selain cerita si bintang

04 Desember 2013

On The Speech

hai blog! lama nggak update :D
iyes, semester 5 ternyata bener-bener sesuatuuuuukkk, rasanya pengen berkali-kali #PuraPuraMatik

well anyway, kali ini saya pengen cerita tentang salah satu kerempongan di semester 5, yaitu di mata kuliah Psikologi Media Massa. dosen mata kuliah ini mewajibkan mahasiswanya buat bikin produk media massa tertentu, jadi kalau dia kelompok majalah ya bikin majalah, kelompok koran ya bikin koran, kelompok TV ya bikin (program) TV, dan seterusnya. terus, produk-produk ini bakal ditampilin di sebuah pameran yang kita bikin sendiri di kampus. kebetulan, saya adalah kelompok TV, jadi saya dan teman-teman bikinlah program TV. 

awalnya konsep kami adalah talkshow, semacam Kick Andy gitu, dan kami udah take juga. tapi ternyata, setelah diedit, rasanya ada yang ngganjel gitu, rasanya agak membosankan dan pesannya kurang tersampaikan.
maka, di H-2 pameran, kami pun ngerombak konsep dan ngulang dari awal. #JENGJENGJENGJENG #zoomin #zoomout #zoomin #zoomout #bersambung
hari Senin sore, kami bahas konsep baru dan sekaligus pembagian tugas. terus hari Selasa take cuma 15 menit karena keburu-buru kuliah, dilanjut ngedit sampai setengah sembilan malem, belum mandi, belum makan, semua demi tuuuuu...gaaassss #gebrakgebrakmeja

okay, mari kembali fokus. 
akhirnya jadi lah itu program yang kece! dan meski awalnya agak pesimis bakal kekurangan penonton, ternyata kekhawatiran itu nggak terbukti. penontonnya banyak bahkan tempatnya sampai nggak cukup! #terharu :")
penonton yang super sekali :D
abis pameran selesai, saya yang sudah punya niat upload video itu ke Youtube ngedit videonya sedikit, sekedar buat nambahi "courtesy: Youtube" gitu. eh malah keasyikan dan menambah kekecean video itu, yeee nggak dari kemarin! #selfjitak

dari pengalaman ini, banyak banget hal yang saya dapat. yang pasti, saya belajar untuk pakai audacity dan movie maker, dan saya berhasil! horeee :D

pemirsahhh, sebelum nonton videonya, saya mau berterima kasih, khususnya buat temen-temen kelompok saya yang luarrrr biasaaaaa: Vivi, Brama, Chacha, Yunis, Rara :D


the deadliners :p

silakan mas mbak adek kakak om tante semuanya saja, nonton videonya lalu jangan lupa kasih komentar ya, kami menerima segala cacian maupun pujian kok :")

dan inilah saatnya *drum roll*
kami, kelompok TV kelas B 2011, dengan bangga mempersembahkaaannn~~~
ON THE SPEECH! *empuldemdemdem*



Yogyakarta, 4 Desember 2013
salah satu Anak Gaul Jogja,

vania :p

15 Oktober 2013

lagi-lagi tentang ketukan :)

hari ini, sekitar jam 14:50, sekelompok anak kecil (dan beberapa remaja) lewat depan rumah saya sambil mengumandangkan gema takbir. mereka kemudian membuka pintu pagar dan berteriak-teriak memanggil kami yang ada di dalam rumah untuk membukakan pintu. mungkin, mereka ingin meminta salam tempel. mereka pun mengetuk pintu rumah saya. tidak lama mereka pun keluar lagi dan pergi, memang saya dan mama tidak memberikan respon apapun pada mereka, seperti menjawab atau membuka pintu. jujur saja, saya heran ada tradisi macam ini di hari raya Idul Adha, karena setahu saya tradisi ini hanya terjadi di Idul Fitri. yang mengherankan berikutnya adalah, hal semacam ini, seingat saya, baru terjadi sekali ini. dari dulu hingga kini tidak ada yang datang untuk bersilaturahmi seperti ini, bahkan pada Idul Fitri. cerita macam itu hanya saya temui di cerita Lupus dan cerita anak-anak sekitar, dan yang mereka kunjungi pun hanya keluarga atau saudara-saudaranya.

bagi saya, kejadian ini unik dan blogpost-able, karena saya baru sekali ini menemuinya. hal ini membuat saya berpikir bahwa jika kita menutup hati, mata, telinga dari kejadian-kejadian di sekitar kita, kita tidak bisa membagi apapun dan orang yang di luar pun tidak mendapat apa-apa. saya berefleksi lebih dalam, jangan-jangan ketika saya mengalami kesepian atau kesendirian, bukan karena mereka, orang-orang yang di luar sana tidak mengetuk, tapi karena saya tidak mendengar, atau bahkan mengabaikan ketukan di pintu itu. 
mari kita lebih peka dan membuka mata, hati, telinga kita! :)

ini dia saya bagikan lagu yang kece buat sore-sore begini:
Mata Hati Telinga - Maliq & d'essentials


15 Oktober 2013
hari raya Idul Adha

*vania*

01 September 2013

kekepoan yang "menular"

hai blog-world! :D
hari ini awal bulan yang baru, September ceriaaaa, semoga aja beneran jadi bulan yang ceria ya :)

seminggu ini saya sudah masuk kuliah. semester lima. kata dosen dan kakak angkatan, ini adalah salah satu semester di mana saya akan merasakan peak experience. masa-masa mulai jenuh dengan rutinitas kuliah dan materinya makin abstrak, kalau nggak bisa dibilang makin susah. tapi ya semoga semester ini bisa saya taklukkan dengan mantap :)

dua minggu sebelum semester ini resmi dimulai, saya sudah setiap hari ke kampus untuk mengurusi macem-macem hal. seminggu pertama masuk kuliah, agenda saya padat, bahkan ada satu hari di mana saya seharian di kampus. padahal ini baru awal semester. sampai-sampai jarang sekali saya ketemu mama papa di rumah. 
padahal, minggu ini saya "hanya" membagi waktu untuk kuliah, kepanitiaan, Akang, dan Pingit. itu pun nggak full, artinya masih ada agenda Pingit yang saya bolos, nggak nemenin Akang makan-makan, nggak ikut rapat, dan lain-lain. padahal masih ada beberapa hal yang nggak saya urusi minggu ini, misalnya jalan-jalan sama mama papa, Papita, dan EKM. me-time (baca: browsing nggak jelas sambil tiduran di rumah) itu rasanya mewah. minggu pertama masuk kuliah sudah hectic. super sekali ya :D *fotocopy diri mana fotocopy diri*

kalo pinjem istilahnya Mbak Anne, salahmu dewe kepo kok di mana-mana?  *self getok*
buat saya, selama saya bisa menjalaninya dengan sebaik mungkin, selama saya nggak (sering-sering) nyusahin diri sendiri, selama saya bisa menciptakan simbiosis mutualisme, nggak apa-apa sih. *self defense*   *rasionalisasi*

weekend ini, ada yang super banget: RAKER PINGIT. bukan, raker itu bukan perut keroncongan trus makan jadi sembuh. itu namanya laper. raker itu juga bukan yang bunyi keras buat bangunin orang tidur. itu namanya weker. raker itu adalah rapat kerja. sebuah agenda wajib tiap semester untuk bahas apa aja yang bakal dijalanin selama satu semester ini. kenapa saya ikut raker? jawabannya sederhana, karena saya kepo. ini serius, saya bukan care pol, tapi kali ini saya sungguh kepo.
begini. saya sudah pernah ke Pingit saat saya SMA, tahun 2010-2011. tapi itu nggak rutin. saat kuliah, beberapa kali  saya datang ke Pingit untuk bikin tugas. akhirnya, semester lalu saya berjanji pada diri saya sendiri saya akan rutin datang ke Pingit. janji saya nggak muluk-muluk. saya cuma berusaha datang ke Pingit setiap Kamis, karena kapasitas saya saat itu memang segitu. tapi ternyata rasanya waktu satu semester nggak cukup untuk saya mengenal Pingit. rasanya juga saya belum melakukan apa-apa buat Pingit. maka saya berniat untuk lanjut semester ini. meski kenyataannya, setelah dua minggu Pingit kembali dibuka, saya belum pernah sekalipun ke sana, dan langsung muncul di raker. saya kepo, apalagi yang bisa saya lakukan, apalagi yang bisa saya berikan untuk mereka, dan juga apalagi pelajaran hidup yang bisa saya dapat dari Pingit. 

saya belajar banyak dari raker ini. yang pasti, akhirnya saya tau lirik komplit lagu-lagu Pingit hahaha :D lha selama ini kalau nyanyi saya cuma nggremeng dan ngikutin anak-anak nyanyi.
saya juga belajar tentang apa saja yang bisa kita lakukan bagi mereka, sekecil apapun, pasti akan sangat berguna. kalaupun ternyata apa yang kita lakukan kurang membuahkan hasil, yang penting kita sudah mencoba dan sudah berusaha. saya menyadari bahwa kita semua, yang mendampingi anak-anak dan warga binaan di Pingit, semua adalah volunteer, artinya ya voluntary, tidak ada paksaan, tidak ada siapapun yang bisa memaksa kami untuk harus datang ke Pingit, untuk berbuat sesuatu untuk warga Pingit. tapi bagi saya, justru itulah seninya. jika apapun yang kita lakukan untuk Pingit benar-benar dari hati, rasanya tidak mungkin ada yang mengeluh, justru rasanya tertantang dan terus kepo. bagi saya, untuk sampai ke tahap merasa tertantang atau kepo ini memang nggak bisa instan. saya pun begitu, awalnya cuma kepo Pingit itu kayak apa, terus nggak pernah dateng lagi. terus juga pernah beberapa kali agak terpaksa ke Pingit buat garap tugas. sampai akhirnya saya berjanji pada diri sendiri untuk datang ke Pingit, sekalipun saya nggak punya cukup persiapan dan cuma ikut main-main di kelas.

satu hal yang cukup menarik bagi saya saat raker tadi. Frater Adri, koordinator Pingit, tadi menawarkan ide untuk membuat acara ulang tahunan Pingit. ketika ditawarkan siapa yang ingin jadi panitia, saya menawarkan diri menjadi humas. jujur saja, saya juga tidak tau apakah saya mampu menjalankan itu, karena urusan saya juga nggak cuma di Pingit aja. tapi ya itu tadi, saya cukup kepo. lagipula saya yakin saya nggak akan jalan sendiri, temen-temen volunteer lain kalau dimintain tolong saya yakin mereka pasti mau bantu kalau mereka bisa. maka saya menyimpulkan bahwa, semakin saya nggak kepo, semakin sedikit hal yang bisa saya berikan pada orang lain, dan sedikit pula pelajaran yang saya dapatkan.

tapi segala kegilaan volunteer di Pingit memang kudu saya acungi jempol. Frater Adri dengan pembangunan rumah-rumah dan pembinaan warga. Om Robet Lemmu dengan Aping & Anit, komik strip yang terbit tiap hari Senin *dan bakal nambah jadi hari Kamis juga*. Mbak Anne dengan Belik Pingit *buletin cilik Pingit* dan mengurusi beasiswa, juga surat-surat macam akta kelahiran, dan lain-lain. Mbak Icot dengan penelitian skripsi dan sekolah alamnya. Mas Sigit yang terpengaruh "Adrinisasi" lalu sempat menggantikan Frater Adri mengkoordinir Pingit. Mbak Jeje yang ahli ngajar di SD kecil. semua ini juga membuat saya kepo, kok bisa mereka se-kepo itu. ya mungkin kekepoan saya itu ketularan dari mereka. kayak kata Frater Adri sih, beliau mengurusi Pingit itu dengan serius, dan keseriusan itu menular pada Mas Sigit, pada Om Robet Lemmu, pada semua volunteer yang lain. mungkin keseriusan itu pula yang menular pada saya.

memang kadang, contoh nyata alias teladan jauh lebih penting dan jauh lebih berdampak dibandingkan kata-kata mutiara.
kata Frater Adri lagi, beliau hanya membutuhkan iman sebesar biji sesawi. kalau saya, ada tambahan, saya juga membutuhkan kekepoan setebal kertas HVS 80 gram *lu kate bikin laporan praktikum* :))

oya, jangan lupa like fanpage Aping & Anit yaaa :D follow twitter @ApingAnit juga :D
Aping
Anit
Aping & Anit

Minggu, 1 September 2013
anggota #GenkKepo
vania

*ps: ah, saya lupa menyampaikan jempol saya pada teman-teman PBM yang tadi juga ikut raker. bagi saya, teman-teman ini luar biasa, karena teman-teman ini sudah menyiapkan silabus per pertemuan, meski mungkin memang ada yang harus dibenahi di sana-sini, tapi silabus itu adalah panduan awal yang oke banget. memang menjadi idealis itu baik, tapi kita juga harus realistis. saya sendiri bukanlah orang yang lebih pintar dari teman-teman, bukan orang yang tau segalanya tentang Pingit, saya juga masih harus banyak belajar tentang Pingit, maka mari belajar bersama :) selamat bergabung dalam ke-kepoan dan keseriusan di Pingit, semoga menular ya :D semangat!

28 Juli 2013

ketuklah :)

Dia memang punya cara yang selalu unik untuk menyapa, menegur dan mengingatkan serta menjawab kegelisahan kita. nggak jarang cara-Nya bikin kita geleng-geleng bahkan ngetawain diri sendiri. 
seringkali Dia menyapa lewat lagu-lagu yang kudengar, kadang juga lewat status di facebook atau twitter, dan kadang Dia juga menegurku lewat orang-orang di sekitarku. hari ini, kudengar kata-Nya: "ketuklah, maka pintu akan dibukakan bagimu". 
kemudian aku ingat seorang teman pernah berkata, "aneh rasanya kalau kita (baca: orang Kristiani) merasa kesepian atau sendirian, lha wong kita ini ibadahnya bersama-sama, ajarannya pun tentang cinta kasih".

secara logika benar juga kata temanku itu. kapan pun dan di mana pun, kita semua selalu memiliki saudara dan sahabat, apalagi kata-Nya, "setiap orang yang menuruti kehendak Bapa-Ku di surga, dialah saudara-Ku laki-laki, dialah saudara-Ku perempuan, dialah ibu-Ku".
tapi manusia tetap saja manusia, aku sendiri pun tak jarang merasakan sendirian, kalau kata lagu Dewa, "di dalam keramaian aku masih merasa sepi". 

beberapa peristiwa di sekitarku akhir-akhir ini, ditambah sabda-Nya, serta perjumpaanku dengan beberapa orang dan refleksi pribadiku, membuatku sampai pada suatu titik di mana aku tahu bahwa ya aku tak perlu khawatir. perasaan kesepian atau sendirian itu wajar, tapi sesungguhnya kita tak akan pernah benar-benar sendiri, karena selalu ada Dia yang siap membuka pintu-Nya setiap kali kita mengetuknya. pertanyaannya sekarang, cukup rendah hatikah kita untuk mengetuk dan meminta-Nya membuka pintu? :)

Ketuklah Pintu-Nya
Musik/Lagu : C. Soeliandari Retno
Syair : YR. Widadaprayitna

Saat kau merasa sendiri,
Tiada kawan temani disini,
Hidup bagai tiada arti,
Ku didalam hening, berpasrah diri.

Kala duka berkepanjangan,
Dan Tuhan pun nampaknya berdiam,
Jauh dari yang tercinta,
Kasih pun seakan sia-sia.

Ketuklah pintu-Nya, Yesus kan mendengarmu,
Dan membukakan pintu-Nya bagimu.
Carilah Dia sahabat setiamu,
Yang sabar menantimu, ketuklah pintu-Nya.

Saat hidup terasa layu,
Masa lalu tlah menjadi debu.
Masa depan pun temaram,
Harapan seakan terasa suram.

Kala semangatmu meredup,
Rasa bimbang datang dalam hidup.
Percaya kau pasti mampu,
Karena kasih Yesus setia slalu.

Ketuklah pintu-Nya, Yesus kan mendengarmu,
Dan membukakan pintu-Nya bagimu.
Carilah Dia sahabat setiamu,
Yang sabar menantimu, ketuklah pintu-Nya.


Minggu, 28 Juli 2013
Stella Vania

22 Mei 2013

panggilan (sok) akrab

tadi siang saya ke sebuah rumah sakit untuk periksa. setelah pulang dari rumah sakit, saya baru kepikiran tentang hal ini. 
hanya sedikit sekali profesi yang bisa dijadikan panggilan, diantaranya dokter dan suster (perawat). ya nggak tau kenapa, rasanya enak aja gitu manggil dokter dengan "dok" dan suster dengan "sus", walau kita sama sekali nggak kenal sama mereka. tapi dengan panggilan singkat itu jadi rasanya (sok) akrab gitu deh. sepulang dari rumah sakit, saya pun berpikir, profesi apa lagi yang bisa kita panggil secara singkat dan kesannya akrab. tapi rasa-rasanya nggak ada. kalo guru, pasti aneh kalo manggilnya cuma "gur" gitu.. lu kate gurun pasir~ lanjut, yang nggak beda jauh sama guru, dosen. ya kali kita manggil "dos", lu kate dus akuwa~

dan cobalah untuk memikirkan profesi Anda (sekarang atau kelak) apakah bisa dipanggil secara akrab, seperti dokter dan suster. 
kalo psikolog, panggilan akrabnya apa donk ya? psi? ntar malah disuruh gangnam style xD

tapi syukurlah, di Indonesia ini banyak panggilan akrab yang bisa dipakai bahkan ke orang yang baru pertama kali kita temui. bisa pak/bu, mas/mbak, bang, bung, jeng, kakak, adek, coy, cah, ndes dan masih banyak lagi lainnya. 
jadi, selain dokter dan suster, jangan sedih, kita juga bisa dipanggil secara akrab kok sama orang lain :"D


Rabu, 22 Mei 2013
lagi ra mutu,
vania

11 Mei 2013

bye teens, hello twenties!

selamat malam teman-teman :D
hari ini tepat aku memasuki usia dua puluh. say goodbye to teens! 
hari ini, meski tanpa pesta meriah, tanpa diumumkan di facebook dan tanpa kue tart, tapi tetap saja berkesan buatku.

hari ini, aku dapat kado istimewa dari fakultas psikologi, yaitu kunjungan ke RSJ Grhasia, Pakem. rasanya campur aduk deh. penasaran, takut, seneng, dan semua itu membuatku deg-degan. beberapa jam di sana, membuatku merasa kagum pada perawat di sana, karena aku yakin ketahanan mental mereka pasti kuat banget. kalau engga, bisa-bisa mereka justru tukar posisi dan menjadi pasien. pengalaman bertemu orang dengan gangguan kejiwaan di RSJ Grhasia mengubah, atau lebih tepatnya, merevisi persepsiku. kenyataan yang aku temui adalah tidak semua orang dengan gangguan kejiwaan memiliki gejala yang sama, dan bahkan kadang gejala itu tidak nampak secara sekilas. ada orang-orang tertentu yang tidak mau terbuka pada orang lain, dan jika dia mau bercerita pada orang lain, apa yang dia ceritakan sama sekali berbeda dengan gejala yang ditemukan oleh dokter/psikiater/psikolog yang menanganinya. pengalaman ini juga menyadarkanku bahwa kita tidak boleh cepat-cepat menilai seseorang dan melabelinya dengan sebutan tertentu. untuk memutuskan sesuatu, terlebih memutuskan seseorang mengalami gangguan apa, rasa-rasanya perlu penyelidikan yang mendalam dan menyeluruh. 
aku menemukan bahwa tidak semua orang dengan gangguan kejiwaan itu membahayakan orang lain, kadang mereka justru membahayakan dirinya sendiri. aku juga menemukan bahwa mereka itu butuh bantuan kita semua, agar mereka dapat lebih mampu berfungsi normal. kalimat "jika kamu tidak bisa memperbaiki, minimal kamu tidak membuatnya lebih parah" memang tepat sekali.
mungkin aku nggak akan kerja di RSJ, atau secara langsung bertemu dan berhubungan dengan mereka yang mengalami gangguan kejiwaan yang tingkatnya lebih parah, tapi pengalaman ke RSJ Grhasia ini memberiku banyak pelajaran, di antaranya belajar untuk lebih menghargai orang lain, apapun keadaannya, karena toh kita sama-sama manusia :)

ulang tahun bukan alasan untuk menjadi tidak produktif. setelah kunjungan ke RSJ Grhasia, aku japok bersama beberapa teman sampai jam 4. sampai di rumah, kakak bilang ada sesuatu di kamarku, ternyata Stefi mampir dan ngasih sesuatu :)

serba biru dari sahabatku :)
kemudian berlanjut dengan misa jam 6. yang mimpin misa dan homili adalah Romo Andalas, dan beberapa kali selama misa, namaku disebut, bahkan Andre sebagai pacar vania juga disebut :))) maluuuu :))
setelah misa, rencananya mau makan sekeluarga plus Akang Andre. tapi lagi-lagi heboh, karena lamaaa banget menentukan mau makan di mana, sampai-sampai kita keliling-keliling dan akhirnya menentukan pilihan di sebuah restoran. dan seperti biasa, sampai capek ngakak kalau jalan-jalan sekeluarga :D

dan ini ada sesuatu dari Akang :))

lagi-lagi serba biru dari Bulanku :)
ucapan di facebook dari Akang :))
tahun ini, kado istimewa berupa pengalaman dan pelajaran, serta kebersamaan, menjadi bekal untukku menapaki usia 20an :)
terima kasih Tuhan, terima kasih mama papa kakak, Akang Ibu Bapak Mas Sur, Esnawaners, para sahabat, teman-teman Tengger dan psikologi lainnya, teman-teman EKM, teman-teman papita, teman-teman Srikandi stece, dan semuanya saja. terima kasih karena telah mengijinkanku memasuki hidup kalian, dan terima kasih juga karena kalian telah mewarnai hidupku :)
berjuta amin untuk segala harapan dan doa kalian :) semoga kalian semua selalu dilimpahi berkat dan cinta dari Tuhan yang Maha Keren :D


11 Mei 2013
gadis 20 tahun

Stella Vania Puspitasari :)

30 April 2013

Cinta Kasih dasar Bhinneka Tunggal Ika


Dalam dunia ini, tidak pernah ada orang yang sama. Bahkan, orang kembar identik sekalipun tetap memiliki perbedaan, mereka tidak seratus persen sama. Perbedaan itu bisa terjadi pada fisik, sikap, pola pikir, gaya hidup, bahkan tipe kepribadian. Terlebih di Indonesia, dengan wilayah yang luas dan berbagai pulau dengan berbagai suku, kebudayaan dan agama. Bangsa kita ini terkenal sebagai bangsa yang sangat plural, namun seperti semboyan Bhinneka Tunggal Ika, perbedaan itu diharapkan bisa mempersatukan.
Sayangnya, perbedaan-perbedaan itu seringkali malah menimbulkan gesekan-gesekan tertentu. Ada hal-hal yang tidak bisa ditolerir satu sama lain hingga akhirnya menimbulkan konflik, bahkan berujung pada kekerasan yang sebenarnya berdampak buruk untuk semua pihak.
Seperti kita ketahui, kekerasan yang dilakukan oleh suatu oknum agama tertentu tampak dilegalkan pada waktu-waktu tertentu. Misalnya ketika Ramadhan, beberapa oknum ormas tertentu melakukan kekerasan dengan menutup paksa rumah makan yang buka pada siang hari, bahkan dengan menghancurkan beberapa barang di suatu rumah makan. Tindakan ini, meski mungkin tujuannya baik, tapi mengakibatkan kerugian bagi pihak lain. 
Penyegelan tempat ibadah pun masih kerap kita dengar beritanya. Di Bekasi misalnya, tempat ibadah Ahmadiyah Bekasi dilarang untuk digunakan. Bahkan ketika sholat Jumat, mereka dijaga oleh kepungan polisi. Masih di Bekasi, pemerintah melakukan penyegelan pada Gereja Huria Kristen Batak Protestan (HKBP). Hal ini sangat ironis karena berkontradiktif dengan UUD 1945 pasal 28E ayat 1 yang menyebutkan bahwa setiap orang memiliki hak untuk memeluk agama dan beribadat sesuai agamanya. 
Gesekan seperti itu tidak hanya terjadi antar kelompok agama. Di antara sesama umat beragama tertentu pun dapat terjadi gesekan. Hal ini terjadi karena ada perbedaan dalam memaknai dan menjalankan perintah dalam agama itu sendiri. Akibatnya, antar kelompok itu saling memvonis satu sama lain sebagai sesat, dan jika tidak ada yang mau membuka diri dengan kenyataan bahwa mereka memiliki pandangan yang berbeda, akhirnya yang terjadi adalah perdebatan yang tak kunjung selesai dan melebar sampai ke mana-mana. Kejadian seperti ini sempat terjadi pada akhir 2012 lalu. Di sebuah grup facebook terjadi diskusi panjang, bahkan berlangsung hingga berhari-hari. Diskusi ini membahas variasi seperti tarian, drama dan lagu non rohani dalam sebuah perayaan ekaristi. Tentu ada yang pro dan kontra dengan hal ini, tapi rupanya ada orang-orang dalam diskusi ini yang tidak sepenuhnya terbuka pada pendapat orang lain, hingga akhirnya bersikap defensif dan berujung pada debat kusir yang keluar konteks pembicaraan.
Namun, walau terdapat beragam agama dan kepercayaan, sebenarnya semua itu memiliki kesamaan. Setiap agama sama-sama mengajarkan hukum yang utama yakni cinta kasih, dan semua agama membawa umatnya pada keselamatan, menurut definisi masing-masing agama. Maka sebenarnya, gesekan-gesekan yang terjadi itu tidak harus sampai ke konflik, jika tiap orang bisa mengamalkan hukum cinta kasih itu. 
Cinta kasih itu sangatlah luas dan dapat tercermin dari hal-hal kecil, bahkan ketika kita sama sekali tidak mengenal orang itu. Salah satu perwujudan cinta kasih adalah memperhatikan. Menurut Rogers, seorang Psikolog dari Amerika Serikat, seseorang akan bisa menampilkan diri mereka seutuhnya bisa diberi kasih tanpa syarat alias penghargaan tanpa syarat. Ketika seseorang diberi penghargaan tanpa syarat, dia akan cenderung menjadi tidak defensif dan juga menerima orang lain apa adanya.
Kita bisa mewujudkan penghargaan tanpa syarat ini dengan mau mendengarkan dan tidak langsung memberikan penilaian secara dangkal pada orang lain. Jangan sampai kita membuat penilaian yang prematur hanya karena pengaruh stereotip-stereotip yang berkembang di masyarakat, apalagi jika kita tidak menemukan bukti dahwa stereotip itu benar-benar berlaku di dunia nyata. Kita juga harus bisa berusaha untuk menjadi terbuka pada pendapat orang lain, bukannya memaksa orang lain untuk menjadi setuju dengan pendapat kita dan merasa diri paling benar. Sebaiknya kita memiliki semangat untuk mau belajar lebih banyak, walaupun dari orang yang berbeda, atau mengenai hal yang tidak kita setujui. Ingatlah bahwa selalu ada alasan dari argumen yang dikeluarkan oleh seseorang. Kita juga harus ingat bahwa Tuhan itu Maha Esa. Dia hanya satu, cara kita saja yang beragam untuk memuji dan memuliakan nama-Nya.
Tetapi memuji dan memuliakan nama-Nya itu bukan berarti kita setiap saat mengecer nama-Nya secara sewenang-wenang. Akhir-akhir ini sering muncul seseorang di TV yang karena suatu hal menyebut “demi Tuhan” dengan teriakan, mata berbinar-binar penuh kemarahan dan ditutup dengan beberapa kali menggebrak meja. Hal itu tentu tidak masuk dalam definisi memuji dan memuliakan Tuhan. 
Memuji dan memuliakan Tuhan juga tidak cukup hanya dengan rajin berdoa atau beribadat. Apalah artinya iman tanpa perbuatan? Maka jika kita ingin memuliakan nama-Nya, maka kita harus mewujudkannya dalam tindakan nyata. Dengan demikian, kita pun mewujudkan cinta kasih kepada sesama yang nantinya dapat menyatukan perbedaan dan meminimalisir konflik.


Stella Vania Puspitasari
Selasa, 30 April 2013

14 April 2013

self-rewarding on weekend :D

halo, dunia! apa kabar? :)
hari ini dan kemarin, adalah hari aku terbebas dari UTS, walau sebenarnya (baca: seharusnya) nggak bisa santai karena begitu banyak tugas yang ngawe-awe minta digarap. tapi dua hari ini, aku memutuskan untuk memberi reward pada diri sendiri, dan menyediakan waktu luang untuk pacar. maklum, biasanya aku sibuk dengan kuliah dan EKM dan seabrek kegiatan lainnya, sedangkan dia sibuk dengan skripsinya. maka jadilah weekend kemarin diisi dengan bertualang bersamanya.

"malam minggu, malam yang panjang, malam yang asyik buat pacaran", begitulah sepenggal lirik dari sebuah lagu lawas. karena kami jarang bermalam minggu, jadi Sabtu kemarin rasanya cukup istimewa. sejujurnya memang aku merasa sudah lama tidak jalan-jalan santai bersama Akang. maka walau rasanya tugas sudah ngawe-awe, tapi aku nggak terlalu merasa berdosa meninggalkan mereka :p
keluar dari rumah, sebenarnya kami tidak punya tujuan yang cukup jelas. kami hanya ingin mencari event, entah pameran seni rupa atau pagelaran apa gitu. kami pun meluncur ke TBY yang ternyata sedang tidak ada pameran, lalu kami melaju ke BBY (Bentara Budaya Yogyakarta). untunglah ada pameran yang digelar di sana. unik, rupanya pameran yang digelar adalah pameran sepeda onthel bertajuk "Simplex nganggo Berko". pameran ini menampilkan beberapa sepeda lawas bermerk simplex (yang memakai lampu bermerk berko), dan poster-poster iklan lawasnya, foto, lukisan, patung, pokoknya segala sesuatu tentang simplex. tidak hanya itu, ada beberapa sepeda lawas merk lain yang fenomenal untuk menambah pengetahuan tentang sepeda di masa lalu.

simplex (untuk) anak-anak

sepeda lawas fenomenal

becak simplex. gaul banget!

simplex - (patung) Jakob Oetama - Akang
setelah puas menuntaskan kerinduan nonton pameran, aku dan Akang pun memutuskan untuk mencari makan. tidak tanggung-tanggung, kami memutuskan untuk menuju arah Kotagede untuk mencicipi sate sapi di Lapangan Karang, Kotagede. awalnya, karena kami buta arah, kami pun menuju ke arah Pasar Kotagede, tempat Ngayogjazz pernah diadakan dulu. dan ternyata di sana rameeee banget! setelah meminta bantuan maps (thanks, technology!), kami akhirnya sampai ke tempat yang dituju. ada beberapa pilihan paket, paket kecil, sedang (7 tusuk), dan utuh (10 tusuk), tiap paket terdiri dari sate sapi plus lontong sayur. maknyus! nggak menyesal saya jauh-jauh ke Kotagede demi makan dan bayar mahal, karena memang enak dan yang jelas, rasa penasarannya sudah tertuntaskan :D

ini dia tempatnya :)
paket utuh: 10 tusuk sate sapi + lontong sayur. yummy! :9

setelah itu pun kami pulang, dan menyusun agenda untuk hari Minggunya :D
hari Minggu pagi, diawali dengan misa bareng. iya, yang ini juga agak jarang hehehe
agenda kami sebenarnya setelah misa adalah menuju Gua Maria Lawangsih! maka setelah misa, kami pun segera meluncur ke tujuan. ini adalah kali pertama aku ke sana. setelah melewati jalanan yang agak curam tapi pemandangannya keren banget, kami pun sampai di Gua Maria Lawangsih. rumah Bunda satu ini nggak terlalu besar, tapi ketenangannya bikin hati adem dan damai banget :)
Bunda-nya juga cantik, dan ada panti semedi berupa gua yang di dalamnya ada patung Hati Kudus Yesus yang begitu masuk adeeeem banget :)
selain itu, air sucinya juga dingin dan sejuk banget, maklum air perbukitan gitu deh, masih alami banget!

papan namanya

Bunda cantik sekali :) di belakangnya tempat air suci :)

Mas Kris di dalam panti semedi yang adem banget
setelah puas ketemu Bunda dan Mas Kris, kami pun melaju pulang. di perjalanan, kami menemukan plang bahwa ada Gua Maria yang lain, lalu kami mampir. ternyata Gua Maria ini ada di dekat Gereja Maria Fatima, Stasi Pelem Dukuh, Paroki Nanggulan. sampai di Gereja, kami melongok sebentar dan ternyata gerejanya unik banget!

dalam gereja, motret dari balkon
dan ternyata, Gua Maria yang bernama Gua Maria Pangiloning Leres ini ada di atas gereja. guanya kecil, dan yang lebih menarik perhatian kami adalah patung Yesus yang gedeee banget :D 

look at the colors! :)

Akang mencoba niru gaya Mas Kris yang oke banget :))
syukur pada Allah, kami bisa menemukan tempat ini tanpa disengaja, tanpa direncana. setelah puas sowan Bunda dan Mas Kris, dan karena langit mendung, kami pun memutuskan untuk segera pulang. 
oya, di malam minggu, aku sempet ngetwit: #ListKapanKapan bersama @andre_yb dari jaman pedekate yang sampe sekarang belum kelakon adalah makan bakso krikil :))
dan lagi-lagi, karena nggak sengaja, di perjalanan pulang (di Jalan Godean), aku lihat ada warung tulisannya "jual bakso 20 butir dan bakso super jumbo". langsung deh kami puter balik dan makan di situ. dan akhirnya,  satu ini tercoret sudah dari #ListKapanKapan kami!
this is it, bakso 20 butir!
begitu sampai rumahku, langsung tepar! Akang sampai tidur lamaaa banget :))
tapi buatku, weekend ini sungguh superrrrr sekali! ya kayak yang aku bilang di atas, udah lama banget aku nggak ngelakuin hal-hal kayak begini: malem mingguan, misa bareng, nonton pameran, ke tempat Bunda, kulineran, pokoknya JJS sama Akang. dan rasanya bener-bener nyenengin dan nggak nyesel, walau tugas numpuk :p

ngelakuin kewajiban dan tugas itu memang penting, tapi jangan lupa istirahat, dan kasih reward untuk diri sendiri. kalau kita aja nggak menghargai diri sendiri, gimana orang lain mau menghargai kita? :)

baiklah, selamat menikmati hari ini, teman-teman! semoga kebaikan menyertai kita semua :)

Minggu, 14 April 2013
Neng Vania :)

ps: karena nulis ini, aku jadi inget lagu agak lawas dari Sandy, judulnya Sabtu Minggu :D