selain cerita si bintang

25 April 2015

Anak “Luar Negeri”

Sejak TK sampai dengan saat ini, saya belum pernah mencicipi pendidikan resmi di sekolah negeri. Saya selalu bersekolah di sekolah “luar negeri” alias sekolah swasta. Entah kenapa orangtua saya nggak pernah masukin saya ke sekolah negeri, dan saya juga nggak milih mau masuk sekolah negeri, mungkin karena kebiasaan.

Di masa kuliah ini, saya benar-benar menjadi anak “luar negeri”. Bukan, saya bukan kuliah di luar negeri. Saya cuma nunut urip di negeri orang selama sebulan. KKN alternatif gitu deh. Program ini namanya Service Learning Program (SLP). Saya dan empat teman beserta satu dosen menjadi delegasi USD untuk program ini pada Agustus 2014.

we are Indonesian delegates!
Pak Chosa - Bagas - Indri - Enno - Vania - Adhi
Bagi saya, ikut SLP adalah iseng-iseng berhadiah. Dulu di semester awal saya memang sempat “mupeng” (mupeng: muka pengen) ikut SLP kayak Mbak Achi, yang sharing pas Insadha, dan Mas Putra, yang saya dengar kisahnya di semester tiga. Tapi setelah itu saya lupa.

Akhir 2013, beberapa teman diajak bergabung ke kepanitiaan SALT, post-project SLP 2013. Saya tahu, tapi saya juga nggak mengajukan diri buat ikut. Saya juga nggak datang sosialisasi program SLP. Bahkan, saya nitip minta tolong diambilin formulir pendaftaran SLP ke seorang teman saya. Ngumpul formulir yang udah diisi ke kantor WR IV pun saya nebeng teman saya itu (thanks, Retha!). Nah, ketika akhirnya saya keterima, saya kaget dan nggak percaya. Maklum lah, waktu wawancara seleksi saya bahkan sampai tiga kali bilang, “Sorry, my English is so bad". Tiga kali lho sodara-sodara. Tiga kali!!! *diulang biar dramatis* 

Pertemuan demi pertemuan dilakukan, dan ke-geje-an (geje: nggak jelas) nggak pernah absen dari tiap pertemuan kami. Dari mulai perkenalan, mengisi form pendaftaran, bahas tiket dan visa, pembekalan, bahas pre-project sampai pelaksanaannya, bahas segala macam persiapan keberangkatan, latihan cultural performance, bikin university presentation, sampai keberangkatan ke Cagayan de Oro, Filipina dan hidup sebulan di city of golden friendship itu. Ketika pulang dari Filipina pun kami masih dihadapkan pada post-project. Baru bulan Februari lalu kami resmi dinyatakan sebagai alumni SLP. Bahkan setelah kami alumni dan kumpul lagi, kami pun masih tetap "geje" hehehe...

Bagi saya pribadi, banyak sekali pelajaran yang saya dapat. Banyak “first thing” yang saya alami selama hampir setahun menjalani SLP. Pertama kali wawancara pakai bahasa Inggris. Pertama kali ke daerah Jogokariyan. Pertama kali mungutin sampah di seputaran UGM. Di SLP ini juga, pertama kalinya saya nggak langsung “kabur” setelah pertemuan, tapi memilih untuk menghabiskan quality time bareng teman-teman, entar sekedar makan atau makan plus cerita-cerita sampai lamaaaa banget. Pertama kalinya saya nongki-nongki di indiecology, prada, bittersweet, LUK, kedai oak, makan di Annisa, warung se’i, babi lissa *kemudian melirik ke perut yang bergelambir*

Bagi keempat teman saya, ini adalah pertama kalinya mereka ke luar negeri. Ini pertama kalinya juga bagi saya ke luar negeri sendirian. Dalam penerbangan Jakarta-Manila, pertama kalinya saya ngicipin red wine *cie gaya* dalam penerbangan internesyenel itu, saya terkagum-kagum *ndeso*

Menginjakkan kaki di Cagayan de Oro, pengalaman "geje" pun tidak lepas dari kami, koper seorang teman ketinggalan di Manila. Untuk pertama kalinya saya tinggal serumah dan sekamar dengan orang-orang dari Jepang, Korea dan Filipina. Pertama kalinya saya nyuci baju pakai tangan *ini serius, saya memang cewek gagal*. Pertama kalinya saya belajar bahasa Bisaya, yang bahkan sebelumnya saya nggak tahu kalau ada bahasa itu. Pertama kalinya saya sarapan dengan menu ati dan pare, padahal dua-duanya saya nggak doyan, tapi ya harus tetap makan. Pertama kalinya saya naik jeepney dan motorela, and I miss them. Pertama kalinya saya main zipline (semacam flying fox), snorkeling dan rafting. Pertama kalinya saya lihat teman saya (agak) mabuk. Pertama kalinya saya tahu bahwa “gratis” adalah kesukaan semua orang, nggak cuma orang Indonesia. Pertama kalinya saya lihat babi panggang utuh, oh my I really miss lechon. Pertama kalinya saya makan pakai tangan dan dikagumi teman dari Jepang, bahkan diminta ngajari mereka *lucu tenan iki*

Pertama kalinya saya “ngrasani” orang dengan bebas, bahkan sambil teriak-teriak, pakai bahasa Indonesia dan bahasa Jawa HAHA. Pertama kalinya saya dan teman-teman tampil (semacam) nari dengan super "geje" hehehe. Pertama kalinya jalan-jalan di mall bareng teman-teman dari berbagai negara, saya doang orang Indonesia, terus ada dua teman dari Jepang hilang terus kita halo-halo dari bagian informasi HAHA. Pertama kalinya tau lagu “dolanan” dari Jepang. Pertama kalinya ngajakin anak-anak SD meditasi *luar biasa ya...* dan pertama kalinya ngajak ibu-ibu main ice breaking, mandunya pakai bahasa Inggris pula.

ngajakin ibu-ibu pijet-pijetan :p
Ketika post-project, pertama kalinya saya mungutin rokok di kantin Mrican dan Paingan. Pertama kalinya saya ngurusin desain dan cetak poster dan stiker *maklum, nggak pernah jadi pubdekdok selama ikut kepanitiaan*. Pertama kalinya ngobrol sama pak rektor, bahkan becanda dengan beliau.

Sekarang setelah beberapa bulan resmi menjadi alumni SLP, saya baru menyadari beberapa hal yang berubah dalam diri saya. Yang jelas, saya agak sedikit lebih pede (pede: percaya diri) dengan bahasa Inggris saya. Ya walau masih belum jago-jago amat, tapi saya merasa ada peningkatan lah. Ya gimana enggak, lha sebulan kudu ngomong pakai bahasa Inggris terus je…

Selain itu, ada beberapa skill saya yang meningkat, misalnya mencuci baju dan angkat beban. Angkat beban ini maksudnya ketika saya dan teman-teman berangkat maupun pulang, saya mengangkat sendiri koper saya yang beratnya sekitar 17 kg itu *aku setrong*. Saya selalu ingat wanti-wanti dari Ms. Tata sebelum kami berangkat. Katanya, sebisa mungkin kita harus bertanggung jawab atas diri kita sendiri, jangan menggantungkan diri sama orang lain, jangan ngerepotin orang lain.

Satu perubahan lain yang saya temukan akhir-akhir ini adalah saya merasa menjadi orang yang lebih santai meski dalam keseriusan. Dulu saya orangnya sangat serius, saklek, dan nggak terlalu menyenangkan dalam hal relasi *pasti ada yang ngangguk-ngangguk atau senyum-senyum sendiri baca bagian ini*. Tapi karena sering bergaul dengan makhluk-makhluk "geje" entah apa di SLP ini, saya jadi lebih suka gojeg dan berusaha untuk bikin suasana jadi lebih segar. :)

Nggak kerasa, SLP 2015 is coming! Pendaftaran udah dibuka lagi dan udah banyak yang tanya-tanya tentang SLP. Yakin deh, nggak akan rugi ikut SLP! Banyak bangeeet hal yang bakal didapat, yang mungkin efeknya baru kerasa setelah sekian lama menjalani SLP itu. Nggak pede sama kemampuan bahasa Inggris? Nggak masalah! Saya ini saksi hidup betapa bahasa Inggris saya kacau balau, tapi toh tetap lolos dan survive. Kalau memang kamu pengen nyoba, coba lah! Nothing to lose. Kesempatan nggak dateng dua kali lho. Daripada besok penasaran, mendingan dicoba aja sekarang.


Ditunggu yaaa! See you, SLPers batch 8! :D

SLPers batch 7 :)

setelah "reuni" di ulang tahun Pak Chosa,
anak "luar negeri",
one of SLPers batch 7,

Stella Vania Puspitasari

28 Januari 2015

60 Th Sanata Dharma: Keseimbangan Cerdas dan Humanis

Tidak seperti kebanyakan anak SMA yang pertama-tama ingin mencoba menembus keberuntungan menjadi mahasiswa PTN, sejak awal saya sudah menetapkan satu pilihan: Universitas Sanata Dharma. Psikologi. Saya lupa persisnya mana yang lebih dulu saya pilih, universitasnya atau program studinya. Tapi satu yang saya ingat betul, 25 Oktober 2010, saya resmi diterima di Fakultas Psikologi Universitas Sanata Dharma. Salah satu hari bersejarah bagi saya.

Meski mantap dalam memilih, tapi saya gentar ketika menjelang hari “ospek” yang dikenal dengan Inisiasi Sanata Dharma (INSADHA). Ada kekhawatiran mengenai perlakuan dari senior, hukuman, dan hal-hal mengerikan lainnya. Namun, hal yang ternyata terjadi justru sebaliknya. INSADHA menyambut kami, para mahasiswa baru, dengan pelukan hangat, seolah hendak membuktikan penggalan syair hymne universitas, “Seluruh Sanata Dharma satu keluarga”.

Inisiasi yang penuh kekeluargaan juga saya rasakan dalam inisiasi fakultas, Akrab Psikologi atau AKSI. Dan setelah saya selama beberapa tahun menjalani hidup di USD, saya tahu satu hal yang mungkin bisa dijadikan alasan betapa kekeluargaan menjadi sangat penting di USD. Rektor pertama Sanata Dharma, Romo Nikolaus Driyarkara, SJ pernah mengungkapkan sebuah semboyan “homo homini socius”, atau “manusia adalah kawan bagi sesamanya”.

Tidak heran juga jika semboyan USD adalah “cerdas dan humanis”. Bukan hanya soal menjadi cerdas saja, tapi juga humanis. Humanisme yang cerdas. Ada keseimbangan di antara keduanya. Antara logika dan nurani. Rasio dan rasa.

Tidak lolos seleksi sebuah unit kegiatan fakultas membuat saya di semester pertama cukup puas menjadi mahasiswa golongan “kupu-kupu” (kuliah-pulang kuliah-pulang). Hampir setiap hari, saya berangkat dari rumah pukul 6 pagi dan pukul 2 siang saya sudah duduk manis di rumah lagi, serasa SMA. Namun seiring mengalirnya waktu, saya pernah menjadi mahasiswa golongan “kura-kura” (kuliah-rapat kuliah-rapat). Saya mengikuti berbagai kepanitiaan dan organisasi, salah satunya Badan Eksekutif Mahasiswa Fakultas (BEMF) Psikologi 2013/2014 yang walaupun bekerja secara professional, tapi semangat kekeluargaan sangat kental terasa. Dalam rangka kepanitiaan dan organisasi, saya pun pernah jadi mahasiswa golongan “kuda-kuda” (kuliah-dagang kuliah-dagang) demi mencari dana untuk beberapa acara, dari mulai Ekaristi Kaum Muda (EKM), Psychology Festival (Psychofest) sampai bakti sosial. Tapi seperti layaknya mahasiswa pada umumnya dengan tugas yang bertumpuk, saya pun pernah menjadi mahasiswa golongan “kuper” (kuliah-perpus). Dan karena keseimbangan “cerdas” dan “humanis” tadi pun, saya pernah menjadi mahasiswa golongan “dara kuper” (dagang-rapat-kuliah-perpus) sekaligus. Masa-masa di mana saya jauh lebih sering menghabiskan waktu di kampus daripada di rumah.

Akan tetapi semua itu bukanlah masalah yang begitu berarti bagi saya secara pribadi. Sekali lagi, itu karena semangat kekeluargaan yang saya rasakan di USD. Dari Pak Gi, karyawan Biro Layanan Umum yang selalu ceria dan baik hati siap sedia membukakan akses lift pada para mahasiswa. Dari para outcore, mbak dan mas cleaning service yang siap sedia membantu angkut-angkut dan bersih-bersih. Juga dari Pak Pur, bagian keamanan, yang ramah. Dari teman-teman sesama mahasiswa dan bapak-ibu-romo-suster dosen serta karyawan. Dari Bu Dewi, wakaprodi Psikologi yang selalu siap sedia diajak berdiskusi dan datang ke acara-acara kemahasiswaan. Dari Mas Anton dan teman-teman Campus Ministry yang membuat “Indonesia mini” di USD makin terasa. Dari Pak Chosa dan teman-teman Service Learning Program (SLP), yang benar-benar menjadi keluarga karena kami bersama saat tinggal di negeri orang selama satu bulan sebagai delegasi dari USD. Juga dari Miss Tata, Mbak Risca dan teman-teman “geje” di Kantor Wakil Rektor IV yang lebih sering saya sebut “mabes”.

Semangat kekeluargaan yang saya rasakan di USD ini juga memacu saya untuk menyebarkan semangat yang sama ke semakin banyak orang, tidak hanya di sekitar USD. Menjadi lebih dan lebih lagi. Semangat magis. Selama hampir delapan semester di USD, saya sampai pada satu titik bahwa menjadi mahasiswa berarti bisa menemukan relevansi antara ilmu dan realita, bagaimana ilmu membantu kita melihat dan berusaha memecahkan permasalahan di kehidupan nyata, atau sebaliknya, bagaimana melihat realita berdasarkan kacamata ilmu. Itulah keseimbangan antara cerdas dan humanis.

Semoga di usia intannya ini, Sanata Dharma menjadi semakin bijaksana layaknya seorang kakek, selalu bersemangat layaknya orang muda, sekaligus penuh keingintahuan layaknya anak kecil. Semoga juga semangat kekeluargaan dan “menjadi kawan bagi sesama” makin terasa, baik di dalam maupun luar kampus. Selamat 60 tahun, Universitas Sanata Dharma! Ad Maiorem Dei Gloriam!
baksos psikologi 2013
"Ibu Cerdas, Keluarga Bahagia"
baksos psikologi 2014 (Psycho-Care)
"I Know Who I Am, I Know My Passion, I Can Determine My Future"

Rabu, 28 Januari 2015
meramaikan #60tahunUSD

Stella Vania Puspitasari (on the way to S.Psi.)

(ps: tulisan yang sama juga dimuat di web Campus Ministry USD)

23 Desember 2014

Berubah itu Berbuah

Apapun yang kita lakukan tidak mungkin menyenangkan semua orang, pasti ada orang-orang yang mendukung, tapi pasti juga ada orang-orang yang menentang kita. Hal itu sangatlah wajar dan sepertinya sudah menjadi salah satu hukum universal di alam semesta ini.

Kita pasti pernah menjumpai satu orang yang dijadikan “musuh bersama” karena tingkah laku atau sifatnya yang begitu menyebalkan. Terkadang, disadari atau tidak, kita sendirilah orang itu. Ketika SD, saya pernah merasakan ada di posisi tersebut. Saya dijauhi dan diejek teman-teman sekelas saya, tapi saya tidak tahu mengapa saya diperlakukan demikian. Kejadian itu begitu membekas bagi saya dan mempengaruhi hidup saya hingga kini. Saya menjadi orang yang enggan untuk memulai berhubungan dengan orang lain, karena takut ditolak. Saya enggan menyapa orang lain terlebih dahulu. Saya seringkali memilih untuk diam dan menyendiri.

Begitu pula ketika saya jalan-jalan bersama beberapa teman kemarin. Suasana begitu ceria, tapi saya tidak sepenuhnya menikmati hal itu. Saya merasa asing. Saya merasa sendirian. Sampai ketika beberapa teman bermain-main dan berfoto bersama, saya memutuskan untuk bergabung bersama mereka. Saya memutuskan untuk tidak menunggu ajakan dari mereka, tapi saya mengajukan diri untuk bergabung dengan mereka. Ketakutan bahwa saya akan ditolak pun ternyata tidak terbukti. Saya sadar bahwa ketika kita tidak bisa mengubah keadaan atau mengubah orang lain, kita perlu bercermin karena jangan-jangan kitalah yang perlu berubah. Dalam hal ini, saya menjadi sadar bahwa tidak ada salahnya ketika mencoba memulai menyapa orang lain lebih dulu, mencoba bergabung dengan mereka dan mencoba pertama-tama membuka diri. Karena orang lain tidak akan bisa masuk ke dalam hidup kita jika kita masih menutup diri dari mereka.

Sore itu, tidak hanya suasana di tempat itu yang ceria, tapi suasana hati saya pun membaik dan ikut ceria. Ternyata berubah itu tidak selalu susah. Perubahan tidak harus selalu hal-hal besar. Tetapi satu hal yang pasti, berubah itu selalu berbuah.




Yogyakarta, 23 Desember 2014

Stella Vania Puspitasari


26 November 2014

super lovely family

Minggu, 23 November 2014 mama dan papa saya kembali terbang ke Jakarta. 
Senin, 24 November 2014 papa menjalani tindakan medis, yakni dipasang ring. 
Ya, setelah tujuh tahun lalu dioperasi by-pass, bulan Agustus lalu saat saya di Filipina, papa saya sesak napas lagi dan harus dirawat inap. Beberapa waktu kemudian, papa dikateter dan beberapa kali sesak napas sampai harus dirawat inap lagi. Setelah periksa lagi ke Jakarta, akhirnya diputuskanlah bahwa papa harus dipasang ring.

Ketika kemarin Minggu mama papa ke Jakarta, saya bilang ke kakak di grup WA Keluarga Esnawan, “kak, shift-shiftan kita yak”. Maklumlah, saya nggak bisa ikut ke Jakarta karena masih ada kerjaan yang harus digarap, dan kakak yang memang sudah tinggal di sana harusnya bisa lah nemenin mama papa. Setelah saya ngirim itu, saya terus “mak tratap” sendiri. Saya dan kakak bisa shift-shiftan, tapi mama nggak mau. Bisa sih sebenarnya, tapi mama nggak mau aja gitu. Mama rela ninggalin kerjaan kantor yang setumpuk. Sebagai seorang akuntan, akhir tahun adalah waktunya lembur-lembur, tapi toh mama rela ninggalin itu semua demi nemenin papa berobat.

Ya, inilah yang dinamakan cinta, mungkin. Cinta itu butuh pengorbanan, men! #eaaa

Sebagai seorang anak, saya merasa seringkali nggak berbakti. Akhir-akhir ini saya jarang di rumah, kek bang toyib, soalnya banyak kerjaan. Meski gitu, mama papa nggak protes dan nggak ngelarang saya. Tinggal saya yang seringkali merasa berdosa, meski terus dilanjutin juga sih #selftoyor

Puji Tuhan, kemarin hari Selasa, 25 November 2014 papa sudah boleh keluar dari rumah sakit. Rencananya hari ini mereka akan kembali ke Jogja, semoga ya :)

Saya merasa bersyukur terlahir di keluarga ini. Mungkin keluarga saya nggak berkelimpahan, nggak punya rumah mewah *soalnya sawahnya udah jadi rumah*, nggak punya gadget-gadget bagus… Mungkin juga seringkali ada marah-marah di keluarga saya, entah papa ke saya, mama ke papa, saya ke kakak, kakak ke saya, saya ke papa, tapi toh kami sering banget ngakak bareng. Keluarga saya mungkin juga bukan keluarga yang sempurna menurut orang lain, tapi saya nggak pengen menukar keluarga saya dengan apapun, dengan keluarga kerajaan sekalipun. I am happy with my family. *kemudian muter sontreknya Keluarga Cemara*

Semoga papa dan mama dan kakak gendut selalu sehat, selalu bahagia dan kita bisa ngekek-ngekek terus! Semoga Tuhan juga selalu memberkati kita berempat yaaa :)

Thanks for always being super lovely family, mama, papa, kakak gendut! :*

one of my big bro's bday :3

two years ago. potong kuenyaaaa :D



Rabu, 26 November 2014
ulang tahun perkawinan mama-papa ke 27 tahun :)



nok - nonik - dek - ndut - vania

23 November 2014

a little note when I'm growing

Sekarang saya baru benar-benar percaya bahwa kuliah di psikologi bikin saya makin mengenal diri saya dan merupakan salah satu metode “berobat jalan” yang manjur. Saya sadar bahwa saya punya kebutuhan untuk merasa dibutuhkan. I feel anxious when I feel that I am useless. Saya sadar bahwa saya takut ketika orang tidak lagi memperhatikan saya, ketika ada orang lain yang saya rasa bisa menggantikan posisi saya. Kemudian saya akan tidak menyukai orang itu, karena saya jadi cemas ketika ada orang itu, bahkan sekedar membayangkannya. Di satu sisi, hal itu adalah sesuatu yang wajar. Well, manusia memang selalu digerakkan oleh kebutuhannya, begitu bukan, Om Murray? Tapi di sisi lain, saya merasa saya nggak boleh melakukan itu. Saya nggak boleh su’udzon kayak gitu. Saya nggak boleh benci orang itu, toh dia nggak salah apa-apa sama saya. Saya nggak boleh merasa diri nggak berharga. Dan masih ada rentetan “saya nggak boleh” lainnya. Saya sadar dan saya tahu kalau hal itu nggak boleh, setidaknya menurut saya. Alasannya sederhana. Biar saya bikin dalam bentuk dialog supaya lebih gampang.

“Emang kenapa kamu nggak suka sama dia?”
“Soalnya dia narik perhatian orang-orang di sekitarku, yang biasanya merhatiin aku.”
“Terus kenapa? Itu salah?”
“Ya enggak sih, tapi kan aku jadi nggak digagas, nggak disapa, nggak diruhke
“Terus kenapa?”
“Ya kan aku merasa nggak berharga…”
“Jadi itu yang ngerasa siapa?”
“A… aku…”
“Jadi dia itu salah nggak?”
“Mmmm… ya enggak sih… tapi………”
“Tapi kenapa?”
“Tapi aku tetep nggak suka sama dia!”
“Lah? Kenapa kamu nggak suka sama dia?”
“Soalnya … soalnya semua omongan sekarang jadi tentang dia!”
……………. #rauwisuwis


Saya sepenuhnya sadar bahwa ini masalahnya ada di saya sendiri. But it’s not easy to be “calm” like that. Percayalah, kawan-kawan, tidak semudah itu untuk bilang “semua kan baik-baik saja” pada orang yang merasa itu sangat tidak baik-baik saja. Nggak mudah bagi saya untuk mencoba mengenal satu orang, kalau perasaan saya masih nggak enak sama dia. Mirip lah sama ketika kita bilang bahwa duren itu heavenly yummy sama orang yang baru cium bau duren aja udah muntah. Mungkin hal ini terdengar lebay dan nggak berperiketemanan. I’ve tried it, tapi yo ra gampang bro.

Saya juga baru sadar bahwa mungkin inilah salah satu alasan utama kenapa saya selama ini sibuk sana sini. Saya golek kanca. Saya cari di mana saya lebih merasa bahwa saya lebih dibutuhkan. Meski tampaknya nggak sangat baik motivasinya, tapi tampaknya ada hal-hal baik dari motivasi ini. *nah lho defense* :p

Terus kowe arep piye yen wis ngerti ngene? Ya, itulah PR saya. Itulah kenapa saya masih “berobat jalan” dan belum lulus dari psikologi.
Emang kamu yakin bakal bisa “sembuh” dari hal ini? Well… I’m not that sure. Karena yang namanya kebutuhan itu nggak bisa seratus persen hilang, setau saya sih. Tapi kebutuhan itu bisa menjadi rendah dan mungkin tertutupi dengan kebutuhan lain yang lebih tinggi. Menurut saya, kebutuhan itu juga dipicu dengan tekanan tertentu, dan mungkin sekarang memang masanya saya menjadi “lebih perempuan” dibanding biasanya, makanya kenapa hal “kecil” kayak gini dibahas.

Yang bisa saya lakukan saat ini, untuk meringankan gejala ini adalah “counter attack”. Saya berusaha meyakinkan diri saya sendiri bahwa saya istimewa, saya berharga, saya nggak sendirian, saya adalah seseorang yang punya nilai baik. Sekali lagi, bagi saya, ini bukanlah hal yang mudah, apalagi di tengah ayunan (baca: mood swing) begini. Maka ketika ada seorang sahabat yang tiba-tiba bilang, “Kalau butuh bantuan bilang ya, siapa tau saya bisa bantu” tanpa saya kasih kode atau bilang apapun padanya, saya merasa terharu. I realized that I will never walk alone, even I feel like I’m the loneliest person in the world. #lebayatun

Jujur, sampai ketika saya menulis postingan ini, saya masih ragu mau mosting ini nggak ya. Saya cemas kalau nanti orang memandang saya aneh. Saya cemas nanti teman-teman saya malah ninggalin saya setelah baca ini. Tapi saya juga tahu bahwa saya perlu memberitahu orang lain tentang diri saya, supaya relasi kita makin baik gitu coy. Saya juga percaya bahwa “mengorek luka” dan mengakui diri adalah salah satu proses menjadi manusia yang lebih baik lagi, secara khusus menjadi manusia yang lebih sehat mental.
 
*berdoa*

so trueeeee!



Hasil ngaca (baca: refleksi)
Quality time with myself
Sunday evening, 11-23-2014


*vania*

namanya juga pelayanan

beberapa tahun belakangan ini, mama papa saya punya "anak" baru, namanya Karisma. mama papa saya punya kelompok gitu, semacam koor dan juga penyewaan sound system. ketika diminta ngisi suatu acara, mama papa nggak pakai kata "job", tapi "pelayanan". disebut pelayanan karena mama papa nggak pernah pasang tarif.

namanya juga pelayanan, ada senengnya, ada enggaknya.
sejauh pengamatan dan pengalaman saya, beberapa hal yang bikin seneng adalah pelayanan ke mana-mana, dari mulai keliling ke gereja-gereja di Jogja, sampai sering ke Wonogiri. terus juga kenal dan ketemu berbagai macam orang, juga romo, bruder, frater dan suster, sampai keluarga-keluarga yang akhirnya secara rutin mengundang Karisma. 

kalau enggak senengnya juga ada banyak. salah satunya baru terjadi hari ini. hari ini seharusnya ada pelayanan manten di salah satu gereja. manten itu juga minta dibikinin buku dan waktu itu, ketika mama lagi nganterin papa periksa di Jakarta, orang itu sangat ngejar-ngejar untuk bukunya cepet jadi. saya pun dikejar-kejar mama untuk bikin teks manten dan kirim ke mereka. hari ini, sound system sudah dipasang di gereja itu, tapi tiba-tiba ada kelompok koor lain yang sudah disiapkan sama si manten. untung, hari ini mama dan papa nggak ikut pelayanan karena ke Jakarta. coba ikut, kan pasti jengkel dan malah bisa memperburuk keadaannya papa. akhirnya, semua pun diangkut pulang dan nggak jadi pelayanan. bukannya senang, hati malah jadi gamang #heyitrhymes

tapi ya namanya juga pelayanan coy, nggak semua hal yang kita lakukan berkenan untuk orang lain. dan ini adalah hal yang sangat amat wajar dalam hidup kita secara umum. nggak semua hal bisa berjalan sesuai rencana kita.

meski beberapa kali menemui hal yang kurang menyenangkan selama pelayanan, tapi mama dan papa toh tidak pernah sekalipun berniat membubarkan si Karisma ini. orang mungkin heran, kenapa mau-maunya ngelakuin beginian. menurut saya, jawabannya cuma satu: passion. dan semoga passion ini juga menggerakkan teman-teman sekalian! :)

mottonya super sekali!

thanks Mother Teresa :)


Minggu, 23 November 2014

vania

05 November 2014

everyone has their own part

... suatu saat jika ada orang lain yang menggantikanmu,
itu bukan karena kamu tidak lagi istimewa.
hanya saja, setiap orang punya bagiannya masing-masing.
dan mungkin saja, saat itu, bagianmu sudah habis ...

tenanglah. tersenyumlah. 
mungkin ini saatnya kamu harus mengambil bagianmu yang lainnya.




#NoteToMySelf
reflecting about "post power syndrome"


*vania*

20 Oktober 2014

stasiun hari ini

hari ini untuk ke sekian kalinya saya menginjakkan kaki di stasiun di kota gudeg ini. lagi-lagi, ini adalah saat di mana saya mengantar kekasih saya kembali ke perantauan untuk mencari sesuap nasi dan segenggam berlian. seperti biasa, stasiun itu ramai, dan banyak orang datang dan pergi, entah penumpang, entah pengantar. di stasiun, selalu ada perpisahan, sekaligus harapan untuk bertemu kembali.

ketika saya berdiri di luar pagar, di area penghantar, di sebelah saya ada seorang lelaki muda, mungkin usianya 20an. dia berbincang dengan seorang lelaki paruh baya yang berada di peron. mereka berbincang dibatasi teralis. si lelaki paruh baya tampak semangat mengajak lelaki muda berbincang, sementara anaknya menanggapi dengan suara tidak terlalu keras. mereka berbincang singkat tentang kereta. dari percakapan mereka, saya tahu sepertinya mereka adalah bapak dan anak. kereta sudah tiba, tapi si bapak belum mau beranjak dan masih berbincang dengan anaknya. ketika tiba waktunya kereta akan berangkat, si anak menyalami dan mencium tangan bapaknya. mereka bertukar salam, "assalamualaikum", dan si bapak berkata, "jaga ibu ya..."
si bapak kemudian menaiki kereta, namun tetap berdiri di depan pintu kereta yang masih terbuka itu. ketika kereta akan berjalan, dari jauh saya melihat si bapak kembali mengatakan "assalamualaikum" pada anaknya, meski tanpa suara. sampai akhirnya kereta berjalan, si bapak masih berdiri di depan pintu dan melambaikan tangan pada anaknya, serta memasang senyum lebar pada wajahnya.

saya speechless. di stasiun itu ada banyak orang yang melepas keberangkatan. ada pasangan bapak-anak, saudara, pasangan kekasih.. tapi selama saya mengantar ke stasiun, kok rasa-rasanya baru sekali ini saya lihat orang yang begitu ingin meninggalkan kesan positif sebelum keberangkatannya. bapak ini benar-benar mengekspresikan bagaimana ketidak-ingin-pisahannya. padahal beliau dan anaknya sama-sama laki-laki, yang selama ini diberi label lebih-rasional-dan-tidak-emosional dibandingkan perempuan. 

beliau mengekspresikan diri dengan cara sederhana, namun sungguh jujur.
peristiwa ini membekas bagi saya, mungkin karena hal ini masih jadi pr untuk saja. sederhana, jujur.




sudah hari Senin,

si bintang