku berefleksi bahwa mungkin ini saatnya menjadi teman dan sahabat bagi papa dan mama. keluarga adalah tempat di mana seseorang tidak akan pernah tergantikan.

di tengah keresahan, kegalauan dan pertanyaan tak berujung, lewat pengalaman ini, Gusti Allah seakan-akan mau bilang bahwa pertanyaan yang jadi judul postingan ini hanya bisa dijawab lewat usaha terus menerus untuk menjadi sahabat bagi orang lain. caranya ya bisa macem-macem, tapi yang penting intensinya adalah menjadi sahabat. setiap orang punya peran masing-masing. bagaimanapun miripnya kamu dengan seseorang, kamu ya tetap kamu, you are unique, you are limited edition, because there's only one you!

aku akan menutup postingan ini dengan berbagi #HomiliHariIni:
#BacaanHariIni mengingatkan kita untuk melayani sesama dengan tulus ikhlas, rendah hati, dan berbesar hati jika kita digeser atau digantikan. - Romo Agus, OSC

JLEB BANGET YA :")
masih jadi PR sih nih soal tetap tenang walau 'digantikan' ... maklum, suka post power syndrome gitu~ :))

aku yakin, pertanyaan yang menjadi judul postingan ini, masih akan tetap menjadi (salah satu) pergulatan utamaku. artinya, topik ini akan muncul dalam sambatan-sambatanku, karena menimbulkan kegalauan dan keresahan. tapi semoga, kegundahanku ini justru bisa menjadi semangat untukku berbuat hal baik secara tulus, ikhlas dan total kepada siapapun.

it's okay to be not okay, because it means that you are going to be more okay. cheers!



malam minggu terakhir di bulan Agustus 2019
anak kos,

vania

22 Februari 2019

half-birthday per-KP-an

*bebersih debu yang menebal, sarang laba-laba di mana-mana dan berbagai kotoran*

blog ini sudah lama tidak berpenghuni rupanya. maafkan aku yang pemalas ini ya gaes *geer amat, berasa ada yang baca, padahal ya enggak* 😅

huaaahhhh… aku mengawali postingan ini dengan menghela napas panjang dan siap sambat hehehe
enam bulan terakhir, tepatnya sejak Agustus 2018, aku mulai menjalani babak baru dalam kehidupan perkuliahan, yaitu memasuki kerja praktik, lalu pada bulan Oktober 2018 aku juga mulai memasuki kehidupan yang lain, yakni tesis. 

aku merasa enam bulan terakhir, hidupku bergerak sangat cepat. aku kerja praktik di sebuah rumah sakit di Cimahi, yang sejak beberapa tahun terakhir dikenal punya banyak klien anak di poli psikologinya. bahkan, kakak angkatan di atasku persis yang kerja praktik di RS itu per orang dapat 20an kasus. dengar fakta itu aja aku udah mlongo. asemik, bisa enggak ya? bisa-bisa aku modyaaarrr~

di bulan Agustus 2018 itu aku dan empat teman yang lain yang sama-sama kerja praktik di RS itu masuk seminggu atau dua minggu lebih dulu dari jadwal sebenarnya untuk orientasi. di situ, aku semakin lihat ke-hectic-an kakak-kakak yang riweuh menangani klien, mengerjakan laporan, diskusi, bimbingan, dll. uwooo, makin keder…

setelah menjalani sendiri, ya emang enggak gampang sih… berasa kejar-kejaran, tapi pakai sepatu yang kegedean, jadi kadang sepatunya suka lepas atau akunya suka jatuh. terengah-engah pula. 

semakin bertambah jumlah kasus yang ditangani, semakin aku merasa aku banyak enggak taunya dan masih harus terus menerus belajar karena merasa masih bodoh mulu. waktu aku nulis blog ini, paginya aku abis seminar kasus kecil 2, dan itu adalah kasus ke sepuluh. dipikir-pikir gelo juga ya 6 bulan 10 kasus, harusnya udah kelar nih kerja praktiknya… #eh #masihbodohkokmintaudahan #selfjitak

nah, di seminar kasus kecil 2 tadi pun aku merasa masih banyaaakkk kurangnya dan masih banyak yang harus kuperbaiki. separuh jalan menuju akhir masa kerja praktik, mudah-mudahan aku bisa membuka diri, pikiran, dan hati untuk lebih mau banyak belajar dari literatur atau diskusi ya... 

kepadatan jadwal dan tantangan selama 6 bulan terakhir ternyata membawa dampak fisik ke aku, 3 kali aku kena refluks asam lambung. padahal sebelumnya sama sekali aku enggak pernah ngalamin maag. entah karena efek pola makan yang ngawur, stress, atau keduanya, penyakit itu muncul deh...

di tengah segala kerumitan hidup ke-mapro-an, banyak banget hal yang aku syukuri. teman-teman yang sangat membantu, terbuka dan penuh ide kreatip, pembimbing yang sangat detail dan sangat membimbing, dan juga aktivitas lain yang jadi tempat 'katarsis' yaitu SPINMOTION Bandung dan SEKODI. dua komunitas yang kusebut nanti kapan-kapan aku cerita deh ya, butuh postingan sendiri soalnya, panjaaang ceritanya hahaha 😁

yaaaahhh, segini dulu deh curhat enggak pentingnya. ini juga sebenernya ditulis di tengah pengerjaan laporan yang daritadi enggak nambah-nambah, hadeeehhh #sambatmeneh

doakan aku kuat menghadapi enam bulan selanjutnya di masa kerja praktik dan enam bulan selanjutnya untuk menyelesaikan ke-mapro-an ini, ya! hehe...

God bless you, stay sane, and don't forget to #2019LoveYourself!


Bandung, 22 Februari 2019
23.45 WIB

vania (bukan dokter)

ps: semoga sambatan ini enggak bikin temen-temen yang mau ambil mapro jadi keder ya haha

31 Desember 2018

2018: unpopular options

ada beberapa 'unpopular option' yang saya pilih untuk diri saya sendiri sepanjang 2018, dan ada banyak hal yang harus saya lakoni sendiri. banyak ke-nekad-an selama 2018 yang semoga membuat saya braver, stronger, better.
- pengalaman perdana Paskah tidak di #MasAnto, tapi di Jatinangor sendiri
- perjalanan ke Lembang sendiri naik angkot
- ke Jakarta yang enggak cuma dolan, tapi ngurus beasiswa dan dapat pengalaman berbagi
- pengalaman perdana tidak ikut Tahbisan Imamat SJ setelah 11 tahun selalu terlibat
- pindahan dari Nangor ke Bandung yang diurus bareng temen
- kerja praktik di Cimahi tapi tetep ngekos di Bandung
- iseng daftar conference, diterima dan berangkat sendiri ke Batu
- kembali ke Bandung sehari setelah natal, dan akan menyambut 2019 sendiri, eh, bersama Mr. T, dink..
juga ada beberapa komunitas dan kawan baru sepanjang 2018, karena saya gabung Bandung School of Peace, Spinmotion Bandung chapter terbentuk, dan ikutan DigiTribe Aroma Karsa.
terima kasih, 2018, sudah memberi saya kesempatan untuk mendobrak batas aman dan melompat dari zona nyaman. proud of you, self!
semoga 2019 menjadi tahun yang penuh kebaikan dan berkat untuk kita semua. happy new year!

12 Mei 2018

hepi selaw(as)e

selamat bulan Mei!

seperti kita tahu, setiap orang punya satu hari dalam satu tahun yang jadi hari istimewanya. bagi saya, hari itu adalah kemarin. sebenarnya ada banyak ekspektasi tentang bagaimana melewati hari itu, salah satunya adalah dengan merayakannya di Jogja, di rumah. tapi jauh sebelum hari itu datang, saya harus legawa untuk menerima kenyataan bahwa itu tidak mungkin, karena akan ada kuliah pengganti. jadilah saya cari waktu untuk pulang di hari lain, sekalian ngasih kejutan ke mama yang ultah di hari pertama bulan ini. sehari setelah saya sampai di Jatinangor dari Jogja, belum juga hilang pegel-pegelnya, tiba-tiba dikasih kabar kalau kuliah hari Jumat ditunda lagi. rasanya campur aduk: kesel, pengen marah, tapi juga bersyukur karena tugasnya belum selesai hehe
papa dan mama saya pun langsung menyarankan saya untuk pulang, bahkan katanya naik pesawat aja wis! papa bahkan mau membayari lho, warbiyasak. (tapi untung nggak jadi pulang karena bandara Jogja sempat ditutup gara-gara hujan abu, cepet sembuh ya Merapi...)
ada beberapa alasan sampai akhirnya saya memutuskan untuk tidak pulang. yang pertama, jelas sayang uangnya. yang kedua, saya capek. dan yang ketiga, saya masih berniat untuk produktif di hari Jumat karena mau bimbingan. tapi alasan ketiga pun harus runtuh karena dosennya ke luar kota. jengkel bukan kepalang jadinya. akhirnya saya punya tekad yang nekad: sabodo teuing, urang pengen hepi pokoknya, mau jalan-jalan! sendirian yoben, yang penting jalan-jalan!

saya ingat, salah satu destinasi yang belum saya datangi adalah Gua Maria Karmel di Lembang. waktu mikir dan googling, ternyata enggak begitu jauh dari destinasi lain yang ada dalam wishlist saya: Bosscha. akhirnya tersusunlah rencana nekad itu, dan Jumat pagi saya berangkat dari kos sekitar pukul 8.45. Tadinya mau coba naik Damri dari Nangor, tapi ternyata belum ada ke rute yang saya tuju, lalu naik travel deh. saya berencana turun di RSHS, tapi ternyata travelnya naik ke jembatan layang Pasupati, jadilah saya turun tepat sebelum naik jalan layang itu terus jalan sedikit ke perempatan Sukajadi, eh langsung ketemu sama angkot ke Lembang. puji Tuhan. perjalanan ke Lembang naik angkot saya tempuh lebih dari sejam, ongkosnya 8000 saja. badge naik angkot AKDP unlocked! hehehe :D

sampai di Karmel, saya langsung merasa terharu dan bangga pada diri sendiri hehe nekad pisan siah! ketemu Bunda dan Mas Kris, menenangkan dan mengharukan. saya bersyukur atas berbagai rahmat yang saya terima, terutama tetap ditemani di tengah perasaan kesendirian dan kesepian yang sering menyergap. ibarat judul lagu, saya memang suka 'scared to be lonely', tapi ya namanya hidup pasti ada saatnya harus mengalami itu, kan?

Gua Maria Karmel - Lembang
perhentian ke-dua belas: Yesus wafat
makam Yesus

Kapel

tampak luar kapel
di tengah saya berdoa dan perut keroncongan yang bikin gagal fokus, ada anak kecil nangis dan spontan saya pun buka mata untuk melihat anak itu serta apa yang orang tuanya lakukan padanya. jangan ditiru ya gengs, sesat ini mah hahaha.. saya menghabiskan beberapa waktu berikutnya untuk mengobservasi keluarga itu, lebih banyak lewat pendengaran, karena ya kali saya celingukan hehehe... di situ, saya merasa diingatkan akan 'panggilan' saya untuk mendalami tentang anak-anak dan keluarga. semoga benar kata salah satu sahabat saya, "You can't help it, to give attention to the children, when they are around," dan bukan pembenaran atau rasionalisasi dari terdistraksinya saya di tengah doa hahaha *ampun, Gus!*

setelah ketemu Bunda dan ketemu Mas Kris, saya pun mencari logistik supaya logikanya bisa jalan lagi. di jalan masuk ke kompleks Gua Maria itu, ada semacam rumah makan yang menyediakan menu ala Sulawesi dan pastinya B2 wihiiii! jadilah makan mie, tapi mienya gede, mungkin biar panjang umur dan tambah gendut hahaha

mie enak di jalan masuk kompleks Pertapaan OCD (Karmel)
pukul 13.30, saya pun melanjutkan perjalanan, lalu ingat pengen mampir Bosscha. berbekal ke-sotoy-an yang hqq, akhirnya jalan kaki lah saya dari pinggir jalan besar ke Bosscha, ternyata jalannya nanjak dan jauh pisan booosss! untung ada yang menawari ojek, jadilah saya naik ojek padahal udah deket, tapi nanjak sih, capek hehehe... eh sampai di Bosscha ternyata bukan waktu kunjungan perorangan, jadi batal deh masuk ke Bosscha, cuma di halaman aja. ya semoga lain kali ada waktunya untuk bisa masuk ke Bosscha demi memenuhi keinginan masa kecil akibat nonton Petualangan Sherina hehehe

Bosscha
setelah istirahat sebentar di Bosscha saya pun melanjutkan perjalanan. tadinya mau nyusul sahabat saya, Stefi, di PVJ, tapi ternyata macet bro. terus pas mau googling rute, eh internet saya mati. ternyata nomor saya diblokir karena belum bayar HAHAHA kebiasaan. kepanikan bertambah karena hujan, padahal saya sengaja nggak bawa payung dan pakai sneakers, bukan crocs seperti biasanya. jadi ya sudahlah, ikuti ke mana angkot membawaku saja~ eh ternyata angkot yang saya tumpangi nggak berhenti di pintu utara stasiun seperti bayangan saya, tapi the show mas gogon, eh, must go on. turun dari angkot, sepatu saya basah deh hadehhh... kesel, tapi ada masalah lain yang lebih urgent: rute berikutnya ke manaaa... akhirnya saya pakai jurus GPS: gunakan penduduk sekitar. lalu saya disarankan pakai bus kota alias Damri jurusan Cicaheum. dalam hati saya bilang, wah akhirnya badge naik Damri unlocked! di dalam bus, saya iseng coba pakai google maps, padahal nggak ada internet, eh ternyata bisa jalan donk google mapsnya, tau gitu dari tadi #selfjitak haha

pas udah sampai di persimpangan Jalan Laswi, saya pun turun dari bus, untungnya hujan sudah reda. acara berikutnya, Aroma Karsa Gathering, akan diadakan di Bandung Creative Hub. tapi henpon saya kan masih diblokir, jadi saya cari ATM dulu buat bayar tagihan, jadilah saya jalan-jalan sore di sekitar Jalan Laswi. heran saya, trotoar Bandung tuh gede dan bersih dan tertata, tapi asa cuma saya yang jalan sore itu. tuntas dengan misi bayar tagihan, ternyata nomor saya masih tetap diblokir, ya sudahlah, saya pun menuju ke tempat janjian dengan Digital Tribe Aroma Karsa, tapi ternyata mereka masih terjebak macetnya Bandung di hari Jumat sore yang ampunilah hamba deh. anggota DigiTribe pertama yang saya temui adalah Mbak Tissya, yang jadi partner saya hari itu, hatur nuhun pisan, Mbak, sudah duduk bareng dan saya pinjem ponselnya untuk foto-foto hehehe

acara Aroma Karsa Gathering malam itu sangat menyentuh dan berkesan buat saya. sebelum acaranya mulai (dan setelah acara selesai), diputarkan beberapa lagu Dee dari album Rectoverso, di antaranya Malaikat Juga Tahu, Aku Ada (ingat apa hayo haha), Grow A Day Older, dan juga Selamat Ulang Tahun yang sempet bikin saya geer hahaha naon vannn
acara dibuka dengan video di balik proses Aroma Karsa, lalu penampilan Maksur Dee membacakan penggalan Aroma Karsa dan menyanyikan tiga lagu dari cerita Aroma Karsa. kemudian ada video testimoni dari beberapa pembaca, tepatnya DigiTribe Aroma Karsa. setelah itu ada sesi tanya jawab, foto bareng dan booksigning. saya tersanjung (sinetron kali ah) DigiTribe dapet kesempatan foto bareng Maksur dan PakProd. ah, ternyata iseng-iseng saya berlangganan Aroma Karsa itu berhadiah manis <3

tim galon alias gagal move on
sambil ngantri booksigning, saya pun sempat menyalami dan foto bareng PakProd Reza Gunawan, juga Keenan dan Atisha yang lucu banget :D daaan, ngobrol dan foto-foto sama beberapa anggota DigiTribe yang lain hehehe

PakProd ramaaah banget, setiap orang yang menyalaminya ditanya siapa namanya, lalu ditanggapi dengan penuh senyum, termasuk saya.
V: Mas, boleh foto bareng?
P: boleh donk, namanya siapa?
V: Vania
P: saya Reza. makasih ya Mbak Vania sudah datang malam ini.
V: terima kasih Mas sudah bikin acara hari ini, ini jadi hadiah ulang tahun buat saya.
P: oh dirimu ulang tahun hari ini?
V: iya, mas.
P: wah, selamat yaaa! 
V: *senyum lebar sambil sorak sorai dalam hati*
bersama Pak Produser Reza Gunawan
lalu ketika ada ide foto bareng Keenan dan Atisha, saya pun izin beliau.
V: Mas, boleh foto sama Keenan dan Atisha nggak?
P: silakan ditanya langsung aja ke mereka, kalau mereka mau silakan, biasanya sih mereka mau
V: makasih Mas, kan consent ortu tetap utama hehehe
P: hahaha kalau saya boleh, langsung tanya saja ke mereka ya
eh untungnya mereka mau. klik! foto-foto deh :D
Keenan kocak sih, di akhir sesi tanya jawab, tiba-tiba dia angkat tangan dan bilang mau tanya. ternyata dia nanya ke penonton, "Para penonton sekalian, kira-kira saya cocok nggak jadi Jati Wesi waktu kecil? Tapi waktu muda aja yaaaa..." seisi ruangan sontak ketawa, bageur pisan ujang! sebelum acara, sebenernya saya udah sempet ketemu Keenan waktu ngantri registrasi, emang pembawaannya kocak sih itu anak. 

keliatan seumuran kan :p
Maksur juga humble dan kocak pisaaan! ketika sesi booksigning sempet ngobrol bentar.
M: halooo...
V: makasih ya Maksur udah bikin acara hari ini, jadi hadiah ulang tahun buat saya.
M: wah ulang tahun ya? selamat yaaa...
V: makasihhh :D
M: bukunya...
V: ini bukunya teman-teman saya sih hehe
M: oh, jastip? hahaha
V: bukaaan hahaha ini (nunjuk IEP) tanda terima kasih buat temen saya karena minjemin saya seluruh serial Supernova, dianya malah belum baca hehehe
M: waaah... *setelah tanda tangan* yuk foto *lalu setelah foto* terima kasih yaaa, selamat ulang tahun *lalu cipika cipiki*
V: *melayang ke langit ke tujuh*

WHAT A PERFECT BIRTHDAY GIFT! cipika cipiki sama idolak. oh. my. God. AAAAAKKKKK!!!

bersama Mak Suri Dewi Lestari
perjalanan pulang ke Nangor pun untungnya berjalan lancar, dan saya excited sepanjang jalan. itu adalah perjalanan termalam saya ke Nangor, pukul 22.00 saya baru berangkat. sampai di gang depan kos eh nggak ada ojek, telpon ojek langganan nggak diangkat. ya sudah, akhirnya terpaksa nekad jalan kaki. eh ternyata kadonya belum kelar, pas jalan ke kos, langitnya cerah penuh bintang. kayaknya Tuhan ngasih kado pengganti karena gagal masuk Bosscha deh hahaha 

nah, kalau lagi nekad kayak kemarin saya jadi berasa kalau alumna stece. ya, kenekadan itu kayaknya efek roh Srikandi stece deh hahaha... saya merasa banyak hal yang bertumbuh dan berkembang dalam diri saya setahun terakhir, terutama soal kenekadan ini, yo karang kahanan hehehe

kalau boleh saya rangkum, hari kemarin adalah hari di mana saya memilih untuk membahagiakan diri saya sendiri. I give myself a great birthday gift, and I love it, I love myself. you really did a great job yesterday, van #selfhug
jadi gini ya van (ceritanya self-talk), ada kalanya bahagia itu harus diusahakan dan diperjuangkan, jangan nunggu orang lain, kan hidupmu sendiri ini, kamu yang tanggung jawab sama hidupmu. 
so, let's be hepi selawase (bahagia selamanya)! <3



Jatinangor, 12 Mei 2018
gadis 25 tahun 0 bulan 1 hari (tapi kelakuannya kadang kayak 15 tahun hehehe)
selawe. quarter. seprapat.


Stella Vania Puspitasari